Slider

Berita Video

Berita Pilihan

Kabar Medan

Tsaqofah

Sudut Pandang

Dinamika Dakwah

Berita Foto

Densus 88 AT Bebaskan Satu Terduga Teroris

Dakwahsumut.com, Tanjungbalai : Densus 88 Anti Teror Mabes Polri membebaskan salah seorang terduga teroris Budi yang sempat diamankan dalam penggerebekan di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Tanjungbalai, Senin (21/5) sekira pukul 20.00.
Budi, 34, yang diwawancara Waspada mengaku dibebaskan karena Densus 88 tidak memiliki alat bukti untuk menjerat dirinya. Dalam 7×24 jam jika tidak bisa dibuktikan ujarnya, maka wajib dibebaskan demi hukum.
“Alhamdulillah, dari awal saya sudah yakin tidak terbukti karena saya memang bukan teroris, tadi saya diantar langsung oleh polisi dari Medan sampai ke rumah di Kapias Teluknibung,” ujar Budi.
Sementara adiknya Jul dan Sya (meninggal) ditetapkan jadi tersangka karena diduga membeli dan memiliki cairan kimia tanpa izin dengan tujuan merakit bom. Jul katanya kini ditahan di markas Densus 88 di Medan dan saat diinterogasi diakui bahwa zat kimia jenis asam asetat dan sulfat memang miliknya dan rencananya akan merakit bom.
Sedangkan abangnya Beni yang sempat dibawa ke Medan dengan kaki tertembak ternyata masih hidup dan sehat. Beni tuturnya sedang masa pemulihan dan direncanakan pemasangan pen pada betisnya yang tertembak. Beni paparnya tidak terkait dengan kasus adiknya Jul.
“Saya tidak tahu mereka ini berencana membuat bom, keberadaan cairan itu juga saya tidak tahu,” tutur Budi.
Sementara terkait beberapa nama seperti AS, Ikm, Aw, Hen, dan Dod, yang sempat menyebar, Budi mengaku tidak melihat mereka di Medan. Yang dibawa dari Tanjungbalai sebutnya hanya dirinya, Sya, Jul, dan Beni. [] Waspada

Gempar, Densus 88 Diduga Salah Sasaran

Dakwahsumut.com, TANJUNGBALAI,- Masyarakat di Kota Tanjungbalai dan Asahan gempar dengan kabar bahwa Pasukan Densus 88 AT yang menggerebek sejumlah terduga teroris salah sasaran, Jumat (18/5).
Korban penembakan, Beni, 34, warga Rusunawa, Lingk. 4 Kel Seiraja, Kec. Seitualang Raso, Kota Tanjungbalai yang semula disebut-sebut terduga teroris, ternyata tidak ada hubungannya dengan kelompok Bud Cs. Beni sendiri berada di rumah Bud (adik Beni), karena ingin mengetahui kabar ibunya, Nuraini (sempat diamankan Densus lalu dibebaskan), yang sedang sakit.
Dewi, 25, adik korban yang menyaksikan langsung tragedi penembakan itu menuturkan saat kejadian Beni datang ke TKP di Jln Kol Yos Sudarso, Lingk. 4 Kel Betingkuala Kapias menggunakan becak miliknya. Beni ingin masuk dan menanyakan kondisi ibunya yang tengah dirawat di rumah sakit.
Ternyata saat itu anggota Densus 88 sudah ada di depan rumah dan mencegat Beni. Anggota Densus lalu bertanya kepada Beni tentang hubungannya dengan Bud, lalu dijawab Bud adalah adiknya. Seketika Densus menembak kaki dan paha Beni yang sempat berlari menjauh dari Densus.
“Bang Beni tidak cocok sama bang Bud, karena pemahaman mereka berbeda, bang Beni gak salah kok ditembak,” kata Dewi. Nuraini, 53, ibu korban juga membenarkan Beni tidak termasuk dalam kelompok Bud. Beni dan Bud pemahamannya berseberangan sehingga dia yakin anak tertuanya itu tidak bersalah.
Tetangga Beni di Rusunawa, Awal, 43, Jai, 48, dan Ijul, 52 juga terkejut mendengar Beni ditembak karena terlibat teroris. Mereka tidak percaya karena kesehariannya tidak menunjukkan gelagat mencurigakan, bahkan Beni sendiri sangat bergaul dengan masyarakat sekitar.
Dari segi berpakaian ungkap Awal, Beni lebih sering bercelana pendek saat menarik becak, dan jika ada yang meninggal dia juga ikut takziah. Di sisi lain, istri Beni tidak menggunakan cadar sebagaimana terduga teroris pada umumnya. Istri Beni katanya juga akrab dengan warga Rusunawa.
“Masak Beni dibilang teroris, padahal kami sering main kartu sama, kerja membaguskan becak orang, nyari botot sama, tebodoh kami mendengar kabar itu,” ungkap Awal, Jai, dan Ijul seirama.
Sekjen Forum Umat Islam, Lutvi Ananda Hasibuan juga mengaku mengenal dekat pribadi Beni. Menurutnya, Beni ini pengetahuannya awam, jangankan ikut pengajian, shalatnya saja masih ‘bolong-bolong’.
“Saya pernah tinggal dengan bang Beni di Rusunawa, dia sempat bilang ke adiknya Bud agar jangan sering-sering berkumpul di rumah ibu mereka, karena kalau terjadi sesuatu, bukan hanya mereka yang kena, ibu dan adiknya mereka juga nanti terimbas, jadi saya yakin, Beni ini bukan teroris,” kata Luthvi.
Istri korban, Delima, 33, juga mengatakan hal yang sama. Beni katanya tidak pernah ikut perkumpulan iparnya Bud. Beni kesehariannya menarik becak dengan penampilan masyarakat pada umumnya seperti bercelana pendek, bahkan shalat sendiri Beni sering bolong-bolong.
Delima mengaku saat ini tidak mengetahui keberadaan suami tercintanya apakah masih hidup atau sudah meninggal. Namun, sejak penangkapan itu, dirinya terus dilanda kesulitan terutama dalam hal ekonomi, karena Beni adalah tulang punggung keluarganya.
“Suami saya menarik becak Pak, saya sendiri berjualan makanan dan minuman ringan di depan sekolah, saat ini saya pun tak kerja, entah dari mana lagi kami mencari makan Pak,” kata Delima dengan mata berkaca. Saat ini ungkap wanita itu, dirinya harus berjuang menafkahi dua putrinya yang masih kecil-kecil, apalagi katanya dirinya sedang berbadan dua.
Anak pertama katanya bernama Sakinah, 5, tahun baru wisuda TK, dan kedua Cahaya, umur delapan bulan. Delima berharap suaminya dipulangkan ke keluarganya karena mereka sangat membutuhkan sosok ayahnya.
“Tolong suami saya dikembalikan dengan selamat, dia tidak bersalah, kami butuh dia,” ujar Delima dengan suara tersedak menahan tangis. Saat wawancara, Delima beberapa kali muntah karena efek jabang bayi yang ada dalam perutnya.
Ketua FUI, Indra Syah, menyesalkan tindakan Densus 88 yang diduga tidak prosedural. Seharusnya ungkap Indra, petugas sudah memiliki data akurat siapa saja yang menjadi target. “Kita sangat menyesalkan penembakan ini, banyak masyarakat menjelaskan bahwa Beni bertolak belakang dengan adiknya Budi[] Waspada 

RUU ANTI TERORISME RAWAN PELANGGARAN HAM?


Oleh: Ahmad Rizal –Dir.  Indonesia Justice Monitor
Propaganda terorisme dikaitkan dengan radikalisme, dianggap sebagian pengamat lebih dilandasi oleh semangat untuk memberangus perbedaan pandangan politik secara signifikan. Secara historis, penggunaan istilah radikal tidaklah selalu negatif. Dalam strategi perjuangan bangsa Indonesia untuk memerdekakan diri dari penjajahan, strategi non-kooperatif atau sering disebut sebagai strategi radikal pun dilakukan. Strategi ini mengiringi strategi kooperatif atau non-radikal semisal negosiasi dan perundingan-perundingan seperti Perundingan Linggarjati, Renville, Rum-Royen dan Konferensi Meja Bundar.
Strategi radikal yang dilakukan Panglima Besar Jenderal Sudirman dengan melakukan gerilya melawan Belanda, atau penyerangan Sekutu dengan Palagan Ambarawanya, atau penolakan pendudukan sehingga melahirkan Peristiwa Bandung Lautan Api bahkan peristiwa heroik di Surabaya pada 10 Nopember adalah bukti bahwa radikalisme adalah cara untuk melawan penjajah yang kini diabadikan sebagai peristiwa sejarah penting bagi bangsa Indonesia.
Sayang, kini istilah radikal menjadi kata-kata politik (political words) yang cenderung multitafsir, bias, dan sering digunakan sebagai alat penyesatan atau stigma negatif lawan politik. Seperti penggunaan istilah “Islam radikal” yang sering dikaitkan dengan terorisme, penggunaan kekerasan untuk mencapai tujuan, skriptualis (hanya merujuk pada teks) dalam menafsirkan agama, menolak pluralitas (keberagaman) dan julukan-julukan yang dimaksudkan untuk memberikan kesan buruk. Istilah radikal kemudian menjadi alat propaganda yang digunakan untuk kelompok atau negara yang berseberangan dengan ideologi dan kepentingan Barat. Julukan “Islam radikal” kemudian digunakan secara sistematis untuk menyebut pihak-pihak yang menentang sistem ideologi Barat.
Adapun kejadian teror belakangan ini menjadi momentum bagi pemerintah untuk mendesak agar DPR dan pemerintah segera menyelesaikan revisi UU Antiterorisme karena dinilai tidak cukup memadai untuk memberantas tindak pidana terorisme. Bahkan Presiden Jokowi mengancam akan menerbitkan Perppu jika pada masa persidangan Mei hingga Juni 2018 revisi belum selesai.
Ada sejumlah tuntutan dari berbagai praktisi politik yang mengusulkan DPR dan pemerintah untuk mempercepat pembahasan revisi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (RUU Anti-terorisme). Perlu dicatat revisi RUU Anti-terorisme harus sesuai dengan sistem peradilan pidana (criminal justice system) yang mengedepankan akuntabilitas dan prinsip-prinsip hak asasi manusia (HAM).
Sorotan berikutnya terkait ketentuan mengenai penyadapan yang dianggap belum sepenuhnya jelas antara upaya penegakan hukum intelijen. Ketika aktivitas penyadapan dimaknai dalam proses penegakan hukum, maka aturan soal jangka waktu selama satu tahun dan bisa diperpanjang lagi sangat tidak rasional. Karena ketentuan jangka waktu penyadapan itu bertentangan dengan asas hukum cepat, sederhana dan biaya ringan.
Pasal yang wajib menjadi perhatian adalah terkait penangkapan dan penahanan. Penangkapan terduga terorisme harus memenuhi bukti permulaan yang cukup serta terdapat dua aspek yang harus dipenuhi, yakni lokasi penempatan dan jangka waktu. Pasal terkait jangka waktu penangkapan dalam RUU Antiterorisme saat ini sangat rawan pelanggaran HAM. Pasal tersebut menyatakan jangka waktu penangkapan terduga teroris untuk kepentingan penyelidikan mencapai 21 hari. Di sisi lain, belum ada pengaturan mengenai kewajiban kepolisian menetapkan atau memberitahukan lokasi penahanan saat menangkap dan memeriksa seorang terduga teroris. Hal itu memperbesar potensi pelanggaran HAM dan suramnya akuntabilitas dan pengawasan serta akses keluarga atau kuasa hukumnya.[]

DIFITNAH TERKAIT BOM SURABAYA, HTI: “LAKNAT ALLAH UNTUK TUKANG FITNAH!”

Dakwahsumut.com– Terkait viralnya pesan liar berantai di media sosial sejak kemarin  yang di antaranya bertuliskan \\Menurut informasi dari BIN target utama adalah Jakarta… di Surabaya hanya pengalihan konsentrasi aparat… sejak HTI dibubarkan… mereka berikrar mati syahid dengan menebar teror di mana-mana…\\, Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammad Ismail Yusanto menegaskan itu merupakan fitnah yang sangat keji.
“Itu fitnah sangat keji. Sikap HTI terkait PTUN sudah sangat jelas: menolak. Dan penolakan itu diwujudkan dengan mengajukan banding. Tidak terpikir sama sekali bagi HTI untuk melakukan tindak kekerasan apalagi teror seperti yang disebut oleh pesan liar berantai itu!” tegasnya kepada mediaumat.news, Selasa (15/5).
Ia juga membeberkan sesaat setelah sidang PTUN usai, Ketua HTI Ustadz Rokhmat S Labib sudah berpesan kepada massa yang memadati jalan sekitar gedung PTUN untuk pulang dengan tenang dan menghindari keributan. “Bila ada yang melakukan hal itu (keributan, red) dipastikan itu bukan dari HTI. Saat itu juga massa sujud syukur. Jadi dimana logikanya, HTI bersumah mau mati syahid dengan menebar teror di mana-mana?” ungkapnya.
Ismail kembali menegaskan. “Sekali lagi, itu fitnah sangat keji. Laknat Allah untuk tukang fitnah! Sikap HTI terhadap bom Surabaya juga sangat jelas. Mangutuk karena hal itu bertentangan dengan ajaran Islam!” bebernya.
HTI juga telah menegaskan garis perjuangannya untuk meraih tujuannya dengan cara dakwah, tanpa kekerasan, dan tanpa angkat senjata. Perkara ini merupakan thariqah (metode baku) Rasulullah SAW yang tidak boleh berubah.
[] Mediaumat

AKSI KEKERASAN MAKO BRIMOB DAN DESAKAN PENGESASAHAN RUU TERORISME [Sebuah Catatan Kritis]


Oleh: Ahmad Khozinudin, S.H.
Koalisi 1000 Advokat Bela Islam
Publik tentu turut prihatin atas musibah yang terjadi di rutan mako brimob (08/05/2018), aksi teroris yang melakukan kekerasan terhadap anggota Polri perlu dikecam. Publik selayaknya prihatin, atas musibah dan jatuhnya korban atas insiden itu.
Hanya saja, untuk melangkah menuju rekomendasi solusi tentu tidak bisa membuat simplikasi masalah dengan mengarahkan persoalan teroris pada satu sebab tertentu dan mengabaikan sebab yang lain. Alih-alih bukannya memberikan solusi, rekomendasi yang dibangun tidak berdasarkan kajian yang mendalam justru rawan menimbulkan masalah baru.

Sebagaimana diketahui, Wiranto selaku menteri Polhukum pasca kerusuhan Mako Brimob mewacanakan untuk menyegerakan proses pengesahan rancangan UU Terorisme yang sebelumnya pembahasannya tertahan di DPR. Argumen yang mungkin coba dibangun, adalah tindakan terorisme telah sampai pada level tertentu (horor) sehingga membutuhkan penanganan preventif ditingkat UU untuk memberikan solusi preventif pada 3 (tiga) aspek.

Pertama, perluasan penalisasi terorisme dari perbuatan teror aktual meluas pada perbuatan-perbuatan umum tetapi dipaksakan untuk diklasifikasi terindikasi terorisme sehingga dapat dikriminalisasi dan dipidana. Perluasan kriminalisasi tetorisme pada buku-buku yang berisi pemikiran tertentu, kegiatan organisasi yang mendakwahkan ide atau ajaran tertentu, kegiatan Kombatan yang berimplikasi pada status pencabutan kewarganegaraan, dan yang semisalnya.

Kedua, penambahan wewenang aparat penegak hukum untuk mengambil tindakan preventif maupun kuratif yang menyimpangi KUHAP, seperti penambahan kewenangan interogasi dan penangkapan pada status terduga melebihi 1 X 24 jam menjadi 7 hari (7 X 24 jam), penambahan kewenangan menangkap dan mengisolasi (menahan) terduga teroris hingga status tersangka pada tempat tertentu hingga beberapa bulan (seperti di Guantanamo), enam bulan hingga 1,2 tahun, atau wewenang tambahan lain bagi aparat untuk menindak aktivitas terorisme.

Ketiga, rekomendasi anggaran. Anggaran penanganan terorisme dipandang perlu ditingkatkan untuk menjamin Efektifitas kinerja Polri untuk menyukseskan agenda pencegahan dan pemberantasan tindak pidana Tetorisme.

REKOMENDASI PREMATURE DAN OBSCUUR

Kembali pada kasus rusuh Mako Brimob, jika ini yang dijadikan triger perubahan atau desakan pengesahan RUU anti terorisme, maka ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan :
Pertama, diantara sebab yang disebutkan media menjadi pemicu kerusuhan adalah faktor "makanan" baik mekanisme atau teknis pembagian, termasuk porsi makanan.
Maka kajian antisipasi sebagai solusi agar rusuh brimob tidak terulang dirutan brimob atau rutan lain adalah bagaimana memastikan pengaturan distribusi makanan yang merupakan hak asasi para tahanan, agar terjamin sehingga tidak menimbulkan kerusuhan.
Secara anggaran, perlu dipastikan Alokasi untuk menjamin ketersediaan dan distribusi makanan yang tersedia. Dalam hal ini, masalah klasik rutan mungkin akan sama dengan LP, dimana Kemenkumham berulang kali mengeluh atas besarnya operasional LP yang tidak tercover secara penuh oleh anggaran negara.

Artinya, jika faktornya makanan maka solusi terhadap jaminan ketersediaan dan distribusi makanan di seluruh rutan patut menjadi perhatian, dan bukan tidak mungkin jika tidak diantisipasi bisa menjadi pemicu kerusuhan di rutan lainnya.

Kedua, perlu diperkuat jaminan sterilisasi rutan dari akses eksternal khususnya antisipasi ketat atas masuknya barang atau bahan yang haram diselundupkan ke rutan. Diketahui, tahanan di mako brimob memperoleh senjata (panah dll) dan disebutkan pula memperoleh bahan peledak untuk merakit bom, sebelum akhirnya membuat keributan dan merampas senjata aparat.

Jika hal ini yang menjadi sebab, maka penguatan sterilisasi tahanan adalah prioritas agenda antisipasi agar kerusuhan di rutan brimob atau rutan lainnnya tidak terjadi lagi. Jaminan atas sterilisasi tahanan dari bahan atau barang termasuk senjata yang bisa memicu kerusuhan, seharusnya menjadi agenda prioritas.

Ketiga, jika sebab itu hendak diperluas dikaitkan dengan motivasi balas dendam, motivasi ideologi, motivasi ekonomi dll, maka selayaknya negara mengoreksi kebijakannya.

Apakah negara telah memberikan keadilan pada rakyat ? Apakah negara telah memberikan kesejahteraan pada rakyat? Apakah negara telah memposisikan Islam dan umat Islam secara mulia?
Himpitan beban hidup atas kegagalan negara mensejahterakan rakyatnya, penegakan hukum yang tidak menjamin kepastian dan keadilan, serta tudingan-tudingan, kriminalisasi terhadap Islam dan ajarannya, para ulamanya, para aktivis dan pengembannya, juga penting untuk dijadikan rekomendasi solusi.
Negara harus mengubah pendekatan kepada Islam dan umat Islam dengan pendekatan kemitraan bukan kecurigaan. Negara harus mengubah persepsi kritik publik sebagai masukan bukan bentuk penentangan.
Negara harus berfokus melaksanakan kewajiban mensejahterakan rakyatnya bukan semata menuntut ketaatan. Negara wajib menjunjung tinggi keadilan agar rakyat mentaati hukum, sebagaimana negara memberi contoh dan teladan.
Ketika seluruh persoalan yang berkaitan dengan kerusuhan mako brimob dikembalikan pada sebab semakin mengkhawatirkannya ancaman terorisme sehingga perlu diantisipasi dengan pengesahan RUU terorisme, maka rekomendasi ini bisa dikatakan obscuur dan prematur.
Obscuur karena sebab yang menjadi pangkal masalah justru tidak diperhatikan, mengasumsikan sebab dari hal lain dan membangun solusi diatas asumsi. Prematur, karena solusi ditingkat praktis dan antisipatif belum dilakukan, tetapi wacananya dipaksakan pada solusi ditingkat perubahan UU terorisme.

KHATIMAH

kita semua setuju bahwa kekerasan -apapun dalihnya- tidak boleh tumbuh dan bersemi di negeti tercinta ini. Kita juga sepakat, negara sebagai lembaga pelindung dan pelayan masyarakat perlu segera mengambil tindakan untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada segenap warga negaranya.
Hanya saja kita tidak ingin, isu terorisme dikapitalisasi untuk kepentingan lain, menjadi komoditi politik, menjadi komoditi kapitalis untuk mengeruk anggaran rakyat, apalagi digunakan untuk melakukan teror dan monsterisasi pada Islam dan ajarannya.
Kita semua mengecam jika aksi terorisme ini dikaitkan dengan ajaran Islam tentang jihad, tuntutan penegakan syariat dan Khilafah. Tentu saja negara harus menyadari hal itu. Negara harus bertindak melindungi dan memberikan ketentraman kepada umat Islam, mayoritas warga negara di bumi pertiwi tercinta ini. Wallahu a'lam. [].

Ketua MDI Tanjungbalai Ajak Ulama dan Tokoh Tegakkan Khilafah


Dakwahsumut.com,Tanjungbalai(2/5), " Ketika bicara politik Islam maka tuntunan kita adalah Nabi Muhammad Saw. bukan Plato, montesque atau maciaveli, maka memaknai politik dalam Islam harus dikembalikan pada asalnya sebagaimana sabda nabi:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُم الأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ
Dulu Bani Israel dipimpin/diurus oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi wafat, nabi lain menggantikannya. Namun, tidak ada nabi setelahku, dan yang akan ada adalah para khalifah, yang berjumlah banyak. (HR al-Bukhari dan Muslim).


Maka  sistem perpolitikan yang dibangun sejak dahulu adalah sistem Khilafah yang dipimpin seseorang yang dikenal dengan Khalifah bukan presiden,raja atau kaisar. Maka oleh karena itu mari kita bersungguh-sungguh untuk memeperjuangkan tegaknya kembali syariah dan Khilafah"


Itulah ungkapan yang disampaikan Ketua Majelis Dakwah Islam Ustadz Muhammad Ali Rukun dihadapan para ulama dan tokoh dalam acara Forum Group Diskusi yang diselenggarakan oleh Kesbangpol Tanjungbalai di Hotel Teresia Jl.Sudirman Tanjungbalai. 



Dalam kesempatan tersebut hadir sebagai pembicara  ustadz Maratua Simanjuntak (Ketua FKUB Sumut), Sekretaris MUI Tanjungbalai ustadz Rahim dengan moderator Ricky S. Rizky Siregar (Kabid Program Kesbangpol Tanjungbalai). para peserta nampak antusias mengikuti acara tersebut. acara dimulai dengan penyampaian materi dari para pembicara kemudian dilanjutkan dengan disukusi dengan para peserta. 

Tampak juga hadir para pimpinan ormas Islam seperti ketua FUI Tanjungbalai ustadz Indra Syah,Ketua IKADI Tanjungbalai ustadz Afrizal SAg, Ustadz Muhammad Solihin (MT Silatuahmi),  Sekjen TPU Tanjungbalai Ustadz Sugeng beserta para ulama dan tokoh lainnya. 



Acara tersebut dilaksanakan dalam rangka menghadpai Pemilihan Gubernur Sumatera Utara(Pilgubsu 2018 ) yang sebentar lagi akan dilaksanakan tepatnya bulan juni nanti. Sementara tema yang diambil panitia adalah cara berpolitik dalam Islam dalam bingkai NKRI. Acara berlangsung sukses hingga selesai dan diakhiri dengan makan siang bersama. [] ar 






MAKAR MEREKA TAK AKAN MENGHENTIKAN DAKWAH


Sejarah manusia tidak pernah kosong dari pertarungan antara kebenaran dan kebatilan. Para penyeru kebaikan senantiasa mendapat tantangan dan halangan dari para penyeru kebatilan serta dari orang-orang yang suka berbuat kerusakan dan bersikap pragmatis—hidup sekadar mencari kemanfaatan duniawi dan hawa nafsu semata.
Demikian yang dialami oleh seluruh nabi sekaligus menjadi sunnatullah bagi dakwah mereka. Al-Quran telah mengisahkan kepada kita bagaimana dakwah yang dilakukan oleh Nabi Musa as. yang mendapatkan tentangan keras dari Firaun. Demikian juga kisah para nabi yang lain. Mereka mendapatkan perlawanan dan penindasan tatkala menyampaikan risalah Allah SWT kepada umat.
Begitu pun Rasulullah saw. Sejak permulaan dakwah Islam, beliau sudah mendapat tantangan yang demikian keras dari masyarakat Quraisy. Dakwah Rasul saw. dan para sahabatnya mendapatkan perlawanan. Berbagai penganiayaan ditimpakan kepada Rasul saw. dan para sahabat beliau.
Keluarga Yasir ra. disiksa dengan siksaan yang sangat pedih. Istri Yasir, Sumayah, menjadi syahidah pertama dalam dakwah Islam. Abu Bakar ra. pun pernah dipukuli hingga wajahnya babak-belur karena seruan dakwahnya di hadapan orang banyak di samping Kabah (Sirah al-Halabiyah, I/475).
Rasulullah saw. sendiri pernah disiram dengan kotoran binatang, diludahi dan diperlakukan dengan perlakuan buruk lainnya.
Berbagai jenis perlakuan buruk dan siksaan ditimpakan atas kaum Muslim. Semua itu dilakukan untuk memalingkan kaum Muslim dari agama mereka. Inilah yang dinyatakan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا
Orang-orang kafir tidak pernah berhenti memerangi kalian hingga mereka mengembalikan kalian dari agama kalian (pada kekafiran) seandainya mereka mampu (TQS al-Baqarah [2]: 217).
Inilah karakter orang-orang kafir sejak dulu hingga sekarang dan bahkan sampai kapan pun.
Saat ini, misalnya, orang-orang kafir Barat pun berupaya melakukan propaganda negatif terhadap Islam dan kaum Muslim, khususnya para pengemban dakwah. Mereka membuat berbagai pertemuan untuk membahas sebutan yang pantas bagi Muslim yang berpegang teguh dengan agamanya; mulai dari gelar ekstremis, fundamentalis hingga teroris. Mereka—melalui para agennya, khususnya di berbagai negeri Muslim—menangkapi, memenjarakan dan menyiksa kaum Muslim dan para pengemban dakwah yang konsisten memperjuangkan tegaknya Islam.
Di negeri ini, pembungkaman dakwah dilakukan antara lain dengan membubarkan ormas Islam yang konsisten memperjuangkan penegakan syariah Islam secara kaffah.
Tidak hanya ormasnya, ajaran Islam pun diserang. Khilafah, yang nyata-nyata menjadi bagian dari khazanah Islam, dituding sebagai ancaman. Padahal Khilafah telah disepakati kewajibannya berdasarkan dalil al-Quran, as-Sunnah, Ijmak Sahabat, termasuk ijmak para ulama. Khilafah pun secara historis pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan keseharian umat Islam, termasuk di Nusantara ini.
Semua itu mereka lakukan dalam rangka memalingkan kaum Muslim dari agama mereka. Ini sama persis dengan aktivitas kaum kafir Quraisy terhadap Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya sekitar 14 abad lalu.
Namun demikian, semua bentuk penyiksaan, penganiayaan dan perlawanan itu tidak membuat kaum Muslim goyah dan terpalingkan dari keimanan dan dakwah mereka. Semua itu tidak berpengaruh kepada kaum Muslim. Bahkan keimanan dan dakwah mereka semakin bertambah kuat. Insyaallah.
Sikap Kaum Muslim
Kaum Muslim telah memiliki modal yang luar biasa untuk menghadapi semua tantangan dan halangan dakwah Islam, yaitu modal keimanan. Mereka mengimani tujuan keberadaan mereka di dunia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT (Lihat: QS adz-Dzariyat [51]: 56).
Mengimani Allah berarti membenarkan dengan pasti bahwa tidak ada yang patut disembah, tidak ada pembuat hukum yang layak ditaati, tidak ada yang harus ditakuti dan tidak ada yang selalu dirindukan keridhaannya selain Allah SWT semata.
Ketakutan mereka kepada Allah SWT dan azab-Nya yang sangat pedih mengalahkan ketakutan dan kekhawatiran mereka kepada manusia dan siksaan mereka. Kenikmatan yang akan mereka peroleh kelak di akhirat lebih mereka cintai dan mereka harapkan daripada secuil kenikmatan yang hendak diberikan oleh para pembesar kekufuran.
Kaum Muslim harus tetap melaksanakan dakwah sebagaimana Rasulullah saw. dan para sahabat beliau meskipun mereka banyak menghadapi berbagai rintangan, ancaman dan bahkan penyiksaan dalam berdakwah. Pasalnya, dakwah merupakan sebaik-baik perkataan dan seruan. Allah SWT berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Siapakah yang lebih baik ucapannya daripada ucapan orang yang menyeru manusia kepada (agama) Allah dan beramal salih serta berkata, “Aku termasuk orang yang berserah diri.”  (TQS  Fushshilat [41]: 33).
Meskipun Rasul saw. dan para sahabat mengalami penderitaan yang luar biasa, mereka hanya diharuskan oleh Allah SWT untuk bersabar dan tetap berpegang teguh pada syariah-Nya. Diriwayatkan bahwa karena penderitaan yang luar biasa yang mereka alami, akibat berbagai macam siksaan dan penganiayaan orang-orang kafir, mereka sampai bertanya-tanya; kapan pertolongan Allah akan datang? Allah SWT lalu menurunkan firman-Nya:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang atas kalian cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta diguncangkan (dengan berbagai macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat (TQS al-Baqarah [2]: 214).
Karena itu yang dituntut dari para pengemban dakwah dalam menghadapi semua tantangan, gangguan dan ancaman dalam dakwah adalah meneladani Rasul saw. dan para sahabat beliau. Mereka selalu yakin dengan pertolongan Allah SWT sehingga mereka selalu berkata:
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan sebaik-baik Pelindung.” (TQS Ali Imran [3]: 173).
Selain meneguhkan tawakal kepada Allah SWT, sikap pengorbanan pun harus ditingkatkan. Sikap pengorbanan dalam melakukan dakwah, amar makruf nahi munkar serta dalam usaha menegakkan Islam, terdapat banyak hadis dari Rasulullah saw. Beliau, antara lain, bersabda:
«سَيَّدُ الشُهَدَاءِ حَمزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَلِّبِ وَ رَجُلٌ قَالَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرُهُ وَ نَهَاهُ فَقَتَلَهُ»
Pemimpin para syuhada ialah Hamzah bin Abdul Muthalib dan seorang laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa yang lalim, lalu ia menyuruh penguasa itu berbuat baik dan melarangnya berbuat mungkar, kemudian penguasa itu membunuh dirinya (HR al-Hakim dan ath-Thabarani).
Beliau juga bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
Siapa saja yang melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia berusaha mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman (HR Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibnu Majah).
Imam Nawawi menjelaskan hadis ini, “Sabda beliau Hendaklah kalian mengubah kemungkaran itu, merupakan perintah wajib yang telah disepakati oleh seluruh umat tanpa kecuali. Perintah amar makruf nahi munkar ini telah ditetapkan dalam al-Quran, as-Sunnah dan ijmak umat (Lihat: An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, II/21).
Dalam sebuah hadis Qudsi, Rasulullah saw. juga bersabda: Allah SWT pada Hari Kiamat akan bertanya kepada orang (yang tidak berani menyampaikan kebenaran), “Apakah yang membuat kamu tidak mau mengucapkan (kebenaran) terhadap keadaan ini dan itu?” Orang tersebut menjawab, “Karena takut (kemarahan) masyarakat!” Lalu [Dia] berfirman, “Akulah Yang lebih baik kamu takuti.” (HR Ibnu Majah).
Khatimah
Wahai kaum Muslim, kita tengah menghadapi tantangan dari musuh-musuh Islam. Kita harus mengenali siapa lawan dan siapa kawan.
Sangat jelas bahwa musuh kita saat ini adalah kekufuran yang menjelma pada negara penganjur kekufuran dan para bonekanya. Merekalah yang saat ini membuat berbagai makar untuk menghabisi Islam dan kaum Muslim. Karena itu kita tidak boleh terjebak dengan skenario global mereka yang bernafsu untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslim.
Karena itu pula kita harus tetap berjuang. Dakwah Islam tidak boleh terhenti. Upaya penegakkan syariah Islam dalam institusi Khilafah ala minhâj an-nubuwwah tidak boleh kandas. Di mata manusia, boleh jadi seakan dakwah dikalahkan. Namun, di sisi Allah SWT justru kemenangan dakwah semakin tampak. Pasalnya, cahaya Ilahi tak akan pernah padam. Tanda-tanda kemenangan semakin jelas. Sesuai janji Allah SWT, sebentar lagi pertolongan-Nya akan segera datang. Islam akan menjadi satu-satunya mabda (ideologi) yang menang atas semua ideologi lain. Percayalah karena Allah SWT telah berfirman:
يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
Orang-orang kafir itu berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah, tetapi Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya (agama)-Nya meskipun orang-orang kafir itu membencinya (TQS at-Taubah [9]: 32).
Allahummanshur man nashara ad-din wakhdul man khadala wa qatala al-Mu’minin. Amin. []
Hikmah:
Allah SWT berfirman:
وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
Mereka membuat tipudaya dan Allah membalas tipudaya (mereka). Allahlah sebaik-baik Pembalas tipudaya (TQS Ali Imran [3]: 54).


[Buletin Kaffah, No. 39, 18 Syaban 1429 H — 4 Mei 2018]