Slider

Berita Video

Berita Pilihan

Kabar Medan

Tsaqofah

Sudut Pandang

Dinamika Dakwah

Berita Foto

Jubir HTI Menyikapi Hasil Ijtima Ulama 2




Islam: War and Peace



Hemm.. Kalo belum siap jawabannya, buletin kece ini akan membantu ngejawabnya. Makanya, baca dan pahami sampe kelar buletin ini. Oiya, jangan lupa sebarin ke teman-teman kamu ya, biar dakwah Islam makin menyebar.

Niscaya, Islam Vs Kebatilan
Ada satu hal yang kudu kita maklumi, sebelum kita ngebahas lebih lanjut tentang perang atau perdamaian. Karena ini bahasan yang ngeri-ngeri sedap, kayak semacam parno kalo dibahas, tapi mau nggak mau ya tetap kudu dibahas. Nah, satu hal yang kudu jadi pemakluman karena ini sebuah keniscayaan adalah berbenturannya antara Islam versus kebatilan.
Perseteruan antara Islam dengan kebatilan ini saling mengalahkan, saling menguasai dan saling menundukkan. Makanya, wajar jika kita membahas tentang masalah perdamaian, juga membahas tentang perang. Sehingga, kita sebagai muslim nggak perlu khawatir sebagai di pihak yang haq, musuhnya selalu ada, yakni kebatilan. Karena Allah sudah sampaikan melalui firman-Nya:
“Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. al-Isra’: 18)
Sudah menjadi takdir, bahwa antara kebenaran dan kebathilan selalu ingin menguasai dan mengalahkan. Rasulullah saw bersabda
“Saya diperintahkan untuk memerangi manusia, hingga mereka bersaksi, ‘tiada ilah yang berhak diibadahi selain Allah.’ Dan ‘Muhammad adalah rasulNya.” Serta mendirikan sholat, menunaikan zakat. Jika mereka sudah melaksanakan itu semua maka darah dan harta mereka terjaga. Tidak halal ditumpahkan, kecuali karena haknya. Dan hisab mereka ada pada Allah SWT.” (HR. Muslim)
Sebaliknya, kebatilan juga nggak bakal diam. Karakternya, bakal berusaha menghancurkan kebenaran.
“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat.”(QS. al-Baqarah: 217)
Maka dengan dikasih pendahuluan kayak gini, biar kamu nggak begidig, nggak usah takut, khawatir ngebahas masalah erang ataupun perdamaian.
Perang, Nggak Selalu Buruk
Kita nggak perlu cari tahu, siapa yang bilang “Islam ditegakkan dengan perang”. Waktunya bisa panjang, dan nggak cukup media ini buat ngebahas itu. Simpel aja, sikap yang kita ambil. Kalo yang bilang itu, dia bukan Islam, kita doakan semoga dapat hidayah. Kalo yang bilang begitu seorang muslim, semoga yang bersangkutan, segera meralat dan bertaubat. Sebab, apa yang dia bilang sama sekali tidak benar.
Kalo yang dimaksud oleh mereka yang mengatakan ‘islam ditegakkan dengan pedang’ adalah sejarah-sejarah penaklukan (futuhat) Islam, maka kita juga kudu belajar dari sumber sejarah yang benar tentang, istilahnya prosedur sebelum sebuah negeri itu ditaklukan dengan peperangan. Nggak tetiba saja terjadi perang, tapi ada semacam prolognya sebelum kemudian terjadi peperangan antara negara Islam dengan negara kufur.
Tapi sebelum bicara perang itu boleh atau kagak, kita juga harus tahu alasan yang mendasari kita melakukan perang. Karena perilaku kita sebagai muslim tentu saja patokannya adalah dalil. Nah, begitu pun ketika kita diperintahkan untuk berperang (jihad), itu bukan tanpa alasan. Ada dalilnya:
Dan perangilah dijalan Allah orang-orang yang menerangi kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. al-Baqoroh 190)
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah  dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah” (QS. al-Anfal :39)
Wah, kalo begitu Islam melegalkan peperangan dong? Jangan keburu nafsu menyatakan atau menafsirkan bahwa perang itu selalu buruk. Memang kalo orang dengar kata “perang” itu seakan-akan sudah kebawa kepikiran jelek alias negative. Karena mungkin, melihat dampak atau efek akibat peperangan berupa kerusakan, kematian, pertumpahan darah dan sebagainya. Padahal, sebenarnya kita nggak boleh asal mencap sesuatu itu baik atau buruk, hanya karena mendengar perkataan, atau menstandarinya dengan perasaan. Kalo semua hal diukur dengan perasaan, bisa kacau semuanya. Termasuk ketika menafsirkan kata “perang” atau “peperangan”.
Perang atau peperangan adalah sebuah aktivitas, sementara itu untuk mengatakan sebuah aktivitas itu baik-buruk, benar-salah, patokannya harus Al-Qur’an, Hadits atau sumber dalil yang ditunjuk oleh keduanya. Maka perang itu ada yang baik, dan ada yang buruk. Perang atau berperang dan sampai membunuh orang yang memerangi Islam, maka sesuai dalil di atas itu baik. Sementara berperang atau membunuh sesama muslim yang tidak ada sebab atau alasan dia untuk dibunuh maka jelas itu buruk. Alasannya juga karena ada dalilnya. Allah SWT berfirman:
“Dan barang siapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya ialah Jahanam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An Nisa: 93)
Sampai sini paham ya, bahwa yang namanya perang jangan dihukumi dengan perasaan. Sehingga mungkin yang namanya perang itu kamu benci sekalipun, tapi kalo itu syariat dari Allah, kita kudu terima.
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah 216)
Nggak Ada Paksaan Masuk Islam
Nah, kalo sudah paham dasar dibolehinnya perang, yang harus jadi catatan penting bahwa yang bisa dan boleh melakukan perang adalah negara. Makanya ayat-ayat yang disebutkan di atas, di antaranya adalah ayat Madani, alias ayat yang diturunkan di Madinah. Dimana Madinah saat itu adalah negara Islam (Daulah Islam).
Pada masa itu terjadi perang antara Negara, maka Islam sebagai Negara di masa itu, pilihannya diperangi atau memerangi. Kalo terjadi peperangan dan umat Islam memenangi peperangan tersebut, maka dengan sendirinya orang-orang kafir yang berada di wilayah tersebut berada di bawah kekuasaan umat Islam. Nah, pertanyaan selanjutnya “Apakah mereka dipaksa masuk Islam?” Jelas nggak. Kenapa koq gitu? Kembali lagi, alasannya adalah dalil
Tidak ada paksaan dalam (memeluk) agama. Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang salah. Karena itu sapa saja yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah, mka sesungguhnya ia telah berpegang pada tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqoroh 256)
Buktinya, orang-orang non muslim baik itu kristen dan yahudi yang hidup di negeri Islam, mereka hidup dengan damai dan aman di bawah kekuasaan umat Islam. Orang-orang Yahudi di Yaman, Iraq, masih ada sampai sekarang ini. Orang Nasrani di Iraq, Suriah, Libanon, Mesir, masih ada sampai sekarang ini.
Itu artinya, Islam memang agama yang mencintai perdamaian, dan nggak mengandalkan perang sebagai penyebarannya. Kalo pun perang, itu lebih karena demi menyelamatkan harta dan nyawa. Tapi setelah menang perang, tidak lantas berbuat semena-mena. Bahkan saat perang pun, tidak boleh membunuh wanita, anak, merusak atau merobohkan pepohonan dan sebagainya. Jadi, adalah salah besar kalo ada yang nuduh, Islam itu agama kekerasan, bar-bar. Baik secara dalil, maupun bukti sejarah telah terbukti Islam agama perdamaian.
Nah, ini sudah pasti berbeda dengan negara-negara penjajah macam Amerika dan konco-konco Baratnya, ketika mereka memproklamirkan perang kepada sebuah negara, itu artinya mereka ingin menguasai dan merampok negara tersebut. Bukti paling nyata, ketika Amerika Serikat dengan dalih War on Terorism kemudian menyerang Afghanistan, Irak. Tapi begitu negara tersebut dibombardir habis, baru deh Amerika mengambili semua kekayaan alam negara tersebut, sembari memasang kaki tangan penguasanya di negara tersebut.
Tentu perilaku seperti diatas, nggak pernah ada dalam aturan bahkan sejarah penaklukan (futuhat) Islam, sebaliknya membuat negara tersebut sejahtera, penduduknya boleh saja heterogen tapi tetap damai. Dengan metode seperti itulah, akhirnya Islam dengan negaranya pernah Berjaya selama kurang lebih 13 Abad dan menguasai hampir 2/3 belahan dunia. Sekai lagi, itu dilakukan tanpa memaksa penduduk yang ditaklukan untuk masuk Islam.
Islam Rahmatan Lil Alamin
Allah SWT berfirman:
Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)
Rasulullah Muhammad SAW diutus membawa ajaran Islam, maka Islam adalah rahmatan lil’alamin, Islam adalah rahmat bagi seluruh manusia. Secara bahasa, rahmat artinya kelembutan yang berpadu dengan rasa iba (Lihat Lisaanul Arab, Ibnul Mandzur). Atau dengan kata lain rahmat dapat diartikan dengan kasih sayang. Jadi, diutusnya Nabi Muhammad SAWadalah bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh manusia.
Muhammad bin Ali Asy Syaukani dalam Fathul Qadir menyebutkan “Makna ayat ini adalah ‘Tidaklah Kami mengutusmu, wahai Muhammad, dengan membawa hukum-hukum syariat, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia tanpa ada keadaan atau alasan khusus yang menjadi pengecualian’. Dengan kata lain, ‘satu-satunya alasan Kami mengutusmu, wahai Muhammad, adalah sebagai rahmat yang luas. Karena kami mengutusmu dengan membawa sesuatu yang menjadi sebab kebahagiaan di akhirat’ ”
Tapi tafsiran ayat tersebut menjadi berubah, ketika orang yang mengusung isu pluralisme menafsirkan ‘Islam’ dalam ayat-ayat ini dengan ‘berserah diri’. Jadi semua agama benar asalkan berserah diri kepada Tuhan, kata mereka. Cukuplah kita jawab bualan mereka dengan sabda Rasulullah SAW:
”Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya” (HR. Muslim)
Dengan bekal ayat itu pulalah, sebagian kaum muslimin malah rela mencap saudaranya tidak toleran, tidak cinta kedamaian, bahkan yang lebih parah, mencap saudaranya sendiri sebagai teroris. Tentu saja ini sebuah keprihatinan, karena justru kepada orang-orang kafir, mereka malah berkasih sayang alias berlemah lembut.
Surat Al Anbiya ayat 107 ini sebenarnya bantahan telak terhadap pluralisme agama. Karena ayat ini merupakan dalil bahwa semua manusia di muka bumi wajib tunduk dengan syariat Islam. Karena Islam itu ‘lil alamin‘, diperuntukkan bagi seluruh manusia di muka bumi.

Sehingga tidak lantas, ketika ingin kelihatan menyenangkan orang kafir, dengan alasan rahmatan lil alamin, maka saling berpelukan, sementara kepada saudaranya sesama muslim, malah bersikap jahat. Padahal Allah SWT sudah menyampaikan:


Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka,. (QS. Al-Fath: 29)
Keras yang dimaksud adalah tegas terhadap sikap beragama kita, karena
Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Rabb yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Rabb yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”.” (QS. Al Kafirun: 1-6)
Dengan kedamaiannya Islam bukan berarti tidak tegas terhadap orang kafir. Dengan kedamaiannya pula, bukan berarti Islam memaksa orang untuk masuk Islam. Bahkan Allah dan Rasulullah mengajari bagaimana adab kita terhadap orang kafir dzimmi (orang kafir yang dilindungi).
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. al-Mumtahanah: 8)
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa membunuh seorang kafir dzimmi, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun.” (HR. Imam An Nasa’i).
So, jangan pernah ragu, khawatir atau takut karena Islam ini memang agama perdamaian. Allahu Akbar! []
Buletin Teman Surga 029. 

SABAR, INI HANYA UJIAN…


Oleh: Nur Rakhmad
Kaum mukmin senantiasa diuji Allah SWT.  Kadang tenang, kadang goncangan datang. Di saat ketentraman melimpah ruah, ada kalanya kegelisahan menghadang. Disaat merasa diri orang yang paling bahagia, ada kalanya merasa seperti orang yang paling sengsara. Bila beranggapan bahwa hidup lebih tenang dan nyaman tanpa ujian, maka bagaimana orang terbaik dimuka bumi, yaitu para nabi, manusia pilihan dan mulia?
Padahal ujian mereka berlipat-lipat dari manusia biasa. Bila beranggapan bahwa hidup tanpa cobaan akan lancar-lancar saja, maka bagaimana kita mendapat pelajaran dan hikmah yang begitu besar? padahal itu semua dipungut dan dipetik dari musibah-musibah yang datang menerpa. Kita perlu meniru kesabaran para ulama. Dengan risiko apa pun mereka berani mengatakan kebenaran di depan penguasa zalim. Persis seperti yang disabdakan Rasulullah saw dalam haditsnya, “Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran di depan penguasa zalim.
Sudah menjadi sunnatullah yang berlaku di sepanjang zaman, Allah Swt. tidak membiarkan hamba-Nya mengaku beriman tanpa diuji oleh-Nya. Dengan ujian itulah akan terlihat jelas hakikat dan kadar keimanan mereka, apakah pengakuan keimanan mereka itu benar-benar tulus dan jujur atau dusta (Lihat QS al-Ankabut [29]: 2-3). Dengan ujian itu pula akan dapat diketahui siapa di antara mereka yang mau berjihad dan bersabar, dan siapa yang tidak (QS Muhammad [47]: 31)
Ujian yang diberikan kepada manusia itu pun beraneka ragam. Ada yang berupa keburukan (asy-syarr); ada yang berupa kebaikan (al-khayr) (QS al-Anbiya’ [21]: 35); ada pula yang berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan (QS al-Baqarah [2]: 165). Harta dan anak keturunan juga bisa menjadi ujian (QS al-Anfal [8]: 28).
Agar bisa sukses menghadapi berbagai ujian tersebut, penghayatan terhadap ayat ini menjadi amat penting. Menurut ayat ini, setidaknya ada dua keuntungan besar yang dapat dipetik ketika seseorang tetap tegar, sabar, dan istiqamah dalam menghadapi berbagai ujian keimanan. Pertama; bisa masuk surga. Jika ayat ini menyatakan pengingkaran terhadap orang-orang yang mengira masuk surga sementara mereka belum terbukti dapat bersabar dan tetap istiqamah dalam keimanan tatkala menghadapi cobaan berat seperti yang dialami Rasul dan kaum beriman terdahulu, maka ayat ini bisa dipahami sebaliknya (mafhûm mukhâlafah). Artinya, jika mereka mampu bersabar dan tetap istiqamah dalam situasi apa pun, mereka boleh berharap dan merasa yakin bisa masuk surga.
Dengan harapan dan keyakinan tersebut, seseorang bisa terlecut semangatnya untuk bersabar dan kuat menahan berbagai beban penderitaan yang dihadapinya, betapapun berat penderitaan itu. Sebab, sebagaimana telah dimaklumi, surga adalah sebaik-baik tempat kembali. Di sana terdapat aneka kenikmatan tak terkira. Semua perkara yang diinginkan hati dan sedap dipandang mata dapat dinikmati di sana (QS al-Zukhruf [43]: 71).
Al-Quran banyak mengisahkan kaum yang sukses melewati cobaan saat mereka memiliki keyakinan tersebut. Demikian juga para sahabat Nabi saw. Mereka mampu bersabar menghadapi berbagai upaya jahat kaum musyrik. Keluarga Yasir, misalnya, mampu bersabar meskipun menerima siksaan di luar batas kemanusiaan. Sikapnya makin kukuh ketika mendengar sabda Rasulullah saw.: Shabr[an] âla Yâsir, fainna maw’idakum al-jannah. (Bersabarlah, wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya yang dijanjikan kepada kalian adalah surga). Sumayyah—istri Yasir—pun menyahuti dengan penuh kayakinan, “Innî arâhâ zhâhirat[an], yâ Rasûlullah,” (Sesungguhnya aku telah melihatnya secara jelas, wahai Rasulullah).
Kedua: mendapatkan pertolongan Allah Swt. dalam waktu dekat. Ayat ini memberikan kabar gembira kepada Rasul dan kaum Mukmin yang mengalami penderitaan hingga mencapai puncaknya berupa dekatnya pertolongan Allah Swt. Kejadian serupa juga dapat mereka alami. Tatkala ujian penderitaan yang mereka hadapi sampai pada klimaksnya, itu menjadi pertanda pertolongan-Nya segera tiba. Allah Swt. berfirman:
Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya para saksi (Hari Kiamat). (QS Ghafir [40]: 51).
Keyakinan dan harapan akan dekatnya pertolongan Allah Swt. ini juga bisa membuat seseorang menjadi kian tegar dan tabah menghadapi berbagai ujian. Siapa yang tidak bergembira ketika penderitaannya segera berlalu dan kebenaran segera menang? Al-Quran pun menyebut pertolongan Allah Swt. dan kemenangan yang dekat sebagai perkara yang dicintai manusia (QS ash-Shaff [61]: 13).
Pertolongan hanya di tangan Allah Swt.; tidak akan datang kecuali dari-Nya (QS Ali Imran [3]: 126, al-Mulk [67]: 20, al-Kahfi [18]: 43). Ditegaskan pula, siapa yang ditolong Allah Swt., tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkannya. Sebaliknya, jika Allah Swt. membiarkannya, tidak ada seorang pun yang dapat menolongnya (QS Ali Imran [3]: 160).
Dengan demikian, pertolongan Allah Swt. merupakan anugerah tak terkira. Tentu lebih membahagiakan jika anugerah itu segera tiba. Andai pertolongan yang dinantikan itu belum juga datang, mereka bisa melakukan evaluasi diri, apakah usaha yang mereka lakukan belum serius atau penderitaan yang mereka alami belum mencapai puncaknya.

Islam Memperkokoh Bangunan Keluarga


Oleh: Uci Riswahyu 
(Aktivis Muslima Cinta Qur’an)

Indah bagaikan mutiara yang berharga, disaat tercipta ditengah-tengah keluarga rantai persatuan yang kokoh dan terus terjaga. Ini adalah hal yang tentu diinginkan bagi semua orang yang kini telah membina rumah tangga. Mereka pastinya mendambakan kehidupan yang sakinah, mawaddah dan warrahmah, dapat saling mendukung serta bekerjasama dalam mendidik anak-anak mereka dengan penuh cinta.
Namun sungguh sangat memprihatinkan, faktanya hal tersebut tidaklah terwujud untuk kebanyakan keluarga di Negeri ini terutama di Kota Medan. Pasalnya angka perceraian di Kota Medan terbilang sangatlah tinggi. 


Setahun terakhir, Pengadilan Agama (PA) Medan Kelas 1A telah menangani sekitar 3 ribu kasus. Hal ini diungkapkan Kepala PA Kelas I Medan Misran saat beraudiensi dengan Wali Kota Medan Dzulmi Eldin.
Dzulmi Eldin mengaku sangat prihatin dengan persentasi angka perceraian yang terjadi di Kota Medan, dimana dari 3000 kasus, 80 persen di antaranya merupakan kasus perceraian, sedangkan 20 persen lagi menyangkut kasus warisan, harta gono-gini, hak asu anak serta ekonomi syariah. (Trimbun-Medan.com/12/04/2018).

Meningginya angka perceraian di Negeri ini seharusnya menjadi perhatian khusus Pemerintah dalam menanganinya. Perlu adanya pengkajian secara mendalam terkait kasus ini, agar Pemerintah dapat memahami apa yang melatarbelakangi banyaknya terjadi kasus perceraian dan mencari solusi yang tepat untuk menanggulanginya. Mengingat adanya dampak buruk yang ditimbulkan akibat dari peceraian tersebut.

Dampak Runtuhnya Bangunan Keluarga

Bangunan yang runtuh dapat menimpa apa saja yang ada didalamnya, sehingga akan menimbulkan banyaknya korban. Begitu halnya dengan bangunan keluarga, jika bangunan dalam keluarga sudah hancur maka korban pertama yang dirugikan adalah anak. Anak akan merasakan beban mental yang sangat berat karena harus dipaksa berpisah dengan ayah atau ibunya. 
Anak menjadi kehilangan peran Ayah atau Ibu di rumahnya sendiri, hingga pada akhirnya dia akan mencari sosok pengganti yang ia merasa nyaman bersamanya. Apakah itu dilingkungan sekolahnya atau bahkan dilingkungan pergaulannya, maka wajarlah jika banyak anak yang tidak mengenali jati dirinya bahkan berkepribadian yang jauh dari Islam.

Perlu untuk dipahami bahwa adanya keretakan bahkan kehancuran dalam sebuah bangunan dikarenakan adanya goncangan dan kondisi dari pondasi bangunan yang tidak lagi kokoh. Begitu pula bangunan dalam keluarga, apabila ada goncangan-goncangan yang terjadi seperti masalah ekonomi, kesetiaan, perbedaan pendapat serta pembagian peran dalam keluarga, jika tidak ada pondasi yang kuat untuk menopangnya maka bangunan keluarga tersebut akan mengalami kehancuran.

Dengan demikian dapat kita pahami bahwa masalah perceraian bukanlah masalah yang kita anggap sebagai hal yang biasa saja, mengingat dampak yang disebabkan begitu berpengaruh kepada anak, seharusnya anak dididik menjadi generasi yang tangguh, akan tetapi dengan runtuhnya bangunan keluarga anak seolah menjadi objek yang dilupakan.

Islam Memperkuat Pondasi Keluarga

Adapun yang menjadi pondasi dalam keluarga adalah pemahaman Islam, keluarga yang tengah diterpa badai masalah sebesar apapun jika ia memiliki pemahaman Islam yang baik maka ia tidak akan memutuskan sesuatu berdasarkan hawa nafsunya, melainkan ia akan menyelesaikan masalah tersebut sesuai dengan ajaran Islam. 

Dengan pemahaman Islam seorang Ayah dapat memahami perannya dalam keluarga sebagai Kepala keluarga yang memiliki tanggung jawab penuh untuk mencari nafkah serta mendidik istri dan anak-anaknya dengan ajaran Islam. Seorang Ibu juga akan memahami perannya sebagai ummu warabbatul bait dan madrasatul ula sehingga melalui tangannya akan terlahir generasi yang cemerlang.

Dalam mewujudkan keutuhan keluarga tidaklah cukup dengan mengadakan seminar-seminar yang membahaskan terkait parenting serta membuat komunitas peduli keluarga atau program-program yang lainnya. Akan tetapi kita harus dapat melihat masalah ini secara komperhensif, karena banyak faktor yang menyebabkan tingginya angka perceraian yang terjadi seperti masalah ekonomi, gaya hidup dan pemahaman yang salah.

Dalam menjaga keutuhan keluarga membutuhkan peran dari negara yang memberikan fasilitas seperti pendidikan yang berlandaskan pada ajaran Islam, penjaminan keberlangsungan hidup semua rakyatnya dengan menjaga stabilitas ekonomi melalui sistem Islam, dimana semua itu hanya akan terwujud ketika negara menjadikan sistem Islam sebagai landasan yang mengatur semua urusan kehidupan. 

Dengan demikian semua permasalahan yang terjadi termasuk masalah perceraian adalah karena ketiadaannya pemahaman Islam. Islam merupakan sebuah ideologi yang memiliki aturan dalam mengatur urusan individu, keluarga, masyarakat dan negara, maka sudah seharusnya kita memahami bahwa Islam haruslah diterapkan didalam kehidupan melalui negara dalam bingkai Khilafah. Khilafah adalah institusi yang akan menerapkan Islam secarah kaffah, sehingga dapat menjadi solusi atas semua permasalahan yang terjadi di negara ini termasuk masalah perceraian. Wallahua’lam.

Ormas Islam Tolak Kedatangan Duo Serigala Ke Kota Binjai


Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam gabungan, menolak kehadiran Duo Serigala yang menjadi bintang tamu dalam acara Forum Silaturahmi Anak Bangsa yang digelar di Waterpark Ovanny, Jalan Tengku Amir Hamzah, Kelurahan Jatinegara, Binjai Utara, Sabtu (15/9).

Jika penyelenggara tetap menampilkan Duo Serigala, maka Ormas Islam gabungan di‎ Kota Binjai mengancam akan melakukan Sweeping hingga pembubaran paksa acara tersebut.

Hal itu terungkap dari Ormas Islam gabungan yang terdiri dari GNPF Ulama, Forum Umat Islam, Majelis Mujahiddin, Lembaga Kajian Islam Al Kahfa, Dewan Mesjid Indonesia Kota Binjai, hingga perwakilan BKPRMI, menggeruduk Kantor DPRD Binjai Sementara ‎di Gedung Ovanny, Jum'at (14/9).

Mewakili massa, Ustad Sani Abdul Fattah, menyatakan keluhan dari masyarakat yang mengeluh soal adanya penampilan Duo Serigala yang sudah diterimanya sejak 4 hari lalu.

Terlebih, acara tersebut juga seolah ingin menaikkan popularitas Juliati selaku anggota dewan Fraksi Gerindra yang ingin bertarung kembali pada Pesta Demokrasi 2019 mendatang.

Ustad Sani mengaku, banyak masyarakat yang heran dengan kehadiran Duo Serigala di Kota Rambutan.

"‎Masyarakat bertanya, apa Binjai bukan kota Religius lagi. Apa tidak ada yang bisa dipanggil grup lain. Ini mendadak karena terus kita rapatkan, galang dan satukan bahwa acara ini tidak betul. Kami sepakat tidak (betul)," ujar Sani.

Melalui media sosial, pesan penolakan Duo Serigala dari Ormas Islam gabungan terus diserukan‎. Bahkan, ujar Ustad Sani, pihaknya sudah mencoba menghubungi semua Instansi terkait hingga Kepolisian, terkait keberatan Ormas Islam gabungan soal kehadiran Duo Serigala.

"Kami menolak Duo Serigala, akan sweeping juga," tegas Sani.

Dirinya menyebutkan, keberatan mereka terkait kedatangan Duo Serigala murni datang dari kalangan Ormas Islam se-Kota Binjai.

"Tidak ada Tendensi Politik. Tendensi apapun tidak ada, karena semua kita tahu dalam bergerak tidak ada bayaran," ujarnya.

Alasan Ormas Islam gabungan menolak, kata Sani, karena melanggar norma agama.

"Kalau ada bayaran, saya sudah kaya dari dulu. Selagi melanggar norma agama, kami menolak. Tadi malam melakukan rapat satukan kesepakatan bahwa kami mnenolak," ujarnya.

Tidak hanya itu, Ustad Sani juga memohon maaf kepada Juliati selaku pemilik gedung.

"Mohon maaf ibu Hj Juliati, kami bukan tidak sayang sama ibu. Dengan tegas dan keras menolak acara itu dilaksanakan di Kota Binjai ini," ujarnya seraya menyebut takbir Allahuakbar, yang disambut massa dengan ucapan senada.

Ormas Islam gabungan ini, sambung Ustad Sani, memastikan tidak akan segan-segan untuk mengipas acara tersebut jika memang Duo Serigala hadir dan tampil di atas panggung. Menurutnya, Ormas Islam harus bergerak menyerukan penolakan tersebut.

"Bukan OKP saja yang bisa bergerak, kami juga bisa bergerak. ‎Jangan dibuat hiburan itu (Duo Serigala)," tegas Sani.

Seolah ada kaitan kampanye Juliati, Ustad Sani yang juga menjabat Ketua DPC Satgas Anti Narkoba (SAN) Kota Binjai, mengaku sudah mendatangi basis massanya. Meski demikian, dirinya menegaskan tetap menolak kehadiran Duo Serigala.

"Kami sudah mendatangi basis massa ibu di Binjai Utara. Saya tanya (kepada mereka) itu, bilangnya ibu Hj Juliati mau kasih ambulans. Binjai kota religius, kalau bantu kami, kami bantu ibu juga. Kami tidak setuju, menolak aktraksi Duo Serigala di Kota Binjai," ujarnya.

Ketua FUI Binjai, Ustad Sanni Abdul Fattah yang mendengarkan jawaban dari Juliati dan penyelenggara merasa tidak sepaham. Dia pun mengancam akan menyurati Prabowo Subianto terkait ulah anggotanya di Kota Binjai.

"Ini pembodohan kepada kaum. Mau itu amal atau amil, kami dengan tegas menolak," teriak Ustad Sanni.

Tidak hanya Duo Serigala saja yang tampil, Master Limbad juga dikabarkan akan tampil di Gedung Sementara DPRD Binjai tersebut. Tak ayal, hal ini mencoreng tingkah DPRD Binjai. Soalnya, panggung hiburan tersebut digelar di tempat yang terhormat atau Kantor Wakil Rakyat yang sejatinya harus tampung aspirasi dari rakyatnya.

Menanggapi hal ini, Juliati mengucapkan puji syukur kepada tuhan yang Maha Esa. Dia juga mengucapkan terimakasih atas keberatan Ormas Islam gabungan tersebut.
 Bagi dia, ini adalah bentuk kepedulian.

"‎Alhamdulillah saya merasa sangat sangat berterimakasih, karena yang begitu peduli terhadap saya sehingga kegiatan yang akan kami laksanakan esok hari sangat menjadi perhatian. Saya juga sebelumnya mohon maaf yang sebesar besarnya. Awalnya saya tidak mengetahui gimana itu dengan maksud Duo Serigala," ujar Juliat‎i.

Usai ditanya kepada Manajemen Duo Serigala, Juliati mengetahui kalau kini dua perempuan tersebut sudah tidak Vulgar lagi. Sebab, manajemennya sudah berganti.

Juliati berdalih, Duo Serigala tampil tidak dibayar. Modusnya, mereka tampil sebagai bentuk untuk membantu sumbangan.

"Forum Silaturahmi Anak Bangsa yang diadakan di Binjai ini semata-mata untuk membantu kaum Dhuafa dan kaum tidak mampu. Bantuan beras 1,5 ton akan dibagikan di Binjai. Pertama Binjai Utara, menyusul Binjai lainnya.‎ Dengan adanya forum ini tujuan untuk membantu. Master Limbad ingin tunjukkan aktraksinya dan juga tidak kami bayar. Baju yang digunakan juga santun. Namun begitupun menentang, sama-sama kita dengarkan," katanya.

Sementara itu, Ketua Forum Silaturahmi Anak Bangsa, Burhanuddin, yang hadir dari Medan diberikan kesempatan berbicara dalam RDP tersebut. ‎Direktur perusahaan yang bergerak di bidang sosial ini juga mengaku anggota Nadhalatul Ulama (NU).

Dia mengaku, Duo Serigala memang sudah tergambarkan sebagai sosok dua perempuan cantik dan montok dengan penampilan vulgar.

 Namun, kata Burhanuddin, , itu dahulu. Kini, dia bilang, Duo Serigala tersebut sudah‎ Hijrah atau berpindah.

"Sekarang dipimpin (manajemen) ‎Andika Kangen Band. Apa salah saya mengajak orang ke jalan yang baik. Saya datangkan Duo Serigala yang berpenampilan berbeda. Apa salah orang yang sudah hijrah mengonotasikannya dengan pelacur," ujarnya.

Burhanuddin mengaku siap ditangkap jika memang Duo Serigala berpenampilan Vulgar. ‎Ditanya konsepnya seperti apa, menurut Burhanuddin memang Duo Serigala belum berpenampilan hijab.

 "Mereka belum memahami," tandasnya ketika disoal apakah penolakan Duo Serigala dari Ormas Islam gabungan ditunggangi unsur Politis.‎

Terpisah, salah seorang Tokoh Agama Kota Binjai, Muhammad Lud Siregar, dalam akun Facebooknya mengucap Syukur atas pertemuan itu.

"Alhamdulillah...
Pertemuan antara ormas islam dan tokoh masyarakat Kota Binjai yang dimediasi DPRD Kota Binjai yg dipimpin oleh abgda. M. Yusuf alias Ucok Aank dengan panitia acara Forum  Silaturahim Anak Bangsa pagi tadi berjalan dengan lancar. Permintaan Ormas Islam dan Tokoh masyarakat (yang diwakili oleh Ust Abdul Sani Fattah) untuk meniadakan Aksi Duo Srigala (yang aksinya kerap kali mengandung unsur erotis atau berbau pornografi) yang direncanakan akan tampil pada acara esok hari ditanggapi positif dan dapat dimaklumi oleh panitia, dan panitia menyatakan didepan pimpinan dan peserta rapat mensetujui permintaan tersebut dan tidak akan jadi mendatangkan artis duo srigala pada acara dimaksud". Dimintakan kepada semua pihak, khususnya Kapolresta Binjai beserta jajaran untuk dapat memahami dan dapat bekerjasama dengan baik untuk mengindahkan kesepakatan yang telah terbangun ini," ucap Muhammad Lud Siregar di akun Facebooknya. [] Metrolangkatbinjai

HIJRAH DARI SISTEM JAHILIAH


Hijrah Rasul saw. dari Makkah ke Madinah merupakan fragmen agung dari sirah beliau. Fragmen ini sangat menentukan perjalanan sejarah Islam dan kaum Muslim. Sungguh tepat Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. dan para sahabat memilih peristiwa hijrah sebagai awal penanggalan Islam (kalender hijrah).
Makna dan spirit hijrah itu layak direnungkan, lalu diterjemahkan dalam konteks kekinian. Dengan itu kita bisa mewujudkan kembali keagungan dan kemuliaan Islam dan kaum Muslim sebagaimana yang berhasil Rasul saw. wujudkan pasca hijrah.
Thalab an-Nushrah Pra-Hijrah
Pra-hijrah Rasulullah saw. mengalami apa yang dikenal sebagai âam al-huzni (tahun kesedihan), tahun ke-9 kenabian. Lalu beliau menjalani Isra dan Mikraj di tengah makin besarnya tantangan dan hambatan dakwah. Kemudian pada tahun ke-10 kenabian, Rasul saw. diperintahkan oleh Allah SWT untuk melakukan thalab an-nushrah (menggalang dukungan/pertolongan untuk dakwah). Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Ashqalani menyatakan, “Di tengah halangan dan rintangan berupa perlakuan kasar dan buruk dari penduduk Makkah, Rasul saw. diperintahkan oleh Allah untuk mencari pertolongan (thalab an-nushrah) (Al-Ashqalani, Fathu al-Bariî Syarhu Shahih al-Bukhari, VII/220).
Dalam rangka thalab an-nushrah ini, menurut Ibnu Katsir dalam Tarikh Ibni Katsir, dari penuturan Ali bin Abi Thalib ra., Rasul saw. mendatangi berbagai kabilah. Di antaranya: 1. Bani Amir bin Shashaah, 2. Bani Muharif bin Khashfah, 3. Bani Fazarah, 4. Bani Ghassan, 5. Bani Marah, 6. Bani Hanifah, 7. Bani Sulaim, 8. Bani Abbas, 9. Bani Nadhar, 10. Bani Baka, 11. Bani Kindah, 12. Bani Kalb, 13. Bani Harits bin Kaab, 14. Bani  Adzrah, 15. Bani Hadhramah, 16. Bani Tsaqif di Thaif (Lihat: Thabaqat Ibni Saad, Sirah Ibni Hisyam, Uyun al-Atsar); 17. Bani Syaiban bin Tsalabah dan Bani Dzuhli bin Tsalabah (Rawdh al-Unuf) dan 18. Bani Hamdan (HR al-Hakim, Al-Mustadrak).
Pada musim haji tahun ke-11, Rasul saw. bertemu dengan enam orang dari Kabilah al-Khazraj dari Yatsrib (Madinah). Mereka masuk Islam dan kembali ke Yatsrib untuk mendakwahkan Islam. Pada musim haji tahun ke-12, keenam orang itu datang lagi, ditambah enam orang lainya. Mereka bertemu dengan Rasul saw. di Bukit Aqabah. Terjadilah Baiat Aqabah Pertama.
Ketika mereka pulang, Rasul saw. mengutus Mushab bin Umair ra. bersama mereka untuk berdakwah di Madinah. Mushab mendakwahi manusia secara umum, juga ahlul quwwah wal manah (para pemilik kekuasaan) secara khusus, sekaligus meminta mereka untuk menolong Islam (thalab an-nushrah). Islam pun menyebar luas dan opini Islam dominan di Madinah. Lalu pada tahun ke-13, Mushab kembali ke Makkah. Muhammad Husain Haikal di dalam Hayatu Muhammad (hal. 202) menyataan, “Ketika Mushab bin Umair kembali ke Makkah, ia menceritakan kepada Rasulullah saw. keislaman penduduk Madinah, penyebaran Islam di tengah-tengah mereka serta kekuatan dan kekuasaan mereka. Mereka ini (ahlul quwwah wal manah) akan datang pada musim haji tahun ini bersama kaum mereka.”
Pada musim haji tahun itu pula, terjadilah Baiat Aqabah II. Mereka yang berbaiat kepada Rasulullah saw. terdiri dari 73 orang laki-laki dan dua orang perempuan. Isi Baiat Aqabah II itu: “Kalian membaiatku untuk mendengar dan menaatiku dalam kondisi giat dan malas, mengeluarkan nafkah ketika mudah maupun sulit, melakukan amar makruf nahi mungkar; untuk menyatakan kebenaran di jalan Allah tanpa takut terhadap celaan para pencela; dan kalian wajib menolong dan melindungi aku jika aku datang kepada kalian seperti halnya kalian melindungi diri kalian, istri kalian dan anak-anak kalian…” (HR Ahmad, Ibnu Hibban, al-Baihaqi, al-Hakim, Sirah Ibni Katsir).
Penyerahan Kekuasaan
Baiat Aqabah II merupakan Baiat penyerahan kekuasaan (istilam al-hukm) kepada Rasul saw. sekaligus pengangkatan beliau sebagai amir (pemimpin) Madinah. Dr. Muhammad as-Sayyid al-Wakil dalam bukunya, Taamulat fiî Sirah ar-Rasul saw. (hlm. 88), menyatakan, “Baiat Aqabah II telah menentukan ma’alim ad-Dawlah al-Islamiyah (rambu-rambu penunjuk Negara Islam). Baiat itu mengharuskan kaum Muslim Madinah melindungi Rasul saw. sehingga beliau bisa menyampaikan risalah Rabb-nya. Baiat Aqabah II juga mewajibkan mereka untuk mendengar dan taat dalam semua keadaan. Padahal mendengar dan taat (as-samu wa ath-tha’ah) hanya kepada seorang amir (pemimpin/penguasa) yang diridhai masyarakat untuk mereka…”
Dengan kata lain, Baiat Aqabah II menandai pengangkatan Rasul saw. sebagai kepala negara di Madinah. Dengan demikian sejak Baiat Aqabah II itu secara de jure Yatsrib (Madinah) telah berubah menjadi Dar al-Islam. Sejak itu kekuatan yang terwujud di Madinah adalah milik Islam dan kaum Muslim. Tinggal menunggu Rasul saw. hijrah ke Madinah sehingga Madinah berubah menjadi Dar al-Islam secara de facto.
Allah SWT lalu memerintahkan Rasul saw. hijrah ke Madinah. Beliau bersama Abu Bakar ash-Shidiq ra. berangkat pada 27 Shafar 1 H (12 September 622 M) dan tiba di Madinah pada 12 Rabiul Awal 1 H (27 September 622 M).
Pendirian Daulah Islam
Setiba di Madinah, Rasul saw. langsung bertindak sebagai kepala negara secara de facto. Yang pertama beliau lakukan adalah menyempurnakan pilar negara: Pertama, mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Kedua, membangun Masjid Nabawi sebagai pusat kehidupan masyarakat Islam yang baru terbentuk. Masjid Nabawi bukan hanya untuk shalat dan ibadah, tetapi juga menjadi pusat pemerintahan. Di situ Rasul saw. juga memutuskan perkara dan menerima delegasi dari berbagai kabilah, institusi dan negara. Ketiga, Rasul saw. membuat Watsiqah Madinah (Piagam Madinah). Piagam ini mengatur interaksi masyarakat yang terdiri dari beragam suku dan pemeluk agama (ada Muslim, musyrik dan Yahudi). Dalam Piagam Madinah jelas termaktub bahwa hukum yang berlaku adalah hukum Islam. Salah satu poin di dalam Piagam Madinah yang diriwayatkan di dalam Sirah Ibni Hisyam menyatakan, “Wa innakum mahma ikhtalaftum fihi min syay[in] fa inna maraddahu ilalLah Azza wa Jalla wa ila Muhammadin (Bahwa kalian, apapun yang kalian perselisihkan, harus kembali kepada Allah dan Muhammad saw.).”
Di dalamnya juga ditegaskan, “Wa innahu ma kana bayna ahli hadzihi ash-shahifati min hadats[in] aw istijarat[in] tukhâfu fasâduhu fa inna maraddahu ilalLah wa ila Muhammad RasulilLah (Bahwa peristiwa atau perselisihan yang terjadi di antara orang-orang yang menandatangai piagam ini, yang dikhawatirkan menimbulkan kerusakan, harus dikembalikan kepada Allah dan kepada Muhammad Rasulullah saw.).”
Alhasil, pasca hijrah, selain tugas kenabian dan kerasulan, Rasulullah saw. juga menjalankan tugas kenegaraan, yakni sebagai kepala negara. Beliau mengangkat panglima perang, mengirim berbagai detasemen, membentuk militer, mengumumkan perang, memungut dan mendistribusikan harta, mengangkat para petugas administrasi, mengangkat para wali (gubernur) dan amil (bupati), mengadili banyak kasus/perkara, menjalankan hubungan dan politik luar negeri dan sebagainya.
Semua itu merupakan suri teladan yang mesti kita teladani, sebagaimana firman-Nya:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ …
Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (TQS al-Ahzab [33]: 21).
Allah SWT juga memerintahkan kita untuk mengambil apa saja yang beliau bawa dan meninggalkan apa saja yang beliau larang (QS al-Hasyr [59]: 7). Tentu termasuk di dalamnya tuntunan dan hukum Islam yang terkait dengan kenegaraan, pemeritahan/politik, ekonomi, hukum, peradilan dan semua urusan publik lainnya.
Alhasil, dari paparan di atas, hijrah Rasul saw. merupakan tonggak pendirian Daulah Islam (Negara Islam), penegakan sistem Islam, penerapan syariah Islam sekaligus pembentukan masyarakat Islam.
Mewujudkan Kembali Spirit Hijrah
Di antara spirit hijrah yang paling penting adalah spirit penegakan sistem pemerintahan Islam, penerapan syariah Islam serta pembentukan dan pembangunan masyarakat Islam. Spirit hijrah semacam ini sejatinya mendorong kita untuk segera meninggalkan sistem dan hukum jahiliah, lalu menerapkan sistem dan hukum Islam. Sistem dan hukum jahiliah adalah sistem dan hukum selain hukum Allah (syariah Islam). Allah SWT sendiri telah membagi hanya ada dua jenis hukum: hukum Allah dan hukum jahiliah (QS al-Maidah [5]: 50).
Faktanya, saat ini umat tengah hidup di bawah sistem dan hukum jahiliah. Orang menyebutnya dengan jahiliah modern. Sebabnya, berbagai aspek kehidupan saat ini mirip dengan kehidupan zaman jahiliah dulu sebelum peristiwa hijrah. Saat ini ideologi sekular mencengkeram seluruh sendi kehidupan umat dengan segenap turunannya: sistem pemerintahan sekular; sistem politik demokrasi yang menghalalkan segala cara; sistem ekonomi ribawi yang berakar pada sistem kapitalisme neoliberal; sistem sosial yang cenderung longgar; sistem pendidikan yang jauh dari Islam; sistem hukum/peradilan yang lebih banyak berpihak kepada pihak yang kuat; dll. Inilah sistem dan hukum jahiliah modern yang telah mendatangkan berbagai dampak buruk bagi umat secara keseluruhan.
Jelas, untuk mewujudkan kembali spirit hijrah itu, sistem dan hukum jahiliah yang ada saat ini harus segera ditinggalkan. Kita harus segera berhijrah menuju sistem baru. Itulah sistem dan hukum Islam. Caranya dengan menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam semua aspek kehidupan. Tentu dalam sebuah institusi pemerintahan Islam, sebagaimana Daulah Islam yang pernah dibangun oleh Rasulullah saw. di Madinah pasca hijrah.
WalLah alam bi ash-shawaeb. []
Hikmah:
Allah SWT berfirman:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Apakah sistem hukum jahiliah yang kalian kehendaki? Sistem hukum siapakah yang lebih baik dari sistem hukum Allah, bagi kaum yang yakin? (TQS al-Maidah [5]: 50). []
[Buletin Kaffah No. 056, 4 Muharram 1440 H-14 September 2018 M]

JUBIR HTI: KALAU SISTEM BURUK MENGAPA TIDAK DIGANTI JADI LEBIH BAIK?


Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ismail Yusanto mengaku tidak tahu-menahu soal pelaporan dirinya terkait seruan ganti sistem yang dikatakannya viral di jagat maya.
“Soal ganti sistem itu kan biasa, artinya kalau sistem buruk kenapa tidak diganti menjadi lebih baik,” ujarnya seusai diskusi di Gedung Joang 45, Jakarta Pusat, Kamis (13/9/2018).
Dalam pengalaman bermasyarakat dan bernegara, dikatakan Ismail, sudah terjadi banyak pergantian sistem, mulai dari sistem politik, kepartaian, hingga pemilihan presiden dan kepala daerah.
“Jadi itu hanya anggapan mereka saja,” ujarnya.
Pria kelahiran Yogyakarta 49 tahun silam itu juga menolak ujarannya merupakan sesuatu yang bersifat makar.
“Makar itu kalau kita baca di KUHP artinya harus mengandung unsur aanslag, menyerang pribadi presiden dan wakil presiden, keutuhan dan kedaulatan negara,” tambahnya.
Selain itu, Ismail juga yakin masyarakat mampu menilai bahwa sistem di era pemerintahan saat ini bagaimana.
“Ekonomi kita banyak dikuasai korporat asing sehingga negara kehilangan kendali dan masyarakat yang jadi korban, dan sistem seperti itu banyak diprotes oleh masyarakat,” ujarnya.
Namun, dirinya tidak mau menegaskan apakah yang diserukan olehnya adalah ganti sistem di ekonomi.
“Saya hanya bilang secara umum, jadi ya harus ditanggapi dan dipahami secara umum. Di mana letak kesalahan saya?” pungkas Ismail.
Sebelumnya, pada Rabu (12/9/2018) Lembaga Bantuan Hukum Aliansi Masyarakat Sipil untuk Indonesia Hebat (LBH Almisbat) melaporkan Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera dan Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Ismail Yusanto.
Keduanya dilaporkan terkait unggahan video pernyataan ganti sistem dalam gerakan #2019GantiPresiden.
“Karena kami melihat bahwa di media itu sempat ada unggahan video terkait dengan dugaan yang kita anggap makar ini,” ujar Pengacara Publik LBH Almisbat, Komarudin, di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta Pusat, Rabu (12/9/2018)[]
Sumber: tribunnews.com