Slider

Berita Video

Berita Pilihan

Kabar Medan

Tsaqofah

Sudut Pandang

Dinamika Dakwah

Berita Foto

Hukum Dalam Sistem Sekuler Menghina Agama


Oleh: Cici Aprisa, S.Pd
(Pemerhati Perempuan dan Generasi)

Bagai tersambar petir begitulah rasanya hati kaum muslimin, karena beberapa minggu lalu kita dihebohkan oleh sekelompok oknum banser yang dengan sengaja membakar bendera tauhid yang diduga bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). 

Melihat kejadian itu berbagai umat Islam diberbagai daerah kembali turun ke jalan di seputar monas, mereka menuntut keadilan atas pembakaran bendera tauhid. Bagaimana mungkin kaum muslimin tidak terusik ketika kalimat tauhid dilecehkan.

Maka umat Islam menuntut agar pelaku diberikan hukuman karena telah menistakan simbol suci umat Islam.

Karena umat menuntut agar pelaku diberikan hukuman, maka pelaku tersebut dilakukan sidang untuk memberikan hukuman. Sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Garut, Jalan Merdeka, Tarogong Kidul, Senin (05/11/2018). 

Majelis hakim Hasanuddin membacakan putusan sekitar pukul 12.50 wib. Namun faktanya F dan M pembakar bendera berkalimat tauhid yang disebut polisi kalimat HTI setelah disidang keduanya dikenai tindak pidana ringan (tipiring). 


Majelis hakim menjatuhkan hukuman 10 hari penjara dan dan denda Rp. 2 ribu. Keduanya telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah dan dijatuhi kurungan. 
Majelis hukum berdasarkan keterangan para saksi dan terdakwah, serta melihat barang bukti menilai bahwa F dan M telah terbukti melanggar pasal KUHP dengan membuat gaduh.


Pasal 17 KUHP merupakan tindak pidana ringan. Pasal ini menitikberatkan pada dengan sengaja mengganggu rapat umum, dengan mengadakan huru hara, atau membuat gaduh. 

Jika dilihat dari waktu dan tempat kejadiannya, kejadian itu dilakukan setelah hari santri, sehingga pembakaran tersebut tidak mengganggu rapat umum atau peringatan hari santri dan tiga rapat umum atau peringatan hari santri dan juga tidak terjadi huru hara pada saat itu. 

Maka berdasarkan vonis hukum yang telah dilakukan maka penegak hukum hanya memfokuskan pada dampak perbuatan, bukan pada objek perbuatan, sedangkan objek perbuatannya adalah bendera tauhid.

Penetapan tersangka dan vonis menggunakan pasal 174 KUHP, penegak hukum telah melakukan peredaman terhadap kemarahan umat, bukan untuk menegakkan keadilan kepada pelaku penista agama.

Vonis yang telah diberikan oleh penegak keadilan terhadap penista agama, ini sama saja menghina agama, masyarakat, serta hak-hak serta rasa keadilan masyarakat. Aparat penegak hukum tersebut telah menodai hakikat nilai dan dimensi ruhaniah hukum dan keadilan yang mereka buat sendiri.


Mengapa hal itu terjadi?
Hukum dalam sistem kapitalis sekuler , hukum yang dibuat oleh manusia, maka sudah jelas hukum akan dibuat sesuai dengan kepentingan sipembuat hukum, begitupun dengan hari ini akan nampak oleh kita sering kali hukum hanya sesuai dengan kepentingan penguasa, suka-suka penguasa, maka benarlah hukum itu akan selalu runcing kebawah namun tumpul ke atas. 

Sering kita lihat, ketika yang melakukan tindakan yang melanggar hukum adalah orang-orang yang berkuasa, maka hukum akan tampak lemah baginya, cobalah lihat betapa banyak di negeri ini penguasa yang melanggar hukum namun hukuman seolah tak berlaku baginya, sehingga mereka akan seenaknya saja berulang tanpa merasa bersalah dalam melanggar hukum yang telah dibuatnya sendiri.

Dan begitu juga betapa banyak ketika rakyat lemah yang melanggar hukum, meskipun kadang mereka tidak berniat untuk melanggar hukum, maka hukum akan terasa tajam kepadanya, dan seolah kesalahannya begitu besar. Masih teringat ketika berita seorang nenek yang hanya mencuri sepotong ubi demi memenuhi kebutuhannya diadili dengan.begitu keras, namun ketika penguasa yang mencuri uang rakyat sehingga begitu banyak rakyat menderita, seolah tak berlaku hukuman baginya.

Termasuk dalam kasus hari ini terhadap pelecehan bendera tauhid, para banser hanya diadili dengan kurungan 10 hari penjara yang ibaratnya hanya menginap 10 hari dipenjara, makan gratis dan tidur enak saja dalam penjara tanpa memikirkan biaya untuk hidup dalam waktu sepuluh hari karena sudah ditanggung oleh penjara, dan juga membayar uang Rp. 2 Ribu, seolah sama dengan sewa parkir. dan semua orang pasti gak akan menolak ketika mereka dikatakan bersalah dengan hukum yang semudah itu. 

Begitulah dalam sistem kapitalisme, hukum tak akan pernah berlaku adil bagi manusia, dan keadilan itu tak akan pernah di dapatkan, maka tiada solusi yang bisa menyelesaikan ketimpangan hukum hari ini, kecuali harus kita campakkan hukum yang dibuat oleh manusia itu sendiri, karena manusia adalah makhluk yang lemah dan terbatas yang lemah dan terbatas maka tak mungkin mereka akan mampu membuat hukum yang adil untuk manusia lain. Maka sudah sepatutnya kita beralih kepada hukum yang sudah diberikan oleh sang pencipta, Allah SWT.[MO]

PSI Tegaskan Tak Akan Pernah Dukung Perda-Perda Syariah



Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie meengatakan partainya tidak akan pernah mendukung peraturan daerah (Perda) yang berlandaskan agama. Hal itu, kata Grace, menjadi salah satu dari tiga misi yang yang akan dijalankan anggota legislatif dari PSI jika dipercaya duduk di parlemen.


“PSI akan mencegah lahirnya ketidakadilan, diskriminasi, dan seluruh tindakan intoleransi di negeri ini. PSI tidak akan pernah mendukung perda-perda Injil atau perda-perda syariah. Tidak boleh ada lagi penutupan rumah ibadah secara paksa,” ujar Grace dalam sambutan yang ia sampaikan untuk peringatan hari ulang tahun keempat PSI, ICE BSD, Tangerang, Minggu (11/11) malam.

Dua misi lain adalah menjaga para pemimpin baik di tingkat nasional maupun lokal dari gangguan politisi hitam, serta menghentikan praktik pemborosan dan kebocoran anggaran di parlemen.

Grace menyebut di DPR, PSI akan menjaga Jokowi, menjaga Ridwan Kamil di Jawa Barat, menjaga Nurdin Abdullah di Sulawesi Selatan, serta menjaga Tri Rismaharini di Surabaya.



Selain itu, Grace menuturkan PSI juga memiliki misi untuk menghentikan praktik pemborosan dan kebocoran anggaran di parlemen.

“Tidak boleh lagi ada sepeser pun uang rakyat yang bisa dihambur-hamburkan dan dikorupsi,” ujar mantan jurnalis televisi tersebut.

Lebih dari itu, Grace juga menyinggung soal perbedaan antara generasi optimis dan politisi lama. Politikus zaman old, katanya, adalah orang yang melihat orang atau negara lain sebagai ancaman.

“Politik gaya lama adalah politik yang gemar menyebar ketakutan, politisi genderuwo kata Bro Jokowi,” ujar Grace.

Grace menyebut politisi genderuwo tersebut biasanya bergabung dengan politisi sontoloyo yang kerap menyebar isu SARA dan hoaks.



Sedangkan generasi muda, sambung dia, adalah generasi yang melihat orang atau negara lain sebagai kesempatan, atau peluang untuk bekerjasama dan berkolaborasi.

“Itulah perbedaan generasi muda optimis dengan para sontoloyo dan genderuwo,” ucap Grace.

Sebelumnya, ungkapan politikus sontoloyo dan genderuwo diungkapkan Presiden Jokowi yang juga berkontestasi dalam pilpres 2019 sebagai petahana berpasangan dengan cawapres, Ma’ruf Amin.

Pada Pilpres 2019 mendatang, Jokowi kembali berhadapan dengan lawan politiknya pada Pilpres 2014, Prabowo Subianto. Prabowo yang merupakan calon presiden nomor urut 02 itu berpasangan dengan mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno. [eramuslim/tribunislam] 



Kalimat tauhid: berjaya di dunia, selamat di akhirat


Oleh : Nurma Al-Wahidah (Jurnalis & Aktivis Muslimah)
Kalimat tauhid: laa ilaaha illallaah muhammad rasulullah saat ini menjadi membumi di negri ini setelah sekian rentetan kejadian. Kalimat penting yang membawa setiap orang berubah status menjadi seorang muslim, dengan mengucap 2 kalimat syahadat. Kalimat syarat makna membawa seluruh keyakinan orang yang mengikrarkannya, seketika terikat dengan seluruh aturan Islam, menjadikan Islam tidak hanya sebatas tertera di tanda pengenal, tapi juga masuk ke sanubari hingga menjelma menjadi perbuatan.
“Islam dibangun di atas lima perkara: (1) Syahadat bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan benar selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah; (2) Menegakkan shalat; (3) Menunaikan zakat; (4) Puasa di bulan Ramadhan; dan (5) Berhaji ke Baitullah.” (HR. Al-Bukhari no.8 dan Muslim no. 16).
Makna syahadat laa ilaaha illallaah adalah tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Kalimat ini menihilkan hak peribadahan yang sejati dari selain Allah dan menetapkannya hanya untuk Allah semata sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Hajj:
“Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang batil, dan sungguh Allah Dialah yang Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS. Al-Hajj: 62).
Dengan kalimat ini pulalah seorang muslim juga akan mampu mendapatkan surga yang dijanjikan oleh Allah SWT.” siapa saja yang akhir ucapannya (sebelum wafat) adalah laa ilaaha illallah maka dia pasti masuk surga (HR Abu Dawud).
Awal dari seluruh perbuatan yang dilhamkan untuk dikerjakan dalam islam pun berawal dari kalimat ini. Keyakinan akan siapa pencipta kita, siapa yang berhak di sembah dan aturan mana yang wajib kita laksanakan di dunia ini. Dengan kalimat ini pulalah kita berharap mampu mengucapkannya di ujung usia. Tidak heran akhirnya setelah rentetan kejadian mengundang seruan aksi yang dilaksanakan oleh kaum muslimin untuk meninggikan kalimat tauhid ini.
Aksi Bela Tauhid digelar terkait peristiwa pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid yang dinyatakan Polri sebagai bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Garut, Jawa Barat. Aksi Bela Tauhid sebelumnya sempat digelar di depan kantor Kemenko Polhukam pada Jumat (26/10). Kemudian aksi serupa juga digelar pada 2 november di patung kuda monas jakarta Massa Aksi Bela Tauhid 211 mulai memadati area Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Massa aksi melakukan long march dari Masjid Istiqlal menuju Istana Negara setelah salat Jumat (detiknews_2/11).
Munculnya kesadaran umat
Bentuk penghambaan semata kepada Allah membuat setiap orang memiliki kesadaran yang penuh untuk mencintai simbol tauhid bukan hanya sebatas pada aksara yang tertulis saja, namun terimplikasi pada setiap jengkal nafas dan bait langkah yang juga di dedikasikan untuk keagungan agama ALLAH. Inilah kiranya yang dapat sama-sama rasakan bahwa ikatan akidah sejatinya mampu menggerakkan ribuan orang untuk bergerak menjadi satu barisan dengan satu visi untuk membangkitkan umat. Terlihat dari ribuan orang yang juga mampu berkumpul dan menyampaikan aspirasi yang satu yakni menjunjung kalimat tauhid sebagai identitas kaum muslimin bukan sebatas milik golongan tertentu saja.
“Rayah rasulullah saw berwarna hitam dan liwa’ nya berwarna putih. Tertulis disitu Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah (HR. Abu Syaikh alashbahani dalam akhlaq an-nabiy saw).”
Dengan ikatan akidah yang kuat ini lah kalimat tauhid yang dikenal dengan liwa’ dan rayah mampu dijaga bukan hanya sebatas oleh ras dan golongan tertentu saja, namun juga oleh seluruh umat islam yang ada didunia. Kalimat ini sejatinya menunjukkan seberapa bearnya kekuatan kaum muslimin ketika bersatu padu saling menjaga kemuliaan Islam. Keadaan ini tidak akan mampu tergoyahkan dengan mudahnya ketika kaum muslimin bersatu padu.
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai (QS Ali Imran : 103).
“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. (QS. Al-Hujarat : 10 )
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan, “ ukhuwah (persaudaraan) Islamiyah dibangun di atas landasan persamaan agama bukan nasab (hubungan darah)”, karena itu dapat dikatakan bahwa persaudaraan berdasarkan agama lebih kokoh dan tsabit (tetap) dibanding persaudaraan yang dibangun di atas landasan nasab atau hubungan darah, karena sesungguhnya persaudaraan karena nasab akan terputus dengan sendirinya karena perbedaan agama, sementara persaudaraan karena agama tidak terputus dengan terputusnya nasab. Sementara itu Rasulullah telah bersabda, artinya: ”Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara, muslim itu saudara bagi muslim yang lain. (H.R. Bukhari-Muslim).
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur: 55).
Kebangkitan kaum muslimin
Dengan agenda umat yang dilakukan dalam bentuk aksi tauhid, menjadi awal baru bagi kaum muslimin semakin memupuk ikatan akidah antara kaum muslimin dan menjadi babak baru bagi kaum muslimin untuk kembali berjaya seperti sekian abad yang lalu, kalimat tauhid tidak lagi dengan mudahnya dihinakan. Kalimat ini dijadikan kebanggaan bagi kaum muslimin yang membawanya, kalimat yang sekian abad lamanya telah dijadikan simbol negri kaum muslimin di bawah naungan daulah khilafah islamiyah. Institusi yang tidak hanya mampu menjaga simbol kaum muslimin namun juga menjaga kaum muslimin dari penindasan dengan menjaga kaum muslimin dalam perisai yang kokoh dan mengayomi rakyatnya dengan sistem yang telah membawa keadilan serta kesejahteraan bagi siapapun yang hidup dalam naungannya.
“Bahwasanya Imam itu bagaikan perisai, dari belakangnya umat berperang dan dengannya umat berlindung.” [HR. Muslim]. Wallahua'lambishawab.

MENDIDIK ANAK GADIS ZAMAN NOW, MUDAHKAH?


Oleh: Umi Salaman, S.Pd
Memiliki anak perempuan adalah satu karunia yang besar dari Allah Swt. Itu karena banyak sekali hadits yang menggambarkan demikian. Semisal hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim: "Barangsiapa yang mengasuh dua anak wanita hingga baligh, maka ia akan datang pada hari kiamat, aku dan dia seperti ini (beliau menyatukan dua jarinya)".
Pahala besar yang dijanjikan Allah tentu berbanding lurus dengan pengorbanan yang harus diberikan. Lebih-lebih mendidik anak gadis di zaman now. Banyak hal yang menjadi kendala untuk menjadikannya sebagai wanita salihah.
Kendala mendidik anak gadis zaman now
Beberapa kendala yang perlu diperhatikan oleh orang tua diantaranya:
Pertama, zaman yang sudah jauh dari era kegemilangan peradaban Islam. Hal ini berpengaruh besar pada orang tua untuk bisa memiliki gambaran yang agung tentang sosok wanita salihah serta menghadirkannya di hadapan putri tercinta. Bagaimana tidak, anak-anak gadis kita ternyata lebih akrab dengan artis-artis idolanya, serta fashion dan lifestyle mereka yang jauh dari nilai-nilai Islam.
Kedua, lemahnya kemampuan bahasa Arab sebagai bahasa kunci untuk bisa memahami Al-Qur'an. Kitab suci ini adalah pedoman dan petunjuk hidup yang utama. Di dalamnya memuat segala hukum dan aturan hidup yang harus dijalankan oleh setiap muslim dan muslimah. Saat ini anak gadis kita merasa lebih keren jika menguasi bahasa Inggris, Jepang, Jerman atau yang lainnya. Padahal akidah dan bahasa arab adalah kunci mendapat hidayah.
Ketiga, pengaruh tsaqofah barat (pikiran kafir). Banyak sekali paham-paham kufur yang berseliweran di sekitar kita, mulai dari ide feminisme, liberalisme, permisivisme serta ide- ide lain yang menjauhkan putri kita dari taat pada sang pencipta.
Keempat, masyarakat dan negara yang cuek dengan memberi kebebasan wanita berekspresi tanpa batasan atas nama kesetaraan gender. Sehingga kita bisa melihat banyak perempuan yang mengeksploitasi diri dalam pekerjaan tanpa perlindungan yang berarti. Sebagai contoh, iklan-iklan yang berseliweran di TV banyak yang menonjolkan sensualitas wanita, para TKW yang nasibnya terlunta-lunta. Kontes-kontes kecantikan yang jauh dari nilai keislaman.
Jadikan putri kita mulia
Orangtua yang baik adalah orangtua yang berupaya menjadikan putrinya mulia cukup dengan Islam saja, bukan yang lainnya. Mendidik anak gadisnya menjadi putri salihah layaknya para shahabiyah yang dijanjikan nabi masuk surga. Oleh karena itu untuk mewujudkannya diperlukan beberapa langkah- langkah, diantaranya:
Pertama, sejak dini orangtua sudah harus mengenalkan sang Khaliqnya, menanamkan kecintaan kepada Allah SWT. Allah lah yang menciptakan manusia, alam semesta dan kehidupannya. Kecintaan pada nabi dan Rasulullah, serta sahabat dan shohabiyah. Menanamkan di benak putri kita bahwa merekalah sosok idola yang layak di tiru.
Kedua, mendidik dan mengajarkan tsaqofah Islam (pemahaman Islam), baik itu ilmu al-qur'an, hadits, fiqih, ibadah, akhlak, dan muamalat serta bahasa arab.
Ketiga, memberi pendidikan berupa ilmu-ilmu kehidupan, semisal sains, matematika dan semisalnya untuk mengeksplorasi potensi keilmuan dan kecerdasannya.
Keempat, mendidiknya menjadi agen of change di tengah teman-teman gaulnya dan komunitasnya. Artinya mengarahkan putri kita untuk menjadi pengemban dakwah yang tangguh di tengah arus deras kapitalisme. Mendidiknya menjadi empati dengan kerusakan akibat penerapan Islam yang diabaikan dalam ranah kehidupan. Mengajaknya berjuang bersama menegakkan sistem yang memuliakan perempuan, sistem warisan khulafaur rasyidah yaitu khilafah rasyidah ala minhajinnubuwwah.
Tentunya inti dari semua upaya kita adalah mencetak anak gadis kita menjadi wanita salihah dan berkepribadian islamiyah. Ia berpola pikir (aqliyah) islami dan pola sikap (nafsiyah) islami. Masya Allah, semoga Allah memudahkan kita dalam mendidik anak gadis zaman now. Wallahu'alam bishowab.
*Ibu dari seorang putri dan praktisi pendidikan

Di Kemenkopolhukam, Wiranto, Menag, FPI, PBNU Dan Ormas Islam Sepakat Bendera Tauhid Tidak Terlarang


Jakarta - Di Gedung Kemenkopolhukam, Jalan Medan Merdeka Barat No. 15, Jakarta Pusat, pada hari kemarin, Jum'at (9/11/2018) mulai pukul sembilan pagi, telah dilangsungkan pertemuan antara ormas-ormas Islam untuk membahas permasalahan Bendera Tauhid yang dibakar oleh oknum anggota Banser di Garut, Jawa Barat pada peringatan Hari Santri Nasional beberapa waktu lalu. 

Pertemuan ini dihadiri oleh Wiranto sebagai tuan rumah dan pihak yang menginisiasi adanya pertemuan Dialog Kebangsaan yang bertemakan "Dengan Semangat Ukhuwah Islamiyah, Kita Jaga Persatuan Dan Kesatuan Bangsa" ini. 

Pertemuan ini dihadiri pula oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri Soedarmo, MUI, PBNU yang diwakili oleh Sekjen PBNU Helmy Faishal Zainy, Ust Yusuf Manshur, juga perwakilan dari GP Ansor dan pimpinan-pimpinan ormas lainnya. 

Perwakilan dari FPI yang hadir antara lain Habib Hanif bin Abdurrahman Alatas dan KH Awit Masyhuri. Ada pula KH Muhammad Al Khaththath, KH Slamet Maarif, Ustadz Asep Syaripudin, Abah Raoud, Ustadz Eka dari Bang Japar, dan para Tokoh lainnya. 

Pertemuan lintas Ormas Islam tersebut membahas tentang Ukhuwah Islamiyah, Namun karena pertemuan ini muncul akibat gejolak yang diakibatkan oleh pembakaran BenderaTauhid dan ini adalah pertemuan lanjutan setelah minggu lalu saat aksi 211 delegasi umat Islam dijanjikan oleh Wiranto akan dipertemukan dengan perwakilan ormas-ormas Islam untuk membahas masalah ini, sehingga pihak FPI dan sebagian Ormas Islam ingin mempertegas masalah Bendera Tauhid agar tidak terjadi polemik serupa dikemudian hari. 

Setelah kata sambutan dari Menkopolhukam dan Menag, KH Awit Masyhuri memberikan kata pengantarnya, kemudian dilanjutkan oleh Habib Hanif yang membacakan pernyataan Kemendagri pada tahun 2017 sebagaimana tercantum dalam web resmi Kemendagri (https://www.kemendagri.go.id/index.php/blog/21736-Kemendagri-Tak-Larang-Bendera-Tauhid-Melainkan-Bendera-HTI) bahwa yang terlarang itu Bendera HTI, sementara bendera Tauhid TIDAK PERNAH DILARANG. 

Habib Hanif secara gamblang menunjukan bahwa Bendera Tauhid dengan Bendera HTI itu tidak sama dengan mebawa langsung contoh keduanya. 

Yang membedakan antara keduanya sebagaimana dijelaskan oleh Kemendagri, bahwa Bendera HTI ada tulisan Hizbut Tahrir Indonesia, sedangkan bendera tauhid tidak ada tulisan HTI, hanya tauhid saja. Hal ini harus menjadi catatan. Demikian tegas Habib Hanif dihadapan para pejabat dan pimpinan ormas. 

Dalam kesempatan tersebut, atas desakan KH Awit Masyhuri, dl yang meminta kejelasan maslah ini, Menkopolhukam meminta kepada Dirjen Polpum Kemendagri yang hadir yaitu Soedarmo, agar menjelaskan secara gamblang masalah ini sesuai dengan hukum yang ada. 

Pada Akhirnya Soedarmo Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri menjelaskan dengan gambar yang telah dibawa dan diperlihatkan oleh Hb Hanif dan KH Awit, Ia menyatakan bahwa yang dilarang adalah Bendera HTI bukan Bendera Tauhid. 

"Bendera HTI itu ada tulisan Hizbut Tahrir Indonesia kalau Bendera Tauhid itu tidak ada. jadi Bendera Tauhid itu tidak terlarang, boleh di Indonesia", ujar Soedarmo. 

"Artinya yang dilarang itu bendera yang ada tulisan Hizbut Tahrir Indonesia. Karena itu Bendera HTI yang didaftarkan melalui AD / ART HTI. Bendera Tauhid tidak pernah dilarang di Indonesia, tidak pernah, itu perlu ditegaskan." tegas KH Awit. 

"Maka mulai hari ini sudah ada pernyataan resmi dihadapan Wiranto sebagai Menkopolhukam Serta Menag, PBNU dan lain-lain dan diaminkan oleh semua pihak yang hadir bahwasahya jangan sampai kedepan ada yang bersikeras bahwa Bendera Tauhid adalah bendera terlarang di NKRI. Tidak ada alasan itu lagi ke depan " demikian tegas Habib Hanif. 

"Kita sama-sama sudah sepakat bahwa Bendera Tauhid itu bukan bendera terlarang, sehingga tidak boleh di-sweeping, tidak boleh dikucilkan, tidak boleh diklaim atau dituduh hanya sebagai benderanya ormas tertentu, apalagi dibakar."

"Dan tadi PBNU sudah minta maaf, begitu juga Ansor sudah minta maaf, langsung tadi mereka menyampaikan permintaan maaf dan penyesalan atas kejadian pembakaran (Bendera Tauhid di Garut) tersebut." tutup Habib Hanif.


Ketua Umum FSI ini juga menghimbau kepada masyarakat agar menjunjung tinggi Kalimat tauhid dan kalimat-kalimat suci lainnya kapanpun dan dimanapun. Tidak boleh dihinakan, diletakkan dibawah, diduduki, dibawa masuk ke kamar mandi, dsb. " Kita yang bela dan meyakini tauhid, kita harus jadi orang pertama yang memuliakan tauhid dalam keadaan apapun" Ujar Habib Hanif.[]faktakini/mercusuar

PANJI RASULULLAH : This Is My Identity


Oleh: Noor Fazia Khansa
(Mahasiswi UMN AW, Aktivis Muslimah Medan)


Mencintai dan membenci adalah sifat dasar manusia. Setiap manusia ketika mencitai atau membenci sesuatu memiliki kecenderungan untuk membawanya dalam seluruh aktivitasnya. Maka tak heran bila ada orang – orang yang dengan sengaja membakar bendera tauhid dengan dalih daripada tercecer juga ada yang berdalih itu adalah bendera suatu ormas. Kebencian yang tak mendasar ini akan terbawa dalam setiap aktivitas mereka, sehingga saat melihat bendera tauhid tersebut rasanya ingin lansung bakar saja. Ini adalah sifat dasar manusia saat membenci. Namun yang menjadi permasalahannya adalah dasar dari sebuah kebencian serta cara menyalurkan kebencian. Membakar bendera tauhid adalah kebencian yang tak berdasar, tanpa mancari kebenaran mereka langsung mengklaim bahwa itu adalah bendera suatu ormas terlarang yang benderanya pantas untuk mereka bakar. Jika dasar membencinya salah, maka jelas cara pengaplikasiannya juga salah. Seorang muslim haruslah berbuat berdasarkan Al – Qur’an dan Hadist, lalu mencintai dan membenci juga harus berdasarkan Perintah dan Larangan Allah SWT. 

Maka kita perjelas tentang bendera tauhid yang dibakar oleh beberapa orang. Apakah bendera tersebut adalah bendera suatu ormas? Ataukah Allah memerintahkan kita untuk membencinya? Mari kita telisik asal usul bendera tauhid yang berwarna hitam dan berwarna putih, serta masing – masing tertulis kalimat tauhid di dalamnya.

14 abad yang lalu, Rasulullah saw. bersabda: “Rayah Rasulullah saw. Berwarna hitam dan Liwa’ berwarna putih. Tertulis padanya La Ilahaillallah Muhammad Rasulullah ( HR. Abu Syaikh al –Ashahani dalam akhlaq an-Nabiy saw)” dalam riwayat lain di perjelas “ Rayah Rasulullah saw. Berwarna hitam, persegi empat, terbuat dari kain wol Namirah ( HR at-Thirmidzi dan an-Nisa’I )”. Hadist – hadist berikut cukuplah menjadi dalil bahwa Bendera Hitam yang tertulis lafaz Lailaha illallah Muhammad Rasulullah bernama Rayah dan Bendera Putih yang tertulis Lailaha illallah Muhamad Rasulullah bernama Liwa’. Maka bila ada pihak – pihak yang mengklaim bahwa itu bendera suatu ormas adalah sebuah kebohongan. Liwa’ dan Rayah merupakan Panjinya Rasulullah serta identitas kaum muslim yang seharusnya kita mampu untuk menjaga dan memuliakannya. Bagaimana cara memuliakan Panji Rasulullah? Apakah dengan dengan dibakar?. Tentulah tidak serta-merta demikian. 

Panji Rasulullah merupakan syiar pemersatu ummat, identitas Islam dan kaum muslimin. Kemuliaan islam pastilah terletak padanya. Maka akan mengundang murka Allah apabila kita melecehkannya. Memuliakan Panji Rasulullah haruslah dengan menjaga agar Panji Rasulullah tetap berada di tempat tertinggi sebagi identitas dan pemersatu ummat. Bila ada oknum – uknum yang tidak bertanggung jawab melecehkannya, kita harus siap berada di garda terdepan dalam barisan perjuangan. Sebagaimana yang pernah dilakukan Ja’far bin Abdullah saat perang Mut’ah. Pada saat peperangan Rasulullah menunjuknya sebagai Komandan Perang yang harus menjaga Ar – Rayah agar tetap brkibar. Maka ia menggenggam Rayah di tangan kanannya, namun seketika musuh menebasnya. Lalu dengan sigap tangan kirinya menangkap Rayah tersebut, namun tangan kirinya juga di tebas. Hingga dia menghimpit Rayah dengan kedua lengannya. 

Dan musuh pun menusuk punggungnya hingga Ja’far syahid dalam peperangan. Inilah bentuk kecintaan yang hakiki, akan mampu berkorban meski nyawa menjadi taruhan. Harusnya begitulah sikap kita saat simbol – simbol juga syiar – syiar Islam di lecehkan. Bukan malah acuh tak acuh saat islam dinistakan. Allah berfiman “Demikianlah ( Perintah Allah). Siapa saja yang mengagungkan syiar – syiar Allah, sungguh timbul dari ketaqwaan kalbu”( Qs. Al Hajj : 32), dari sini maka jelaslah dimana posisi kita saat ini, ketika kita berada dalam barisan orang – orang yang memperjuangkan Panji Rasulullah juga syiar- syiar islam yang lainnya maka kita adalah orang – orang yang memiliki ketaqwaan kepada Allah SWT. Dan sebaliknya orang – orang berada dalam barisan menghinakan atau mengacuhkan syiar – syiar Islam maka mereka adalah orang – orang yang jauh dari Allah SWT. Naudzubillah.

Maka, marilah kita sama – sama menjaga persatuan ummat islam dengan tetap memuliakan Panji Rasulullah sebagai identitas kaum muslim serta syiar – syiar Islam yang lainnya dengan bergabung orang – orang yang membela kalimat tauhid. Wallahua'lambishawab.

PERSATUAN UMAT DALAM NAUNGAN BENDERA TAUHID


Oleh : Sunny Salsabilaa (Anggota extraordinary muslimah Community)

Ditengah kondisi umat Islam saat ini dimana syu’ur Islam umat semakin tampak di permukaan. Hal ini semakin terlihat ketika terjadi aksi pembakaran bendera tauhid yang dilakukan oleh sekelompok oknum. Tindakan tersebut sangat menyakiti hati dan perasaan umat Islam, sebab kalimat yang dimuliakan, kalimat yang seluruh umat Islam menginginkan hidup dan mati dengannya dilecehkan seolah itu hanya sebuah simbol atau bendera yang tak memiliki makna. 


Akibatnya amarah umat pun bangkit, semangat perjuangan untuk membela kalimat haq tersebut semakin memuncak. Hal ini terlihat jelas dengan dilakukannya aksi oleh kaum muslimin di seluruh Indonesia. Aksi ini di gelar di berbagai kota diantaranya: Medan, Aceh, Jakarta, Bandung, Riau, Yogyakarta, Samarinda, Sulawesi Tengah, dan wilayah-wilayah lainnya. Hal ini merupakan bukti dari konsekuensi ketauhidan yang di emban oleh kaum muslimin, bukti kecintaan umat Islam terhadap Allah, Rosul dan agamanya. Sehingga umat Islam tidak akan pernah diam ketika ada yang menghinakan simbol-simbol Islam. Perlu kita ketahui dan pahami disini sebenarnya apa itu bendera tauhid? Benarkah itu bendera umat Islam ? mengapa umat Islam harus menjaga kemuliaan bendera tauhid tersebut ?

Bendera tauhid merupakan bendera yang bertuliskan didalamnya kalimat la ilaha illallah Muhammad rosulullah yang terdiri dari warna hitam dan putih. Seperti yang diterangkan dalam hadist rosulullah yaitu “Royah Rosulullah saw. Berwarna hitam dan Liwa’nya berwarna putih. Tertulis disitu La ilaha illallah Muhammad Rosulullah” (HR. Abu Syaikh Al-Asbahani dalam Akhlaq an-Nabiy saw). Begitu juga dikatakan dalam riwayat lain bahwa “Rayah Rosulullah saw. Berwarna hitam dan Liwa’nya berwarna putih" (HR. at-thirmidzi, al-baihaqi, ath-thabrani dan abu ya’la). 

Maka harus dipahami bahwa yang dibakar oleh oknum tersebut bukanlah bendera HTI seperti yang mereka klaim ketika melakukan pembakaran, melainkan bendera seluruh kaum muslimin. Yang mana umat islam akan bersatu diatasnya dan dalam naungannya. Karena sesungguhnya kalimat yang tertera dalam bendera tersebut bukan hanya sekedar tulisan saja namun kalimat tersebut memiliki keagungan yang tiada tara. Karena visi dan misi dakwah dan jihad umat islam sebagai penyambung estafet dakwahnya Rosulullah adalah semata-mata untuk meninggikan dan menegakkan kalimat tauhid di bumi Allah. maka jika umat islam masih diam ketika agamanya dilecehkan, simbol Islam dinistakan maka pantas di pertanyakan keimannya. Yang diam saja dipertanyakan keimanannya lantas bagaimana dengan yang membakarnya ? 

Maka merupakan suatu kewajiban bagi seluruh kaum muslimin untuk memuliakan bendera Tauhid. Karena royah dan liwa’ memiliki makna yang sangat mendalam. Ar-royah adalah panji-panji perang dan al-liwa’ adalah symbol kepemimpinan umum. Namun bukan hanya sebatas itu sebab royah dan liwa’ merupakan lambang aqidah islam krena didlaamnya bertuliskan kalimat tauhid yang menjadi konsekuensi keimanan. Kalimat ini pulah yang membedakan antara Islam dan kekufuran. Dan kalimat inilah yang mampu menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat. Maka dengan kalimat ini pula umat islam akan dipersatukan. Hal ini juga tak lepas dari perjuangan untuk menegakkan syariah islam secara kaffah karena hanya dengan penerapan Islam kaffah kriminalisasi terhadap simbol-simbol Islam tidak akan terjadi. Karena Islam memiliki solusi tuntas dalam menyelesaikan berbagai permasalahan. Wallahua'lambishawab.