Slider

Berita Video

Berita Pilihan

Kabar Medan

Tsaqofah

Sudut Pandang

Dinamika Dakwah

Berita Foto

Anak Nelayan Gizi Buruk Aidil Akbar Akhirnya Meninggal

TANJUNGBALAI : Penderita penyakit gizi buruk, Aidil Akbar, 1,2 tahun yang terpaksa dibawa ibunya pulang dari rumah sakit karena terkendala biaya akhirnya meninggal di rumahnya di Sipori-pori Jln Arwana Lingk. II Kel. Kapias Pulaubuaya, Kec. Teluknibung, Kota Tanjungbalai, Senin (13/8) sekira pukul 04.00.
 
Sebelumnya, buah hati pasangan Gusti Efendi, 45 dan isteri Ernida br Siregar, 35 ini sempat dibawa ke rumah sakit atas desakan masyarakat dan aktivis karena kondisinya sangat memprihatinkan. Anak ke empat dari empat bersaudara ini kemudian dirawat selama empat hari di RSUD Kota Tanjungbalai, Kamis (9/8).

Namun pada Minggu (12/8) Ernida terpaksa membawa anak tercintanya itu pulang ke rumah. Alasannya, pihak RSUD Kota Tanjungbalai merujuk Akbar ke Medan, sementara dirinya tidak memiliki uang sepeserpun untuk biaya hidup di rumah sakit selama empat hari saja, bersumber dari donatur dan dermawan.
Padahal, kondisi Akbar pada saat dibawa pulang miris sekali. Putra satu-satunya Ernida ini tampak mengalami sesak nafas dan harus dibantu oksigen, sedangkan kondisi tubuhnya sangat kurus, perut membesar, mata cekung, dan kulit mengeriput.

Di sisi lain, kondisi perekonomian keluarga Akbar cukup memprihatinkan. Sang ayah, Gusti Efendi hanya buruh nelayan yang berlayar sampai ke Batam dan sekali tiga bulan baru pulang. Sedangkan Ernida tidak bisa lagi bekerja sampingan membantu suaminya disebabkan penyakit stroke ringan yang menyebabkan sebelah tubuhnya nyaris lumpuh.
Ketua Gerakan Muda Pencari Keadilan (GMPK), Ryanda Pratama yang sejak awal mengarahkan dan mendampingi Akbar dan Ernida mengaku sangat terpukul mendengar kabar kematian balita yang sudah dianggapnya seperti anak kandung sendiri itu. Ryanda menyesalkan minimnya bantuan dari pemerintah untuk menjamin kesehatan rakyatnya.

Kasus Akbar ini ungkapnya, adalah kematian ke dua dalam satu tahun ini yang menimpa anak gizi buruk. Pemko tuturnya seakan tidak belajar dari kasus sebelumnya menimpa Fitri Fadilla, balita gizi buruk juga tewas beberapa bulan lalu.
“Yang sakitnya, tempat tinggal antara Aidil dan Fitri Fadilla sangat berdekatan, seharusnya tidak terjadi hal ini,” pungkas Ryanda.

Minimnya alat di RSUD T Mansyur Kota Tanjungbalai juga sangat disesalkan. Seharusnya pungkas Ryanda, alat penanganan gizi buruk sudah ada karena banyak kasus setiap tahun, tujuannya supaya para pasien yang umumnya dari golongan tidak mampu tidak harus dirujuk ke Medan.
Oleh sebab itu Ryanda meminta Walikota, Dinkes, RSUD, dan DPRD Kota Tanjungbalai dapat mengambil langkah-langkah serius untuk penanganan kasus gizi buruk yang sering menimpa bayi di kota kerang. “Miris kita di kota yang tidak sebegitu besar ternyata tingkat kemiskinan masih sangat tinggi yang berbanding lurus dengan peningkatan kasus gizi buruk,” pungkas Ryanda.

Bela Sungkawa

Walikota Tanjungbalai, M Syahrial mengetahui kematian Aidil Akbar langsung mengunjungi rumah duka. Walikota mengungkapkan bela sungkawa mendalam dan turut berduka cita atas meninggalnya pasien gizi buruk tersebut.

Dalam kesempatan itu Syahrial mengatakan pihaknya melalui Dinas Kesehatan sebelumnya telah memberikan penanganan khusus buat Aidil Akbar di RSUD Dr T Mansyur Kota Tanjungbalai. Pasien kata walikota masuk rumah sakit pada hari Kamis 9 Agustus jam 16.40 WIB dan langsung ditangani dr Dewi SpA.

Hasil diagnosis tutur Syahrial, Aidil Akbar menderita gizi buruk, Marasmus kwasiorkor, GE, bronko pneumonia dan langsung mendapatkan pengobatan intensif. Pada hari ke dua kondisi pasien membaik terbukti di hari ke tiga perut yang membesar mulai mengempis.

Namun pada Minggu pukul 11.00, ibu Akbar meminta pulang dengan menandatangani status bahwa mereka pulang tanpa anjuran dokter. Pemko Tanjungbalai ujarnya akan terus komit memberikan perhatian dan bantuan kepada seluruh masyarakat.

Dalam kesempatan itu walikota mengajak seluruh elemen untuk berkoordinasi dengan Kepala Lingkungan di wilayah masing-masing guna penanganan keluhan maupun hal-hal yang menjadi perhatian sehingga segera mendapatkan penanganan efekrif.

“Kepada keluarga khususnya orang tua Aidil Akbar semoga diberi ketabahan dan keikhlasan, saya mewakili pemperintahan mengucapkan turut berbelasungkawa, semoga almarhum ditempatkan di sisi Allah SWT,” ucap Syahrial. [] Waspada

Majelis Dzikir untuk Negeri - Membedah Islam Nusantara

(Medan, 12/08/2018) "Sungguh tidak sah iman kalian kecuali kalian mencintai orang arab ini (yakni nabi Muhammad Shollahu'alaihiwasallam) lebih dari kalian mencintai diri kalian keluarga kalian bangsa kalian dll. dalam arti lain kalau kalian sentimen terhadap bangsa arab maka tidak sah iman kalian." kata Ust. Irwan Said Batubara mengutip perkataan Syaikh Ahmad Thayyib dalam materinya Mengungkap Ide Islam Nusantara yang disampaikan dalam acara Majelis Dzikir untuk Negeri yang diadakan oleh Majelis Mahabbatullah pada hari minggu (12/8).

Menurut Ust. Irwan Said Batubara "Hakekat Islam Nusantara itu mengedepankan sisi Nasionalisme dan mengabaikan Islam itu adalah kaum Muslim yang memiliki aturan hidup dari Al Quran dan As Sunnah yang mengatur semua lini kehidupan, yang berbeda dengan pengertian Islam Nusantara, sehingga Islam Nusantara ini sudah rusak dari segi pengertian dan hakekatnya.

Beliau juga menghimbau kepada seluruh jamaah yang hadir, "Jangan kemudian kita ikut-ikutan untuk membawa dan meyebarkan ini selama kita belum paham dengan faktanya. Karena banyak hal-hal yang menyimpang pada praktek Islam Nusantara ini..", hal senada juga disampaikan oleh Ust. Tommy Abdillah selaku pemateri kedua, dalam materinya "Kritik Atas Paradigma Islam Nusantara" yang mengutip banyak penjelasan dari pada ulama-ulama yang menentang Islam Nusantara ini, salah satunya adalah pernyataan dari Buya GusrizalGazahar, Lc., MA selaku Ketua Umum MUI SUMBAR yang menyatakan, “Ini negeri bertuan, bertuankan syara’ sebagai tuntunan, dalam beradat dan beresam, tak akan bertukar nama apalagi berubah jalan, warisan Rasulullah Saw yaitu Islam. Menambahnya lambang keangkuhan, menguranginya membawa kerugian.”

Acara yang diselenggarakan di Masjid Silaturahmi Jl. Garu III Medan ini bertemakan "Membedah Islam Nusantara" di ikuti oleh puluhan orang jamaah secara antusias dengan dilanjutkan pada sesi tanya jawab di akhir pemaparan kedua pemateri. []

Penista Agama Islam Dituntut 18 Bulan

 TANJUNGBALAI : Jaksa Penuntut Umum menuntut terdakwa penista agama Islam, Meliana 18 bulan penjara dalam persidangan di Pengadilan Negeri Medan, Senin (13/8) sore.

Tuntutan itu dibacakan langsung Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Tanjungbalai, Kuo Bratakusuma bersama Anggia Y Kesuma, Jihanto Nur Rahman, dan Ari Ade Bram Manalu secara bergantian. Persidangan dipimpin Ketua Majelis Hakim, Wahyu Prasetyo SH MH.
Persidangan itu juga dihadiri Ketua Majelis Syuro Forum Umat Islam Sumut, Timsar Zubil, Ketua FUI Tanjungbalai, Indra Syah, Ketua Forum Pemuda Mahasiswa Sumut, Indra Putra Bungsu, Majelis Taklim Silaturahim Kota Tanjungbalai, Ust Jefri Sanjaya Marpaung, beserta Laskar FUI. Selain itu, terdakwa Meliana juga datang untuk menjalani persidangan tersebut.

Mendengar rendahnya tuntutan itu, pengunjung sidang dari umat Islam protes. Ketua FUI Tanjungbalai, Indra Syah mengatakan, tuntutan itu terlalu rendah sehingga melukai rasa keadilan bagi umat.

Semestinya ungkap Indra Syah, Meliana dituntut paling tidak dua tahun. Dalam hal ini ujarnya, FUI bersama Ormas Islam lainnya akan mendatangi Kejaksaan Negeri Tanjungbalai untuk mempertanyakan kenapa tuntutannya begitu sangat rendah.
“Tadi kami mau mempertanyakan hal itu kepada JPU, tapi buru-buru keluar pergi. Tapi kami sempat bertanya kepada Kasi Intel, Hardiansyah, lalu dijawab bahwa tuntutan itu dari Kejati, JPU hanya membacakan,” ungkap Indra Syah.

Sementara, Kepala Kejaksaan Negeri Tanjungbalai, Zullikar Tanjung melalui Kasi Intel Hardiansyah menjelaskan, tuntutan 1 tahun 6 bulan itu sangat tepat. Seharusnya tuntutan ini katanya mendapat apresiasi karena jaksa begitu berani dengan segala risiko yang ada.
Menurut Hardiansyah, pengambilan keputusan penuntutan itu tidak ada intervensi dari pihak manapun. Kalau ada intervensi katanya, maka Meliana tidak akan ditahan dan tidak akan dituntut setinggi itu.

“Harusnya kita diapresiasi karena keberanian JPU, Ahok saja cuma dua tahun hukuman percobaan, nah kalau Meliana masuk (penjara-red) setahun enam bulan, tinggi mana coba, kita sangat berani mengambil risiko, apapun keadaannya,” tegas Hardiansyah.
Hardiansyah mengajak seharusnya para pihak juga bisa melihat kembali ke belakang, para pelaku perusakan rumah ibadah dituntut sangat rendah. Terkait rencana penuntutan (rentut), Hardiansyah membenarkan itu datangnya dari Kejatisu, dan tim JPU membacakan di persidangan.
“Rentut memang dari Kejati, format tuntutan ini kan berjenjang, ini keputusan pimpinan, ya tim membacakan,” ungkap Hardiansyah.[]waspada

SEBAB KERUNTUHAN KHILAFAH DAN UPAYA MENEGAKKAN KEMBALI KHILAFAH


Oleh :
Fathiy Syamsuddin Ramadhan An-Nawiy

Keruntuhan Khilafah Islamiyah pada tahun 1342 H (1924 M) tidak hanya menjadi musibah terbesar bagi umat Islam. Peristiwa itu juga menyebabkan perubahan besar pada tata politik internasional. Sejak saat itu, kaum Muslim praktis tidak lagi memiliki pengaruh pada relasi politik internasional. Bahkan pada level tertentu, umat Islam hanya menjadi obyek permainan dan persekongkolan busuk negara-negara imperialis Barat. Harta mereka dijarah. Kehormatan mereka dilecehkan. Darah mereka ditumpahkan oleh musuh-musuh Islam dan kaum Muslim tanpa ada perlawanan berarti. Islam pun tidak lagi bisa diterapkan secara utuh dalam ranah individu, masyarakat dan negara. Jika pun ada penerapan Islam, itu pun dibatasi dan atas ijin para penguasa sekular.
Mengapa Khilafah Islamiyah bisa diruntuhkan? Apa penyebabnya? Langkah-langkah apa pula yang harus dilakukan umat Islam untuk mengkonstruksi kembali Khilafah Islamiyah pada masa datang?
Sebab-sebab Keruntuhan Khilafah
Keruntuhan Khilafah Islamiyah disebabkan oleh dua faktor penting : (1) Faktor internal; (2) Faktor eksternal.
Faktor Internal
(1) Kemunduran taraf berpikir umat Islam.
Pada dasarnya eksistensi sebuah negara dan peradaban ditentukan oleh sejauh mana penjagaan penguasa dan rakyatnya terhadap pemahaman, standarisasi dan sistem nilai yang mereka anut. Daulah Islamiyah dan peradaban Islam tegak di atas mafahim (pemahaman), maqayis (tolok ukur) dan qana’at (tradisi) Islam. Daulah Islamiyah tetap tegak dan berdiri kokoh manakala penguasa dan rakyatnya memiliki keterikatan dan kesadaran tinggi terhadap tiga hal tersebut. Sebaliknya, ketika penguasa dan rakyat tidak lagi terikat dengan mafahim, maqayis dan qana’at Islam, maka Daulah Islamiyah telah kehilangan pilar penyangganya. Keruntuhannya pun tinggal menunggu waktu. Namun, ketika taraf berpikir umat Islam tinggi, dengan cepat mereka bisa pulih dari goncangan dan bencana. Ketika Kekhilafahan Islam di Baghdad dihancurkan oleh bangsa Tartar, dengan cepat mereka berhasil mendirikan Khilafah di tempat lain, dan dengan cepat pula kekuatan bangsa Tartar bisa dihancurkan. Bahkan ketinggian berpikir umat Islam saat itu mampu mengubah bangsa Tartar yang awalnya memusuhi Islam berbalik menjadi pemeluk dan pembela Islam yang gagah berani. Sebaliknya, tatkala taraf berpikir umat Islam merosot, mereka hanya duduk tercenung saat Khilafah Islamiyah dihancurkan oleh musuh-musuh Islam. Padahal saat itu mereka tengah ditimpa musibah paling besar. Mereka tidak bergerak, sebagaimana umat-umat terdahulu.
(2) Kemunculan organisasi dan gerakan yang merongrong Khilafah Islamiyah dari dalam.
Gerakan-gerakan ini tidak saja menciptakan instabilitas dan perpecahan, tetapi juga menyebarkan pemikiran-pemikiran beracun di tengah-tengah kaum Muslim. Di antara gerakan-gerakan yang tercatat dalam buku sejarah kelam umat Islam adalah gerakan Wahabi. Gerakan ini tidak saja menciptakan friksi dan perpecahan di tengah-tengah kaum Muslim, namun juga menumbuhsuburkan “fanatisme mazhab” dan bibit-bibit disintegrasi. Gerakan ini menyerang mazhab-mazhab lain dan tidak segan-segan menggunakan kekuatan fisik. Berkat dukungan Inggris, Dinasti Saud dan gerakan Wahabi berhasil memisahkan wilayah Hijaz dari Khilafah ‘Utsmaniyah serta mendirikan negara yang berasaskan mazhab tertentu. Di kemudian hari, gerakan ini juga berhasil menyibukkan umat Islam dalam persoalan khilafiyah, dan memalingkan mereka dari perkara-perkara yang lebih penting.
(3) Kesadaran politik umat menurun dan mental para penguasa Islam rusak.
Menurunnya kesadaran politik dan rusaknya mental para penguasa Islam menyebabkan mereka mudah diperalat dan diperdaya oleh musuh-musuh Islam dan kaum Muslim. Mereka tidak bisa membedakan mana musuh dan kawan. Mereka tidak bisa menakar sejauh mana bahaya yang ditimbulkan oleh sebuah tindakan. Mereka tidak bisa memahami hakikat yang ada di balik statemen dan langkah-langkah politik musuh-musuh Islam. Mereka pun tidak bisa merumuskan langkah yang tepat untuk menyelesaikan problem-problem politik di wilayah mereka.
Para penguasa Islam saat itu juga tak segan-segan bersekongkol dengan negara-negara kafir untuk menghancurkan eksistensi Khilafah Islamiyah. Contoh paling baik untuk menggambarkan hal ini adalah Dinasti Saud yang rela menghambakan dirinya pada kepentingan kaum kafir. Contoh lain adalah persekongkolan Wali Mesir Mohammad Ali dengan Prancis untuk memisahkan diri dari Khilafah Islamiyah pada tahun 1830-an. Contoh lain adalah Kekhilafahan Utsmaniyah terakhir yang kebijakan-kebijakannya justru menjadi sebab keruntuhan Khilafah Islamiyah, mulai dari pengadopsian perundang-undangan Barat ke dalam perundangan-undangan Daulah Khilafah, pembiaran terhadap gerakan Turki Muda yang dipelopori Mustafa Kemal serta kebijakan-kebijakan lain yang justru mempercepat keruntuhan Khilafah Islamiyah.
Faktor Eksternal
Adapun terkait faktor eksternal, keruntuhan Khilafah Islamiyah disebabkan oleh beberapa faktor berikut ini:
(1) Adanya perang pemikiran dan peradaban (al-ghazw al-fikr wa al-ghazw ats-tsaqafi) yang digelar oleh orang-orang kafir.
Barat menyadari sepenuhnya bahwa umat Islam tidak bisa dikalahkan selama mereka masih berpegang teguh dengan Islam. Barat juga memahami bahwa umat Islam di seluruh dunia memiliki ikatan persaudaran yang sangat kuat, yakni persaudaraan yang tegak di atas ‘aqidah Islamiyyah, dan bersatu di bawah kepemimpinan seorang Khalifah. Mereka juga menyadari bahwa Khilafah Islamiyah adalah “jantung dan perisai” umat Islam. Kaum Muslim hanya bisa dinamis, bergerak dan hidup ketika berada di dalam sistem Islam. Islam pun hanya bisa diterapkan secara sempurna dalam kehidupan individu, masyarakat dan negara di bawah naungan Khilafah Islamiyah.
Langkah pertama yang dilakukan oleh orang-orang kafir untuk menghancurkan Khilafah Islamiyah adalah memisahkan kaum Muslim dari Islam dan menanamkan ikatan baru di tengah-tengah mereka, yakni ikatan-ikatan ‘ashabiyyah semacam nasionalisme, mazhabisme sempit, sukuisme, patriotisme, dan lain sebagainya. Untuk itu, mereka menyebarkan paham sekularisme dan kebebasan untuk menghancurkan keterikatan kaum Muslim dengan Islam; juga paham nasionalisme untuk memecah-belah persatuan umat Islam serta untuk menumbuhkan benih-benih disintengrasi dalam Daulah Khilafah Islamiyah.
Agar rencana ini berjalan mulus, mereka mendirikan pusat-pusat kajian yang secara massif menyebarkan pemikiran-pemikiran yang ditujukan untuk mewujudkan dua hal di tersebut. Mereka juga merekrut pemuda-pemuda Islam untuk dididik dengan pemikiran dan tsaqafah Barat. Pemuda-pemuda inilah yang menyebarkan pemikiran dan tsaqafah Barat yang di kemudian hari menjadi sebab kehancuran Khilafah Islamiyah.
(2) Adanya upaya-upaya sistematis dari negara imperialis, khususnya Inggris, untuk melenyapkan Khilafah Islamiyah.
Inggris, dengan memanfaatkan sekutu-sekutu dan antek-anteknya, terus berusaha merongrong Khilafah Islamiyah. Inggris, baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, menjadi dalang pemberontakan melawan Khilafah Islamiyah. Begitu pula Prancis dan negara-negara imperialis Barat lainnya. Mereka terus mencaplok wilayah-wilayah Khilafah Islamiyah serta mengobarkan peperangan dan pemberontakan melawan Khilafah Islamiyah. Lambat laun, Khilafah Islamiyah mulai melemah dan tidak mampu menjaga wilayah kekuasaannya yang amat luas. Akibatnya, satu demi satu wilayah kekuasaan Khilafah Islamiyah jatuh ke tangan penjajah, mulai dari Asia, Afrika, Kaukasus, dan lain sebagainya. Di pusat kekuasaan Khilafah Islamiyah, Inggris menyokong sepenuhnya gerakan Turki Muda yang dipimpin oleh Mustafa Kemal. Melalui persekongkolan, intrik, pengkhianatan dan tipu daya licik, akhirnya Inggris berhasil melenyapkan sistem Khilafah yang agung dan mengganti Khilafah dengan sistem kenegaraan sampah, yakni demokrasi-sekular.
Inilah faktor-faktor penting yang menyebabkan keruntuhan Khilafah Islamiyah.
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Khilafah Islamiyah hanya bisa diruntuhkan melalui aktivitas pemikiran dan politik. Barat tidak akan pernah sanggup meruntuhkan Khilafah dengan hanya bertumpu pada aktivitas militer. Keberhasilan Barat meruntuhkan Khilafah Islamiyah sesungguhnya disebabkan karena mereka berhasil mengalahkan kaum Muslim pada perang pemikiran dan peradaban.
Cara Mengembalikan Khilafah Islamiyah
Bercermin pada sebab-sebab keruntuhan Khilafah Islamiyah, dapat dirumuskan langkah-langkah untuk mengkonstruksi kembali Khilafah Islamiyah. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut :
(1) Meninggikan taraf berpikir umat.
Taraf berpikir umat hanya bisa ditinggikan ketika umat Islam telah menjadikan Islam (akidah dan syariah) sebagai sudut pandang berpikir dan standar perbuatan mereka. Umat harus dipahamkan bahwa realitas bukanlah dalil untuk menetapkan baik-buruk, terpuji-tercela serta halal-haram. Realitas adalah obyek berpikir yang harus diubah dengan Islam. Realitas harus disesuaikan dengan Islam, bukan Islam yang harus disesuaikan dengan realitas. Jika umat telah menyadari hal ini, terwujudlah irtifa’ al-fikr (ketinggian berpikir) pada diri mereka.
(2) Membangun kesadaran politik (wa’yu as-siyasi).
Yang dimaksud dengan kesadaran politik bukanlah memahami kejadian maupun peristiwa politik, konstelasi politik internasional, maupun analisis-analisis politik. Kesadaran politik adalah memandang dunia dari sudut pandang Islam. Kesadaran politik hanya bisa terwujud jika umat telah menjadikan Islam sebagai satu-satunya sudut pandang untuk melihat semua peristiwa dan kejadian yang terjadi di dunia.
(3) Mendirikan gerakan politik yang berasaskan Islam dan bertujuan untuk melangsungkan kembali kehidupan Islami melalui penegakkan kembali Khilafah Islamiyah.
Mendirikan Daulah Khilafah Islamiyah adalah aktivitas politik, bukan aktivitas sosial, ritual keagamaan yang sempit, maupun aktivitas yang sifatnya akademik belaka. Oleh karena itu, mendirikan Khilafah Islamiyah harus dimulai dengan mendirikan gerakan politik (partai politik) yang benar-benar memiliki kemampuan untuk mendirikan Khilafah Islamiyah. Gerakan ini harus fokus pada perjuangan politik, tidak boleh berpaling pada aktivitas-aktivitas lain yang justru menyimpangkan dirinya dari tujuan dan garis perjuangan yang lurus. Selain itu, ia harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, baik persiapan yang menyangkut pemikiran, administrasi, kaderisasi serta persiapan-persiapan penting lainnya. Ia juga harus menempuh manhaj dakwah Rasulullah saw. tanpa pernah bergeser seujung rambut pun. Gerakan ini juga harus memampukan dirinya untuk memimpin umat, membimbing dan memandu mereka pada tujuan yang sama, yakni melangsungkan kembali kehidupan Islami. Ia juga harus memaksimalkan dukungan dari simpul-simpul umat dan ahlul-quwwah agar suasana perubahan semakin matang. Di atas semua itu, gerakan ini juga harus menjaga keikhlasannya untuk hanya berjuang karena Allah SWT, bukan karena tendensi-tendensi lain.
Inilah langkah-langkah penting yang harus dilakukan oleh umat Islam untuk menegakkan kembali Khilafah Islamiyah. Semoga Khilafah Islamiyah segera berdiri atas ijin dan ma’unah dari Allah SWT. Wallaahu a’lam bi ash-shawab.

Menyoal Progam Kabupaten/Kota Layak Anak



Oleh : Sri Cahyo Wahyuni, SPi (Praktisi dan Pemerhati Gerakan Perempuan, Keluarga dan Generasi)

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia, Yohana Yambise, memberikan penghargaan kota Layak Anak (KLA) kategori Pratama 2018 kepada Pemko Kota Medan karena kota Medan dianggap sudah memenuhi kriteria sebagai kota yang peduli terhadap tumbuh kembang anak. Namun menurut anggota komisi b DPRD Medan, Surianto SH, hal itu sangat jauh berbeda dengan kenyataan. Fasilitas tempat bermain anak yang disediakan oleh Pemko Medan dinilainya masih sangat minim. Terlepas dari adanya pro dan kontra terhadap penghargaan yang diberikan Kementrian PPPA kepada Pemko Medan sebagai Kota Layak Anak dengan kategori Pratama.

Program Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) ini ada beberapa hal yang masih perlu dipertannyakan. Diantaranya adalah apa sebenarnya Kabupaten/Kota layak Anak?. Apa tujuan program KLA?. Mengapa Kabupaten dan kota Layak anak ini dikembangkan? Apa landasan progam KLA ini dan indikatornya? Benarkah KLA sebagai solusi terhadap pemenuhan hak anak? Pertama, Kota Layak Anak adalah Kabupaten/Kota yang mempunyai sistem pembangunan berbasis hak anak melalui pengintegrasian komitmen dan sumber daya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha, yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam kebijakan, program dan kegiatan untuk menjamin terpenuhinya hak dan perlindungan anak.

KLA memiliki dua tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Secara Umum: Untuk memenuhi hak dan melindungi anak. Secara Khusus: Untuk membangun inisiatif pemerintahan kabupaten/kota yang mengarah pada upaya transformasi Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of the Child) dari kerangka hukum kedalam definisi, strategi dan intervensi pembangunan, dalam bentuk: kebijakan, program dan kegiatan pembangunan yang ditujukan untuk pemenuhan hak dan perlindungan anak (PHPA), pada suatu wilayah kabupaten/kota.

Indonesia sebagai Negara yang telah meratifikasi Konvensi Hak-Hak Anak (KHA), berkomitmen membangun Indonesia Layak Anak. Ratifikasi KHA disahkan dengan Keppres No.36/1990 tertanggal 25 Agustus 1990 dan terikat pada ketentuan-ketentuan KHA terhitung sejak 5 Oktober 1990. Upaya untuk mewujudkan Indonesia Layak Anak diawali dengan pengesahan UU no 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pada tanggal 22 Oktober 2002, Undang-undang ini berorientasi pada hak-hak anak seperti yang tertuang dalam Konvensi Hak-hak Anak.

Selain itu, Indonesia juga telah ikut menandatangani World Fit For Children Declaration (WFC) atau Deklarasi Dunia Layak Anak (DLA) pada tanggal 10 Mei 2002) pada saat Sidang Umum PBB ke-27 Khusus mengenai Anak (27th United Nations General Assembly Special Session on Children). memperkuat kebijakan KLA, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak telah menerbitkan Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Nomor 2 Tahun 2009 tentang Kebijakan Kabupten/Kota Layak Anak. Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak juga telah ditetapkan sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014.

Selain itu, Presiden Republik Indonesia menginstruksikan ”Pengembangan Kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak” sebagai salah satu prioritas program bidang perlindungan anak sebagaimana yang tertuang dalam Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional 2010. Kedua, Landasan INTERNASIONAL dalam penetapan progam KLA ini adalah Deklarasi Hak Asasi Manusia Konvensi Hak-hak Anak , World Fit For Children.

Sedangkan landasan NASIONAL-nya adalah Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28b ayat 2 dan 28c , UU 2/2015 tentang RPJMN 2015-2019 , UU 17/2007 tentang RPJPN 2005-2025 , UU 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah , UU 35/2014 perubahan atas 23/2002 tentang Perlindungan Anak , UU 12/2011 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, Inpres 01/2010 tentang Program Prioritas Pembangunan Nasional, Inpres 05/2014 tentang Gerakan Nasional “Anti Kejahatan Seksual terhadap Anak" (GN-AKSA). Sedangkan Indikator KLA ditetapkan sebagai variabel yang digunakan untuk mengukur pelaksanaan pemenuhan hak anak di daerah dalam upaya mewujudkan KLA. Hal ini juga acuan bagi pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi kebijakan, program dan kegiatan pemenuhan hak anak untuk mewujudkan KLA.

Indikator ini terdiri dari 6 kelembagaan dan 25 indikator subtansi yang dikelompokkan dalam 5 klaster hak anak yaitu Hak Sipil dan Kebebasan Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif Kesehatan dan Kesejahteraan Dasar Pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya Perlindungan khusus. Hak Sipil dan kebebasan terutama kebebasan berpendapat mendapat tempat yang sangat penting dalam KLA. dalam Pasal 5 Permen 11/2011 disebutkan bahwa salah satu prinsip Kebijakan Pengembangan KLA adalah penghargaan terhadap pandangan anak, yaitu mengakui dan memastikan bahwa setiap anak yang memiliki kemampuan untuk menyampaikan pendapatnya, diberikan kesempatan untuk mengekspresikan pandangannya secara bebas terhadap segala sesuatu hal yang mempengaruhi dirinya.

Hal ini sejalan dengan KHA pasal 12 yang memberi kebebasan kepada anak untuk menyatakan pendapatnya tentang semua hal. Kebebasan berpendapat pada anak ternyata diberi ruang yang sangat besar. Untuk mempercepat perwujudan kebebasan berpendapat, melalui Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009 Indonesia memprogramkan pembentukan berbagai wadah seperti Forum Anak, Parlemen Remaja, Kongres Anak Indonesia, Forum Partisipasi Anak Nasional, Konsultasi Anak Nasional, Dewan Anak, dan Pemilihan Pemimpin Muda Indonesia, guna mendengarkan dan menyuarakan pendapat dan harapan anak sebagai bentuk partisipasi anak dalam proses pembangunan. Bahkan pemilihan Pemimpin Muda Indonesia sudah dilakukan Sejak tahun 2004. Berbagai forum tersebut diselenggarakan dengan dukungan UNICEF dan organisasi non pemerintah internasional.

Salah satu tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan pengakuan terhadap anak berusia dibawah 18 tahun yang telah berpartisipasi memasyarakatkan pelaksanaan Konvensi. Konsep ini jelas bertentangan dengan Islam. Islam memang memberi ruang bagi kebebasan berpendapat, dengan catatan pendapat tersebut tidak boleh bertentangan dengan Islam atau pemikiran Islam. Adanya banyak forum bebas berpendapat bagi anak dengan asas HAM justru akan menjauhkan anak dari rambu-rambu berpendapat dalam Islam, karena HAM sendiri bertentangan dengan Islam.

 KLA juga menjadi sarana tercapainya kesetaraan gender. Dalam resolusi Majelis Umum no S-27/2.tentang World Fit for Children poin 23 dinyatakan : Secara nyata tercapainya pemenuhan hak anak disandarkan kepada terwujudnya perempuan yang menikmati semua hak asasi manusia dan kebebasan fundamental, dengan promosi kesetaraan gender dan kesetaraan akses dengan pengarusan program dan kebijakan berperspektif gender.

Dengan kata lain, kesetaraan gender menjadi prasyarat terpenuhi hak anak. Ketiga, dengan mencermati program pengembangan KLA dengan KHA dan DLA sebagai landasan, maka jelas arah yang akan dituju dalam memenuhi hak anak khususnya dalam membentuk kerangka berpikir anak, yang dalam KHA didefinisikan sebagai seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Dan ketika konsep KHA dan DLA bertentangan dengan Islam, maka dapat dibayangkan seperti apa kerangka berpikir anak yang terwujud melalui pengembangan KLA.

Pengesahan KHA menjadi alat untuk merubah pandangan anak-anak dan menanamkan nilai-nilai global yang bertentangana dengan Islam. langkah ini tentu saja menjadi lebih strategis karena kondisi anak-anak sedang tumbuh dan berkembang. Sejak dini anak-anak muslim sudah diarahkan untuk memiliki pola berpikir ala Barat, yang memberikan otoritas kepada manusia untuk membuat aturan.

Dengan demikian anak-anak muslim dibiasakan untuk menghilangkan hak Allah dalam menentukan satu pemikiran, dan KLA dengan segala macam forum bentukannya menjadi sarana efektif untuk memberikan lingkungan yang bertentangan dengan Islam mengikuti arahan KHA. Maka anak-anak diarahkan kepada kebebasan dalam segala hal – yang dalam bahasa World Fit For Chidren disebut kebebasan fundamental. Jelaslah ini merupakan upaya liberalisasi anak-anak muslim. Wallahu'alam.

Ribuan Pemuda Hadiri Talk Show Indonesia Tanpa Pacaran di GOR Asahan




Dakwahsumut.com,Kisaran(5/8)- Ribuan orang hadiri Talk Show "Indonesia Tanpa Pacaran di Gedung Olah Raga(GOR) Jl.Akasia, Kisaran Kabupaten Asahan. Mereka terdiri dari berbagai kalangan  mulai dari pelajar,mahasiswa dan pemuda yang datang dari berbagai daerah sumut seperti Asahan,Tanjungbalai,Batubara,Medan, Rantau prapat, Padang Sidempuan bahkan dari Aceh Tamiang. Talk Show Indonesia Tanpa Pacaran dan ini pertama kali dilaksanakan di Asahan yang langsung menghadirkan penggagas Indoensia Tanpa Pacaran La Ode Munafar yang berasal dari Kendari-Sulawesi Tenggara sekaligus sebagai  penulis lebih dari 60 judul buku. Talk Show tersebut mengambil tema "Galau..? Putusin Aja..yuk cari cinta hakiki"



La ode Munafar mengatakan agar para peserta  menjaga diri dengan interaksi yang tidak penting dengan lawan jenis  " Syariat Islam sudah memberikan aturan syariah pada laki2 dan perempuan untuk infishal (terpisah2) baik dalam lingkungan umum maupun dalam lingkungan khusus. Baik di masjid maupun di masyarakat. Jangan sampai dalam masjid terpisah shalatnya, tapi pas keluar masjid udah boncengan berdua-duan kemana-mana, telpon-telponan sampai larut malam, chat-chat yang gak penting dengan lawan jenis. Tentu Allah mengatur hal ini agar manusia tidak terjebak interaksi yang merusak naluri cinta yaitu perzinahan. Sungguh sudah banyak kasus perzinahan yang berawal dari komunikasi yang tidak terkontrol atau campur baur.
Semoga langkah hijrah teman-teman diikuti dengan menjaga diri dengan interaksi yang tidak penting dengan lawan jenis.” ujar beliau.



Ketua Panitia Azmiya Sabiya Nasira mengatakan maksud dan tujuan acara tersebut adalah  agar Asahan bisa Hijrah Tanpa Pacaran "Kita akan mewujudkan gimana yang sebenarnya dan tidak adanya lagi dunia gelap untuk Asaha" harap beliau. Acara tersebut disponsori  oleh berbagai komunitas anak mudah Asahan seperti Ghaziyah Asahan,kojab Asahan, IMMA Simpang Empat, dan BKPRMI.


Henri Siregar (Anggota DPRD Asahan) dalam sambutannya mengatakan kegiatan ini difokuskan kepada remaja agar membentengi dirinya dari pergaulan bebas. "Kita berharap pada remaja kehidupannya bisa tertata dan tidak ada remaja yang mengambil jalan pintas dalam kehidupannya" ujar beliau.

selain melaksanakan Talk Show , Kegiatan tersebut juga diisi dengan Kajian Pemuda Hijrah dengan tema "Membangun Generasi Muda Akhir Zaman" Kajian tersebut menghadirkan pembicara KH.Azwir Ibnu Azis (GNPF-Ulama Sumut) yang berasal dari Medan. Ust Azwir menjelaskan realita pemuda saat ini yang jauh dari Islam bila dibandingkan dengan zaman Rasul dan para sahabat. " Kita harus mengganti Kurikulum yang ada saat ini menuju kurikulum yang dibawa Rasul. Tidak cukup hanya dengan mengganti presiden tapi juga dengan pergantian sistem"  kata beliau. Beliau menjelaskan pentingnya penegakan khilafah sebagai sebuah sistem yang diwajibkan Allah serta tidak bolehnya berkolaborasi dengan sistem yang tidak sesuai dengan Islam. selain mengadakan talk show dan kajian pemuda hijrah, panitia juga menyelenggarakan bazar dan memberikan sertifikat nasional pada peserta[] ali


MKIF Percut Sei Tuan Kupas Tuntas " The Power Of Ngaji"




Dakwahsumut.com, Percut Sei Tuan(29/7) .  Dauroh Islamiyah "The Power Of Ngaji"yang diselenggarakan oleh *Majelis Kajian Islam Kaaffah Percut Sei Tuan* dihadiri sekitar 15 peserta/ terdiri dari pelajar, anggota remaja mesjid, masyarakat medan tembung dan sekitarnya. acara dilaksanakan pada Ahad, 29 Juli 2018 di Kantor Badan Wakaf Qur'an, Medan.

Acara tersebut dimulai pada pukul 09.00 WIB dan berakhir pukul 11.30 WIB.
Dengan pemateri : Ust. Azwar Hadi Lubis, S. Pd. I
Menyampaikan materi dengan tema *Meraih Kebahagian Hakiki*,
Banyak orang salah dalam menilai suatu kebahagiaan yg sebenarnya. Banyak orang yang mau bahagia di dunia dan di Akhirat, tapi tidak tahu bagaimana caranya. Dengan adanya Dauroh ini, pemateri memaparkan bagaimana cara meraih kebahagiaan yang Hakiki.

Pemateri menyampaikan: "Banyak orang yang berpendidikan tinggi mencari penghasilannya dengan menjadi karyawan swasta, ada juga yang menjadi executive di sebuah perusahaan, menjadi TKW, menjadi artis, dan lain sebagainya. Semua itu demi untuk mendapatkan uang."
Kemudian pemateri bertanya kepada Audiens : "Lantas uang untuk apa?" ada yang jawab: "Dengan uang bisa beli mobil dan bisa beli rumah Megah".

"Betul, bahkan dengan uang bisa melamar anak orang" candaan dari pemateri.
Lalu pemateri balik bertanya lagi: "lantas apakah semua itu jaminan untuk mendapatkan kebahagiaan? "
Ada yang jawab :"belum tentu ustadz "

Kemudian pemateri memaparkan bahwa banyak orang yang memiliki Uang berlimpah, terkenal, punya rumah megah, istri cantik tapi kehidupannya carut marut dan tidak sedikit yang mati karena bunuh diri.
Ternyata itu semua bukan jaminan untuk mendapatkan kebahagiaan.
"Kebahagiaan hakiki hanya bisa didapat dengan mentaati aturan dari Allah SWT dan bersungguh sungguh untuk mencapai tujuan kehidupan".
Pemateri juga mengajak para audiens agar konsisten dalam mengkaji Islam.
Alhamdulillah semua peserta bersedia untuk lanjut ikut mengkaji islam yang diadakan setiap sekali seminggu.

Acara diakhiri dengan pembacaan do'a oleh Ustadz Azwar Hadi Lubis, S.Pd.I[]