Slider

Berita Video

Berita Pilihan

Kabar Medan

Tsaqofah

Sudut Pandang

Dinamika Dakwah

Berita Foto

Melon.. oh Melon.... Dimanakah Kau Berada?

Oleh : Nazli Agustina, S.Pdi (Aktivis Pemerhati keluarga dan generasi)

Kelangkaan Gas Elpiji 3 kilogram (Kg) bukan hal yang pertama kalinya terjadi. Beberapa minggu terakhir masyarakat di sejumlah daerah mengeluhkan kelangkaan gas elpiji 3 kilogram (kg) bersubsidi. Situasi ini tentunya menyulitkan masyarakat. Tak hanya menghambat aktivitas masyarakat, kelangkaan ini juga membuat harga isi ulang gas menjadi lebih mahal dari biasanya.

Sistem Kapitalis dibalik fakta kelangkaan Gas melon

Apa?! Hari gini masak pakai kayu bakar? kira-kira gimana rasanya ya? Yang pasti repot lah, seperti hidup di zaman old, zaman sebelum merdeka. Dan pastinya ada kekecewaan menyelimuti perasaan masyarakat, bagaimana tidak sebab keberadaan gas saat ini menjadi langka. Saya sendiri sebagai seorang ibu dan menjadi bagian dari masyarakat bisa merasakan kekecewaan yang dialami emak-emak di Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta), Provinsi Sumatera Utara. Karena saya pun sempat merasakan juga. Beberapa hari belakangan ini, mereka sulit mendapatkan gas 3 kg alias si melon. Akhirnya dengan terpaksa mereka harus mencari kayu bakar untuk memasak. Kesal? Pasti.
Apa yang dialami oleh emak-emak di Kabupaten Paluta sebenarnya bukan masalah baru. Kelangkaan si melon juga menjadi fenomena di beberapa tempat. Padahal kalau kita lihat, ketersediaan gas sangat memadai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pihak pertamina mengungkapkan saat ini ketahanan stok nasional elpiji berada pada kondisi aman, yaitu 18,9 hari, di atas stok minimal 11 hari. Bahkan cadangan gas Indonesia saat ini cukup besar, berkontribusi 1,5% dari total cadangan gas dunia. Saat ini Indonesia memiliki cadangan gas terbesar ketiga di wilayah Asia Pasifik setelah Australia dan Republik Rakyat Tiongkok (BP Statistical Review of World Energy 2015).

Lalu mengapa langka? Apa benar kelangkaan tersebut dipicu oleh kepanikan warga terkait isu akan didistribusikannya bright gas 3 kg tabung pink? Sehingga merebaklah aksi borong elpiji melon. Secara harga si pink konon lebih mahal dari si melon. Atau, faktor lain yakni peruntukan si melon yang masih belum tepat sasaran. Yang harusnya untuk rakyat miskin dan usaha mikro, ternyata orang kaya juga pakai. Atau faktor klise karena natal dan tahun baru dan di penghujung tahun? Sehingga dampak nya saat ini kita rasakan. Nah, pertanyaannya kemudian adalah mengapa faktor-faktor masalah tersebut tidak pernah selesai? Sementara pemerintah katanya sudah berupaya dg melakukan manajemen dalam hal mendata berapa kebutuhan penduduk akan gas selama 1 tahun, dari data itulah di kelola oleh pemerintah daerah dengan dibagikan gas tersebut kepada  setiap warga. Namun mengapa kelangkaan gas terus terjadi, seakan-akan pemerintah sudah buntu dalam mencarikan jalan keluar.
Menurut Iskandar Direktur Pertamina pusat bahwa kelangkaan terhadap gas 3 kg juga ditengarai oleh penggunaan yang pihak tidak berhak. "Hal ini diperkuat dengan adanya temuan di lapangan bahwa elpiji 3 Kg bersubsidi digunakan oleh pengusaha rumah makan, laundry, genset, dan rumah tangga mampu," ujar nya di Kantor.
PT Pertamina masih menemukan banyak keluarga mampu masih menggunakan gas elpiji 3 kilogram, salah satunya di Aceh. Padahal, sasaran distribusi dari gas melon ini adalah keluarga kurang mampu.

Menurutnya, hal ini disebabkan belum ada peraturan khusus bagi pembeli di pangkalan. Sehingga orang yang mampu pun bisa membeli gas elpiji bersubsidi. Inilah wajah kapitalisme, yang akan selalu memunculkan ketimpangan ekonomi diri kalangan masyarakat bahkan dalam pemenuhan kebutuhan gas saja, harus dibedakan bagi yg tidak mampu di berikan gas bersubsidi dan bagi yg mampu di dorong untuk membeli gas 12 kg.

Seharusnya dalam pemenuhan kebutuhan tidak ada pembedaan antara kaya dan miskin. Karena gas adalah merupakan kebutuhan dasar kolektif yang seharusnya setiap warga berhak mendapatkannya. Jika ada pembedaan seperti itu akan menyebabkan kecurangan-kecurangan dari orang yang mampu dengan mengaku dirinya miskin bahkan karena kapitalisme juga orang kaya bisa saja memanfaatkan gas melon tersebut untuk di jual dengan meraup keuntungan yang besar. Cukup berbekal kepada surat keterangan miskin maka si orang kaya tersebut akan mendapatkannya. Belum lagi pihak-pihak swasta (asing) yang menguasai gas, padahal kita negara terkaya akan gas, namun mengapa kita sulit dalam mendapatkan gas. Sehingga untuk menyelesaikan perkara kelangkaan gas ini, kita membutuhkan solusi tuntas. Jika kapitalisme membuka peluang2 kecurangan, sudah seharusnya kita berpindah kepada solusi yg hakiki, yaitu mencari jawaban dan langkah-langkah kepada sitem Islam.

Pandangan Islam

Dalam Islam, gas dikategorikan sebagai kebutuhan dasar manusia. Sebab, dengan gas keberlangsungan pemenuhan potensial manusia dapat terselenggara, misalnya untuk memasak. Politik ekonomi Islam telah menjamin terealisasinya pemenuhan semua kebutuhan primer (dasar) secara menyeluruh, serta meletakkan pemeliharaan dan penjamin terealisasinya kebutuhan primer tersebut ada di tangan Negara. Negaralah yang bertanggungjawab dan berkewajiban untuk melayani kepentingan masyarakat. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. bahwa Nabi Saw bersabda : Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat. Dia bertanggungjawab atas urusan rakyatnya (HR al-Bukhari).

Agar negara bisa melaksanakan hal-hal yang diwajibkan oleh syariah, maka syariah telah memberikan kekuasaan kepada negara untuk mengelola apa yang menjadi kepemilikan umum dalam rangka mewujudkan kemajuan taraf perekonomian umat contohnya gas, sebagaimana beliau Saw katakan : "Manusia berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal : air, padang rumput dan api." (HR Abu Dawud)
Oleh karena itu, pertama, gas yang dalam hadits diatas dimaknai sebagai api, tidak boleh diberikan kepada individu tertentu, apalagi kepada asing, karena ia adalah milik umum. Negara lah yang wajib mengelolanya dan hasilnya diberikan kepada rakyat yang membutuhkan. Dengan pembatasan kepemilikan ini, kelangkaan gas bisa diatasi karena tidak akan terjadi dominasi satu pihak terhadap kepemilikan gas.

Kedua, soal distribusi ke tengah-tengah masyarakat, Islam memiliki seperangkat aturan yang meniscayakan meratanya pemenuhan kebutuhan gas kepada seluruh rakyat. Islam melarang manusia untuk melakukan penimbunan terhadap harta. Sehingga sesungguhnya tidak perlu ada pembedaan antara orang kaya dan orang miskin dalam pendistribusian gas, mengingat pasokan gas yang dimiliki negeri kita sangat memadai. Jika pengelolaannya benar, insya Allah seluruh rakyat, siapa saja, akan terpenuhi haknya terhadap gas.
Terakhir, Negara harus menjalankan sanksi tegas bagi siapapun yang melanggar ketentuan syariah dalam hal pendistribusian harta seperti penimbunan tadi. Jika sistem Islam berjalan, Insya Allah kita tidak akan pernah mengalami kelangkaan gas seperti saat ini.

Kesimpulannya adanya sumber daya alam yang melimpah, ditambah pemerintah yang amanah, dan sistem Islam sebagai aturannya, insya Allah negeri ini akan makmur, sejahtera dan berkah. Baldatun toyyibatun wa Rabbun Ghafur.

Tausiyah Subuh Berjamaah: Khilafah Ajaran Islam


Dakwahsumut.com,Tanjungbalai(18/2),- Ratusan Warga Tanjungbalai hadiri shalat subuh berjamaah yang dilanjutkan dengan Tausiyah di Masjid Taufik Hidayah Jl. D.I.Panjaitan Tanjungbalai. Kegiatan yang dilaksanakan Aliansi Umat Islam(AUI) Tanjungbalai yang terdiri dari berbagai ormas Islam,Pemuda dan Mahasiwa ini sudah yang ke 21 ,rutin dilaksanakan setiap minggunya di masjid dan Mushallah Se Kota Tanjungbalai.

Koordinator AUI ustad Indra Syah dalam sambutannya mengatakan Kegiatan Subuh berjamaah ini adalah salah satu kegiatan rutin yang dilaksanakan warga Tanjungbalai dengan sebutan Gerakan Masyarakat Muslim Tanjungbalai(GMMT) dan GMTT bercita-cita pada tahun 2025 nantinya shalat subuh berjamaah di Tanjungbalai sudah seperti pelaksanaan Shalat Jumat ramainya, ungkap beliau. Begitu juga Nazir Masjid Taufik Hidayah dalam sambutannya mengapresiasi kegiatan subuh berjamaah yang dilaksanakan Aliansi Umat Islam tersebut.

Tausiyah setelah shalat  Subuh disampaikan oleh Ustadz Muhammad Ali Rukun dengan tema Dari Masjid dan Mushallah Bangkit Menuju Peradaban Tanjungbalai. Beliau menjelaskan untuk Membangkitkan umat betapa pentingnya kesadaran bahwa saat ini Umat sedang dijajah sebagaimana dahulu ada Hari Kebangkitan Nasional di Indonesia sebagai wujud Perlawanan terhadap Penjajah. "Bicara tentang Kebangkitan maka tidak lepas dari yang namanya Perubahan dan kita tidak akan bisa berubah tanpa adanya kemauan untuk berubah sebagaimana dijelaskan dalam Qur'an Surat Ar Rad: 11" ujar beliau.
 Dalam membangkitkan umat Ust Ali memberikan tiga hal penting yang harus dilaksanakan yakni menjadi individu yang bertaqwa, melakukan control masyarakat (amar ma'ruf nahiungkar) dan penerapan hukum Islam dalam Bingkai Khilafah. Beliau menjelaskan Khilafah adalah Ajaran Islam yang wajib  ditegakkan sebagaimana kewajiban lainnya. "Menegakkan shalat hukumnya wajib menegakkan Khilafah juga wajib, Meninggalkan shalat berdosa begitu juga tidak menegakkan Khilafah maka bisa juha berdosa", ungkap beliau.

Subuh berjamaah yang dihadiri berbagai elemen masyarakat tersebut berjalan sukses. Tampak hadir Kapolsek Tanjungbalai Utara, dari unsur Pemerintah TNI dan Polri serta tokoh Pemuda dan Masyarakat. Selain itu hadir juga Ketua FUI Tanjungbalai ustadz Indra syah, Ketua Manzila Tanjunhbalau Ustadz Zainal Arifin,  Ketua GPII Indra BMT , Ketua FPM Indra Putra  Bungsu , Pengurus FKIM, MDI, TPU beserta pengurus dan anggota Ormas Islam lainnya.[]ar



Suara HTI, Suara Ulama, Kalau Dibungkam, Ulama Harus Bela

Dakwahsumut.com,Jakarta . Puluhan ulama dengan setia selalu hadir dalam persidangan gugatan HTI atas Kemenkumham di PTUN Jakarta Timur. Sebelum persidangan hari Kamis, 8 Pebruari 2018 yang lalu dimulai, redaksi Shautululama berkesempatan melakukan wawancara dengan sejumlah ulama yang dengan setia memberikan dukungan kepada HTI.
Salah satunya adalah, beliau KH. Miqdad Ali Azka
Mudir Pesantren Nidaa as Sunnah, Pondok Melati, Pondok Gede Bekasi. Berikut ini petikan wawancara kami dengan beliau.
Mengapa Kyai hadir di persidangan PTUN?
Saya hadir di persidangan kali ini dalam rangka memberikan support kepada HTI, yang  insya Allah dalam pekan-pekan terakhir ini akan memasuki babak akhir dari persidangan. Apakah HTI dimenangkan oleh PTUN ataukah HTI sudah selesai, insya Allah dipersidangan ini kita memberikan support.
 Apa support ulama kepada HTI?
Tentu karena perjuangan HTI ini kan selaras dengan perjuangan ulama, maka kita sebagai orang yang sadar, akan perjuangan itu, dimana HTI sebagai sebuah kumpulan masyarakat, organisasi yang memperjuangkan syariah dan khilafah, dan itu adalah suara dari ulama. Maka kemudian secara kelembagaan kalau HTI itu dibungkam dan diperseskusi, maka sesungghnya ulama harus banyak turun untuk membela hal itu.
Terima kasih Kyai atas waktunya, semoga masyarakat semakin tahu hakekat perjuangan HTI[] Shautululama

SUAP UNTUK MENDAPATKAN HAK, BOLEHKAH?


Oleh: Ust M Shiddiq Al Jawi

Tanya :
Ustadz, ada ulama mengatakan menyuap untuk mendapatkan sesuatu yang menjadi hak kita dibolehkan. Misal orang melamar kerja, dan dia memang sudah memenuhi semua kualifikasi dan lulus tes, kemudian dia menyuap karena diminta oleh pihak pemberi kerja. Ini katanya boleh. Yang haram katanya kalau orang itu menyuap padahal tak memenuhi kualifikasi dan tak lulus tes. Mohon pencerahannya. (Suratman, Makassar).
Jawab :
Memang ada sebagian ulama yang membolehkan suap (risywah) untuk mendapatkan hak atau untuk menolak kezaliman. Dalam kitab Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah disebutkan, ”Haram hukumnya meminta, memberi, dan menerima suap, sebagaimana haram hukumnya menjadi perantara pemberi dan penerima suap. Hanya saja, menurut jumhur ulama boleh bagi seseorang menyuap untuk mendapatkan hak atau untuk menolak kezaliman atau kemudharatan, dan dosanya dipikul oleh penerima suap, sedang pemberi suap tak berdosa.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, XXII/222).
Di antara ulama yang membolehkan suap seperti itu adalah Imam Ibnu Hazm, yang berkata, ”Adapun orang yang terhalang dari haknya lalu dia memberi (suap) untuk menolak kezaliman yang menimpa dirinya, maka yang demikian itu mubah (boleh) bagi pemberi, sedang bagi penerima berdosa.” (fa-ammaa man muni’a min haqqihi fa-a’tha liyadfa’a ’an nafsihi al zhulma fa-dzaalika mubaahun li al mu’thi wa amma al aakhidzu aatsimun). (Ibnu Hazm, Al Muhalla, VIII/118). Imam Ibnu Taimiyah juga berpendapat serupa. (Lihat Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al Fatawa, Juz XXXI hlm. 285, Juz XXIX hlm. 258, dikutip oleh Syeikh ‘Athiyah Muhammad Salim dalam kitabnya Al Risywah, hlm. 35-36).
Dalil mereka adalah dalil yang men-takhshish (mengecualikan) keumuman hadits yang mengharamkan suap, di antaranya :
(1) hadits bahwa Rasulullah SAW telah memberikan harta kepada peminta-minta padahal harta itu akan menjadi api neraka bagi peminta-minta. Umar bertanya.”Lalu mengapa Engkau tetap memberikan?” Rasulullah SAW menjawab, ”Karena mereka tetap saja memintaku dan Allah tidak menghendaki aku bersifat bakhil.” (HR Ahmad, no 10739). (Ibnu Taimiyyah, Majmu’ al Fatawa, Juz XXIX hlm. 258);
(2) pendapat Ibnu Mas’ud ra yang memberi suap di Habasyah sebesar dua dinar agar dapat bebas melakukan perjalanan, dia berkata, ”Dosanya bagi penerima, bukan pemberi.” Juga pendapat sebagian tabi’in, yaitu ‘Atha dan Al Hasan. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, XXII/222).
Namun dalil di atas tak dapat diterima, karena : (1) dalil pertama itu topik (maudhu’)-nya adalah pemberian harta kepada peminta-minta, bukan pemberian harta untuk menyuap, maka tak dapat ditarik kesimpulan umum hingga mencakup topik suap. Kaidah ushuliyah menyebutkan : ‘Umuum al lafzhi fii khushush as sababi huwa ‘umuumun fii maudhuu’ al haditsah wa al su’aal wa laysa ‘umuuman fii kulli syai`in. (Keumuman lafal dalil dalam sebab yang khusus adalah keumuman dalam topiknya dan pertanyaan [kepada Nabi SAW], bukan umum untuk segala sesuatu). (Taqiyuddin An Nabhani, Al Syakhshiyyah Al Islamiyyah, III/242). (2) dalil kedua itu berupa pendapat/ijtihad shahabat atau tabi’in, padahal keduanya bukan sumber hukum yang mu’tabar (kuat). (Taqiyuddin An Nabhani, ibid., III/417).
Jadi, dalil yang men-takhshish (mengecualikan) keumuman haramnya suap itu tak dapat diterima, sehingga pendapat yang lebih kuat (rajih) adalah pendapat yang mengharamkan semua jenis suap, termasuk juga suap untuk mendapatkan suatu hak atau untuk menolak suatu kezaliman, berdasarkan keumuman hadits yang mengharamkan semua jenis suap. Inilah pendapat yang dipilih oleh sebagian ulama seperti Imam Syaukani dan Imam Taqiyuddin An Nabhani, rahimahumallah. (Imam Syaukani, Nailul Authar, X/531; Taqiyuddin An Nabhani, Al Syakhshiyyah Al Islamiyyah, II/333). Wallahu a’lam. []

"In Moderation", Islam Zaman Now?


#resolusihijrah
Oleh : Zayna Ghauts Purwodihardjo ( Politisi Muda Sumut )

Kebangkitan masyarakat lahir dari pemikirannya. Kebangkitan yang benar pastilah dihasilkan dari pemikiran yang benar, maka begitu pun sebaliknya, pemikiran yang salah akan menghasilkan kebangkitan yang salah pula. Pemikiran yang benar dibangun berdasarkan akal sehat nan lurus tanpa unsur kepentingan, desakan, maupun alasan fleksibilitas.
Berkaca pada peristiwa-peristiwa penting sepanjang tahun 2017 hingga awal tahun 2018 yang berhasil menyedot perhatian jutaan pasang mata, Indonesia masih disibukkan dengan sandiwara para koruptor diatas kebusukan sistem, juga dilanda krisis multidimensi, berbagai jenis penyakit dan bencana, hingga kerusakan generasi muda buah pendidikan sekuler. Problematika ini akan terus menjadi problem jangka panjang karena belum pernah diselesaikan secara tuntas terlebih melihat kebijakan Pemerintah ala demokrasi yang pragmatis dan sarat kepentingan.
Lalu dimana para Intelektualnya? Disibukkan dengan program pro asing dan aseng. Beberapa pencapaian Pemerintah dan sebagian pemuda dalam hal pembangunan maupun dunia digital kreatif juga tidak terbukti memberi pengaruh yang berarti pada kesejahteraan masyarakat (berdasarkan data BPS tahun 2017 'tingginya angka kemiskinan') alih-alih berharap kebangkitan pemikiran yang shohih. Adapun yang tak kalah menariknya adalah isu kebangsaan dan ormas Islam pengusung ide Khilafah sebagai 'tersangka' utamanya. Sedangkan elit politik semu memanfaatkan agama sebagai alat tunggangnya. Penulis melihat kondisi Indonesia yang paling parah khususnya menanggapi respon terhadap ormas dan rekonstruksi ide ide Islam.
Sebagai tandingannya, disyiarkanlah ajaran Islam moderat dalam kotak toleransi dan pita damai dilengkapi dengan sepucuk dalil di belakang para ulama. "In Moderation" atau "secukupnya" itulah jargonnya. Jika ingin ber-Islam jangan berlebihan, secukupnya saja. Itulah potret "Islam Zaman Now" alias Islam Masa Kini. Pemikiran publik semakin dikacaukan dengan fiksi beda zaman beda aturan, seolah ada kitab baru, seraya melupakan dosa 'investasi'. Muncullah banyak paham keliru akibat gagal fokus pada persoalan umat.
Gerakan-gerakan kebangkitan Islam akhirnya kerap menjadi korban kebijakan salah sasaran. Padahal apa yang diperjuangkan sejauh ini tak ubahnya harapan besar gerakan agama dan ideologi lainnya untuk menegakkan persepsi yang mereka emban. Misi pergerakan Islam adalah misi yang mulia, sebagaimana cita-cita para tokoh yang memperjuangkan Negeri ini keluar dari mimpi buruknya, mengusir para penjajah beserta seluruh makar jahatnya. Terlebih yang senantiasa dijunjung tinggi adalah syariah-Nya.
Bicara syariah, berarti bicara visi politik yang akan melahirkan kemajuan jangka panjang. Aneh sekali, jika para pejuangnya diserang dengan tuduhan "apancasila", "radikal", ataupun "intoleran" dan sejenisnya yang dianggap kontraproduktif (sekalipun tidak pernah ada dasar kuat terhadap tuduhan tersebut). Yang perlu dicurigai justru adalah oknum-oknum yang terus menghalangi upaya perbaikan umat dengan syariah yang mulia ini.
Politik Islam yang agung karena ajaran kaffah-nya kian diburu dengan status "pemecah-belah". Opini digulirkan secara massif ke tengah-tengah umat seolah kekhawatiran terhadap politik Islam itu datang dari masyarakat lalu sengaja membentuk dan memelihara 'mindset' salah kaprah. Jadilah para aktivisnya buronan massa. Cara semacam ini juga dilakukan di berbagai Negeri, terhadap perjuangan politik Islam sebagai satu-satunya rival ideologi berkuasa saat ini. Namun biidznillaah, derasnya arus Islamophobia" juga berbanding lurus dengan derasnya jumlah muallaf, seperti halnya di Eropa.
Satu hal yang harus selalu terpatri dalam diri kita bahwa bumi dan Negeri ini adalah milik Allah subhanahu wata'ala dan senantiasa berada dibawah kekuasaan-Nya. Jika jelas sudah siapa penguasanya, maka jawaban dari pertanyaan "apa yang harusnya berkuasa?" sudah pasti jawabannya adalah syariah-Nya, namun ini hanya mampu dijawab oleh orang-orang mukmin yang bertaqwa. Maka mari mengintrospeksi diri, jika kita benar-benar orang yang berilmu.
Kondisi orang-orang berilmu saat ini sangatlah jauh berbeda dari apa yang sejatinya menjadi peran mereka sebagaimana para pendahulu. Imam Al-Ghazali pernah bertutur, "Dulu tradisi orang-orang berilmu adalah mengoreksi dan menjaga penguasa untuk menerapkan hukum Allah SWT. Mereka mengikhlaskan niat. Pernyataannya pun membekas dihati. Namun, sekarang terdapat penguasa yang zhalim namun orang-orang berilmu hanya diam. Andaikan mereka bicara, pernyataannya berbeda dengan perbuatannya sehingga tidak mencapai keberhasilan. Kerusakan masyarakat itu akibat kerusakan penguasa, dan kerusakan penguasa akibat kerusakan orang-orang berilmu. Adapun kerusakan orang-orang berilmu akibat digenggam cinta harta dan jabatan. Siapapun yang digenggam cinta dunia niscaya tidak akan mampu menguasai kerikilnya, apalagi untuk mengingatkan  para penguasa dan para pembesar".
Lantas bagaimana harusnya sikap kita menghadapi seluruh persoalan Negeri?. Sebagai orang cerdas, kita perlu melihat akar permasalahan. Kerusakan masyarakat itu berakar dari kerusakan pemikiran dan aturannya. Masyarakat harus sadar bahwa mereka terjebak dalam sistem kehidupan yang bathil buatan manusia yang akan hanya menghisap dalam jangka panjang. Tidak pernah ada landasan hukum yang menyatakan bahwa hukum Islam dapat berubah sesuai dengan perubahan zaman, sebagaimana Islam masa kini diharuskan menjadi Islam yang moderat. Kita harus berani melangkah, mengaplikasikan resolusi hijrah untuk Indonesia yang lebih baik.
Sebagian orang mungkin berargumen perbincangan ini hanyalah omong kosong agama dan generasi kini tak perlu menyibukkan diri karenanya. Benar, di zaman milenial ini kita perlu bijak bersosial media agar tak tenggelam dalam perdebatan kurang sehat ala kaum 'nyinyirisme', namun kita tidak dapat menutup mata terhadap setiap kejadian yang menimpa Negeri, karena realitanya, masa depan bangsa bergantung pada kontribusi aktif dalam setiap problematika umat ini, khususnya persoalan aqidah yang menjadi dasar bangunan ideologi sebagai benih unggul sebuah kebangkitan yang benar.
Kita perlu memandang seluruh persoalan Negeri dengan pandangan holistik, tidak mengotak-ngotakkannya, ialah Islam sebagai sebuah ideologi, bukan sentimen agama, karena ia berlaku bagi seluruh umat manusia. Hingga setelah Rasul saw. wafat dan digantikan kepemimpinan negerinya dengan Khalifah satu ke Khalifah berikutnya, tetap dengan konteks konstitusi yang sama yakni Islam, maka siapapun membuktikan bahwa sepanjang sejarahnya, Islam digunakan disegala lini kehidupan dengan jaya sehingga disebut The Golden Age, hidup berdampingan antar umat yang beragam dengan sistem masyarakat yang unggul dan sejahtera tanpa kedzhaliman, sangat mengagumkan dan menjadi mercusuar yang mempengaruhi dunia modern.
Islam moderat hanyalah senjata beracun sebagai upaya mematikan gerakan kebangkitan Islam kaffah dan jelas sangat berbahaya bagi umat. Isu ini sudah berulang kali dibahas dalam forum-forum diskusi tokoh, namun tampaknya berulang kali pula umat dibuat gagal paham seolah Negeri ini dirundung masalah karena intervensi agama dalam politik Negara. Padahal Politik adalah bagian yang terintegrasi dalam sistem hidup Islam, dan karena pengabaian terhadapnya lah yang justru menjadi akar setiap persoalan Negeri. Allah subhanahu wata'ala memerintahkan kita untuk mengambil Islam secara kaffah, tidak setengah-setengah atau secukupnya saja.
Solusinya adalah mengembalikan Islam pada tatanan kehidupan secara paripurna. Seruan itu jelas pada seluruh manusia yang sempurna akalnya. Sehingga mereka tidak lantas berhenti mencari tahu kebenaran hanya karena mereka tidak sanggup menahan tekanan duniawi. Sudah saatnya umat Islam masa kini berpikir dan bertindak cerdas demi menyongsong kebangkitan hakiki, bangga bicara syariah kaffah dan tidak takut bicara Khilafah karena ialah kharisma kemuliaan. "Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.” (TQS. Al-Ahqaaf : 31). Wallahua'lambishawab.

PERANAN KELUARGA DALAM PENDIDIKAN ANAK


Mimi Yulianti, S.Pd (Tokoh Peduli Keluarga dan Generasi Sumut)
Peranan keluarga dalam pendidikan anak merupakan hal yang sangat penting, karena keluarga khususnya orangtua bertanggungjawab jawab penuh atas perkembangan fisik, jiwa, pendidikan maupun perkembangan sosialnya. Apalagi jaman sekarang, dimana pengaruh budaya Barat semakin kuat menggeser budaya Timur khususnya Indonesia, merupakan tantangan yang sangat besar dan kompleks. Kebanyakan anak-anak senang meniru-niru gaya dan kebiasaan Barat dalam berbusana ataupun bergaul, dan hal-hal lain yang bersifat kebarat-baratan.
Begitu pula dengan perkembangan di dunia teknologi yang sedemikian pesat, seperti teknologi industri, teknologi informasi. Hal ini mengakibatkan berubahnya perilaku, kebiasaan, dan perkembangan jiwa anak. Orang tua, bahkan anak-anak menjadi konsumtif, bahkan memaksakan diri untuk mengikuti perkembangan-perkembangan tersebut, semisal berganti-ganti sepeda motor, berganti-ganti Hand-phone dan sebagainya, dengan alasan takut ketinggalan jaman.

Ditambah lagi dengan penerapan sistem Kapitalis saat ini yang memberikan peluang yang besar bagi ibu-ibu agar berkerja di berbagai kantor atau perusahaan, itupun pasti akan berpengaruh terhadap pendidikan anak khususnya perkembangan jiwanya, karena para ibu tak memiliki waktu yang cukup untuk membimbing, mendidik, dan mengawasi putra-putrinya. Padahal, mereka sangat membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan bimbingan dari orangtua khususnya bimbingan ibunya. Akibatnya, terjadilah kecenderungan kerusakan moral dan mental pada anak. Oleh karena itu khususnya para orangtua dan para pendidik harus berusaha keras, dan harus ada perubahan sistem, yang bisa mengatur peranan keluarga dan para pendidik untuk mendidik anak, agar mereka kelak bisa menjadi generasi pemimpin yang bertaqwa kepada Allah SWT, maka sistem yang bisa mengatur semua ini adalah sistem Islam dengan tegaknya Daulah Khilafah ‘ala Minhaj Nubuwwah, dan sistem ini yang akan membendung kerusakan moral dan mental masyarakat.
Dengan kondisi saat ini, selain berdakwah mengajak masyarakat berjuang bersama–sama untuk memperjuangkan Islam, maka kita harus betul–betul memahami peran orangtua atau keluarga dalam masalah pendidikan anak ini. Apakah orangtua memiliki waktu yang cukup untuk mendidik, membimbing, dan mengawasi serta memberikan contoh teladan yang baik kepada putra-putrinya, dan memiliki ilmu yang cukup tentang bagaimana cara mendidik anak? Ataukah orangtua lebih membiarkan mereka berkembang sesuai jaman dan keadaan yang kemungkinan akan membawa mereka ke jurang kerusakan moral dan mental bahkan kepribadian mereka?
Nah, perbedaan dari cara mendidik seperti yang disebutkan di atas tadi, akan menghasilkan dua tipe anak-anak. Pertama, anak yang memiliki kepribadian Islam yaitu pola pikir dan pola sikapnya sudah sesuai dengan Al Qur’an dan As-sunnah yang akan menjadi kebanggaan orang tua dan keluarga, atau yang kedua adalah anak-anak yang menjadi korban dekadensi moral akibat kerusakan sistem Kapitalis seperti sekarang ini. Jadi keluarga dan para pendidik saat ini harus memiliki konsep yang jelas untuk mendidik anak – anak saat ini.
Sebagai solusi untuk memperbaiki dan membentuk moral, mental bahkan kepribadian secara utuh pada anak-anak, marilah kita coba menerapkan beberapa hal berikut :

Para orangtua khususnya ibu harus memiliki ilmu mendidik anak sesuai perkembangan usianya, dan memiliki waktu yang cukup untuk membimbing dan mengawasi putra-putrinya, karena bimbingan dan pengawasan merupakan bagian dalam mendidik anak. Dengan memiliki waktu yang cukup, orang tua bisa lebih banyak memberi perhatian, bimbingan serta penjelasan tentang baik dan buruk misalnya, karena anak-anak belum tahu dan belum mengenal mana yang baik dan mana yang buruk, begitu pula dengan mana yang berbahaya dan tidak bagi mereka. Mulai dari penanaman keimanan sejak lahir dan pembiasaan akhlaq yang dilakukan sehari-hari ketika mereka masih balita, seperti makan-minum menggunakan tangan kanan, makan minum tidak boleh sambil berdiri, dan mengucapkan terima kasih jika diberi sesuatu oleh seseorang. Jika mereka sudah beranjak remaja, mulailah diajarkan bagaimana menjaga kebersihan ataupun membereskan keperluannya sendiri. Orang tua juga harus bisa memberikan contoh tauladan dalam keseharian, biasanya anak akan meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya, karena anak memiliki kecenderungan untuk meniru.
Anak laki-laki dengan anak perempuan memiliki kecenderungan meniru yang berbeda. Anak laki-laki cenderung meniru dan mengidolakan ayahnya. Banyak hal yang dilakukan oleh ayahnya, diamatinya yang kemudian ditirunya, sedangkan anak perempuan cenderung mengamati dan meniru kebiasaan ibunya. Jadi, ayah dan ibu sama-sama memiliki peran dalam mendidik putra-putrinya, walaupun dalam bentuk yang berbeda.

Semakin besar, anak akan mengenal lingkungan yang lebih luas, disamping lingkungan keluarganya. Lingkungan teman-teman di sekolah, di tempat kursus, di club olah raga, atau lingkungan temannya bermain. Lingkungan yang lebih luas ini akan memberi pengaruh terhadap perkembangan jiwa, mental, dan moral mereka. Jauhkanlah mereka dari teman-teman yang sekiranya akan membawa pengaruh buruk, pilihkan teman-teman yang mengajak kepada hal-hal yang bermanfaat, misalnya membentuk kelompok pengajian dan belajar bersama atau kegiatan positif lainnya yang berguna bagi masa depan mereka dan bisa terpantau oleh orang tua.
Ayah dan ibu sebagai orangtua adalah model bagi putra-putrinya. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak – anaknya sehingga tingkah laku orangtua merupakan ajaran yang sangat berarti bagi pertumbuhan mereka, baik pertumbuhan fisik, perkembangan jiwa maupun perkembangan kepribadiannya. Perilaku dan kebiasaan orang tua lah yang pertama akan ditiru oleh mereka. Itulah sebabnya orang tua harus memberikan contoh teladan yang baik. Namun demikian tidak berarti hanya lingkungan orang tua atau keluarga saja yang akan mempengaruhi perkembangan mereka, tetapi lingkungan luar rumah pun cukup besar pengaruhnya, sebagaimana telah diutarakan di atas, yaitu teman-teman mereka juga akan mempengaruhi mereka, bahkan bisa jadi lebih besar pengaruhnya.
Ketika anak sudah mulai menginjak usia remaja, kendala-kendala bagi orang tua dalam mendidik anak akan bertambah besar, karena di usia ini anak mulai ingin memiliki hak untuk bebas berpikir dan berperilaku, oleh karena itu mereka akan menunjukkan sikap keras kepala, susah diatur bahkan membangkang. Di sinilah orangtua harus bisa bersikap bijaksana dan penuh pengertian. Peran orang tua dalam mendidik, merupakan salah satu kewajiban terhadap anaknya dan sebaliknya menjadi hak anak yang harus dipenuhi oleh orang tuanya.
Kemudian, dianjurkan kepada orang tua untuk menjalin hubungan yang dekat dengan anak, agar anak merasa nyaman untuk mengemukakan pendapat dan perasaannya kepada ibu dan ayah mereka. Mereka mempercayai orang tuanya sepenuhnya, sehingga tidak perlu lagi mencari pendapat orang lain atau teman-temannya sekalipun. Disamping memberikan pendidkan umum, orang tua juga perlu mendidik anak-anaknya dalam hal ketaatan kepada agamanya, sebagai Muslim tentunya harus taat kepada Allah dan Rosul-Nya, taat dalam menjalankan perintah-perintah-Nya.

Di dalam Islam, banyak terdapat ajaran mengenai etika, perilaku santun, sifat-sifat mulia dan berbakti kepada orangtua. Orang tua, ibu dan ayah adalah orang-orang yang paling berjasa dalam membesarkan dan mendidik anaknya. Seorang anak tumbuh menjadi besar dan kuat dikarenakan jasa orangtuanya. Nabi Muhammad s.a.w. mengatakan, jasa seorang ibu tak kan terbalaskan sekalipun telah menggendongnya untuk pergi haji. Begitu pula dengan ayah yang telah bekerja keras untuk menafkahi anak-anaknya. Allah SWT. memerintahkan berbuat baik kepada kedua orangtua setelah memerintahkan untuk menyembah-NYa, dan juga memerintahkan bersyukur kepada-Nya dan bersyukur kepada kedua orangtua. Dia menempatkan perintah berbakti dan bersyukur kepada orangtua pada urutan kedua. Jadi, begitu pentingnya, perintah untuk berbakti kepada kedua orang tua.

Alangkah bangga dan bahagianya memiliki anak yang cerdas dan berkepribadian Islam seperti itu. Dengan menanamkan nilai-nilai keimanan dari ajaran agama, juga akan mengakibatkan terbentuknya keyakinan yang sehat dan pengetahuan yang luas. Perpaduan antara pendidikan spititual dan akal, akan menimbulkan kepribadian yang tangguh, sebab akal yang terus berkembang akan sangat bermanfaat bagi kehidupan dan kemampuan seseorang. Begitu pula kekuatan keimanan yang juga terus berkembang dengan mantap akan dapat menjaga seseorang dari kesalahan dan kekeliruan. Jika seseorang telah mampu memahami sesuatu dengan halal dan haram, dan mencintai kehidupan berdasarkan keridhoan Allah, maka ia akan menjadi pilihan yang bisa diandalkan.

Ajarkanlah mereka cara memilih teman, karena setiap orang tentunya memerlukan teman, untuk bisa saling menghibur, saling mencurahkan perasaan dan saling menyayangi. Sebagai konsekwensi dari berteman adalah akan beralihnya akhlak dan perilaku sesama mereka, karena mereka saling mempengaruhi. Dalam ajaran Islam diajarkan untuk memilih teman yang hubungannya baik dengan Allah SWT. yaitu yang taat menjalankan perintah-perintah-Nya, yang takut kepada-Nya dalam kesendirian ataupun keramaian, dan yang senantiasa melakukan amal-saleh, agar pertemanan itu berdampak baik. Berteman karib dengan orang yang baik hubungannya dengan Allah tadi, merupakan asset kekayaan yang amat berharga dan abadi dalam kehidupan seseorang, disamping itu juga akan melestarikan kasih sayang dan kejujuran dalam bergaul.
Saat ini, orang tua dan anak harus berdakwah dan berjuang bersama – sama di tengah masyarakat agar masyarakat juga semakin rindu akan penerapan Islam kaffah dengan tegaknya Daulah Khilafah ‘Ala minhaj Nubuwwah, Wallaahu A’lam bi ash-showaab.
editor : Zayna Ghauts

Mengapa Remaja Kita Semakin Agresif?


By : Iwan Januar

Sore itu anak sulung saya pulang dengan cerita mengerikan. Kawan-kawannya terlibat dalam bentrok tawuran melawan warga di malam hari. Gerombolan anak sekolah itu semula hendak menyerang lawan sekolah mereka, namun di lokasi mereka bentrok dengan warga yang bermaksud mencegah tawuran.
Cerita anak saya hanyalah mozaik yang melengkapi chaosnya perilaku kawula muda Indonesia. Kemarin kita dibuat trenyuh dengan kabar meninggalnya seorang guru muda setelah dianiaya muridnya, di Sampang, Madura.
Ini bukan kali pertama murid menganiaya guru. Tahun lalu di  seorang guru senior di Makassar mengalami kebutaan setelah dianiaya siswa dan bapaknya. Ayah dan anak ini kompak menghajar sang guru karena tak terima teguran yang diberikan pada sang anak.
Bahkan perilaku agresif ini juga ditampakkan anak-anak bau kencur. Di Kediri sekelompok anak SD menganiaya kawan sebayanya hanya karena ia melakukan gol bunuh diri dalam pertandingan sepakbola. Selain dipukuli, bocah malang itu juga ditendang kemaluannya. Ia pun harus masuk ICU karena luka serius.
Tak berapa lama kasus penganiayaan guru SMK di Sampang, di Los Angeles, AS terjadi penembakan di sebuah sekolah yang dilakukan siswi (perempuan) berusia 12 tahun dan melukai 5 orang pelajar. Sebelumnya, pada bulan Januari, seorang pelajar SMA berusia 15 tahun melakukan penembakan di Kentucky, AS, melukai 17 orang dan menewaskan dua orang pelajar.
Berita ini sengaja saya sandingkan, karena Indonesia nampaknya mulai mengikuti jejak AS dalam statistik tindak kekerasan oleh pelaku usia muda. Sejak tahun 1989, warga AS berkali-kali mengalami kasus penembakkan massal yang dilakukan usia muda khususnya pelajar. Statistik pada tahun 2010 menunjukkan 784 remaja ditangkap karena kasus pembunuhan dan 2.198 remaja ditangkap karena pemerkosaan. Lengkapnya pembaca bisa melihat di https://www.teenhelp.com/violence-anger/teen-violence-statistics/.
Amarah memang bagian dari karakter dasar manusia yang muncul sebagai naluri membela diri. Ia bermanfaat pada kadar tertentu, namun bisa menjadi berbahaya ketika agresifitasnya meningkat. Membanting pintu, merusak barang-barang, memaki-maki, sampai melukai orang lain adalah bentuk agresifitas yang berbahaya.
Semua terjadi tidak begitu saja, tapi karena sejumlah faktor yang terbentuk dalam rentang waktu cukup lama, sehingga mengubah karakter anak-anak dan remaja menjadi agresif dan beringas.
Apa saja penyebab yang membuat anak-anak dan remaja Indonesia hari ini bisa menjadi begitu agresif dan beringas?
1.  Kekurangan kasih sayang. Dalam tulisan saya https://www.iwanjanuar.com/pengasuhan-adalah-utang-orang-tua-pada-anak/ saya paparkan bahwa manusia bisa mengalami kelaparan kasih sayang. Anak-anak yang jarang dipeluk, dicium, dan diperhatikan orangtuanya akan mengalami kondisi skin hunger. Keadaan ini membuat anak sulit membayangkan rasanya cinta, kasih sayang, dan berempati pada orang lain. Ruang batin anak-anak seperti ini kering dan malah hanya diisi dengan kesedihan bahkan dendam. Mereka sedih karena tak bisa merasakan kasih sayang seperti anak-anak lain, dan juga merasa dendam pada siapa saja yang ia anggap melukai hatinya.
Kasih sayang itu amat bermanfaat bukan saja mengisi ruang batin anak, tapi juga sekaligus sebagai kendali dan rem agresifitas seorang anak. Kecukupan kasih sayang pada seorang anak membuat ia tak mudah melampiaskan amarah apalagi menyakiti orang lain, karena ia bisa khawatir hal itu juga menimpa dirinya.
2.  Pembiaran oleh orang tua dan lingkungan. Ada sebagian orang tua membiarkan anak mereka melakukan tindak kekerasan pada kawannya dengan alasan sebagai latihan membela diri. Padahal orang tua harus bisa membedakan antara mempertahankan diri dengan menyakiti orang lain.
Ada juga orang tua yang out of control, memang benar-benar membiarkan anak mereka mempraktekkan kekerasan pada kawan atau saudara kandungnya. Ini karena kejahilan orang tua dalam pendidikan anak. Kondisi macam ini terutama terjadi pada keluarga broken home, dan keluarga miskin yang orang tua disibukkan dengan pemenuhan kebutuhan pokok. Semakin tinggi level kemiskinan dan jumlah keluarga broken home, maka kekerasan di kalangan anak-anak dan remaja juga meningkat.
disharmonis,
3.  Film, video game dan konten kekerasan lain. Ketika saya menulis buku Kecanduan Video Games yang diterbitkan oleh Gema Insani Press, saya mendapatkan artikel yang berisi pengakuan instruktur militer bahwa konten kekerasan dalam video game sudah melebihi takaran pelatihan militer. Khususnya di Indonesia hampir semua anak dan remaja bisa menonton dan mainkan game meski terdapat konten kekerasan dan pornografi.
4.  Pembiaran oleh sistem. Di dunia maya netizen mulai berceloteh; ketika ada siswa dipukul guru kalian ribut, tapi ketika guru mati di tangan siswa kalian diam saja. Ya, hampir setiap ada kekerasan bahkan berakibat kematian yang dilakukan pelajar selalu ada excuse, pemakluman dan pengecualian. Pada kasus siswa yang memukul guru hingga meninggal, pemda dan sejumlah kalangan langsung meminta agar pelaku tidak dipenjara, tapi diberikan perlakuan khusus yakni dianggap sebagai anak-anak.
Problem inilah yang telah diselesaikan oleh syariat Islam. Dalam sistem pidana Islam, orang yang telah memasuki usia akil-baligh, atau terdapat tanda-tanda baligh/pubertas, ia wajib diperlakukan sebagai orang dewasa. Secara usia, seorang remaja dikatakan dewasa ketika mencapai usia 15 tahun. Maka pada usia itu ia sudah harus wajib terikat dengan hukum-hukum syara’ termasuk dalam tindak pidana. Jadi, kalau kasus siswa yang menganiaya guru hingga tewas, maka jika usianya telah mencapai baligh ia terkena sanksi pidana selayaknya orang dewasa. Ia bisa dituntut qishash atau diyat/denda sebesar 100 ekor unta.

Terakhir, maraknya kekerasan oleh siswa di tanah air, juga cerminan arah dan pola pendidikan nasional masih bermasalah dan sistem sosial masyarakat yang kacau. Pendidikan nasional gagal membentuk karakter siswa berakhlak mulia, apalagi relijius. Ini semua karena sekulerisme menjadi pijakan bangsa ini termasuk dalam dunia pendidikan. Pelajaran agama minim dan sebatas teori, bukan untuk membentuk karakter yang berakhlak luhur. Ironinya, kini pemerintah malah terus menggencarkan program deradikalisasi di sekolah-sekolah dan di kampus-kampus.
Ini ibarat pepatah, buruk muka cermin dibelah. Gagal membentuk karakter remaja, malah justru menyalahkan agama (Islam). Padahal sistem pendidikan dan nilai sosial yang berlaku adalah sekulerisme-liberalisme. Merusak remaja. Inilah cara berpikir absurd.