Slider

Berita Video

Berita Pilihan

Kabar Medan

Tsaqofah

Sudut Pandang

Dinamika Dakwah

Berita Foto

Orang Tua adalah Pelindung dan Pemberi Rasa Aman bagi Anak




Oleh : Fadilah Rahmi (Aktivis Muslimah Kampus Medan)

Kasus tindak pencabulan dan pemerkosaan kian hari semakin meningkat di Indonesia. Mirisnya, perbuatan ini bahkan banyak dilakukan oleh orang-orang yang masih memiliki hubungan darah dengan korban. Seperti ayah kandung, saudara kandung, kerabat, ataupun saudara. Baru-baru ini kita kembali dikejutkan dengan kasus pencabulan ayah pada anak kandungnya di Samarinda. Mirisnya, aksi bejat pelaku diketahui oleh istrinya yang tak lain merupakan ibu kandung dari kedua korban. Bahkan, Ibu korban juga membantu untuk menutupi perbuatan terlarang suaminya dengan memberikan pil KB agar kedua putrinya tidak hamil. Tindakan sang Ibu tersebut didasari rasa khawatir tidak ada yang menafkahi dia dan 3 anaknya, kalau suaminya di penjara.


Kasus ini mungkin hanya sebagian kecil kasus kekerasan seksual yang berhasil terungkap. Entah, berapa banyak kasus serupa terus terjadi setiap tahunnya, belum lagi yang belum berhasil terungkap. Namun, yang membuat hati semakin teriris adalah hal ini belum menjadi perhatian besar di dalam sistem sekulerisme saat ini.
Dalam pemerintahan sekuler saat ini, pelaku tindak kekerasan seksual belum dihukum dengan sesuai. Beberapa pelaku hanya terancam hukuman 15 tahun penjara akibat perbuatannya yang melanggar Undang-undang nomor 23 Tahun 2002 junto Pasal 46 Undang-undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 2004 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan kekerasan seksual.


Orang Tua terutama Ibu adalah 'madrasah ula' bagi anak, memiliki kewajiban untuk mendidik anak dan memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak. Orang tua memiliki kewajiban untuk menanamkan pendidikan agama, moral, mengajarkan anak hal-hal baru yang positif, memberi makan, pakaian serta melindungi anak di masa tumbuh kembangnya. Artinya orang tua harus melindungi anak dari berbagai macam tindak kekerasan, baik di rumah maupun di luar rumah.


Dalam sistem sekuler saat ini, banyak pasangan yang hanya sekedar menikah untuk memenuhi gharizah nau` semata. Ketaqwaan individu tak dibangun dengan baik. Banyak orang tua yang memiliki kelemahan dari segi ilmu pernikahan yang sesuai dengan tuntunan agama, mereka tidak memahami tujuan dari pernikahan, serta tidak memahami kewajiban mereka terhadap anak dan hak-hak yang harus didapatkan anak. Banyak keluarga yang dibangun tanpa landasan Islam yang menghasilkan banyaknya tindak Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) hingga kasus pencabulan terhadap darah daging sendiri.
Maka, solusi dari setiap permasalahan keluarga saat ini adalah dengan menggunakan solusi yang diberikan oleh Allah SWT melalui Al-qur`an dan As-sunah. Pada dasarnya orang tua memiliki kewajiban untuk memberikan nafkah kepada anak-anaknya.


Abdullah bin Mas`ud menuturkan, Rasul saw. bersabda: Mencari (rezeki) yang halal adalah kewajiban setelah kewajiban. (HR ath-Thabarani dalam Mu `jam al-Kabir, al-Baihaqi dalam Syu`ab al-Iman, Abu Nu`aim dalam Ma`rifah ash-Shahabah dan al-Qudha`i dalam Musnad syihab al-Qudhai`)
Firman Allah:

“Dan tidak ada satupun makhluk yang berjalan di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya” (TQS Huud:6)
Dalam ekonomi sekuler saat ini semua kebutuhan pokok terus mengalami yang namanya kenaikan harga, sehingga membuat orang tua takut tak mampu memenuhi kebutuhan anaknya, apalagi jika menjadi orang tua tunggal. Sehingga mereka mau tak mau sampai harus mengorbankan kehormatan anaknya.
Dalam Islam suami dan istri memiliki hak dan kewajiban masing-masing. Jika suami melakukan suatu perbuatan yang mungkar maka istri wajib menasehatinya, hal ini juga akan memberikan pembelajaran kepada anak bahwa yang namanya amar ma`ruf nahi mungkar adalah kewajiban setiap manusia.
Rasulullah saw. bersabda: Siapa saja yang melihat kemungkaran, dia wajib mengubahnya dengan tangannya. Jika dia tidak mampu, maka wajib dengan lisannya, jika tidak mampu, maka wajib dengan hatinya. Itu merupakan selemah-lemahnya iman. (HR Imam Muslim)
Allah SWT mengancam, bagi mereka yang berdiam diri terhadap kemungkaran, dan tidak berjuang untuk mengubah dan menghilangkannya, dengan acaman azab. Hudzaifah al-Yaman menuturkan hadist dari Nabi saw.: Sungguh Allah tidak akan menyiksa manusia secara umum karena perbuatan orang tertentu, hingga mereka meyaksikan kemungkaran di belakang mereka, sementara mereka mampu untuk mengubah kemungkaran itu, namun mereka tidak melakukannya. Jika mereka melakukan itu, Dia [Allah] akan menyiksa orang tertentu [yang melakukan kemungkaran] dan manusia secara umum (HR Ahmad).
Hal yang perlu dipahami bahwa, artinya jika seorang istri sekaligus Ibu melihat suaminya melakukan suatu kemungkaran, apalagi kemungkaran tersebut dilakukan kepada anaknya sendiri, maka wajib baginya untuk mengubah kemungkaran tersebut bukan sebaliknya mendukung kemungkaran tersebut dengan alasan ekonomi yang sudah dijamin oleh Allah SWT bagi setiap individu jika merapkan Islam secara kaffah atau tidak melakukan pelanggaran terhadap hukum syara`.
Allah SWT telah berjanji bahwa, jika penduduk suatu negeri beriman maka Allah akan melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada negeri tersebut. Sebaliknya, jika mereka tidak beriman maka Allah akan menurunkan azabnya, seperti dengan menerapkan sistem sekuler yang jelas bertentangan dengan aqidah Islam. Maka perlu adanya negara yang dapat menjamin ketaqwaan individu serta sebagai wadah untuk menerapkan Islam secara kaffah, yaitu Daulah Khilafah. Wallahu`alam





ULAMA SUMUT TOLAK PROYEK OBOR CHINA




Dakwahsumut
Com, Medan. Sabtu(18/5) Forum Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama'ah(Aswaja) Sumatera Utara menggelar Mudzakaroh Ulama Aswaja di Amaliun Convention Hall Medan, dalam rangka menanggapi kebijakan pemerintah yang ikut serta membawa Indonesia kedalam proyek negara komunis Republik Rakyat Tiongkok, yakni Proyek One Belt One Road(OBOR).

Ulama menilai proyek OBOR sarat kepentingan politis dan berpotensi menimbulkan bahaya bagi bangsa Indonesia khususnya, dan kawasan Asia Tenggara umumnya. Selain bahaya lilitan utang Tiongkok yang dikhawatirkan, juga upaya kolonialisasi Tiongkok melalui proyek OBOR. 

Ust Kusnady Ar Razi menjelaskan bahwa ulama tidak boleh berdiam diri apabila melihat bahaya di depan mata, "kita tidak boleh berdiam diri melihat upaya orang-orang kafir untuk menguasai kaum muslimin dan wajib dalam syariat kita untuk menghilangkan sekecil apapun bahaya itu." serunya.

Bahkan Ust Dharman meyayangkan tidak adanya sikap tokoh masyarakat yang menonjol terhadap OBOR, selain penolakan yang dilakukan tokoh-tokoh muslim, "Kita sepakat untuk menolak OBOR ini, harusnya bukan hanya muslim yang menolak, tapi juga non muslim yang merasa mengaku cinta negeri ini." ucapnya.

Pengamat politik dan kebijakan publik, Yusran Ramli memaparkan fakta dan bukti tentang bahayanya kerjasama dengan Tiongkok, "Tanpa proyek OBOR pun kita sudah melihat fakta proyek-proyek Tiongkok bertebar di Indonesia, semua tenaga ahli bahkan termasuk mesin-mesin dan tenaga buruh kasar di datangkan dari Tiongkok. Apalagi dengan adanya OBOR ini, jelas proyek ini untuk keuntungan negara Tiongkok semata." jelasnya.

Senada dengan itu DR. Shohibul Anshor Siregar, Sosiolog dari UMSU, juga sepakat tentang bahaya proyek OBOR ini. Beliau pun menyerukan para ulama untuk turut serta menolak OBOR, "semua informasi tentang bahaya OBOR sudah jadi milik bersama, tidak harus menjadi ahli ekonomi untuk memahami bahayanya. Hal ini menjadi dasar untuk kita sampaikan lagi dengan bahasa yang lebih merakyat." sarannya. Beliau juga menegaskan menandatangi proyek OBOR tak ubahnya dengan mempersilahkan negara lain untuk menjajah Indonesia.

Ust Yahya Rum dari Forum Umat Islam(FUI) SUMUT menegaskan Indonesia kian hari kian terbuka, alias mengalami liberalisasi dan menjadi santapan negara-negara penjajah imperialis, "Indonesia kini sudah terbuka, tinggal siapa yang mau menikmatinya, apakah beijing, washington atau london. salah satunya bentuknya adalah Proyek OBOR ini. Cara tiongkok untuk menguasai Indonesia melalui sistem politik demokrasi." beliau mengingatkan sembari membeberkan fakta dan data.

Selain ulama, da'i dan para asatidz, acara ini juga dihadiri tokoh-tokoh Ormas Islam di Sumatera Utara, akademisi, intelektual dan pengusaha muslim dari berbagai daerah. Semua sepakat menolak OBOR dan menyerukan solusi kembali kepada ajaran Islam, yakni dengan bersatu menerapkan Syariat Al-Qur'an dan As-Sunnah dalam naungan Khilafah Rasyidah. Acara pun ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap yang dipimpin Buya Musdar Syahban. [] SU-Medan

POLITIK AKTIVIS DAKWAH KAMPUS


Oleh ( Budiman )
Islam dan politik adalah dua hal yang sangat sulit dipisahkan, karena sesungguhnya agama islam adalah agama yang sangat kompleks mengatur semua ini dalam kehidupan manusia. Begitupun politik yang biasa disebut siyasah syar’iyah ( politik islam ). Yang tentunya berbeda dengan politik pada umumnya ( siyasah al – amah ).
Keniscayaan dalam berpolitik bagi aktivis dakwah kampus adalah sesuatu yang membuat mereka niscaya pula memahami ensesi dari politik kampus. Bahwa aktivitas mereka dalam menceburkan diri dalam dunia politik semata – mata didasarkan pada dua prinsip pelayanan dan perbaikan kampus. Pelayanan ( amal khidamy ) adalah sisi utama yang harus dijalankan aktivis dakwah kampus pada masyarakat kampus. Tentunya pelayanan di sini dalam ke proposinonalan. Karena kaidah dakwah kita adalah melayani sebelum mendakwahi. Mad’u mahasiswa amah dengan memberikan pencerahan kepada mereka tentang hakikat islam itu yang suci jauh dari distorsi dan intervensi musuh – musuh islam. Disinilah kita mewarnai intelektual  - intelektual masa depan sehingga setidaknya mereka tercerahkan atau berafiliasi terhadap dakwah islamiyyah. Sehingga minimal telinga – telinga mereka tidak terasa aneh ketika mendengar syariat, khilafah, politik islam, dakwah islam dan sebagainya. 
Pertama, sesungguhnya ada perbedaan yang mendasar antara kepartaian dan politik. Keduanya mungkin dapat bersatu dan mungkin berseteru. Mungkin seseorang disebut politikus dengan segala makna politik yang terkandung di dalamnya, tetapi ia tidak berinteraksi dengan partai atau bahkan tidak ada kecenderungan ke sana. Mungkin pula ada orang yang berpolitik praktis ( terjun dalam kepartaian ), tetapi ia sama sekali tidak mengerti masalah politik. Ataau mungkin ada pula orang yang menggabungkan antara keduanya sehingga ia adalah politikus yang berpolitik praktis atau berpolitik praktis yang politikus pada proporsi yang sama.  
Politik adalah suatu dasar ilmu yang telah tertanam dalam setiap insan manusia dalam hal mempertahankan baik diri sendiri, kelompok dan Negara. Partai adalah wadah untuk mempersatukan setiap pemikiran politik setiap insan manusia dalam mencapai suatu tujuan yang sama.
Ketika saya berbicara tentang politik praktis pada kesempatan ini maka yang saya kehendaki adalah politik secara umum, yakni melihat persoalan – persoalan umat, baik internal maupun eksternal yang sama sekali tidak terikat dengan hizbiyah ( kepartaian ).
Kedua, sesungguhnya orang non – muslim, tatkala mereka awam tentang islam ini, atau tatkala mereka dibuat pusing oleh urusan dan kukuhnya islam yang menancap di dalam jiwa para pengikutnya, atau kesiapan berkorban dengan harta dan jiwa mereka demi tegaknya maka mereka berusaha tidak berusaha untuk melukai jiwa – jiwa kaum muslimin dengan menodai nama islam, syariat dan undang – undangnya. Namun, mereka berusaha membatasai substansi makna islam pada lingkup sempit yang menghilangkan semua sisi kekuatan operasional yang ada di dalamnya. Kendati setelah itu yang tersisa bagi kaum muslimin adalah kulit luar dari bentuk dan performa yang sama sekali tidak berguna.
Maka mereka berusaha memberikan pemahaman kepada kaum muslimin bahwa islam adalah sesuatu, sementara masalah sosial adalah sesuatu yang lain. Islam adalah sesuatu dan masalah – masalah ekonomi adalah sesuatu yang lain, yang tidak ada hubngannya sama sekali, islam adalah sesuatu dan peradaban bukan bagian darinya. Islam adalah sesuatu yang harus berada pada jarak yang jauh dari politik.
Begitulah cara mereka untuk mendoktrin umat islam, mereka memberii doktrin bahwa politik adalah bukan termasuk urusan agama, memisahkan agama dan politik adalah cara mereka agar umat islam tertidur pulas dan bermimpi panjang dengan angan – angannya.
Substansi makna yang merendahkan fikrah islamiah dan ruang sempit yang dibataasi oleh makna islam semacam inilah yang di upayakan oleh musuh – musuh islam untuk mempersempit ruang gerak kaum muslimin di dalamnya dan melecehkan mereka seraya ( musuh – musuh itu ) mengatakan, “ kami berikan kepada kalian kebebasan beragama” padahal undang – undang dasar Negara telah menggariskan bahwa agama resmi adalah islam.
Katakanlah : “ inilah jalan ( agama ) ku, aku dan orang – orang yang mengikuti ku mengajak ( kamu ) kepada allah dengan hujjah yang nyata, maha suci allah, dan aku tiada termasuk orang – orang musyrik”. ( yusuf: 108 )
Perbaikan ( islah ). Inilah pembeda politik islam ( siyasah syar’iyah ) dengan politik pada umumnya. Esensi penting politik islam yang menjadi beban berat aktivis dakwah kampus untuk memperbaiki apapun kebathilan yang ada di dalam kampusnya. Ada dua agenda menurut saya yang harus di perhatikan secara baik.
Pertama, perbaikan agar terwujudnya biah hasanah di dalam kampus denga berbagai sarana yang dapat di tempuh aktivis dakwah kampus.
Kedua, perbaikan system keuangan, birokrasi dan administrasi kampus. Agar tidak adalagi mahasiswa yang terugikan oleh kebijakan kampus. Saya ingin mengutip kalimat imam asy – syahid hasan al – banna : “ mengurus persoalan pemerintah, menjelaskan fungsi – fungsinya, merinci kewajiban dan hak – haknya, melakukan pengawasan terhadap para penguasa untuk kemudian dipatuhi jika mereka melakukan kebaikan dan dikritik jika mereka melakukan kebaikan dan dikritik jika mereka melakukan kekeliruan”. Mengkritik bukan sebuah kesalahan atau dosa, kritikan merupakan keharusan dalam mengawal suatu kebijakan yang dikeuarkan. Maka tak ada alasan untuk berdiam diri dan tidur pulas saat ada sesuautu kekeliruan atau kesalahan.
Kekuasaan adalah washilah untuk mewujudkan apa yang diperintahkan allah dan raasulnya, bekerja dan bersemangat bukan untuk menyongsong kedudukan dan pujian.

Anak Dalam Dekapan Ramadhan





Oleh : Ummu Sholeha (Ibu Rumah Tangga & Aktivis Muslimah Medan)


Ramadhan adalah bulan yang agung, daya tariknya sangat luar biasa, bisa menyadarkan banyak orang dan melarutkan banyak orang dalam kesungguhan dalam ketaatan. Ramadhan Itu bulan istimewa, pedoman hidup manusia berupa Al-Quran yang agung diturunkan pada bulan ini, perang Badar yang penuh kemenangan dan keberkahan juga terjadi pada bulan ini. Malam Lailatul Qadar dimana kebaikannya sebanding dengan seribu bulan juga istimewa di bulan ini. Dan lautan keistimewaan dan kemuliaan lainnya yang tidak bisa kita hitung mengingat betapa agungnya Bulan Ramadhan dari Dzat Yang Maha Agung. Pahala yang berlimpah, balasan kebaikan yang tak terhingga sehingga setiap hamba mampu mendekatkan diri pada Allah tanpa ruang dan waktu.

Tak terkecuali Ramadhan menjadi istimewa bagi pembentukan kepribadian Islam orang tua dan anak. Ramadhan yang langsung menyentuh fithrah manusia ini hendaknya mampu merubah segala keburukan menjadi berlimpah kebaikan dan segala yang tadinya sudah baik dapat lebih ditingkatkan lagi. Saat inilah suasana yang paling istimewa dan kondusif untuk menempa anak-anak dalam pendidikan, melewatinya sama halnya kita kehilangan kesempatan yang berharga.

Ramadhan menyajikan kondisi yang kondusif untuk menempuh kualitas keluarga Muslim, yakni disaat Ayah Bunda dirasa kondisi keimanan yang sangat siap untuk meraih taqwa, masyarakat mendadak meramaikan masjid dan tilawah quran, tontonan mulai memarakkan pakaian hijab, dan lebih banyak menyiarkan ceramah agama atau hal-hal yang berbau Islami lainnya dimana kejujuran selalu diingatkan, lisan dan perbutan yang selalu dijaga, himbauan untuk beribadah yang senantiasa menggebu dan lain sebagainya. Semua itu karena ramadhan. Disaat setiap muslim fokus pada pujian Allah.

Maka karena alasan itu semua Ramadhan menjadi berkah bagi anak-anak kita dalam pendidikan terbaik yang diberikan kepada mereka apapun yang berhubungan dengan Ramadhan. Mendidik anak di bulan Ramadhan tidak identik dengan sekedar mengajarkan mereka berpuasa, tilawah Qur'an dan sholat tarawih. Lebih dari itu kesempatan emas untuk membentuk pribadi yang unggul bagi anak-anak yang terbina dengan suasana ruhiyyah ramadhan sebulan lamanya.

Ketahuilah, anak yang hatinya keraspun bisa lembut karena Ramadhan, punya empati yang lebih dibanding sebelumnya, selalu ingin meraih ibadah yang terbaik. Katakanlah Musa namanya, ketika sudah tahu esok hari Ramadhan malam harinya sudah siap-siap ke mesjid sebelum azan maghrib hingga ikut tarawih 23 rakaat. Sahur bangun dengan mata terbuka menyantap makanan sahur dengan semangat. Melihat masih ada waktu sebelum subuh dia meneruskan sholatnya, saat ditanya sholat apa nak ? Sholat tahajjud Umi. MaasyaaAllah.

Nah yang terpenting agar ananda bisa larut dalam dekapan Ramadhan adalah memberikan motivasi ruhiyyah, berikut tsaqofah tentang Ramadhan. Diawali dengan membacakan khuthbah Rasulullah saw. saat menyambut bulan Ramadhan, berikutnya rukyatul hilal sebagai penentu satu Ramadhan, juga tidak ketinggalan fiqh yang terkait dengan Ramadhan lengkap dengan keutamaan ibadah di dalamnya dan keistimewaan-keistimewaan Ramadhan dibanding bulan lainnya.

Anak dalam dekapan Ramadhan akan menempa pola berpikirnya senantiasa benar, mengendalikan dirinya senantiasa berlisankan kejujuran dan berkata ahsan. Ramadhan juga bisa melatih anak usia 10 tahun berpikir serius bagi dirinya sehingga dia juga serius untuk melayakkan diri sebagai hamba Allah. Juga melatih dirinya untuk bisa mandiri dan disiplin dalam memanfaatkan waktu, kapan waktu sahur, kapan waktu menahan diri dari haus dan lapar, kapan waktu berbuka, kapan waktu tarawih dan kapan waktu tilawah quran juga kapan waktu ananda menambah tsaqofah dan ilmu.

Anak dalam dekapan Ramadhan akan semakin meresapi arti sebuah perjuangan untuk semakin taat pada Allah swt., juga bisa meresapi perjuangan Rasulullah saw. dan para sahabat memenangkan perjuangan di Medan jihad saat perang badar dan meresapi kemenangan-kemenangan penaklukan wilayah lainnya. 

Wallahu'alam.

Panji Islam Diarak Hingga Melewati Kediaman Wakil Bupati


Dakwahsumut.com, Sergai,  - Sejumlah kaum Muslim di Kabupaten Serdangbedagai menggelar konvoi menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan 1440 H.  Mereka mengarak panji panji Islam berupa alliwa dan arrayah. 

Konvoi Tarhib Ramadhan yang berlangsung pada Jum'at (3/5/2019)  itu dimulai dari Masjid Jamik Dolokmasihul.  

Selanjutnya iring iringan berbagai jenis kendaran mulai dari mobil,  becak bermotor dan sepeda motor itu menyusuri jalanan di kabupaten tersebut. 

Rombongan konvoi yang terdiri dari kaum ibu-ibu dan bapak-bapak serta remaja dan anak anak itu menyusuri jalan Lintas Sumatera Dolok Masihul menuju Desa Martebing.

Lalu memutar arah melalui Desa Aras Panjang yang padat penduduk. Konvoi dengan membawa bendera tauhid "lailahaillah muhammadarasulullah" itu selanjutnya bergerak ke sisi barat menuju Desa  Bantan.

Sembari meneriakkan yel yel yang mengajak kaum muslim agar bersama sama mendorong penerapan syariat Islam di segala aspek kehidupan, massa itu bergerak menuju Desa Kerapuh hingga ke Desa Dolok Menampang yang diketahui kawasan kediaman Wakil Bupati Serdang Bedagai, Darma Wijaya.

Orator dalam konvoi itu juga mengajak kaum muslim  menyambut bulan suci ramadhan dengan penuh keimanan dan suka cita.  

Massa yang dalam perjalanannya dikawal aparat kepolisian itu skhirnya kembali ke titik kumpul awal di Masjid Besar Jamik Dolok Masihul.

Ahmad Bukhori Sinambela SH dalam orasinya menyebutkan buah dari puasa ramadhan adalah taqwa. 

"Oleh karena itu seharusnya akan lahir pribadi - pribadi baru, masyarakat baru yg berani menerapkan islam secara kaffah sehingga terwujud indonesia yang baldatun thoyyibatun warabbun ghofur ," ucap ustadz itu. (Junaidi)

MULTAQO' TOKOH DAN ULAMA UMAT "SEXY KILLERS DAN MASA DEPAN INDONESIA"


Medan, Aliansi Peduli Umat kembali mengadakan Multaqo' Tokoh dan Ulama Umat yang dilaksanakan di Cafe Pondok Pisang Jl. Tempuling, Medan, Jum'at (3/5/2019) malam.

Acara ini dihadiri oleh Tokoh, seperti Syaifuddin, ST (Pengusaha Properti Syariah) dan Saddam Ritonga, SH (Praktisi Pendidikan) juga Ulama Umat diantaranya Ustadz Idrus Ginting (Sekretaris MUI Kecamatan Helvetia), Ustadz Syamsul Sitakar, S.Pd. Ustadz Suriyadi serta beberapa tokoh pemuda. Multaqo' Tokoh dan Ulama Umat ini digelar dalam rangka menanggapi film dokumenter yang tengah viral beberapa pekan belakangan ini yakni, _Sexy Killers_.

Diawali dengan _Kalimatut Taqdim_ oleh Bapak Chairulsyah Abu Fikran, M.Si selaku Ketua Aliansi Peduli Umat, memberikan sambutan yang hangat terhadap acara ini. Ustadz Rahmat Taher, S.Pd selaku moderator turut menambahkan bahwa film ini membuka tabir akan dunia pertambangan batubara di Indonesia serta keterlibatan para elit politik didalamnya.

Selanjutnya, Ustadz Muhammad Yusran Ramli, ST selaku pemateri memaparkan bahwa persoalan tambang batubara ini menimbulkan masalah serius yakni, meninggalkan lubang hingga berbentuk danau yang telah memakan banyak korban jiwa. Ini dikarenakan mudahnya proses penambangan tersebut.

Hal ini terjadi karena dalam teori ekonomi kapitalisme memang mewajibkan untuk menekan biaya operasional (termasuk menimbun lubang tambang) semaksimal mungkin dan meraup untung sebesar-besarnya. Yang lebih ironisnya, perusahaan-perusahaan tambang tersebut 75% dikuasai oleh swasta/asing yang juga berangkat dari sistem kepemilikan kekayaan alam yang dilandasi pada _freedom of ownership_ yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam. Sehingga solusi atas permasalahan ini tentu dengan kembali kepada Islam. Islam telah mengatur tentang kepemilikan sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW :
_“Al-muslimûna syurakâ`un fî tsalâtsin: fî al-kalâ`i wa al-mâ`i wa an-nâri”_
Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api (HR. Abu Dawud dan Ahmad).
Sehingga kepemilikan barang tambang (termasuk batubara) haram dimiliki oleh swasta, imbuhnya.

Puluhan Tokoh dan Ulama Umat yang hadir sependapat bahwa Islam dengan seperangkat aturannya mampu menuntaskan berbagai macam problematika, termasuk pertambangan batubara yang ada di negeri ini.

Acara berakhir pada pukul 22:30 ditutup dengan doa dan foto bersama para seluruh Tokoh dan Ulama Umat.[]farhan

Bendera Tauhid Semarak Berkibar di Kawasan Percut Sei Tuan



Deliserdang -  Bendera dan panji Rasulullah Saw (al Llwa dan ar Rayah) pada Rabu (1/5/2019) lalu terlihat semarak berkibar di sejumlah kawasan di Kecamatan Percut Sei Tuan.  Iring-iringan konvoi berbagai jenis kendaraan menyedot perhatian masyarakat luas.

Meski saat itu terik matahari sangat menyengat, namun sejumlah massa yang tergabung dalam Majelis Islam Kaffah (MKIK) Percut sei Tuan  terlihat tetap bersemangat melakukan pawai Tarhib Ramadhan sembari berorasi mengajak umat Islam untuk menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan yang sudah semakin dekat.
Orator juga mengajak umat menjadikan momentum bulan Ramdhan tahun ini menuju ketaqwaan yang paripurna, yakni menjadikan Al Qur’an sebagai sumber hukum yang mengatur seluruh aspek kehidupan umat manusia.

Dalam setiap kesempatan menyampaikan orasi melalui alat pengeras suara di atas kendaraan, orator kerap meneriakkan yel-yel “Syariah….Syariah”. Dan pada saat itu, para peserta pawai langsung mebalas dengan kata-kata “Terapkan….Terapkan”.
Konvoi kendaraan Tarhib Ramadhan yang juga diramaikan dengan  pemasangan atribut-atribut seruan untuk menjalankan syariat Islam serta mengusung bendera tauhid  “lailahaillah muhamaddarasullah” berwarna hitam dan putih  itu, dimulai sejak pukul 08.00 WIB.

Koordinator aksi, Sucipto Surbakti menerangkan massa konvoi  terbagi dalam tiga kelompok. Kelompok pertama bergerak dari titik kumpul Masjid  Al Hikmah Jalan Letda Sujono Medan, sementara kelompok kedua bergerak dari titik kumpul Masjid Al Ma’wa Jalan Pasar 6 Bandar Klippa, Tembung dan satu kelompok lagi bergerak dari titik kumpul Kompleks Perumahan Permata, Jalan Kampung Kolam, Kecamatan Percut Sei Tuan.

“Semua kelompok konvoi itu bergerak menuju titik kumpul akhir yang sama, yaitu di Masjid Firdaus, Jalan Besar Tembung,” ucap Surbakti didampingi unsur kepanitiaan lainnya.
Memasuki pelataran masjid Raya al-Firdaus sekira pukul 09.30 WIB, seluruh peserta konvoi memarkirkan kendaraan di salah satu sisi halaman masjid. Selanjutnya mereka membentuk barisan setengah lingkaran yang terpisah antara peserta akwat dengan peserta ikhwan.

Meski saat itu cuaca cukup terik, tetapi tidak membuat kendur semangat tiga ratusan orang yang tergabung dalam MKIK itu.  Peserta berasal dari berbagai penjuru desa di kawasan kecamatan Percut Sei Tuan dan sekitarnya serta terdiri dari para orang tua, remaja dan anak-anak itu terlihat sangat antusias.
Berdasarkan pantauan, semangat mereka bahkan semakin ‘berapi-api’ tatkala banyak warga turut menyaksikan pelaksanaan acara tersebut. Terlebih lokasi masjid itu berseberangan langsung dengan pasar tradisional Gambir, Jalan Raya Tembung sehingga suasana terlihat sangat ramai.
Usai konvoi, pihak pantia segera menyelenggarakan Tablik Akbar di halaman masjid tersebut. Tampil sebagai penceramah, antara lain Ustad Amali Abu Nazwa, Ustad Irfansyah Harahap SHi, MHum dan Al Ustad Azwar Hadi Lubis. 
Peserta tarhib ramadhan yang sudah bercampur dengan masyarakat umum pengunjung yang ikut hadir terlihat penuh semangat namun khidmat menyimak seluruh pemaparan dari ketiga da'i yang didaulat panitia penyelenggara sebagai pemateri dakwah siang yang cerah itu.  (Herman)