Slider

Berita Video

Berita Pilihan

Kabar Medan

Tsaqofah

Sudut Pandang

Dinamika Dakwah

Berita Foto

Ormas Islam Desak Kajari Tanjungbalai Tuntaskan Kasus Penistaan Agama


Dakwahsumut.com,Tanjungbalai(16/1)-,Sejumlah ormas Islam ,Pemuda dan Mahasiswa Tanjungbalai berkunjung ke Kantor Kejaksaan Negeri Tanjungbalai  Asahan mempertanyakan dan sekaligus mendesak Kajari  untuk menuntaskan Kasus Penistaaan Agama  oleh Meliana. Mereka langsung diterima oleh Kepala Kejaksaan Negeri  Tanjungbalai Zullikar Tanjung, SH di ruang kerjanya dengan didampingi beberapa Stafnya.

Dalam kesempatan tersebut  Ustadz Indra Sah ( Ketua FUI Tanjungbalai) sebagai pimpinan rombongan memperkenalkan satu-satu persatu pimpinan ormas yang hadir kepada Kajari. Beliau menyampaikan bahwa maksud kedatangan sejumlah ormas Islam terebut adalah  untuk bersilaturahmi, membangun sinergitas antar ormas Islam dengan pihak kejaksaaan negeri Tanjungbalai dan sekaligus mempertanyakan dan mendesak pihak kejaksaaan negeri Tanjungbalai untuk menuntaskan kasus Meliana. 

Dalam kesempatan yang sama Indra Putra Bungsu (Ketua Forum Pemuda dan Mahasiwa Sumut) juga mempertanyakan hal yang sama “ Masalah Meliana kan sudah P21 dan dikabarkan akan disidang disidang diluar Tanjungbalai, apakah tidak dilakukan penahanan sementara umat Islam tidak ada yang ditanggungkan sebanyak 15 orang?” ujar beliau,

Begitu juga dengan Ustad Muhammad Ali Rukun(Ketua Majelis Dakwah Islam Tanjungbalai) mepertanyakan “kenapa 15 Orang umat Islam yang jadi tersangka langsung ditahan sementara Meliana yang sudah P21 tidak dilakukan penahanan,apa kelebihan beliu?” tanyanya.Beliau mengingatkan bahwa  ormas Islam akan tetap mengawal kasus Meliana hingga selesai sebagaimana proses menjadikan Meliana jadi Tersangka tidak lepas dari pengawalan ormas Islam mulai dari proses gelar perkara hingga sekarang, ujar beliau. Perwakilan FKIM(Forum Kajian Islam dan Masyarakat) yang akrab dipanggil ustadz Celi mengatakan  “Bagamaiana kira-kira Bapak  mampu membaca emosional dan Spritual kami sehingga Bapak mampu mengambil sikap yang bijaksana”ujar beliau.
Ketua GPII Tanjungbalai Indra BMT juga mengatakan hal yang sama  beserta  Budi Panjaitan (Pimpinan Rumah Quran Syhuhada ) yang pada intinya meminta kepada Bapak Kajari untuk menegakkan hokum yang seadil-adilnya. 

Menanggapai  pertanyaaan dan statemen beberapa ormas Islam tersebut Zullikar Tanjung, SH(Kajari Tanjungbalai) “Terkait Meliana saya sampaikan masalah ini masih proses tentu saya minta pada kita bersabar dan saya menghimbau dan meminta  karena masih tahap proses belum bisa menentukan sikap dan membuka ini” ujar beliau . Masalah persidangan belum bisa berkomentar karena ini belum tahap penuntutan,tambah beliau. 

Menanggapi pernyataan Kajari tersebut Ustadz Muhammad Ali Rukun mengingatkan kalau umat Islam Tanjungbali punya batas kesabaran dan kita tidak menginginkana adanya tragedi yang kedua seperti 29 Juli 2016 lalu,  beliau membandingkan dengan kasus Ahok yang sudah selesai apakah umat Islam perlu mengadakan aksi seperti Aksi 212 agar kasus ini selesai? Ujar beliau .[] ar


PEDOFILIA MERAJALELA, ISLAM SOLUSINYA

Publik kembali dihebohkan dengan rangkaian kasus pedofilia yang mencuat akhir-akhir ini, yakni kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh Wawan Sutiono alias Babeh (49) tahun terhadap 41 anak di bawah umur di Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang.

 Aksi pedofil babeh ini pun sontak mendapatkan tanggapan dari berbagai pihak salah satunya dari Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa yang mengutuk keras aksi tersebut. Dalam siaran persnya, Sabtu (6/1/2018) di Tangerang, beliau menyatakan bahwa sangat menyayangkan kekerasan seksual yang dilakukan babeh terhadap anak-anak di bawah umur. "Saya sangat menyayangkan bahwa kekerasan seksual terhadap anak-anak yang terjadi justru dilakukan oleh guru yang notabene adalah ujung tombak pendidikan bangsa," ujar Khofifah.

Bukan hanya kasus babeh, lagi-lagi publik juga dihebohkan dengan munculnya video mesum seorang wanita dewasa dengan anak dibawah umur yang dilakukan di hotel Bandung yang kemudian di unggah ke media sosial facebook. Miris memang, beraneka ragam kasus Pedofilia bermunculan bahkan setelah wacana hukum kebiri sempat di perbincangkan, namun bukan malah menghentikan perilaku seks menyimpang, malah seolah-olah para pelaku pedofilia tidak takut dengan ancaman hukuman di Negeri ini.

Pedofilia marak, apa penyebab??
Tahun berganti tahun, namun kasus-kasus pelecehan dan kekerasan seksual teruama terhadap anak-anak dibawah umur bukan malah berhenti, namun makin menjadi-jadi, padahal hukum di Negeri ini telah berkali-kali menjerat pelaku pedofilia, namun kerusakan serta mandulnya sistem hukum di Negeri ini, seolah tak ada efek jera bagi para pelaku pedofilia. Para pengidap kelainan seks tersebut pun tak berhenti melakukannya. Apa sebenarnya penyebab maraknya pedofilia di Negeri ini? Banyak fakor penyebabnya, diantaranya adalah sistem hidup yang digunakan di Negeri ini. Sisem sekuler-kapialis-demokrasi yang cacat dan rusak, seolah  membuka pintunya lebar-lebar bagi para penghamba hawa nafsu, seolah buta dengan bahaya rusaknya moral generasi karena prilaku menyimpang ini.

Sistem sekuler-kapialis yang memisahkan agama dari kehidupan ini, telah merangsang naluri seksualitas manusia dengan Situs-situs porno yang mudah di akses oleh semua kalangan termasuk anak-anak di bawah umur, tayangan-tanyangan media yang berkonten pornografi setiap hari menghiasi mata-mata generasi Negeri ini, diperparah pula dengan hukum yang tidak menimbulkan efek jera bagi para pelakunya, membuat para penghamba hawa nafsu ini melampiaskan naluri seksualitasnya kepada siapa saja termasuk kepada anak-anak di bawah umur.

Islam Punya solusinya

Dalam rangka menjaga dan melindungi generasi dari praktek menyimpang ini, Islam dengan seperangkat peraturan (hukum syara’) yang mengikat dan mengatur manusia mampu memberikan solusi tuntas dalam masalah ini, yaitu:
Pertama, Ketakwaan individu, yakni kesadaran orang tua bahwa anak adalah amanah yang harus dijaga, dan dilindungi, menjadikan Islam mewajibkan Negara untuk terus membina individu rakyatnya dengan cara menanamkan ketakwaan individu melalui kurikulum pendidikan berbasis aqidah islam. Ketika keimanan dan ketaqwaan tertanam dan tertancap kuat pada diri individu, maka minimal individu telah memiliki benteng yang kuat untuk terhindar dari perilaku menyimpang ini. Inilah benteng pertahanan pertama dan mendasar sekaligus yang paling lemah.

Kedua, Kontrol masyarakat. Islam pun mewajibkan adanya amar ma’ruf nahi munkar di tengah masyarakat, kontrol masyarakat berfungsi untuk menjaga suasana keimanan yang telah di bangun secara individu agar tetap kental dengan suasana ketaqwaan. Masyarakatpun  harus peka dengan apa yang terjadi dilingkungannya.

Ketiga, hukum Islam yang di terapkan oleh negara. Penerapan sistem Islam yang menyeluruh ini akan meminimalkan faktor-faktor yang bisa memicu kasus pedofil ini. Misal seperti melarang media menayangkan  tayangan berkonten porno, menutup situs-situs porno yang merusak akal anak-anak, serta perbuatan-perbuatan menyimpang lainnya. Namun, jika masih ada yang melakukan itu, maka sistem 'uqubat (sanksi hukum) Islam akan menjadi benteng yang bisa melindungi masyarakat. Caranya adalah dengan pemberian sanksi hukum yang berat, yang bisa memberikan efek jera bagi pelaku kriminal dan memutus mata rantai pedofil yang berpeluang memunculkan pelaku pedofil-pedofil lainnya.

Selama sistem kehidupan yang cacat dan merusak yakni sekuler-kapitalis-demokrasi masih bercokol di Negeri ini, maka bukan tidak mungkin pedofilia akan semakin merajalela. Hanya dengan penerapan Islam secara sempurnalah yang bisa diharapkan memberikan solusi tuntas dalam permasalahan kejahatan seksual serta mampu menyelamatkan generasi. Wallahua'lambishawab.

Penulis
Afnizar, S.Fil.I
Pemerhati keluarga
***

Yang Terciderai dan Yang Menciderai


Oleh : Abu Syafiq

Sontak masyarakat Sumatera Utara terhenyak dengan situasi politik jelang pemilihan gubernur di daerah ini. 
Tengku Erry Nuradi yang juga gubernur aktif, yang sejak awal-awal memang sudah mempersiapkan diri secara matang untuk “bertarung”, mendadak batal ikut menjadi peserta setelah partai tempat ia bernaung beralih pilihan.
Padahal, baleho besar dan spanduk dukungan untuknya sudah menyemak dimana-mana. Banyak pula ormas dadakan maupun yang sudah eksis sebelumnya, nyata-nyata memberikan dukungan mutlak kepadanya. 


 
Slogan PATEN pun yang identik dengan singkatan dari Pak Tengku Erry Nuradi juga sudah sebegitu populer bahkan menjadi slogan resmi pemerintahan provinsi, hanya saja maknanya berubah menjadi arti kata "paten" sesungguhnya yakni mantap, berkualitas, berprestasi. Slogan ini menjadi sesuatu untuk menyemangati jajaran pemerintahan dalam meningkatkan kinerja dan pelayanannya. 
Tapi itu semua, sekarang seakan sia-sia. Upaya pengkondisian yang berlangsung sejak jauh-jauh hari itu mendadak buyar. 
Memang, T. Erry Nuradi, bakal calon yang dalam sejumlah survey diklaim paling berpotensi memenangkan pertarungan itu, sesungguhnya belum bisa sepenuhnya dikatakan kehilangan peluang untuk “naik ring”. Ia sejatinya masih memiliki peluang, setidaknya sampai batas akhir waktu pendaftaran yang ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada tanggal 10 Januari mendatang atau sebelum partai-partai itu rampung mendaftarkan calonnya masing-masing..
Jika melihat dinamika politik yang dimainkan para elit partai saat ini, maka bisa saja pada masa-masa akhir nanti akan terjadi perubahan signifikan atau kejutan dalam komposisi calon yang mereka usung. 
Misalnya, koalisi PKS, Gerindra dan PAN bisa saja melepas pasangan Edi Rahmayadi dan Ijeck karena merasa kurang nyaman dengan “mengekornya” Partai Golkar dan Nasdem. Lalu mereka melirik dan mengusung T. Erry Nuradi yang dianggap sudah punya cukup modal untuk fight dan memasangkannya dengan tokoh yang dianggap lebih merepresentasikan keinginan umat Islam khususnya yang ada di dalam GNPF Ulama. 
Bukankah selama ini kelompok ini memang belum berpuas dengan kandidat yang diusung koalisi tiga partai tersebut? .
Atau mungkin saja Partai Demokrat mengubah komposisinya dengan menggandeng T. Erry Nuradi-JR Saragih atau sebaliknya karena belum berhasil menggandeng PKB untuk mendapatkan kursi tambahan sebagai persyaratan pencalonan. Mengusung Erry dimaksudkan menjadi magnet untuk mengajak partai-partai yang masih di luar, khususunya PKPI dan PKB yang sudah sempat mendukung itu untuk masuk kembali.



Bisa juga ada kejutan lain bahwa Partai Hanura, PPP, PKB dan PKPI justru membuat koalisi baru untuk mengusung T. Erry Nuradi. Mereka bisa saja percaya diri karena status Erry sebagai petahana dan telah memiliki tim pemenangan yang luas hingga seluruh kabupaten/kota sebagai modal yang sudah sangat cukup untuk memenangkan pertarungan itu.



Namun, terlepas dari persoalan kemungkinan-kemungkinan itu, yang pasti dalam konstelasi politik di Sumut ini ada yang diciderai dan yang menciderai.
Bayangkan saja, Erry Nuradi yang sudah sejak awal digadang-gadang, tetiba bisa begitu saja ditendang. Tentu ini terasa menyakitkan, apalagi ia juga "dipaksa legowo" untuk menyerahkan surat dukungan partainya ke bakal calon yang sesungguhnya menjadi rival tandingnya.



Dalam sistem demokrasi saat ini, hal itu dianggap perkara lumrah. Bagi mereka, dalam dunia politik tidak ada yang pasti, kecuali ketidakpastian itu sendiri. Jadi, senang atau tidak senang, kecewa atau tidak kecewa maka Erry harus menerima itu sebagai sebuah kelumrahan politik.
Atau ketika sejumlah ulama yang tergabung dalam GPNF MUI yang sekarang berubah menjadi nama GNPF Ulama juga harus rela menelan ludah ketika keinginan mereka agar koalisi partai tertentu mengusung kandidat yang mereka rekomendasikan tetapi ternyata tak digubris. 


 
Inilah demokrasi, yang menciderai dan juga terciderai. Atas nama demokrasi, T. Erry Nuradi berikut pendukungnya tersakiti, begitupula umat Islam yang menginginkan calon representasinya juga tidak terakomodir.



Ironisnya, demokrasi yang katanya menyerap aspirasi rakyat itu justru juga terciderai oleh kepentingan elit partai. Keputusan partai yang katanya mendewakan demokrasi itu justru hanya berada pada satu atau beberapa tangan elit politiknya.
Seberapa pun kuatnya arus keinginan rakyat di Sumut, tak bisa mengubah keputusan seorang Ketua Umum. Lihat saja di sejumlah media, para pengurus partai tingkat wilayah selalu mengatakan bahwa ketetapan tentang calon yang akan diusungnya menunggu keputusan Ketua Umum. Ini seakan menegaskan bahwa partai itu milik segelintir orang.



Mereka yang mengatakan demokrasi sebagai pijakan politiknya, justru menciderai demokrasi itu sendiri. Sayangnya, mereka tidak akan terima jika langkah itu dinilai bertentangan dengan demokrasi yang dianutnya. Fakta ini sesungguhnya semakin memberikan penegasan bahwa demokrasi itu sistem yang molor seperti karet, yang bisa ditafsirkan kemana saja oleh penganut dan para pemilik kepentingan.
Tentu, ini sangat bertolak belakang dengan sistem Islam. Pertama, pemilihan seorang gubernur atau wali di dalam sistem Islam ditunjuk langsung oleh seorang Khalifah. Disini, pasti tidak akan terjadi pemubaziran uang rakyat untuk penyelenggaraan pemilihannya.



Kedua, gubernur yang dipilih memiliki persyaratan yang ketat dalam hal moralitasnya. Ini tentu berbeda dengan sistem hari ini yang menafikkan itu, cenderung lebih fokus pada popularitas dan fungsi kemampuan finansial calon.
Ketiga, tentu Islam sangat melarang perbuatan khianat. Artinya, jika sudah bersepakat maka harus menjaga kesepakatan itu tetap terpelihara agar tidak ada yang merasa terzalimi, kecuali kesepakatan yang nyata-nyata dalam kemaksiatan. 


 
Itulah Islam, memandang bahwa seluruh persoalan kehidupan termasuk urusan politik tidak bisa dipisahkan dengan persoalan agama. Semuanya harus tunduk pada aturan Allah SWT.
Wallahu'akam.

Perayaan Malam Tahun Baru Budaya Kafir

بسم الله الرحمن الرحيم

Oleh : Tommy Abdillah_

eLSIM (Lembaga Study Islam Multy Dimensi)

Tahun 2017 akan segera berakhir. Detik-detik pergantian tahun disambut
dengan gegap gempita
hampir
diseluruh
belahan dunia. Pesta malam tahun
baru seolah-olah sudah menjadi tradisi wajib
tahunan dengan budaya pesta
kembang api, meniup terompet, joget riang gembira, bergadang semalam
suntuk,
pesta miras dan perbuatan maksiat
lainnya.

*Sekilas Sejarah Penetapan Tahun Baru Masehi*

Menurut catatan sejarah, tahun baru pertama kali dirayakan pada tgl 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.

Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap 4 tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini.

Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.

Pada mulanya perayaan ini dirayakan baik oleh orang Yahudi yang dihitung sejak bulan baru pada akhir September. Selanjutnya menurut kalender Julianus, tahun Romawi dimulai pada tgl 1 Januari. Paus Gregorius XIII mengubahnya menjadi 1 Januari pada tahun 1582 dan hingga kini seluruh dunia merayakannya pada tgl tsb.

(Ref :http://m.eramuslim.com/fokus/tahun-baru-masehi-sejarah-kelam-penghapusan-jejak-islam).

Bagi seorang Muslim perayaan pesta malam tahun baru Masehi bisa
berakibat negatif :

1. Terkontaminasinya aqidah umat
Islam dengan aqidah orang-orang kafir. Umat Islam merayakan hari besar orang-orang nashrani sementara umat Islam hanya memiliki 2 hari raya. Sebuah hadist dari Anas bin malik r.a,

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

Artinya : "Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki 2 hari raya untuk bersenang-senang dan. bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai 2 hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)."(HR.An-Nasai No.1556)

2. Perbuatan Tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir. Pasca perang salib yang berlangsung hampir 200 tahun
( dimulai thn 1095 M dan berakhir thn 1247 M) yg dimenangkan oleh umat Islam. Maka orang-orang kafir merubah grand strategy untuk memerangi umat Islam dari hard power menjadi soft power yaitu Ghazwu Al-fikri (perang pemikiran) dan Ghazwu Ats-tsaqafi (perang peradaban).

Perang ini memiliki tujuan jangka panjang yaitu pemurtadan. Jangka pendeknya pelarutan kepribadian (tidak bangga dengan identitas muslim), dekadensi moral, menanamkan pemikiran liberalisme, sekularisme, hedonisme, pluralisme. Dan pada akhirnya pelucutan akidah dalam arti tidak masalah secara identitas agamanya Islam tapi perilaku sehari-harinya jauh dari tuntutan Islam.

Tasyabbuh adalah sebuah perilaku yang dilarang oleh
Rasulullah SAW dan hukumnya adalah Haram. Sebagaiman

a Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Artinya : "Barang siapa mengikut-ikut kebiasaan kaum
(Yahudi dan Nasrani)
maka ia menjadi bagian dari
kaum itu."(HR.Ahmad).

3. Perbuatan yang sia-sia.

Pesta malam tahun baru identik dengan hura-hura dan pesta pora yang menghabiskan uang, waktu dan tenaga. Sebuah perbuatan yg sia-sia lagi mubazir, sedangkan mubazir itu adalah temannya syaitan.
Allah SWT berfirman,

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

Artinya : “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al-israa': 26-27).

Pesta malam tahun baru juga tidak
mendatangkan kemanfaatan
sedikitpun baik bagi keimanan,
keilmuan maupun amal
soleh. Allah SWT berfirman,

{قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3)} [المؤمنون : 1-3]

Artinya : "Sungguh beruntunglah
orang-orang yang beriman,
(yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalat
mereka. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari
perkataan dan perbuatanyang tidak
berguna."(QS.Al-mu’minun:1-3).

Imam Ibnu Katsir rahimahullahu menafsirkan ayat ini, Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataanyang tiada berguna yakni dari kebathilan, yang mana hal itu mencakup juga kemusyrikan sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian mereka serta berbagai ucapan dan perbuatan yang tidak membawa faedah dan bermanfaat.

4. Melalaikan ibadah shalat.

Biasanya orang yang merayakan pesta tahun baru akan tidur diatas tengah malam ataupun bergadang. Bila tubuh kurang tidur dan kurang istirahat dimalam hari maka akan sangat berat untuk bangun shalat subuh. Padahal orang yang berat mendirikan shalat subuh berjama'ah dimesjid adalah ciri orang-orang munafiq. Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ أَثْقَلَ صَلاَةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلاَةُ الْعِشَاءِ وَصَلاَةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيُصَلِّىَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِى بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لاَ يَشْهَدُونَ الصَّلاَةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

Artinya : “Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Shubuh. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada dalam kedua shalat tersebut tentu mereka akan mendatanginya walau dengan merangkak. Sungguh aku bertekad untuk menyuruh orang melaksanakan shalat. Lalu shalat ditegakkan dan aku suruh ada yang mengimami orang-orang kala itu. Aku sendiri akan pergi bersama beberapa orang untuk membawa seikat kayu untuk membakar rumah orang yang tidak menghadiri shalat Jama’ah.”(HR. Bukhari no. 657 & Muslim no. 651, dari Abu Hurairah).

Jauhnya umat Islam dari kehidupan Islam dibawah naungan syari'at Islam membuat orang-orang kafir semakin mudah mengajak umat Islam untuk
diarahkan kepada kekufuran bahkan berhasil dimurtadkan.

*Penutup*

Saatnya umat Islam sadar untuk kembali kepada
aqidah Islam yang lurus yaitu diantaranya dengan meninggalkan hadharah atau peradaban budaya yang bukan berasal dari aqidah Islam dengan tidak ikut-ikutan merayakan perayaan pesta malam tahun baru.

Bila hendak memanfaatkan hari libur maka perlakukanlah sama dengan hari-hari yang lainnya tanpa
harus
mengkhususkannya.

Wallahu a’lam

Indonesia Darurat LGBT






Oleh : Tommy Abdillah, ST.MT

eLSIM (Lembaga Study Islam Multy Dimensi)

Sebagaimana diketahui Guru Besar IPB Prof. Dr Euis dkk menggugat pasal zina, perkosaan dan homoseks dalam KUHP. Pasal yang digugat salah satunya Pasal 292 KUHP. Pasal itu saat ini berbunyi:

Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sesama kelamin, yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.

Pemohon meminta pasal itu menjadi :

Orang yang melakukan perbuatan cabul dengan orang dari jenis kelamin yang sama, dihukum penjara selama-lamanya lima tahun.

Akhirnya Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan menolak gugatan delik perzinahan dan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender. Keputusan ini tentunya akan  membahayakan bagi moral dan akhlak masyarakat secara luas.

Sebagian pakar hukum positif berargumentasi bahwa putusan tersebut bukan berarti MK melegalkan perbuatan LGBT namun MK menyerahkan perumusan norma soal LGBT ke pembuat undang-undang (law maker) yaitu DPR. Disinilah wujud nyata bahwa dasar negara ini adalah negara Sekuler. Sebenarnya apa yang diputuskan MK, secara tidak langsung membuat Kelompok LGBT makin tumbuh subur dinegeri ini.

Banyaknya terungkap kasus sodomi dan pedofilia menjadi indikator bahwa kasus yang tidak terungkap jauh lebih besar dari pada yang terungkap, ibarat puncak gunung es dimana dipuncak kelihatan sedikit tapi dibawah kaki gunung jauh lebih besar lagi.

Allah Subhana wa ta’ala tlh menciptakan manusia dengan sempurna sebagai sebaik-baik makhluk. Manusia dianugerahi oleh Allah ta’ala potensi kehidupan berupa akal dan naluri atau insting (Gharizah). Salah satu naluri manusia adalah gharizah an-nau' atau syahwat biologis yakni kecenderungan suka kepada lawan jenisnya.

*LGBT Penyimpangan Naluri*

Syahwat biologis dapat disalurkan dengan benar melalui jalur yang halal yaitu pernikahan sesuai dengan hukum syara’ yakni menikah dengan lawan jenis. Namun ada di antara manusia yang melawan fitrahnya yaitu suka kepada sesama jenisnya. Laki-laki suka kepada laki-laki disebut homoseks atau liwath, sedangkan perempuan suka sesama perempuan disebut lesbian.

Fenomena perilaku menyimpang naluri ini telah ada sejak zaman Nabi Luth ‘Alaihissalam bahkan kini perilaku homosex semakin merajalela. Perilaku menyimpang ini hingga kini tumbuh subur karena didukung oleh ide liberalisme yaitu paham serba bebas yg merupakan anak kandung dari ideologi Kapitalisme. Ditambah lagi dengan atas nama HAM para pendukung perilaku menyimpang ini menuntut legalisasi kawin sesama jenis dengan sebutan, LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender)

Penyimpangan perilaku seks bukan disebabkan oleh karkater bawaan dari lahir. Perilaku Homoseks dan Lesbian dapat disebabkan diantaranya salah asuhan orang tua yang suka jenis kelamin yang ia dambakan, lingkungan dan pergaulan yang rusak.  

*LGBT Perbuatan Keji*

Homoseks adalah perbuatan yang keji dan sangat tercela. Perbuatan itu merusak dunia dan agama, menghancurkan akhlak, membunuh kejantanan dan merusak kehidupan masyarakat. Al-imam Ad-dzahabi rahimahullahu ( 673 H/1274 M)
didalam kitabnya Al-kabair (Dosa-dosa besar yang membinasakan) menempatkan Liwath sebagai dosa besar yang ke-11.

*Azab Allah Bagi Kaum Sodom*

Setiap penyimpangan terhadap syari'at Allah pasti akan menimbulkan petaka. Kaum Nabi Luth AS diazab oleh Allah SWT dengan dihujani batu dan negeri Sodom ditenggelamkan. Allah SWT menghujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

{ثُمَّ دَمَّرْنَا الآخَرِينَ. وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا}

Artinya : Kemudian Kami binasakan yg lain. Dan Kami hujani mereka dgn hujan (batu). (QS.Asy-Syu'ara': 172-173).

Berbeda dengan umat Nabi Muhammad SAW meskipun punya kelebihan dengan tidak turunkan azab secara langsung tapi Allah SWT menurunkan penyakit yang mematikan yaitu AIDS yang hingga kini tidak ada obatnya.

*Hukum Syari'at Islam Bagi LGBT*

Didalam syari'at Islam orang-orang homoseks dan Lesbian bila terbukti melakukannya maka ia akan dihukum mati. Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

Artinya : “Barangsiapa yg mengetahui ada yg melakukan perbuatan liwath (sodomi) sebagaimana yg dilakukan oleh Kaum Luth, maka bunuhlah kedua pasangan liwath tsb.(HR.Abu daud No.4462).

Ketika tatanan kehidupan hari ini tidak diatur oleh syari’at Islam dan tidak adanya kepemimpinan Islam yakni seorang Khalifah yang menjaga akidah ummat Islam dan menerapkan Syari'at Islam secara kaffah maka kemaksiatan dan kedzaliman semakin merajalela. Bukan dihilangkan tapi malah justru didukung dan difasilitasi.

*Penutup*

Bagi setiap orang tua memiliki tanggung jawab yang besar untuk mendidik, membimbing dan menyelamatkan anak-anaknya dari pergaulan bebas yang menyimpang termasuk dari penyimpangan perilaku homosex dan lesbian.

Ya Allah ya rabbanaa kami berlindung kepada-Mu dari segala bentuk kemaksiatan yang Engkau murkai termasuk perbuatan liwath. Amin ya Allah ya rabbal'alamin

Wallahu a’lam

Ekonomi Syariah: Larangan Menetapkan Harga ( Tas'ir)



Oleh : Tommy Abdillah, ST. MT

eLSIM (Lembaga Study Islam Multy Dimensi)

Perkembangan teknologi informasi diera digital memberikan kontribusi positif bagi kehidupan manusia termasuk dalam sektor bisnis dan jasa. Aplikasi bisnis berbasis on line  semakin diminati masyarakat kota mengingat tingkat kebutuhan terus meningkat sementara para pebisnis penyedia barang (distributor) dan jasa (service) mampu memberikan pelayanan terbaik dengan harga ekonomis, efisien dan praktis.

Jasa transportasi on line mampu memberikan warna baru bagi transportasi public di Indonesia yang berefek terhadap persaingan tak sehat usaha jasa angkutan umum sehingga timbul demonstrasi dengan tuntutan pemblokiran perusahaan aplikator Grab Car, Gocar dan Uber, yang tidak mematuhi ketentuan Kepmen 108/2017 yang mengatur sejumlah ketentuan operasional taksi online berbasis aplikasi diantaranya terkait penentuan tarif. Bagaimana hukum menetapkan harga didalam Islam?

Ajaran Islam sungguh mulia dan sempurna. Hal ini tampak dari pengaturan hidup sedemikian tertata rapi terkandung nilai-nilai keadilan bagi kehidupan. Sebagaimana perkara jual beli (Al-buyu') telah diatur oleh Islam secara detail sehingga antara penjual dan pembeli benar-benar melakukan aqad transaksi sesuai dengan koridor hukum syara'.

Dalam sebuah atsar Khalifah Umar bin khatab r.a berkata, "Jangan berjualan dipasar ini bagi para pedagang yang tidak mengerti fiqh mu'amalah."(Sunan Tirmidzi).

Esensi Harga

Harga menjadi salah satu instrumen terpenting dalam perdagangan. Teori-teori harga muncul sejak ekonomi modern lahir dan ini menjadi rujukan para ekonom masa kini,  begitu pula ekonom Islam. Salah satu Early Islamic thinker yaitu Yahya Bin Umar Al-Kanani Al-Andalusi yang lahir tahun 213 Hijriyah di Cordova Spanyol, membahas secara detail tentang operasional pasar dan seluk beluk lainnya. Buku yang ditulis berjudul Ahkam Al-Suuq dan membahas salah satu topik tas’ir (penentuan harga) dalam pasar.

Makna Tas'ir

Diantara kaidah jual beli didalam Islam adalah dilarang dalam menetapkan harga (tas'ir). Di dalam bahasa Arab,  تسعير (tas’ir) berasal dari kata سعر (sa’ara). Ibnu'Ibad didalam kitab Al-Muhith fi al-lughah, menyatakan bahwa ungkapan,

سعر اهل سوق

(Sa’ara ahlu suq yaitu para pedagang dipasar menetapkan harga). artinya as’aru mereka menetapkan harga. Sementara itu as-si’r artinya harga. Dengan demikian at-tas’ir artinya penetapan harga (taqdir as-si’r).

Imam As-syaukani rahimahullahu mendefiniskan at-atas’ir sebagai penetapan harga oleh penguasa atau wakilanya, atau siapa saja yang memiliki kekuasan dalam mengatur urusan kaum muslimin, bagi para pedagang di pasar, agar mereka tidak menjual barang-barang mereka kecuali dengan harga tertentu, tidak melebihi batas itu atau menguranginya demi maslahat.

(Ref : Kitab Nailul Authar, VIII/370).

Dgn kata lain, penetapan harga maksimal atau minimal jg merupakan bentuk tas’ir.

Tas'ir Hukumnya Haram

Mengenai larangan tas'ir terdapat riwayat hadist Imam Abu Daud

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَأَنَّ رَجُلًا جَاءَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ سَعِّرْ فَقَالَ بَلْ أَدْعُو ثُمَّ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ سَعِّرْ فَقَالَ بَلْ اللَّهُ يَخْفِضُ وَيَرْفَعُ(سنن أبي داود، 9/310 برقم2993)

 Artinya : “Seorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, Ya Rasulullah, patoklah harga. Beliau SAW menjawab, Berdo’alah. Kemudian datang yang lain dan berkata, Ya Rasulullah, patoklah harga. Beliau menjawab, Sesungguhnya Allah lah yang menurunkan dan menaikan harga.” (HR.Abu Dawud).

Sesuai dengan konteks hadist diatas bhw menetapkan harga (tas’ir) adalah dilarang yang hukumnya Haram. Larangan ini bersifat umum mencakup seluruh jenis barang. Sebab nash-nash yang menjadi dasar larangan itu bersifat umum dan mutlak. Baik terkait makanan pokok ataupun bukan. Baik dilakukan pada saat perang atau dalam kondisi damai. Baik dalam kondisi naiknya harga barang atau saat turun.

Ulama fiqih membagi tas’ir menjadi 2 macam:

1. Harga yang berlaku secara alami, tanpa campur tangan pemerintah. Dua dari empat mazhab terkenal, Hambali dan Syafi’i menyatakan bahwa pemerintah tidak mempunyai hak untuk menetapkan harga.

2. Harga suatu komoditas dari hasil kepemilikan umum seperti bahan bakar minyak (BBM) boleh ditetapkan pemerintah setelah mempertimbangkan biaya produksi dan operasional tapi bukan berorientasi pada profit sebab hubungan antara pemerintah dengan rakyat bukan hubungan antara penjual dan pembeli akan tapi hubungan pelayanan publik (public service).

Islam menghargai hak penjual dan pembeli untuk menentukan harga sekaligus melindungi hak keduanya

Dari pandangan ekonomis, penetapan harga mengakibatkan munculnya tujuan yang saling bertentangan. Harga yang tinggi, pada umumnya bermula dari situasi meningkatnya permintaan atau menurunnya supply. Pengawasan harga hanya akan memperburuk situasi tsb.

Efek Menetapkan Harga

Harga yang lebih rendah akan mendorong permintaan baru atau meningkatkan permintaannya serta akan mengecilkan hati para importir untuk mengimpor barang tsb. Pada saat yang sama, hal tersebut akan mendorong produksi dalam negeri, mencari pasar luar negeri (yang tak terawasi) atau menahan produksinya sampai pengawasan harga secara lokal itu dilarang. Akibatnya, akan terjadi kekurangan supply.

Di sisi lain, penetapan harga juga akan membuka peluang pasar-pasar gelap yang menjual belikan barang berbeda dengan harga yang telah ditetapkan. Bukan menyelesaikan masalah, malah menambah masalah baru dan membuat harga semakin tinggi. Selain itu, penetapan harga juga bisa saja berimbas pada menurunnya produksi. Alhasil tas’ir bukan hanya tindakan zhalim bagi pemilik barang, tapi juga menimbulkan dharar bagi masyarakat secara umum.

Penutup

Saatnya bagi kita untuk meninggalkan sistem ekonomi Kapitalisme liberal karena telah nyata kebathilan dan kerusakannya. Semoga sistem ekonomi Islam dlm sektor makro dan mikro dapat diaplikasikan secara real sehingga berdampak bagi kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakat melalui jalan menerapkan Syari'at Islam secara kaffah.

Wallahu a'lam

Mempertegas Tuntutan Aksi Palestina



Oleh : Yusran Ramli
Kontributor @dakwahsumut

#Dakwahsumut - Semenjak Presiden AS, Donald Trump mengklaim Yerussalem sebagai ibu kota Israel, aksi penolakan  di seluruh dunia terus berlangsung. Sumatera Utara tidak ketinggalan. Meski jaraknya cukup jauh dari Palestina, namun ikatan Aqidah Islam mampu menggerakkan hati Kaum muslimin di Sumut untuk peduli dengan nasib saudaranya. Hari-hari di bulan desember ini menjadi hari-hari aksi pembelaan terhadap Palestina. Tanah suci bagi kaum Muslimin. Tidak Cuma di Medan, aksi juga berlangsung di daerah sekitar seperti Binjai dan Lubuk Pakam. Bahkan daerah yang cukup jauh seperti Tanjung Balai hingga ke Padang Sidempuan, Aksi Bela Palestina juga dilakukan.

Kaum muslimin wajar marah. Bahkan sungguh aneh bila ada yang mengaku muslim namun tidak marah tanah sucinya dinodai oleh orang lain. Imam Syafi’I berkata : Barangsiapa dibuat marah, namun ia tak marah, Ia adalah keledai.

*Mempertegas Tuntutan*
Meski tinggal di Sumatera Utara, kita juga penting memahami konstelasi politik internasional. Hal ini penting, agar bisa bersikap dengan benar. Opini yang dihembuskan oleh media barat, kerap mengecoh. Solusi yang mereka rancang terlihat baik, namun sejatinya perangkap halus yang memperpanjang penderitaan saudara kita. Termasuk solusi yang ditawarkan untuk Palestina.

Apa solusi persoalan Palestina? Dari media, kita hanya mendengar ada dua solusi bagi Palestina. Pertama, solusi satu negara dimana rakyat palestina dan orang yahudi hidup berdampingan di bawah pemerintahan sekuler yang berkuasa. Atau Solusi kedua dimana ada dua negara merdeka yaitu Palestina dan Israel.  Mana pilihan yang terbaik ?
Solusi satu negara sekuler dimana di dalamnya hidup berdampingan antara kaum muslimin dan orang-orang Yahudi adalah hasil rancangan Inggris. Setelah perjanjian sykes-picot pada tahun 1917, Inggris dan Prancis menjadikan Palestina sebagai “tanah bersama”. Perlawanan terhadap usulan ini terus dilakukan oleh kaum muslimin di Palestina. Pada tahun 1948, terjadi debat seru di PBB seputar masalah Palestina.  Keluarlah resolusi PBB No. 151 yang menetapkan pembagian wilayah Palestina menjadi dua negara yaitu negara Yahudi (Israel) dan Palestina. Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri di Kongres Amerika, Wiliam Fulbright yang melakukan kunjungan ke Republik Persatuan Arab pada tahun 1960, berkata, “ Amerika telah sepakat atas berdirinya dua institusi di Palestina : Yahudi dan Arab”. Maka bisa disimpulkan solusi kedua adalah rancangan Amerika.

Bisakah kaum muslimin berharap pada kedua solusi tersebut ? Salah satu Aksi Bela Palestina minggu lalu di Medan menyuarakan agar PBB segera bertindak.  Tuntutan ini rasanya perlu ditimbang ulang. Mungkinkah lembaga ini bertindak tegas terhadap negara yang ia _“bidani kelahiranya”?_ Belum lagi secara fakta, Israel adalah negara yang lahir dari “Ibu”  Inggris dan “Ayah” Amerika. Cukuplah sudah berbagai bukti PBB mendiamkan pelanggaran Resolusi PBB yang dilakukan Israel. Untuk melindungi Israel, AS sudah memveto resolusi PBB sebanyak 43 kali sejak tahun 1972 _(Republika.co.id, 21/12/17)._

Palestina adalah tanah khorijiah milik kaum muslimin. Ia menjadi milik Umat Islam sejak ditaklukkan pada masa pemerintahan Kholifah Umar bin Khattab hingga hari kiamat. Saat ini, permasalahn palestina muncul karena kehadiran negara Israel. Maka solusinya, dibutuhkan jihad secara fisik di kancah peperangan untuk menghilangkan negara Israel.  Solusi ini sudah dikemukakan oleh para ulama sejak awal. Pada muktamar yang diselenggarakan pada 26 Januari 1935 di Al Quds, Ulama Palestina telah mengharamkan perjanjian damai dengan Israel. Demikian juga Badan Fatwa Universitas al-Azhar asy-Syarif mengumumkan pada tahun 1957, bahwa berdamai dengan Israel dalam bentuk apapun, hukumnya haram. Hukum ini berlaku selama eksistensi Yahudi masih tegak di bumi Palestina, baik kondisinya kuat maupun lemah. Itulah sebabnya, tuntutan yang hendaknya disuarakan oleh kaum muslimin dimanapun, termasuk Sumatera Utara adalah Jihad. Menyeru kepala negara kaum muslimin untuk mengirimkan tentaranya ke Palestina. Penguasaan Israel atas bumi Palestina adalah tindakan fisik yang juga harus dilawan dengan tindakan fisik berupa pengiriman tentara.
Di samping itu, tentu saja umat Islam perlu disadarkan bahwa penguasaan Israel atas Palestina adalah bukti bahwa kita butuh Khilafah. Inilah negara yang telah terbukti mampu melindungi kaum muslimin dari serangan jahat orang-orang kafir.  Ke depan, inilah dua tuntutan yang hendaknya diserukan dalam Aksi Bela Palestina : Bebaskan Palestina dengan Jihad
dan Khilafah ! [ ]