Slider

Berita Video

Berita Pilihan

Kabar Medan

Tsaqofah

Sudut Pandang

Dinamika Dakwah

Berita Foto

KALAU BUKAN KHILAFAH, SIAPA YANG MELINDUNGI UMAT? (Syarah Hadits)




Oleh: KH Hafidz Abdurrahman

Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan hadits dari jalur Abu Hurairah radhiya-Llahu ‘anhu, bahwa Nabi shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama, bersabda:

إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدْلٌ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ ، وَإِنْ يَأْمُرُ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ [رواه البخاري ومسلم]

“Sesungguhnya seorang imam itu [laksana] perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/adzab karenanya.” [Hr. Bukhari dan Muslim]

/ Makna dan Penjelasan Hadits /

Hadits di atas menggunakan lafadz, al-Imâm, bukan lafadz al-Amîr. Nabi Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama memilih dan menggunakan lafadz ini bukan tanpa maksud, sebaliknya tentu dengan maksud. Dengan menelaan berbagai hadits yang membahas Bab al-Khilâfah dan al-Imâmah, tampak sekali, bahwa Nabi Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama, para sahabat ridhwanu-Llah ‘alaihim dan para tabiin yang meriwayatkannya tidak membedakan antara lafadz, Khalîfah dan Imâm. Dengan kata lain, lafadz, Imâm di sini mempunyai konotasi, Khalîfah. Karena kedua lafadz ini konotasinya sama, sehingga ketiga digunakan lafadz Imâm, maka yang dimaksud adalah Khalîfah.

Setelah ‘Umar bin al-Khatthab, radhiya-Llahu ‘anhu, diangkat menjadi Khalifah, menggantikan Abu Bakar as-Shiddiq, para sahabat menambahkan lafadz, Amîru al-Mu’minîn. Karena itu, para ulama’ kemudian menggunakannya, dan menjadikan ketiga lafadz, Imâm, Khalîfah dan Amîru al-Mu’minîn tersebut sebagai sinonim, dengan konotasi yang sama. Imam an-Nawawi menjelaskan:
«يَجُوْزُ أَنْ يُقَالَ لِلْإِمَامِ: اَلْخَلِيْفَةُ، وَالْإِمَامُ، وَأَمِيْرُ المُؤْمِنِيْنَ»

“Untuk seorang imam [kepala negara], boleh disebut dengan menggunakan istilah: Khalîfah, Imâm dan Amîru al-Mu’minîn.”

Penjelasan yang sama, diberikan oleh Ibn Khaldun. Beliau menegaskan:
«وَإِذْ قَدْ بَيَّنَّا حَقِيْقَةَ هَذَا اْلَمنْصَبَ وَأَنَّهُ نِيَابَةٌ عَنْ صَاحِبِ الشَّرِيْعَةِ فِيْ حِفْظِ الدِّيْنِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا بِهِ تُسَمَّى خِلَافَةً وَإِمَامَةً وَالْقَائِمُ بِهِ خَلِيْفَةٌ وَإِمَامٌ»

“Ketika kami jelaskan hakikat jabatan ini, dan bahwa jabatan ini merupakan substitusi [pengganti] dari pemilik syariah dalam menjaga agama dan mengurus dunia dengan agama, maka disebut Khilâfah dan Imâmah. Orang yang menjalankannya disebut Khalîfah dan Imâm.”

Berangkat dari sini, al-‘Allamah Najîb al-Muthî’i, dalam Takmilah al-Majmû’, karya Imam an-Nawawi, menegaskan:
«الإمَامَةُ وَالْخِلاَفَةُ وَإِمرَةُ المؤْمِنِيْنَ مُتَرَادِفَةٌ»

“Imâmah, Khilâfah dan Imaratu al-Mu’minîn itu adalah sinonim [kata yang berbeda, dengan konotasi yang sama].”

Imam Abu Zahrah, juga menjelaskan hal yang sama, bahwa Imâmah dan Khilâfah, begitu juga Imâm dan Khalîfah itu sama:
«اَلْمَذَاهِبُ السِّيَاسِيَّةُ كُلُّهَا تَدُوْرُ حَوْلَ الْخِلاَفَةِ وَهِيَ الإِمَامَةُ الْكُبْرَى، وَسُمِيَتْ خِلاَفَةً لأنَّ الَّذِيْ يَتَوَلاَّهَا وَيَكُوْنُ الْحَاكِمُ الأعْظَمُ لِلْمُسْلِمِيْنَ يَخْلُفُ النَّبِيَّ ﷺ (فِيْ إِدَارَةِ شُؤُوْنِهِمْ، وَتُسَمَّى إِمَامَةً: لأنَّ الْخَلِيْفَةَ كَانَ يُسَمَّى إِمَامًا، وَلأنَّ طَاعَتَهُ وَاجِبَةٌ، وَلأنَّ النَّاسَ كَانُوْا يَسِيْرُوْنَ وَرَاءَهُ كَمَا يُصَلُّوْنَ وَرَاءَ مَنْ يَؤُمُّهُمُ الصَّلاَةَ».

“Semua mazhab politik berkisar tentang Khilâfah, yaitu Imâmah Kubrâ. Ia disebut Khilâfah, karena yang mengurus dan menjadi penguasa tertinggi bagi kaum Muslim itu menggantikan Nabi shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama dalam mengurus urusan mereka. Ia juga disebut Imâmah, karena Khalîfah biasa dipanggil dengan sebutan Imâm. Karena mentaatinya hukumnya wajib, karena masyarakat berjalan di belakangnya, sebagaimana orang yang berada di belakang orang yang menjadi imam shalat mereka.”

Karena itu, jelas, bahwa yang dimaksud dengan Imâm di dalam hadits Bukhari dan Muslim di atas, tak lain adalah Khalîfah. Konotasi makna Imâm di sini adalah Khalifah bisa dijelaskan dengan shighat Hashr [bentuk pembatasan, dengan konotasi “hanya”], Innamâ, yang artinya, “Sesungguhnya [imam] itu tak lain..”, sebagaimana dalam beberapa nash syara’ yang lain, seperti:
«إِنَّمَا المُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ»

“Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu tak lain adalah bersaudara.” [Q.s. al-Hujurat: 10]

Artinya, mereka tak lain adalah bersaudara, bukan musuh. Karena itu, ketika mereka bermusuhan, diperintahkan, “Fa ashlihu..” [damaikanlah], maksudnya agar tetap bersaudara, dan permusuhan di antara mereka pun sirna.

Ini dari aspek bahasa. Dari aspek fakta, baik historis maupun empiris, jelas bahwa konotasi makna lafadz, Imâm di sini tak lain adalah Khalîfah [kepala negara] yang memangku Khilâfah [Negara Islam]. Konotasi ini dijelaskan oleh lanjutan frasa berikutnya:
«جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ»

“[Imam/Khalifah itu tak lain] laksana perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng.” [Hr. Bukhari dan Muslim]

Makna, al-Imâm Junnat[un] [Imam/Khalifah itu laksana perisai] dijelaskan oleh Imam an-Nawawi:
أَيْ: كَالسَّتْرِ؛ لأَنَّهُ يَمْنَعُ اْلعَدُوَّ مِنْ أَذَى المُسْلِمِيْنَ، وَيَمْنَعُ النَّاسَ بَعْضَهُمْ مِنْ بَعْضٍ، وَيَحْمِي بَيْضَةَ الإِسْلاَمَ، وَيَتَّقِيْهِ النَّاسُ وَيَخَافُوْنَ سَطْوَتَهُ.

“Maksudnya, ibarat tameng. Karena dia mencegah musuh menyerang [menyakiti] kaum Muslim. Mencegah masyarakat, satu dengan yang lain dari serangan. Melindungi keutuhan Islam, dia disegani masyarakat, dan mereka pun takut terhadap kekutannya.”

Begitu juga frasa berikutnya, “Yuqâtalu min warâ’ihi, wa yuttaqâ bihi” [Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng]:
أَيْ: يُقَاتَلُ مَعَهُ الْكُفَّارُ وَالْبُغَاةُ وَالْخَوَارِجُ وَسَائِرُ أَهْلِ الْفَسَادِ وَالظُّلْمِ مُطْلَقًا، وَالتَّاءُ فِي (يُتَّقَى) مُبْدِلَةٌ مِنَ الْوَاوِ لأنَّ أَصْلَهَا مِنَ الْوِقَايَةِ.

“Maksudnya, bersamanya [Imam/Khalifah] kaum Kafir, Bughat, Khawarij, para pelaku kerusakan dan kezaliman, secara mutlak, akan diperangi. Huruf “Ta’” di dalam lafadz, “Yuttaqa” [dijadikan perisai] merupakan pengganti dari huruf, “Wau”, karena asalnya dari lafadz, “Wiqâyah” [perisai].”

Mengapa hanya Imâm/Khalîfah yang disebut sebagai Junnah [perisai]? Karena dialah satu-satunya yang bertanggungjawab sebagai perisai, sebagaimana dijelaskan dalam hadits lain:
«الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ».

“Imam/Khalifah itu laksana penggembala, dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap gembalaannya.” [Hr. Bukhari dan Muslim]

Menjadi Junnah [perisai] bagi umat Islam, khususnya, dan rakyat umumnya, meniscayakan Imâm harus kuat, berani dan terdepan. Bukan orang yang pengecut dan lemah. Kekuatan ini bukan hanya pada pribadinya, tetapi pada institusi negaranya. Kekuatan ini dibangun karena pondasi pribadi dan negaranya sama, yaitu akidah Islam. Inilah yang ada pada diri Nabi shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama dan para Khalifah setelahnya, sebagaimana tampak pada surat Khalid bin al-Walid:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، مِنْ خَالِدٍ بْنِ الْوَلِيْدِ إِلَى مُلُوْكِ فَارِسٍ، فَالْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ حَلَّ نِظَامَكُمْ وَوَهَّنَ كَيْدَكُمْ، وَفَرَّقَ كَلِمَتَكُمْ… فَأَسْلِمُوْا وَإِلاَّ فَأَدُّوْا الْجِزْيَةَ وَإِلاَّ فَقَدْ جِئْتُكُمْ بِقَوْمٍ يُحِبُّوْنَ المَوْتَ كَمَا تُحِبُّوْنَ الْحَيَاةَ

“Dengan menyebut asma Allah, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Khalid bin al-Walid, kepada Raja Persia. Segala puji hanya milik Allah, yang telah menggantikan rezim kalian, menghancurkan tipu daya kalian, dan memecahbelah kesatuan kata kalian.. Maka, masuk Islamlah kalian. Jika tidak, bayarlah jizyah. Jika tidak, maka aku akan datangkan kepada kalian, kaum yang mencintai kematian, sebagaimana kalian mencintai kehidupan.”

Ketika ada wanita Muslimah yang dinodai kehormatannya oleh orang Yahudi Bani Qainuqa’ di Madinah, Nabi shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama melindunginya, menyatakan perang kepada mereka, dan mereka pun diusir dari Madinah. Selama 10 tahun, tak kurang 79 kali peperangan dilakukan, demi menjadi junnah [perisai] bagi Islam dan kaum Muslim. Ini tidak hanya dilakukan oleh Nabi, tetapi juga para Khalifah setelahnya. Harun ar-Rasyid, di era Khilafah ‘Abbasiyyah, telah menyumbat mulut jalang Nakfur, Raja Romawi, dan memaksanya berlutut kepada Khilafah. Al-Mu’tashim di era Khilafah ‘Abbasiyyah, memenuhi jeritan wanita Muslimah yang kehormatannya dinodai oleh tentara Romawi, melumat Amuriah, yang mengakibatkan 9000 tentara Romawi terbunuh, dan 9000 lainnya menjadi tawanan. Pun demikian dengan Sultan ‘Abdul Hamid di era Khilafah ‘Utsmaniyyah, semuanya melakukan hal yang sama. Karena mereka adalah junnah [perisai].

Umat Islam, Khilafah dan Khalifahnya sangat ditakuti oleh kaum Kafir, karena akidahnya. Karena akidah Islam inilah, mereka siap menang dan mati syahid. Mereka berperang bukan karena materi, tetapi karena dorongan iman. Karena iman inilah, rasa takut di dalam hati mereka pun tak ada lagi. Karena itu, musuh-musuh mereka pun ketakutan luar biasa, ketika berhadapan dengan pasukan kaum Muslim. Kata Raja Romawi, “Lebih baik ditelan bumi ketimbang berhadapan dengan mereka.” Sampai terpatri di benak musuh-musuh mereka, bahwa kaum Muslim tak bisa dikalahkan. Inilah generasi umat Islam yang luar biasa. Generasi ini hanya ada dalam sistem Khilafah.

Sebaliknya, meski kini kaum Muslim mempunyai banyak penguasa, tetapi mereka bukanlah Imâm yang dimaksud oleh hadits tersebut. Apa buktinya?

Karena Imâm di dalam hadits tersebut adalah penguasa kaum Muslim yang memimpin negara yang sangat kuat, ditakuti kawan dan lawan. Karenanya, bukan hanya agama, kehormatan, darah dan harta mereka pun terjaga dengan baik. Karena tak ada satu pun yang berani macam-macam. Bandingkan dengan saat ini, ketika al-Qur’an, dan Nabinya dinista, justru negara dan penguasanya membela penistanya. Ketika kekayaan alamnya dikuasai negara Kafir penjajah, jangankan mengambil balik, dan mengusir mereka, melakukan negosiasi ulang saja tidak berani. Bahkan, merekalah yang memberikan kekayaan alamnya kepada negara Kafir, sementara di negerinya sendiri rakyat terpaksa harus mendapatkannya dengan susah payah, dan dengan harga yang sangat mahal. Ketika orang non-Muslim menyerang masjid, membunuh mereka, bukannya mereka dilindungi dan dibela, justru penyerangnya malah diundang ke istana.

Karena itu, makna hadits di atas dengan jelas dan tegas menyatakan, bahwa Khilafahlah satu-satunya pelindung umat, yang menjaga agama, kehormatan, darah dan harta mereka. Khilafahlah yang menjadi penjaga kesatuan, persatuan dan keutuhan setiap jengkal wilayah mereka. Karena itu, hadits di atas sekaligus meniscayakan adanya Khilafah.

Tetapi, syaitan dan teman-temannya, selalu mengatakan sebaliknya, fal’iyâdzu bi-Llâh.[]
______


______ 

Silakan share, semoga menjadi amal jariyah

Subuh Berjamaah Tanjungbalai: Syariat Islam adalah Solusi Bukan Ancaman



Dakwahsumut.com, Tanjungbalai(9/12),- Aliansi Umat Islam Kota Tanjungbalai kembali menggelar Shalat subuh berjamaah dan dilanjutkan dengan Tausiyah di Masjid Syuhada Pulo Simardan Kota Tanjungbalai. Gerakan subuh berjamaah yang ke 46 tersebut dihadiri jamaah masjid syuhada,  berbagai tokoh ormas, pemuda ,TNI dan Polri.

Gerakan subuh berjamaah tersebut disambut baik pihak BKM Masjid Syuhada melalui ketuanya beliau mengapresiasi kegiatan tersebut.
Ustadz Muhammad Ali Rukun SpdI dalam tausiyah menyampaikan tema terkait seutar maulid nabi sebagai momentum persatuan dan kebangkitan umat.

Ustadz Ali menjelaskan Rasulullah diutus kedunia ini adala pembawa risalah Rahmat bagi sekaliam alam.
Menurut beliau Islam Rahmatan lil 'alamin dapat terwujud ketika umat Islam menjalankan syariahNya.
"Konsekuensi keimanan kita adalah tunduk dan patuh terhadap syariahNya, bukan malah menganggap syariat Islam sebagai ancaman tapi syariat Islam adalah solusi berbagai permasalah umat "' ujar beliau.

" Seharusnya yang menjadi ancaman saat ini adalah Organisasi Papua Merdeka(OPM) yang baru-baru ini membunuhi 31 pekerja warga Indonesia namun mereka hanya disebut Kelompok Kriminal Bersenjata(KKB), sementara umat Islam  kerap dituduh teroris bahkan yang masih terduga teroris langsung ditembak mati tanpa proses pengadilan"  ungkap beliau

Kegiatan subuh berjamaah yang dibawakan ustadz Indra BMT Ketua GPII Tanjungbalai tersebut berjalan lancar diakhiri dengan do'a dan photo bersama[] ar

MERAWAT SPIRIT BELA TAUHID




Terharu. Bangga. Sekaligus takjub. Tentu diliputi rasa syukur luar biasa kepada Allah SWT. Menyaksikan Al-Liwa dan ar-Rayah berkibar dengan gagah pada Acara “Reuni 212” Aksi Bela Tauhid. Berkibar tak hanya satu-dua. Namun, jutaan Al-Liwa dan ar-Rayah. Bendera Rasulullah saw. itu diusung dengan penuh semangat dan kebanggaan oleh jutaan umat Islam yang berkumpul di Monas dan sekitarnya, Ahad, 2 Desember 2018 lalu. Mereka berasal dari berbagai latar belakang suku, bahasa, organisasi, kelompok dan mazhab. Mereka bukan hanya berasal dari Jakarta dan sekitarnya. Namun, dari berbagai kota dan daerah. Bukan hanya dari Jawa. Namun, banyak yang datang dari luar Jawa: Dari Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. Bahkan ada yang sengaja datang dari luar negeri seperti Malaysia, Australia dan beberapa negeri lain. Aksi besar dan super damai itu pun diliput oleh berbagai media di luar negeri. 
Sebelumnya mungkin tak terbayangkan, Al-Liwa dan ar-Rayah, yang di negeri ini senantiasa dengan konsisten diusung dan disosialisasikan oleh HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) dalam berbagai aksinya, bisa dikibarkan oleh oleh jutaan umat Islam sebagaimana saat ini. Padahal HTI sendiri telah lama dipersekusi. Diintimidasi. Sekaligus dikriminalisasi. Puncaknya HTI dibunuh dengan dicabut status badan hukum perkumpulan (BHP)-nya. Namun, rezim di negeri ini sejak awal salah menduga. “Nyawa” Hizbut Tahrir bukan terletak pada BHP-nya. Namun, pada ideologinya. Itulah ideologi (mabda) Islam yang senantiasa hidup di dalam setiap dada para aktivisnya. Sekaligus berusaha dihidupkan dan disebarluaskan di dada-dada setiap Muslim. Bukan hanya di Indonesia. Namun, di seluruh dunia.
Menyaksikan jutaan Al-Liwa dan ar-Rayah berkibar seolah membenarkan satu jargon: “Satu Dibakar, Jutaan Berkibar!” Ya, aksi pengibaran jutaan Al-Liwa dan ar-Rayah di kawasan Monas pekan lalu tidak lain merupakan reaksi langsung terhadap aksi pembakaran Bendera Tauhid itu oleh oknum Banser di Garut beberapa waktu lalu. 

Jelas, Aksi Bela Tauhid yang dilakukan oleh jutaan umat Islam itu sangat fenomenal. Aksi besar tersebut sekaligus membuktikan bahwa berbagai upaya dari rezim dan para pendukungnya untuk mengalihkan isu dengan terus mempropagandakan bahwa yang dibakar adalah Bendera HTI, bukan Bendera Tauhid, gagal total. Umat kini tak lagi bisa dibohongi. Mereka sekarang tak lagi mudah ditipu. Mereka sudah cerdas. Mereka sudah mulai sadar. Mereka kini paham bahwa Al-Liwa dan ar-Rayah adalah milik mereka. Bukan semata-mata milik Hizbut Tahrir.

Misi Utama Islam

Ya, Al-Liwa dan ar-Rayah adalah Bendera Tauhid. Bendera milik umat Islam. Tauhid itu sendiri adalah inti semua risalah yang dibawa oleh para nabi dan para rasul ke alam dunia. TawhîdulLâh adalah inti agama yang mereka bawa. Allah SWT berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami mewahyukan kepada dia bahwa tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku. Karena itu sembahlah Aku oleh kalian (TQS al-Anbiya' [21]: 25).

Allah SWT juga berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ 

Sungguh Kami telah mengutus rasul kepada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), "Sembahlah oleh kalian Allah saja dan jauhilah thâghût-thâghût itu (TQS an-Nahl [16]: 36).

Alhasil, tauhid adalah inti agama Islam. Tauhid sekaligus merupakan misi utama Islam. Misi Islam ini mengandung makna bahwa manusia hanya layak menyembah dan mengabdi kepada Allah SWT. Sebaliknya, mereka haram menyembah dan mempertuhankan sesama manusia. Inilah juga yang antara lain ditegaskan oleh Rasulullah saw. di hadapan penduduk Najran yang saat itu beragama Nasrani:

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنِّي أَدْعُوْكُمْ إِلَى عِبَادَةِ اللهِ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ...

“Amma badu. Sungguh aku menyeru kalian untuk hanya menghambakan diri kepada Allah dengan meninggalkan penghambaan kepada sesama
manusia….” (Al-Baihaqi, Dalâil an-Nubuwwah, 5/485; Ibnu Katsir, As-Sîrah an-Nabawiiyah, 4/101).

Pernyataan Rasulullah saw ini selalu diulang-ulang oleh para panglima Muslim saat mereka menyeberaluaskan Islam dengan dakwah dan jihad. Di antaranya oleh Ribi bin Amir, salah seorang juru runding dari pihak Islam saat Perang Qadisiyyah, di hadapan Rustum, salah seorang panglima Persia saat itu. Saat itu Rustum bertanya, “Untuk apa kalian (pasukan kaum Muslim, red.) datang kemari?” Ribi bin Amir menjawab:

اَللَّهُ جَاءَ بِنَا لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ، مِنْ جَوْرِ اْلأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ اْلإِسْلاَمْ...

“Allah telah mambawa kami ke sini agar kami mengeluarkan orang-orang yang Dia kehendaki, dari penyembahan kepada sesama manusia menuju penyembahan hanya kepada Allah; dari kezaliman agama-agama yang ada menuju keadilan Islam…” (Ath-Thabari, Târîkh ath-Thabari, 4/106, Ibn al-Atsir, Al-Kâmil fî at-Târîkh, 2/463).

Juru runding dari pihak kaum Muslim sebelumnya, yakni Zahrah bin Haubah, juga tegas berkata kepada Rustum, “Islam adalah agama yang haq (benar). Siapa saja yang membenci Islam akan terhina dan siapa saja yang berpegang teguh pada Islam akan mulia.” Lalu Rustum bertanya, “Agama macam apakah itu?” Zahrah bin Haubah menjawab:

أَمَّا عُمُوْدُهُ الَّذِيْ لاَ يَصْلُحُ إِلاَّ بِهِ فَشَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ...

Adapun pilar agama ini—yang tidak mungkin baik kecuali dengan pilar itu—adalah kesaksian bahwa: Tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah…” (Ibn al-Atsir, Al-Kâmil fî at-Târîkh, 1/413)

Konsekuensi Tauhid

Tauhid (tawhîd) dalam bahasa Arab merupakan bentuk mashdar dari fiil (kata kerja) wahhada-yuwahhidu-tawhîd[an]. Artinya, mengesakan sesuatu. Dengan demikian tawhîdulLâh bermakna mengesakan Allah SWT. Tidak mengakui keberadaan tuhan selain Allah SWT. Hanya menyembah Allah Yang Maha Esa.
Tauhid sejatinya melahirkan ketaatan mutlak hanya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Ketaatan hanya kepada Allah SWT tentu menafikan pihak lain untuk ditaati. Tauhid pun meniscayakan bahwa pembuat hukum yang wajib ditaati hanyalah Allah SWT. Dialah sebaik-baik pembuat aturan bagi manusia. Ketika seorang manusia tidak mau berhukum pada hukum Allah dan Rasul-Nya, tentu tauhidnya ternoda. Allah SWT berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim atas perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada keberatan di dalam hati mereka atas putusan yang kamu berikan dan mereka menerima keputusan itu dengan sepenuhnya (TQS an-Nisa [4]: 65).

Selain itu Allah SWT juga mengecam orang yang mengada-adakan hukum dengan menyatakan halal-haram untuk membatalkan hukum Allah-Nya.

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

Janganlah kalian mengatakan apa yang disebut-sebut oleh lidah kalian secara dusta, "Ini halal dan ini haram," untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sungguh orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung (TQS an-Nahl [16]: 116).

Imam Ibnu Abi al-Izz al-Hanafi dalam Syarh Aqidah Thahawiyah (2/267) mengatakan, “Sungguh jika seseorang meyakini bahwa hukum yang Allah turunkan tidak wajib, bahwa boleh dipilih, atau ia merendahkannya, padahal ia meyakini itu adalah hukum Allah, maka ini adalah kekufuran yang besar.”
Ketaatan pada hukum Allah SWT adalah refleksi tauhid seorang Muslim. Ia tidak akan menjadikan syariah Islam sebagai perkara yang boleh dipilih sesuka hati. Ia memahami bahwa memilih hanya syariah Islam adalah kewajiban. Ia pun akan menjauhkan diri dari sikap sombong dan meremehkan hukum-hukum Allah SWT. 

Merawat Spirit Bela Tauhid

Akhirul kalam, tentu spirit atau semangat bela tauhid harus terus dirawat. Ag
ar selalu tumbuh dan terus berkembang di tengah-tengah umat. Tak hanya muncul saat simbol-simbol Islam dihinakan. Tak hanya hadir saat syiar-syiar Islam direndahkan. Tak hanya mengemuka saat al-Quran dan kalimat tauhid dinistakan. Namun, yang jauh lebih penting, adalah saat hukum-hukum Allah SWT atau syariah Islam dicampakkan, sebagaimana yang terjadi saat ini. Karena itu spirit bela tauhid ini harus mewujud dalam visi sekaligus misi hidup seluruh umat Islam.
Jika seluruh kaum Muslim memang mengklaim bertauhid, maka tak ada hukum atau aturan yang wajib mereka laksanakan selain aturan dan hukum Allah SWT atau syariah Islam. Jika seluruh kaum Muslim mengaku membela kalimat tauhid, maka tak ada yang pantas mereka lakukan selain berupaya sekuat tenaga untuk menegakkan aturan-aturan Allah SWT atau syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Itu berarti, mereka wajib terlibat bersama-sama secara konsisten menyerukan pentingnya penerapan syariah Islam secara total. Tak hanya dalam urusan ibadah, namun juga dalam urusan ekonomi, pendidikan, politik, pemerintahan, hukum, peradilan, dsb. 
Alhasil, mari kita siapkan Aksi Bela Tauhiud selanjutnya: mendorong dan menuntut penguasa untuk segera menerapkan syariah Islam secara kâffah. []

Hikmah:

Rasulullah saw bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ...

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah…” (HR Muttafaq 'alaih).



Buletin Dakwah Kaffah No. 068
[29 Rabiul Awwal 1440 H | 07 Desember 2018]

Perempuan Berdaya di Era Kapitalis, Benarkah?


Oleh : Rauza Husna, S.Pd (Pendidik & Aktivis Muslimah)

Kita tentu masih ingat bagaimana program unggulan tahun 2016 ‘three end‘, yakni akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, akhiri perdagangan manusia, akhiri kesenjangan ekonomi, yang didengungkan oleh KPPA sebagaimana hal ini juga menjadi visi unggulan trisakti dan nawacita presiden yakni ‘terwujudnya perempuan dan anak yang berkualitas, mandiri, dan berkepribadian’.

Untuk menindaklanjuti visi tersebut maka Gubernur Sumut juga menyuarakan ‘Sumut akan maju jika kaum perempuan dan anak maju’ tapi disayangkan untuk memajukan kaum perempuan dengan pemberdayaan ala sistem kapitalis. Pastilah yang dirugikan kaum perempuan itu sendiri, mengapa demikian? karena perempuan sebagai objek komoditas yang layak dieksploitasi demi mendatangkan materi. Standar kualitas hidup yang dipakai adalah standar kapitalis yang lebih menyasar eksploitasi finansial, sehingga perempuan menjadi objek kapitalisasi melalui hidup konsumtif. Perhatian terhadap perempuan hanyalah kamuflase untuk mengamankan tujuan keberlangsungan eksploitasi ekonomi. Hakikatnya akan menjadikan perempuan semakin menderita. Dan berduka melihat keadaan anak-anaknya yang tidak kuat dalam menghadapi tantangan zaman dan terjebak dengan pergaulan bebas dan narkoba.

Realita yang terjadi ketika perempuan diberdayakan dalam sistem kapitalis adalah mereka ‘mengenyampingkan’ sektor domestiknya dan menomorsatukan sektor publiknya, ‘kerja’. Terjadilah pelalaian terhadap kewajibannya di rumah tangga, sehingga dapat memicu kekerasan rumah tangga, ketidakharmonisan keluarga bahkan sampai terjadi keretakan keluarga yakni perceraian. Bahkan para TKI sering mendapatkan kekerasan sampai pada pembunuhan oleh para majikan.
Sebenarnya sistem kapitalis tidak memahami secara jelas fitrah perempuan, seharusnya perempuan fokus pada peran ibu yang mendidik generasi bangsa bukan sebagai kepala keluarga menggantikan peran suami sehingga beban mencari nafkah ada di pundak perempuan bahkan sampai kepada beban kewajiban ekonomi negara.
Peran perempuan dalam Islam

Pemberdayaan perempuan dalam Islam adalah upaya pencerdasan muslimah hingga mampu berperan menyempurnakan seluruh kewajiban dari Allah SWT, baik diranah domestik maupun publik yakni ditandai dengan mampunya ia berperan menjadi bagian dari masyarakat yang berkontribusi besar bagi kemajuan masyarakat. Pemberdayaan perempuan bertujuan untuk menjadikan perempuan unggul sebagai ummun wa robbatul bait yakni ibu dan pengatur rumah tangga, sebagai mitra laki-laki dalam mencetak generasi unggul, cerdas, bertaqwa. Disektor publik yakni ditandai dengan mampunya ia berperan menjadi bagian dari masyarakat yang berkontribusi besar bagi kemajuan masyarakat.


Ketika perempuan berperan sebagai pengatur rumah tangga, dialah penanggung jawab penuh terhadap peran tersebut demi keberlangsungan rumah tangganya. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda ‘ wanita adalah penghulu dirumahnya, wanita adalah pengembala dirumah suaminya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang pengembalaannya ‘, maksud dari hadist tersebut baik buruknya keadaan rumah tangga tergantung pada baik tidaknya perempuan menyelesaikan tugas tersebut. Yang harus diperhatikan, bahwa perempuan sebagai pegatur rumah tangga bukan berarti sebagai pembantu rumah tangga. Yang dituntut dari seorang pengatur rumah tangga adalah tanggung jawab terhadap pengelolaan rumah tangga sebatas kemampuannya. Jika ia tidak mampu maka suaminya dapat meringankannya dengan cara membantunya, atau menyediakan tenaga pembantu, tapi jika tidak maka Rasulullah SAW, sudah mengajarkan kita agar tetap bersabar menerimanya. Inilah keadilan dalam Islam dan kesesuaiannya dalam fitrah manusia.
Sementara itu kesuksesan perempuan di sektor publik, menjadi bagian dari masyarakat yang berkontribusi besar untuk kemajuan masyarakat, bekerjasama dengan laki-laki untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera berdasarkan tatanan Islam. Sebagaimana firman Allah SWT : "Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan sebagaimana mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh yang ma’ruf, mencegah yang munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan taat kepda Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana" (TQS At-Taubah : 71)

Akan tetapi, dalam saat Islam membolehkan perempuan bekerja diluar rumah dengan syarat tidak mengabaikan aktivitasnya sebagai pengatur rumah tangga, dan mendapatkan izin dari suaminya dan terikat pada hukum syara’ pada saat keluar rumah misalnya interaksi tdk berkhalwat, dll. Ia boleh saja berkontribusi langsung dalam mendukung pembangunan masyarakat misalnya sebagai guru, dosen, manager, akuntan, dan sebagainya, karena hal ini akan dibutuhkan juga untuk kemajuan masyarakat.

Tak lupa pula Allah juga memberi kewajiban berdakwah tidak hanya kepada laki-laki saja tapi juga kepada perempuan. Dalam rangka menyeru ditengah-tengah masyarakat terkait dengan ideologi Islam, amar ma’ruf kepada penguasa. Sebagaimana firman Allah SWT: "Hendaklah diantara kalian ada segolongan ummat yang menyeru kepada islam, mengajak kepada kebenaran dan mencegah kemunkaran" (TQS Ali Imran : 104)

Perempuan juga diberikan hak pilih dalam memilih penguasa, sebagimana laki-laki. Inilah keseimbangan yang didapat jika sistem Islam yang diterapkan.
Untuk itu, kita harus mewaspadai arah pemberdayaan yang keliru, upaya yang ingin menyelesaikan persoalan kemajuan bangsa dengan pemberdayaan perempuan namun tidak sejalan dengan konsep pemberdayaan perempuan dalam Islam. Yang sangat jelas akan mengeksploitasi perempuan agar meninggalkan fitrahnya sebagi Ibu dan pengatur rumah tangga.

Saatnya tinggalkan sistem kapitalisme dan beralih kepada penerapan sistem Islam secara kaffah dibawah naungan Khilafah.
Wallahua'lambishawab.

Reuni Aksi 212 Wujud Cinta Pada Islam


Penulis : Eva Arlini (Aktivis & Penggiat Literasi)

Suatu kali di sebuah pasar tradisional terjadi percekcokan antara penjual dan pembeli. Teriakan plus caci maki pun keluar dari lisan masing – masing. Seorang remaja pria di dekat si penjual bereaksi. Ia turut mengeluarkan kata – kata kasar pada si pembeli sebagai pembelaan terhadap si penjual yang ternyata ibunya sendiri. Perselisihan itu biasa. Dan menyikapi perselisihan di ranah publik dengan cara kurang bijak seakan menjadi ciri khas orang Medan. Namun bukan itu yang hendak penulis soroti. Penulis ingin menanggapi pembelaan remaja pria terhadap ibunya tersebut. Ternyata jika kita mencintai sesuatu, kita akan menunjukkan suatu sikap sebagai wujud cinta kita.

Itulah yang juga ditunjukkan oleh umat Islam terhadap agamanya. Belum lama terjadi peristiwa yang sangat serius, yaitu pembakaran bendera tauhid. Bagi umat Islam kalimat tauhid sangat sakral. Kalimat tauhid menjadi tanda kemusliman seseorang. Maka muslim manapun yang mencintai Islam pasti tidak akan terima kalimat tauhid dibakar. Meski mereka barangkali tidak memahami bahwa bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid itu adalah rayyah-nya Rasulullah saw, pasti tetap timbul marah.

Kekecewaan umat Islam atas pembakaran bendera tauhid seyogyanya diobati dengan sanksi yang adil oleh pihak berwajib terhadap pelaku. Namun lagi – lagi hukum tak bisa diharapkan untuk bertindak adil. Pelaku penista agama itu hanya dihukum sepuluh hari penjara dan denda sebanyak dua ribu rupiah. Umat bertanya, jika yang dibakar adalah foto presiden apakah hukumannya akan sama?

Kezhaliman terhadap Islam tentu semakin meningkatkan semangat keislaman kaum muslimin. Salah satu wujud cinta umat Islam pada agamanya ialah mengadakan kembali reuni aksi 212 pada 2 Desember mendatang di Monas Jakarta. Tak peduli pada suara – suara sumbang yang meragukan keikhlasan mereka, agenda tersebut tetap ingin diselenggarakan . Karena cinta yang ada di hati, pasti tampak lewat perbuatan. Alhamdulillah umat kini makin menyadari pentingnya persatuan. Permusuhan para pembenci Islam semakin menjadi jadi dan hanya bisa dihadapi saat umat Islam bersatu dalam naungan kalimat tauhid la ilahaillallah muhammadurrasulullah. Semoga Allah swt menolong orang – orang beriman. Aamiin.
Wallahu a’lam bishawab.

FENOMENA TULANG RUSUK MENJADI TULANG PUNGGUNG



Oleh : Wahyu Astrina, SE (Aktivis Muslimah Medan)

Mengahadapi tantangan zaman yang serba sulit, memaksa seorang ibu yang harusnya hanya menjalankan tugasnya sebagai ummun wa rabbatul bait seakan-akan hanyalah sebuah angan-angan semata pada sistem hari ini. Kini, menjadi ibu harus punya super power didalam menghadapi tekanan diberbagai aspek kehidupan. Mulai dari aspek ekonomi, sosial bahkan perpolitikan dan masih banyak lagi. Hiruk pikuk dunia yang sekarang dirasakan seolah berlawanan dengan pemikiran dan fitrah sebagai seorang manusia bahkan seorang ibu. Ibu hari ini seakan tidak ada pilihan lain selain ikut berjibaku dalam dunia pekerjaan didalam membantu perekonomian rumah tangga bahkan terkadang ada pula yang mengambil alih tugas seorang ayah tanpa meninggalkan peran dan tugasnya sebagai ibu dan istri. Pemandangan sudah menjadi biasa ketika di sepanjang jalan bahkan di depan gerbang sekolah hampir semua pedagang adalah seorang perempuan, bahkan tak jarang ada pula yang membawa anaknya karna tak ada yang menjaganya di rumah. Bagaimana tidak, pendapatan yang didapat seorang suami tidak setimpal dengan pengeluaran yang dibutuhkan untuk mengarungi mahligai rumah tangga bersama keluarganya.

Tidak cukup sampai disitu, cita-cita untuk mendidik anak menjadi anak yang sholeh juga bagaikan pungguk merindukan bulan, bagaimana tidak ibu yang harusnya mendidik dan mengayomi anak di rumah ikut mencari nafkah untuk biaya pendidikan yang tidak sedikit. Lagi-lagi, ibu tidak meninggalkan tugasnya sebagai seorang ibu. Dia harus mengajarkan anaknya dirumah sebagaimana perintah di dalam Islam bahwa rumah adalah madrasah bagi anak dan lingkungan pertama bagi anak. Semua dilakukan berharap anaknya akan memiliki kualitas lebih baik dari dirinya. Belum lagi perannya sebagai seorang istri yang harus mengurus suami.

Terbayangkan gimana supernya menjadi seorang perempuan, ibu dan istri dalam sistem hari ini. Harus menambah income rumah tangga, melaksanakan perannya sebagai istri, mendidik anak menjadi sholeh, menjaga akhlak anak dari hiruk pikuk kelakuan remaja kapitalis, menjaga anak dari tingginya tingkat kriminalitas, memberikan kehidupan yang layak bagi anak, mengayomi dan memberikan kasih sayang yang cukup dan juga berdakwah kepada ummat. Bayangkan berapa jam yang dibutuhkan seorang ibu untuk ini semua. Kira-kira 24 jam juga masih kurang.

Fakta yang terjadi saat ini terkadang bukanlah seorang laki-laki atau ayah tidak ingin mencari pekerjaan. Kadang kala upah yang ditawarkan sungguh berada jauh di bawah standar. Sehingga bukan pilih-pilih pekerjaan hanya saja disini seperti terjadi penzholiman terhadap para pekerja. Lagi-lagi, harusnya pemerintah berada dalam pengawasan pengaturan upah para pekerja. Memang, pemerintah sudah menetapkan UMR, UMP, dan UMK namun pada kenyataannya masih banyak perusahaan yang membandel yang menawarkan upah di bawah standard. Ditambah lagi meningkatnya angka pengangguran karena banyak tenaga manusia sudah di ganti dengan tenaga mesin. Belum lagi ketika pekerjaan yang ditawarkan bertentangan dengan syariat.

Keadaan yang terjadi saat ini tentu saja tidak terlepas dari sistem yang di terapkan di negeri kita tercinta saat ini. Yang dibutuhkan saat ini bukanlah program-program pragmatis dan solusi yang bersifat sementara. Misalnya pasar murah, dana bos dan lain sebagainya, yang kita butuhkan justru solusi mendasar berupa sistem hidup yang diterapkan yang sesuai fitrah manusia tentunya yang berasal dari Sang Pencipta manusia yaitu Allah. Dalam hal ini apa yang menjadi sumber penyebab seorang ibu bekerja dan mencari nafkah. Yang pertama, tidak adanya jaminan finansial yang aman di dalam memenuhi kebutuhan keluarga. kedua, tidak da jaminan pendidikan yang layak dan berkualitas untuk masa depan anak dan melahirkan generasi cemerlang. Ketiga, tidak adanya jaminan keamanan agar semuanya berjalan lancar. Tingginya angka kriminalitas terhadap anak sehingga ibu terlalu was-was dalam berbagai aspek dalam memproses anak untuk melahirkan generasi tangguh.

Faktanya sistem sekuler demokrasi yang sekilas memiliki cita-cita menarik namun selalu berakhir dramatis. Hampir di semua aspek kehidupan berakhir pada air mata bagi para pengikutnya terutama yang menjadi korban adalah para ibu dan istri.

Berbeda halnya dengan Islam, dimana ketika seorang suami tidak dapat memberikan kecukupan nafkah keluarganya, maka negara Islam yang berdasarkan aqidah Islam akan memberikan bantuan kepada keluarga tersebut. Misalnya dengan memberikan modal untuk usaha atau memberikan lapangan pekerjaan kepada kepala keluarga yaitu suami. Sehingga menjadikan peran ibu pada posisi sesungguhnya yaitu ummu warabbatul bait, yang dapat mengatur rumah tangga dan mendidik anak dengan optimal tanpa memikirkan mencari nafkah. Maka kini saatnya kita menggunakan aturan yang Allah ciptakan, yang sesuai dengan fitrah dan akal manusia. Kenapa demikian? ya jelas, ketika kita menciptakan sebuah alat atau permainan, maka ada buku petunjuk yang harus kita pelajari terlebih dahulu, agar barang itu tidak rusak dan awet. Sama halnya dengan kita, yang lebih tahu tentang hidup dan cara kerja kita hanya Allah. Sehingga wajar saja kita harus mengembalikan segala tindakan kita sesuai perintahnya. Penerapan hukum Islam juga tidak bisa hanya mencaplok-caplok saja. Akan tetapi penerapannya harus dengan penerapan Islam Kaffah agar Islam Rahmatal Lil Alamin dapat dirasakan oleh semua agama lain. Dapat dipastikan mampu menjadi panduan dalam memberikan solusi atas setiap problematika yang dihadapi manusia.

Inilah segelintir aturan-aturan Islam secara praktis diterapkan didalam institusi Islam. Jika diterapkan secara sempurna dapat dipastikan akan dapat melahirkan cita-cita keluarga bahagia dibawah naungan Islam. Generasi cemerlang akan terbentuk dan para ibu-ibu tangguh akan fokus menjalankan tugasnya dengan nyaman dan tenang karena tanggung jawab yang dia rasakan saat ini sudah berkurang karena sudah dijamin oleh penguasa. Wallahua'lambishawab.

Melintir Jalan Taqdir


Oleh: Andika Mirza (Aktivis Dakwah, Pegiat Literasi).
.
Adalah sebuah keniscayaan akan kembalinya Islam menjadi tatanan kehidupan, sebagaimana yg telah menjadi bisyarah (kabar gembira) Rasul dn Wa'd (janji) Allah, bahwa kebangkitan Islam akan kembali, baik dengan adanya kita dlm barisan yg turut serta dlm memperjuangkannya, ataupun tdk.
.
Pun dengan datangnya ajal, rezeki, dan jodoh adalah sebuah ketetapan yg tak bisa ditunda kehadirannya, dipercepat datangnya, atau dihadang kemunculannya. Sama sekali tak ada andil kita untuk mencoba merubahnya. Sebab semua sdh tertulis di lauh mahfudz yg menjadi ketetapan yg akan menimpa setiap hamba.
Kesemua itu; ajal, rezeki, jodoh yg merupakan komponen yg padu yg pasti kehadirannya, tanpa perlu diundang dia akan bertamu, dan tak perlu repot dihadang sebab dia akan tetap menyapamu.
.
Hanya saja, ada konsep kausalitas (sebab-akibat) yg perlu diperhatikan, sebagai bentuk "ikhtiar (usaha)" dlm memperoleh dan menjelang ketiga komponen tadi (ajal, rezeki, jodoh, pen). Yg mana output dr usaha ini bukanlah untuk mengubah (mempercepat, menunda, menghadang, pen) datangnya ketiga komponen td, melainkan semata" ingin menunjukkan keseriusan kita dlm menggapai nilai di hadapan Allah.
.
Ringkasnya, bukanlah usaha yg kita lakukan tadi sebagai Sebab kemunculan dan datangnya ketiga komponen tadi, sama sekali tdk ad pengaruhnya.
Usaha kita tak mampu mendatangkan rezeki sama sekali, juga tak mampu menghalangi maut menjelang suatu hari. Sama sekali tdk! 
Lantas apa yg dituju dr setiap usaha kita? Alasan dr setiap usaha kita adalah Nilai, nilai di hadapan Allah atas segala upaya kita; nilai itu berupa pahala dan dosa. Jika wajib maka ada nilai pahala ketika dilaksanakan, dan dosa ketika diabaikan, begitu seterusnya (sunnah, mubah, makruh, haram, pen).
.
Intinya, upaya yg kita lakukan semata" untuk mencari nilai di hadapan Allah, tanpa sedikitpun mampu mengubah ketetapan-Nya. Jika ingin mendapat nilai pahala berlimpah, maka bekerjalah, dng begitu ada pahala yg diperoleh dr setiap cucuran keringat. Namun, pekerjaan td tak sama sekali mampu mendatangkan atau mengahadang rezeki dr Allah, sebab itu adalah ketetapan Allah yg tak bisa diubah.
.
Pun sama halnya dengan kebangkitan Islam, adalah sebuah keniscayaan yg telah digambarkan dlm bisyarah (kabar gembira) Rasulullah dan merupakan Wa'd (janji) Allah.
.
Apakah kebangkitannya bergantung kpd perjuangan kita? 
Maka jawabnya sama sekali tidak!
Kita turut serta berjuang, acuh tak peduli, atau menghadang setengah mati, tetap kebangkitan Islam itu akan kembali. Ada atau tanpa kita sama sekali Islam tetap akan berjaya kembali.
.
Lantas, di mana posisi eksistensi perjuangan kita? 
Persis seperti di bagian pertama tulisan ini, sama halnya dengan ketiga komponen (ajal, rezeki, jodoh) tadi, maka begitulah inti sebenarnya dr perjuangan dakwah ini.
.
Bukan perjuangan ini yg membuat Islam bangkit kembali, bukan pula barisan penghadang (musuh Allah) yg membuat Islam terpuruk mati, tapi ketetapan Allah lah yg akan terjadi. Bila Allah menetapkan sudah saatnya Islam bangkit, maka bangkitlah ia, tanpa ad yg bisa mempercepat nya, atau mampu menghadangnya.
.
Dari itu, eksistensi perjuangan dakwah kita, semata" untuk menunjukkan keseriusan kita di hadapan Allah untuk menggapai nilai yg ditawarkan Allah (pahala yg berbuah syurga, atau dosa yg berujung neraka).
.
Keikutsertaan kita dlm barisan dakwah Islam adalah demi diri kita, untuk memperoleh pahala berlimpah karena menolong agama Allah, dan serius menjalankan kewajiban menegakkan Syariat Allah melalui dakwah, dakwah kebangkitan Islam, bangkit di bawah institusi Syari'at, yg kita kenal dengan sebutan "Khilafah Islamiyah".
.
Lantas, posisi mana yg akan kita ambil?
Posisi para pejuang yg dijanjikan pahala berlimpah yg berbuah syurga? 
Atau cukup menjadi penonton tanpa memperoleh nilai apa"?
Atau malah menjadi penghadang yg sejatinya hanya mengundang dosa dn murka yg berujung pada siksa di neraka?
.
Silahkan tentukan, selagi nyawamu masih milikmu! 
.