Slider

Berita Video

Berita Pilihan

Kabar Medan

Tsaqofah

Sudut Pandang

Dinamika Dakwah

Berita Foto

KENISCAYAAN PENGGUSURAN DI ERA DEMOKRASI KAPITALIS


Oleh: Ummu Mush'ab-Mundzir

Senin, 19 Maret 2018 Pajak Pasar Lima Marelan yang selama ini menjadi salah satu pasar tradisional untuk wilayah marelan dan sekitarnya akhirnya ditertibkan dengan beberapa alat berat beserta Satuan Polisi Pamongpraja (Satpol PP) kota Medan berseragam lengkap dibantu Muspika Kecamatan Medan Marelan. Banyak pedagang di pajak pasar lima yang menolak proses penertiban ini namun ada juga para pedagang yang dengan kesadaran pasrah membongkar sendiri lapak dagangannya. Menurut aparat terkait para pedagang sebelumnya telah diberi surat pemberitahuan agar segera menertibkan lapak dagangannya dan segera pindah ke areal bangunan pajak yang baru dibangun Pemko Medan.
Memang selama ini kemacetan kerap terjadi saat ramainya warga sekitar berbelanja di waktu pagi dan petang karena tepi jalan digunakan untuk lapak pedagang di pajak pasar lima marelan. Penertiban pajak pasar lima marelan oleh Pemko Medan diharapkan dapat mengurangi kemacetan di Jalan Marelan Raya dan M.Basyir Pasar lima Marelan. Bangunan Pasar yang dibangun Pemko Medan untuk relokasi dididirikan dengan lokasi yang masih dekat dengan jalan utama Marelan tempat para pedagang berjualan sebelumnya. Namun tidak semua pedagang yang direlokasi mendapatkan lapak dagangan di pajak yang baru tersebut karena sudah penuh. Para pedagang yang akan mendapatkan tempat juga harus membayar uang muka 3 juta di lantai 1 dan 5 juta di lantai atas. Berdasarkan keterangan seorang pedagang sayur di lantai 1, harga lapak berupa meja keramik berukuran sekitar 3x1 meter sebesar 15 juta dibayar kontan, sementara kredit 20 juta dengan cicilan paling sedikit 300 ribu/ bulan. Bagi yang tidak sanggup membeli lapak disewakan dengan harga sewa 300 ribu/ bulan. Hal ini memberatkan bagi sebagian para pedagang yang mungkin sebelumnya mereka tidak membayar tempat dagangan semahal itu, karena para pedagang biasanya ada yang berjualan langsung di atas mobil pick up atau dengan sepeda atau motor yang dipasangkan keranjang tempat meletakkan dagangannya.
Rapat dengar pendapat yang dihadiri oleh komisi C DPRD kota Medan, PD Pasar dan perwakilan pedagang dengan pimpinan rapat Wakil Ketua Komisi C DPRD Medan, Mulia Asri Rambe (Bayek) menghasilkan penilaian yang buruk tentang kinerja dan tidak profesionalnya Dirut Perusahaan Daerah(PD) Pasar Medan, Rusdy Sinuraya dan meminta agar jabatan Dirut PD Pasar dievaluasi. Terbukti dengan pemindahan para pedagang di pajak pasar lima marelan dan pajak lainnya di kota Medan sarat masalah di bawah kepengurusan Rusdy Sinuraya.
Dari Rapat Dengar Pendapat tersebut ditemukan beberapa permasalahan yang muncul untuk kasus relokasi Pajak Pasar lima marelan antara lain: 1. adanya oknum yang ingin mendapatkan keuntungan dari proses relokasi ini. Seperti yang terjadi di lapangan, Dirut Pasar menyerahkan tugas pengerjaan kios- kios baru, pendataan pedagang dan kutipan kios kepada Persatuan Pedagang Pasar Tradisional Medan (P3TM), campur tangan P3TM ini dinilai menimbulkan masalah. 2.tingginya harga kios dan ada pedagang yang sudah bayar tapi belum mendapatkan kiosnya, 3. Tidak semua pedagang dari pajak yang lama mendapatkan kios di pajak baru, 4. Sarana yang tersedia di pajak baru sangat buruk, tempat kumuh dan atap bocor, 5. Dugaan kasus jual beli aset PD Pasar yang dilakukan oknum pejabat PD Pasar, sehingga perlu dilakukan pengusutan oleh kepolisian dan kejaksaan ujar Mulia Asri Rambe.
Akar Masalah Pengaturan Fasilitas Umum
Carut marut pengaturan fasilitas umum termasuk pasar/pajak berawal dari kesalahan paradigma berpikir dan kesalahan perangkat aturan yang muncul dari paradigma tersebut. Pengaturan pasar/ pajak bukan hanya perkara kesalahan teknis tapi perkara kesalahan sistemik. Paradigma berpikir yang salah itu bersumber dari sekulerisme dimana agama wajib dipisahkan dari semua kepengurusan kehidupan masyarakat. Sekulerisme melahirkan kapitalis yang memandang segalanya adalah bisnis dan kemanfaatan. Cara pandang seperti ini mengakibatkan pengaturan fasilitas umum seperti pajak/pasar bisa dikuasai oleh pengusaha swasta lokal atau nasional yang bekerjasama dengan penguasa setempat, sehingga sangat tercium aroma bisnis daripada pelayanan masyarakat.
Bagi kapitalis negara hanya sebagai legislator dalam pengaturan urusan masyarakat sementara operatornya diserahkan kepada mekanisme pasar. Fasilitas umum seperti pasar/pajak dikelola oleh swasta atau pemerintah setempat dengan orientasi komersial, hal ini sangat terlihat ketika para pedagang harus membayar kios baru dengan harga yang mahal tanpa diperhatikan sarana pendukung yang memadai dan membuat nyaman masyarakat di dalam pasar tersebut. Demi mengejar keuntungan tidak lagi diperhatikan kualitas tempat dan prosedur yang memudahkan para pedagang untuk mendapatkan tempat. Padahal harusnya negara menyediakan lapangan pekerjaan yang murah bahkan gratis kepada rakyatnya untuk berdagang bukan malah mempersulit demi alasan materi semata.
Membangun Fasilitas Umum Strategis
Menanggapi kasus penggusuran para pedagang di beberapa pasar/pajak di kota Medan dengan alasan kemacetan, merusak pemandangan kota, sampah, kotor, kumuh dll, maka di sini nampak mental pemimpin yang gemar menyalahkan rakyatnya. Beda jauh dengan kepemimpinan islam, seperti Khalifah Umar bin Khattab yang sangat khawatir akan dituntun oleh rakyatnya di hadapan Yang Maha Tahu segalanya karena pengaturan yang tidak baik kepada mereka bahkan seekor keledaipun sangat diperhatikan jalannya agar tidak sampai celaka. Mindset seperti ini yang seharusnya mendasari seorang pemimpin untuk melayani rakyatnya
Ada 3 prinsip dalam membangun fasilitas umum strategis, pertama, pembangunan fasilitas umum seperti pasar/pajak adalah tanggung jawab negara, tidak boleh dibisniskan baik untuk kalangan sendiri atau swasta, kedua, perencanaan yang baik akan mengurangi masalah yang muncul di belakang hari, seperti penggusuran. Bercermin dari kepemimpinan islam, ketika Baghdad sebagai ibu kota kekhilafahahan, setiap bagian kota diproyeksikan hanya untuk jumlah penduduk tertentu. Di kota itu dibangunkan masjid, sekolah, perpustakaan, taman, industri gandum, area komersial, pasar, tempat singgah bagi musafir, hingga pemandian umum yang terpisah antara laki-laki dan perempuan. Tidak ketinggalan pemakaman umum dan tempat pengolahan sampah. Warga tak perlu menempuh perjalanan jauh untuk memenuhi kebutuhan, menuntut ilmu, belanja atau bekerja, karena semua dalam jangkauan perjalanan kaki yang wajar, dan semua memiliki kualitas yang standar, tidak perlu khawatir jalanan macet karena semua tempat terjangkau dengan berjalan kaki. Ketiga, negara membangun fasilitas umum dengan standar teknologi terkini dan tercanggih, seperti pengolahan sampah, alat kebersihan tercanggih, kios, toilet, mushola yang bersih dan aman dari terik dan hujan, serta air bersih yang memadai, jalan yang diperkeras sehingga tidak becek/ tergenang, dibersihkan kotoran di sepanjang jalan dalam pasar/pajak, malam diterangi lampu kualitas terbaik. Biaya perawatan fasilitas dalam pasar/ pajak tidak dibebankan lagi kepada para pedagang dan pembeli.
Tentu tidak murah pembiayaan fasilitas umum hanya untuk pasar/pajak saja, makanya dalam kepemimpinan islam roda ekonominya juga diatur dengan sistem ekonomi islam saja bukan sistem yang lain. Untuk Indonesia sebagai negeri muslim terbesar punya potensi SDA yang besar untuk semua pembiayaan publik jika semua SDA tidak dikapitalisasi oleh kalangan sendiri, swasta lokal, nasional, atau asing. Sangat lebih dari kata cukup hasil dari SDA Indonesia untuk bisa mensejahterakan semua rakyatnya, buktinya banyak negara di dunia saat ini berebut berinvestasi dan bekerjasama dalam bidang ekonomi dengan Indonesia untuk membangun negara mereka dari hasil kekayaan bumi Indonesia.
Negara telah melakukan salah urus dengan menerapkan sistem kapitalisme. Sumber masalah bukanlah berasal dari siapa yang berkepentingan untuk mengurus negara dan rakyat, melainkan lebih bersifat sistemik. Sistem demokrasi kapitalis meniscayakan lahirnya pemimpin -pemimpin yang korup. Hal ini logis, karena bangunan dasar untuk maju dalam bursa pemilihan pemimpin adalah kemanfaatan, bukan untuk kemaslahatan umat.
Berbeda jauh dengan kondisi pada era khilafah Islam eksis. Dalam sejarah ulama salaf, diriwayatkan bahwa Khalifah Umar bin Abdil Aziz dalam shalat tahajudnya sering membaca ayat berikut, yang artinya:
(Kepada para malaikat diperintahkan), “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembah-sembahan yang selalu mereka sembah, selain Allah. Lalu tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. Tahanlah mereka di tempat perhentian karena sesungguhnya mereka akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS ash-Shaffat [37]: 22-24).
Beliau mengulangi ayat tersebut beberapa kali karena merenungi besarnya tanggung jawab seorang pemimpin di akhirat bila melakukan kezaliman.
Dalam riwayat lain, karena begitu khawatirnya atas pertanggungjawaban di akhirat sebagai pemimpin, Khalifah Umar bin Khaththab ra. berkata dengan kata-katanya yang terkenal, “Seandainya seekor keledai terperosok di Kota Baghdad karena jalanan rusak, aku sangat khawatir karena pasti akan ditanya oleh Allah SWT, ‘Mengapa kamu tidak meratakan jalan untuknya?’”
Mereka memahami benar sabda Baginda Rasulullah saw:
“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka”. (HR Ibn Majah dan Abu Nu’aim).
Mereka juga amat memahami sabda Rasul saw. yang lain:
“Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus” (HR al-Bukhari).

Para penguasa negeri ini patutlah merenungkan sabda Baginda Rasulullah saw., “Jabatan (kedudukan) itu pada permulaannya penyesalan, pertengahannya kesengsaraan (kekesalan hati) dan akhirnya adalah azab pada Hari Kiamat (HR Ath-Thabrani).
Wallahu’alam bishshawab

Katanya Harus Ikuti Ulama, Giliran Ulama Bicara Khilafah Malah Tidak Mau

Dakwahsumut.com,Bandung. "Katanya Harus Ikuti Ulama, Giliran  Ulama Bicara Khilafah Malah Tidak Mau"

“Sebagian kalangan menyatakan bahwa umat Islam wajib mengikuti ulama. Namun, giliran diberikan pendapat soal wajibnya Khilafah menurut para ulama, justru menolak.”

Demikian fenomena yang didapati KH Ali Bayanullah, Pimpinan Mahad Darul Bayan Sumedang, pada Sabtu (14/4) dalam acara Tabligh Akbar Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad yang diadakan Majelis Raudhatul Jannah di Lucky Square Bandung yang dihadiri kurang lebih 2500 Jama’ah.

Fenomena tersebut ia dapati ketika menjumpai sebagian kalangan kaum Muslimin yang mengingkari perkara wajibnya Khilafah. Para pengingkar Khilafah, kerap berpendapat bahwa ajaran Khilafah tidak terdapat dalam al Quran.

Padahal, menurutnya, para ulama yang memberikan pendapat mengenai wajibnya Khilafah tentulah berpijak pada al-Quran. "Para ulama tak sembarangan. Mereka melakukan istinbath tentu berdasarkan al-Quran juga," jelasnya.

Bahkan, ia menekankan, untuk memahami wajibnya Khilafah berdasarkan al-Quran sangat sederhana. Dalam al-Quran, menurutnya, banyak perintah-perintah yang membutuhkan peran negara dalam penerapannya. Seperti perintah memotong tangan pencuri atau menjilid pezina. "Perintah tersebut adalah fardhu kifayah yang membutuhkan negara untuk menunaikannya,"tegasnya.[]mercusuarumat

PULUHAN REMAJA BANJIRI MONUMEN SUNGAI ULAR DALAM ACARA "NgeRuJaK"



Ahad 14 April 2018, puluhan remaja dari berbagai sekolah tingkat menengah atas sekecamatan Perbaungan, Pantai Cermin dan Pegajahan berkumpul di tepian sungai ular (Monumen Sungai Ular) yang berada di Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Sergai dalam acara NgeRuJaK (Ngebahas Urusan Remaja Kekinian) yang mengangkat tema "catatan akhir sekolah".

Acara perdana yang diselenggarakan oleh LDS (Lembaga Da'wah Sekolah) Sergai ini dikemas dalam bentuk talk show, sehingga membuat suasana acara menjadi lebih bernyawa. Hadir sebagai narasumber selaku pemerhati remaja yakni bang Fandi dan Ustadz Sudiro SPdI selaku praktisi pendidikan dalam acara tersebut. Acara yang berlangsung sekitar pukul 09.00 sampai dengan 12:00 WIB tersebut, dibuka oleh bang Daud selaku pembawa acara. Diawali dengan acara ta'aruf antar peserta yang dipadukan dengan game sederhana namun tetap menarik, membuat wajah para peserta tampak bergembira. Abangda Wasis selaku penanggung jawab LDS Sergai, memberikan sambutan dalam acara tersebut sembari memperkenalkan LDS sebagai sebuah wadah da'wah bagi para remaja khususnya dilingkungan sekolah.

Acara pun berlanjut pada momen inti yakni talk show yang dipandu oleh moderator, beliau mengawalinya dengan melontarkan pertanyaan kepada narasumber pertama yakni bang Fandi tentang fakta kebiasaan remaja (siswa) saat ini dalam menghadapi masa akhir sekolah, khususnya saat selesai melaksanakan UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer). Abangda Fandi pun menjelaskan fakta kebiasaan buruk dan menyimpang para siswa saat ini bahkan terkesan sebagai perbuatan yang sia-sia dan jauh dari nilai-nilai Islam, mulai dari corat coret seragam sekolah hingga hal-hal lain yang bernilai negatif sebagai bentuk kegembiraan saat selesai UNBK. Kepada narasumber kedua, moderator meminta beliau untuk menjelaskan akar masalah kenapa para remaja saat ini melakukan perbuatan sebagaimana fakta yang diungkapkan oleh narasumber pertama. Sebagai seorang guru yang kerap berhadapan dengan para siswa, Ustadz Sudiro SPdI menyebutkan hal tersebut adalah bagian dari bentuk kenakalan remaja saat ini. Dan yang menjadi penyebabnya adalah karena lemahnya pemahaman para remaja khususnya tentang Islam. Sehingga membuat mereka mudah terpengaruh alias "membebek" atas prilaku-prilaku yang bersumber dari luar Islam, semacam faham kebebasan berekspresi yang berakar dari akidah kapitalisme - sekulerisme. Beliau juga menambahkan bahwa sebenarnya sudah ada upaya pencegahan yang dilakukan oleh pihak sekolah, misalnya menghadirkan orangtua siswa dihari terakhir ujian agar bisa mengontrol anaknya agar tidak melakukan hal-hal negatif, namun tampaknya cara tersebut juga tidak efektif untuk mencegah prilaku para siswa saat ini.

Acara pun semakin hidup dengan munculnya berbagai pertanyaan dari para peserta yang hadir, diantaranya Bagus (SMA Satriabudi), Ahmad Khadafi & Indra Gunawan (SMAN 1 Pantai Cermin) yang bertanya perihal kebiasaan remaja saat ini. Kedua narasumber pun memberikan tanggapan atas beberapa pertanyaan yang muncul dari para peserta, yang pada intinya mengajak para siswa untuk tidak ikut-ikutan melakukan kebiasaan para remaja saat akhir sekolah khususnya ketika selesai ujian akhir seperti corat coret pakaian seragam dan lain sebagainya. Mereka juga mengajak para peserta untuk membentengi diri dengan Iman dan mengkaji Islam (menuntut ilmu) secara rutin dalam kajian-kajian keislaman selain pendidikan formal di sekolah . Acara kemudian dilanjutkan dengan clossing statment dari kedua narasumber yang hadir pada acara tersebut.

Pada akhir sesi, moderator meminta salah seorang perwakilan peserta untuk menyampaikan pesan & kesan yang mereka dapatkan pada acara siang itu. Indra Gunawan dari SMAN 1 Pantai Cermin memberanikan diri untik tampil sebagai perwakilan peserta, dia menyebutkan bahwa acara tersebut sangat bermanfaat bagi mereka dan berharap bahwa acara serupa bisa dilaksanakan kembali pada kesempatan-kesempatan berikutnya. Acara pun berlanjut dengan makan rujak bersama yang telah dipersiapkan oleh panitia sebelumnya. Sebelum acara ditutup, pemberian reward kepada beberapa peserta termasuk yang paling aktif dalam acara "NgeRuJaK" pun semakin menambah riuh suasana dengan pekikan takbir dari para peserta. Pembacaan do'a oleh bang Fandi sebagai penanda berakhirnya acara pada siang hari itu. (FAD)

Bicarakan Khilafah Masjid Al Amin Medan Disesaki Jamaah

Medan - Ruangan Masjid Al Amin, Jalan Prof. HM Yamin, SH, Medan, pagi ini, Sabtu (14/4)  penuh sesak jamaah dari berbagai daerah. Membludaknya peserta terlihat hingga ke bagian teras masjid.

Mereka yang terdiri dari pria dan wanita itu menghadiri peringatan Isra mikraj bertema "Khilafah Ajaran Islam" yang digelar Majelis Kajian Islam Kaffah (MKIK).

Tampil sebagai penceramah pada acara yang berlangsung mulai pukul 08.30-11.30 WIB itu, antara lain Al Ustadz H. Musa Abdul Ghani, Al ustadz Musdar Syahban, Al ustadz Lilik Suhendra dan Al ustadz Marwan Rangkuti.

Panitia acara, Amali dalam sambutannya menyebutkan, memaknai Isra Mi'raj seharusnya tidak hanya berhenti pada pelaksanaan kewajiban shalat tetapi juga semestinya setiap muslim bersegera pula merealisasikan ketaatan lainnya, yakni memerintahkan kemakrufan serta mencegah dan menghilangkan kemungkaran.

"Hendaknya juga setiap muslim mengakhiri kemungkaran paling besar. Caranya bersungguh-sungguh menyerukan penerapan syariat Islam secara Kaffah dan mengangkat seorang Khalifah," ucapnya.

Sementara itu, penceramah pertama Al Ustadz H. Musa Abdul Ghani mengatakan jika ada yang menolak khilafah berarti menolak syariah Islam.

Ustadz itu mengutip salahsatu ayat yang menyeru untuk masuk Islam secara kaffah dan tidak mengikuti langkah setan.

Pada bagian lain, Ustadz Musa menjelaskan tentang istilah khilafah yang menurut saya populer di kalangan ulama dan para santri.

"Istilah Khilafah tidak asing bagi saya. Kakek saya dulu adalah seorang Khalifah di Tarekat Naqsyabandiyyah”, ucapnya.

Ustadz itu juga mengaku tahu istilah Khilafah ketika menuntut ilmu di Sekolah Qismu Ali.

"Kitab Fiqih Sulaiman Rasyid ada bab tentang Khilafah. Kemudian saya ngaji di Hizbut Tahrir juga ada pembahasan khilafah," ucap Ustadz Musa.

Penceramah lain, Ustadz Musdar Syahban memaparkan tentang posisi umat Islam yang di dalam Al Qur'an disebut sebagai umat terbaik, justru realitanya hari ini sangat bertolak belakang.

"Apakah Allah yang salah? Tidak. Kita lah yang salah”, ucapnya.

Ustadz itu menggambarkan kondisi ratusan juta rakyat muslim di negeri ini yang notabene mayoritas tetapi mengalami nasib yang menyedihkan.

"Tatkala Khilafah jatuh tahun 1924... sejak itulah terjadi berbagai keburukan dan kedzaliman", paparnya.

Sementara ustadz Lilik Suhendra menyebutkan, semua problematika yang hari ini ada, hanya bisa diselesaikan dengan Khilafah”
 Sementara ustadz Marwan Rangkuti yang tampil sebagai pembicara akhir menyoroti tentang sistem demokrasi yang menjadi penyebab utama keterpurukan umat.

 “Bagaimana mungkin kita mengambil demokrasi sekuler, yang merupakan akar berbagai persoalan sebagai solusi dari permasalahan umat ini?," ucapnya.

Ustadz Marwan menambahkan bahwa yang telah berhasil mengubah sistem jahiliyah menjadi sistem islam adalah Rasulullah. Maka wajib bagi kita memperjuangkan tegaknya sistem islam sesuai dengan thariqah dakwah yang dilakukan Rasulullah," paparnya.

Cara yang harus dilakukan, katanya, melalui jalan dakwah bukan kekerasan, bukan pula dengan menjadi kroni-kroninya para kapitalis”.                                                           Membahana
Selama pelaksanaan acara itu, gema takbir kerap membaha di dalam masjid sehingga membuat sejumlah jamaah semakin khidmat mendengarkan ceramah para ustadz.

Banyak nya jumlah peserta yang hadir dalam Israk mikraj itu sempat memacetkan arus lalu lintas di sekitar.

Area parkir yang disediakan pihak panitia tidak mampu menampung seluruh kendaraan para peserta. Akibatnya, sebagian ruas jalan digunakan untuk lokasi parkir.

Kepadatan lalulintas di kawasan itu juga sangat kentara ketika para peserta akan meninggalkan lokasi acara.

Beruntung petugas kepanitiaan mampu mengkondisikan nya sehingga tidak terjadi kemacetan panjang.[]ngatirin

Heboh Akun FB Diduga Hina Ulama



TANJUNGBALAI (Waspada) :Masyarakat Kota Tanjungbalai dihebohkan dengan status di akun media sosial Facebook bernama Norma Zahara Sitorus diduga menghina ustadz, ulama, dan muadzin, Minggu (8/4) dinihari.
Akibatnya, puluhan masyarakat mendatangi rumah pemilik akun di daerah PT Timur Jaya Kota Tanjungbalai untuk klarifikasi. Namun bukannya diterima dengan baik, masyarakat disambut nada marah dan mengayun-ayunkan senjata tajam di tangannya.
Dalam statusnya, Norma Zahara menuliskan para muadzin yang mengumandangkan adzan saat ini tidak tau adab dan tajwid. Dia juga menulis, ustadz/ustadzah sekarang abal-abal, menjual ayat-ayat Allah demi kepentingan mereka.
Bagi siapa yang tidak senang katanya bisa menghubunginya karena dia tertantang untuk mengutuk dan memaki ulama-ulama su’u (berperangai buruk) yang telah memporak-porandakan agama Allah. Status itu diduga terkait puisi Sukmawati Soekarnoputri yang membandingkan adzan dengan kidung.
Pada kolom komentar Zahara juga menyebut ustadz dengan sebutan binatang, a****g karena hukum yang dibuat oleh ustadz katanya telah menghancurkan hidupnya. Selain itu, Zahara juga menantang warganet untuk mendatanginya dengan mengungkap alamat lengkap dan nomor HP nya.
“Siapa yang berani ciduk aqu tunggu sekarang. Gak perlu izin dariku, silahkan diviralkan, jangan lupa tandai ustaz Kumpul Pandapotan, kalau perlu seluruh ustadz yang ada di Tanjungbalai,” tulis Zahara.
” _Menurutku puisi Ibu Sukmawati ini sah-sah saja, kena memang betul tukang azdan sekarang tidak tau adab adzan…tajwid bacaan adzn..si.cempreng dengan bangga berkuat-kuat menjerit seolah yang paling indah memiliki suara, Ibuk Sukmawati juga jujur akan ketidaktahuannya tentang syariat Islam…..bukan seperti ustadz/ustadzah sekarang… abal-abal…menjual ayat-ayat Allah demi kepentingan mereka…terus pelecehannya dimana… saya tidak membela Ibuku Sukma, tapi puisinya itu sah-sah saja… ungkapan hati dia…bagi yang tidak senang..hubungi saya… kaarena saya lebih tertantang untuk mengutuk memaki ulama-ulama su’u penjual agama…. f**k buat ulama-ulama su’u karena pada hakikatnya ulama tidak semuanya hasanah… sebagaimana kita ketahui..nabi pun ada yang palsu… jadi sebaiknya kit semua jangan berlagak ulama kalau masih bodoh….okay…semangat Ibuk Sukmawati…saya baru mencermati puisi Ibuk,”_ ditulis Norma Zahara Sitorus dalam statusnya.
Warga yang berhasil menemukan alamatnya langsung menyambangi namun disambut dengan reaksi kurang bersahabat. Tak berapa lama, petugas dari Polres Tanjungbalai tiba di lokasi dan mengamankan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.
Ketua Forum Umat Islam (FUI, Indra Syah mengatakan sekira pukul 03.00 dirinya dan beberapa Ketua Ormas Islam yang sudah bertemu dengan Norma Zahara Sitorus dan keluarganya difasilitasi pihak kepolisian di Mapolres Tanjungbalai.
Pihak keluarga ujar Indra Syah mengatakan Norma Zahara diduga mengalami depresi (stress) dan gangguan jiwa akibat ditinggal cerai suaminya. Dalam pertemuan itu kata Indra Syah, dibuat tiga kesepakatan disaksikan Wakapolres Tanjungbalai, Kasat Reskrim, Kasat Intel, Kabag Ops, dan beberapa pihak kepolisian lainnya.
Ketiga kesepakatan itu antara lain, pihak keluarga akan memeriksakan anaknya ke rumah sakit untuk membuktikan adanya gangguan jiwa dikuatkan dengan surat keterangan dokter. Kedua, pihak keluarga akan membuat permintaan maaf di facebook yang bersangkutan.
Dan ketiga, membuat surat pernyataan maaf secara terbuka dengan mengundang seluruh perwakilan Ormas dan Umat Islam serta melibatkan peliputan media difasilitasi Polres Tanjungbalai.
“Kita menanti surat sakit dari pihak keluarga,” kata Indra Syah.
Sementara, Ketua Majelis Dakwah Islam Tanjungbalai, Ali Rukun sangat menyayangkan komentar Norma. Menurutnya, sebagai seorang muslimah, Norma seharusnya tidak bertindak kembali menyinggung perasaan umat, karena kasus Sukmawati saja belum selesai, malah menambah luka hati Umat Islam dengan berbagai komentarnya.
Namun karena dikabarkan terindikasi depresi ringan ujar Ali Rukun, untuk sementara MDI meminta pihak keluarga memohon maaf pada Umat Islam khususnya Tanjungbalai. Selanjutnya dilakukan mediasi antara pihak keluarga dengan para ulama, Ormas Islam, dan tokoh masyarakat dibantu pihak polres.
“Jika benar depresi atau masalah kejiwaan, pihak keluarga kiranya memperlihatkan surat dari dokter biar masyarakat memakluminya, tetapi jika kondisinya sehat, maka kita meminta pihak kepolisian segera memprosesnya sebagai bentuk penegakan hukum,” tegasa Ali Rukun.
Sementara, Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia Tanjungbalai, Indra menjelaskan terkait status di FB Norma Zahara Sitorus, hal itu merupakan di luar dari pemikiran orang waras. Sebab katanya, pelaku positif memiliki gangguan jiwa yang dibenarkan kepling, lurah, masyarakat, serta pihak keluarga, ditambah lagi tingkah laku sewaktu dimintai keterangan di kepolisian.
“Kita masih menunggu permohonan maaf dari pelaku atau keluarganya, jika nanti tidak terbukti memiliki gangguan jiwa, maka kami mendesak kepolisian agar memprosesnya secara hukum,” ujar Indra.
Kapolres Tanjungbalai, AKBP Irfan Rifai dikonfirmasi melalui Kasubbag Humas, Iptu Jumadi, belum memberikan keterangan. Saat dihubungi via seluler, Jumadi tidak menjawab, dan pesan singkat di WA juga tidak dibalas.[] Waspada 

Kapolres Tanjungbalai Apresiasi Subuh Berjamaah Aliansi Umat Islam



Dakwahsumut.com,Tanjungbalai(8/4),- Kapolres Tanjungbalai AKBP Irfan Rifai mengapresiasi Kegiatan shalat subuh berjamaah yang dilaksanakan oleh Aliansi Umat Islam Kota Tanjungbalai. Hal itu beliau sampaikan dalam sambutannya di depan jamaah shalat subuh berjamaah di Mushallah Baitul Amal Jl.Sehat Kelurahaan Sejahteta Kecamatan Tanjungbalai Utara.

Selain mengapresiasi kegiatan tersebut beliau juga mengingatkan warga agar bijak dalam bersosial media sambil menyinggung adanya tadi malam(sabtu malam) salah seorang warga Tanjungbalai  memposting status yang terindikasi melanggar UU ITE. Kehadiran Kapolres Tanjungbalai juga didampingi Kapolsek Tanjungbalai Utara beserta jajaran kepolisian lainnya.

Selain sambutan dari Kapolres Tanjungbalai Koordinator Aliansi Umat Islam Tanjungbalai Ustadz Indra Syah dan BKM Baitul Amal juga memberikan sambutannya. Begitu juga dengan pimpinan ormas lainnya mereka tampak hadir meramaikan subuh berjamaah tersebut seperti Ustadz Muhammad Ali Rukun( Ketua MDI), Indra BMT(Ketua GPII) , Sugeng (Sekjen TPU), Durun Nafis dan lain sebagainya.

Subuh berjamaah yang ke 28 kali ini sengaja mengundang Ustadz Muhammad Nurdin, Spdi. Dalam Tausiyahnya beliau kembali mengingatkan para jamaah tentang keutamaan shalat subuh dan Isya berjamaah walau sampai merangkak untuk mendatanginya sambil mengutip berbagai dalil. Jamaah shalat subuh yang terdiri dari orang tua juga diramaikan rejama dan anak-anak  tampak antusias mendengarkan isi ceramah ustadz  Nurdin tersebut hinggap selesai.

Subuh berjamaah yang mengambil tema 'Dari masjid /  Mushallah Peradaban Tanjungbalai Bangkit' akan terus dilaksanakan. Indra BMT sebagai pembawa acara tidak lupa mengucapkan terima kasih pada semua pihak terutama  pihak BKM Baitu amal [] ar


Jangan Diam Dengan Maksiat


Oleh : Eva Arlini (Aktivis Muslimah Sumut)

Setiap pelanggaran hukum Allah swt, pasti berakibat keburukan. Itulah yang sedang kita rasakan saat ini. Hukum Allah swt telah diabaikan dalam mengatur kehidupan kita sehingga kemaksiatan seperti zina menyebar luas. Salah satu efeknya, penyakit kelamin mematikan HIV/ AIDS pun menyebar luas. Kepala Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sumatera Utara (Sumut), Ramadhan mengakui bahwa trend kasus HIV/AIDS pada kaum perempuan cenderung meningkat. Sedihnya, penularan pada mereka berasal dari suami mereka.

Artinya, penderita HIV/ AIDS bukan lagi kebanyakan berasal dari kalangan perempuan pekerja seks komersil (PSK) melainkan perempuan baik-baik. Mereka tertular virus tersebut dari suami yang “jajan” di luar. Alhasil anak-anak mereka pun ikut tertular penyakit tersebut.

Jika orang-orang baik pun sudah merasakan dampak dari menyebarnya kemaksiatan, itu artinya kerusakan sudah sedemikian parah. Sebenarnya hal ini sudah diingatkan oleh Allah swt dalam sebuah ayat al Qur’an bahwa azab Allah tidak hanya akan menimpa orang-orang yang berbuat jahat saja, tetapi orang-orang baik di sekitar mereka pun akan terkena dampaknya (QS al-Anfal [8]: 25). Sebab orang-orang baik itu enggan memberi peringatan.
Belum semua dari kaum muslim hari ini sepakat bahwa kerusakan yang terjadi akibat diabaikannya syariat Islam dan diterapkannya sistem kapitalis liberal. Masih ada yang ridha hidupnya diatur dengan hukum-hukum buatan penjajah. Kehidupan tanpa aturan dari Sang Pencipta, serba bebas yang akhirnya mendorong manusia berbuat berdasar hawa nafsunya. Kebebasan kini diagung-agungkan. Termasuk kebebasan berprilaku yang menjadi standar berbuat banyak orang di negeri berpenduduk mayoritas muslim ini. Kebebasan berprilaku yang mendorong banyak orang tanpa malu berbuat zina hingga HIV/ AIDS merajalela. Dan ketika ada yang memilih diam dengan persoalan tersebut, mereka pun punya peluang besar terkena dampak dari pergaulan bebas.

Secara fakta, virus HIV bisa menyebar melalui tiga hal, yaitu; hubungan seksual, penggunaan jarum suntik yang bergantian, transfusi darah, ibu hamil pada anak dalam kandungan dan melalui oral seks. Inilah yang secara kaidah kausalitas memungkinkan para istri bisa tertular virus HIV dari suaminya meski mereka orang-orang baik. Para pasien di rumah sakit yang disuntik dengan jarum bekas penderita HIV juga berpotensi tertular virus tersebut.

Untuk itu kita tak boleh diam dengan penerapan sistem kapitalis liberal yang membawa kerusakan. Tidak boleh ada yang berpikir bahwa masalah orang lain yang berzina maupun menderita HIV/ AIDS bukan masalah dirinya. Stop bersikap individualis. Hari ini orang lain yang terkena tapi besok-besok tak ada yang menjamin anda bisa terbebas dari HIV/ AIDS. Bila kita ingin melindungi diri kita dan keluarga dari kerusakan, maka sadarkan masyarakat akan kerusakan itu. Ajak masyarakat berubah ke arah Islam secara kaffah. Hanya ketika syariah Islam diterapkan secara kaffah maka mata rantai penularan HIV/ AIDS akan terputus. Sebab syariah Islam punya seperangkat aturan dari sistem pergaulan, ekonomi, pendidikan, politik hingga sanksi yang kesemuanya mampu mencegah kemaksiatan. Hidup kita akan berkah dengan Islam. Rahmat Allah swt akan menaungi kita saat kita menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah. Allahu Akbar.