Slider

Berita Video

Berita Pilihan

Kabar Medan

Tsaqofah

Sudut Pandang

Dinamika Dakwah

Berita Foto

Buni Yani : Menyampaikan Ide Khilafah dilindungi Undang-Undang





Dakwahsumut.com,Tanjungbalai(15/1). Menjawab salah satu pertanyaan peserta Talkshow Darma Pamungkas  terkait  apakah Khilafah merupakan ancaman  Buni Yani mengatakan “Menyampaikan ide Khilafah dilindungi Undag-undag yang tidak boleh adalah memakai senjata atau dengan kekerasan yang disebut dengan makar,” jawab beliau. Sementara Jonru Ginting menanggapi pertanyaan tentang khilafah tersebut  mengatakan yang menolak Syariah adalah syetan.

Pertanyaan tersebut disampaikan dalam acara Talkshow di Masjid Raya Kota Tanjungbalai Sumut. Acara Talkshow tersebut dipandu oleh moderator ustadz Muhammad Ali Rukun dengan  Do’a dari Ustadz Aswin Batubara dan   MC muda Ihsanul rasyid.

Kegiatan tersebut  dilaksanakan kerjamasan dari berbagai komunitas anak muda di  Tanjungbalai sepeti Pelajar Islam Indonesia (PII),Aliansi Pelajar Islam (API), Forum Rohis Nusantara(Fornusa), PRIMA DMI , Konco Hijrah ,Teras Tanjungbalai,Rumah Peradaban ,PEMTA dll.   Talkshow tersebut mengambil tema   “ Diantara 2 Dunia : Dunia maya dan dunia nyata”.

Jonru Ginting dan Buni Yani tampak semangat dalam menyampaikan materi dan menjawab beberapa pertanyaan peserta talkshow. Kedua Pemateri tampak membakar semangat ratusan Warga Tanjungbalai dalam acara Talkshow  tersebut . “Walau  dikatakan intoleran,radikal,anti pancasila dan anti NKRI namun kita harus tetap menyuarakan kebenaran” ungkap Jonru Ginting. Sementara  Buni Yani mengatakan bahwa beliau telah mewakafkan dirinya dan siap mati untuk kebenaran. Ungkapan tersebut diambut dengan gemuruh pekikan Takbir oleh para peserta talkshow.

Ketua Panitia Muhammad Ridho mengatakan bahwa acara tersebut dilaksanakan untuk mengupas sisi dunia maya sehingga masyarkat lebiuh  cerdas dalam bersosial media dengan tidak menyebarkan berita hoax dan ujaran kebencian. Beliau mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah turut mensukseskan talkshow tersebut.

Sementara mewakili BKM Masjid RayaFirdaus Sambas mengapresiasi kegiatan tersebut.Beliau berharap agar tidak ada lagi masyarakat yang menyebar hoax sebagaimana baru-baru ini adanya oknum ormas tertentu berkomentar adanya masjid dan mushallah di Tanjungbalai yang sudah berbau radikalisme. Para peserta tampak antusia mengikuti acara tersebut hingga selesai yang diakhiri dengan photo bersama kedua pemateri dengan para peserta [] ar




Jonru Ginting dan Buni Yani Bakar Semangat Warga Tanjungbalai


Dakwahsumut.com,Tanjungbalai(15/1). Jonru Ginting dan Buni Yani membakar semangat ratusan Warga Tanjungbalai dalam acara Talkshow di Masjid Raya Tanjungbalai. “Walau dikatakan intoleran,radikal,anti pancasila dan anti NKRI namun kita harus tetap menyuarakan kebenaran” ungkap Jonru Ginting. Sementara Buni Yani mengatakan bahwa beliau telah mewakafkan dirinya dan siap mati untuk kebenaran. Ungkapan tersebut diambut dengan gemuruh pekikan Takbir oleh para peserta talkshow. 

Para peserta nampak antusias dalam mengikuti kegiatan tersebut,terutama dalam sesi diskusi berbagai pertanyaan ditujukan kepada kedua pemateri termasuk tentang apakah khilafah merupakan acaman. Menjawab pertanyaan tersebut Buni Yani mengatakan “Menyampaikan ide Khilafah dilindungi Undag-undag yang tidak boleh adalah memakai senjata atau dengan kekerasan yang disebut dengan makar”,jawab beliau. Sementara Jonru Ginting menanggapi pertanyaan tentang khilafah mengatakan yang menolak Syariah adalah syetan. 

Kegiatan tersebut dilaksanakan kerjamasan dari berbagai komunitas anak muda di Tanjungbalai sepeti Pelajar Islam Indonesia (PII),Aliansi Pelajar Islam (API), Forum Rohis Nusantara(Fornusa), PRIMA DMI , Konco Hijrah ,Teras Tanjungbalai,Rumah Peradaban ,PEMTA dll. Talkshow tersebut mengambil tema “ Diantara 2 Dunia : Dunia maya dan dunia nyata”. 


Ketua Panitia Muhammad Ridho mengatakan bahwa acara tersebut dilaksanakan untuk mengupas sisi dunia maya sehingga masyarkat lebiuh cerdas dalam bersosial media dengan tidak menyebarkan berita hoax dan ujaran kebencian. Beliau mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah turut mensukseskan talkshow tersebut. Sementara mewakili BKM Masjid RayaFirdaus Sambas mengapresiasi kegiatan tersebut.Beliau berharap agar tidak ada lagi masyarakat yang menyebar hoax sebagaimana baru-baru ini adanya oknum ormas tertentu berkomentar adanya masjid dan mushallah di Tanjungbalai yang sudah berbau radikalisme.

Acara Talkshow yang dipandu oleh moderator ustadz Muhammad Ali Rukun dan Do’a dari Ustadz Aswin Batubara tersebut berjalan dengan lancar. Acara ditutup oleh MC Ihsanul rasyid diringi dengan photo bersama kedua pemateri dengan para peserta Talkshow.[] ar

Mau Bermaksiat Jangan di Bumi Allah Silahkan Cari Bumi Yang Lain

Dakwahsumut.com, Tanjungbalai(13/1). Aliansi Umat Islam Kota Tanjungbalai kembali melaksanakan kegiatan shalat subuh berjamaah yang dilanjutkam dengan Tausiyah olh Ustad Tri Sandi Marpaung MA di Masjid Nurul Ikhwan Jl.Sudirman Tanjungbalai. Kegiatan tersebut dihadiri berbagai Tokoh Pimpinan ormas Islam, Kasat Binmas Polres Tanjungbalai M Ridwan beserta jajarannya dan jamaah masjid Nurul Ikhwan. Ketua BKM Nurul Ikhwan mengapresiasi kegiatan tersebut dalam sambutannya , beliau berharap subuh berjamaah terus dilanjutkan kalau bisa jangan hanya sekali seminggu melainkan tiap hari subuh berjamaah. Sementara Ustadz Tri Sandi MA dalam tausiyahnya menjelaskan tentang kondisi umat Isl saat ini yang sangat memperihatinkan dimana umat Islam terus ditindas dan dihinakan. Menurut beliau juga salah satu penyebab kerusakan umat saat ini adalah hilangnya rasa malu  dimana malu itu adalah bagian dari iman , uangkap beliau. Beliau mengutip salah satu pendapat Ulama terdahulu Imam Hasan al Basri " Jika ingin berbuat dosa maka jangan di bumi Allah, jadi dimana?  Silahkan cari bumi Yang lain" kata beliau. Selain itu ustadz Tri Sandi Juga mengajak umat islam bersatu dan jangan mau dipecah belah "Mari kita timbulkan persatuan umat di kampung kita ini" ujar beliau menutup tausiyahnya . Acara yang dipandu ustadz M Ali Rukun itu berjalan dengan baik , dalam acara penutup ust ali menegaskan kembali tausiyah ustadz Tri Sandi ;" bagi yang mau bermaksiat silahkan cari bumi yang lain salah  satu bentuk kemaksiatan adalah meninggalkan syariat Allah dan bagi yang tidak mau menjalankan syariatNya atau Syariat Islam silahkan cari bumi yang lain tambah beliau [] ar

Fitriani,S.Hi: Budaya Hedonis Penyebab Maraknya Prostitusi Online


Fitriani,S.H
Publik kembali dikejutkan dengan mencuatnya kasus prostitusi online yang melibatkan artis. Bukan baru kali ini saja, namun sudah terjadi berulang kali. Kali ini melibatkan artis VA bintang serial FTV dan AS Seorang model panas dari majalah popular yang disebut-sebut ditangkap polisi di Surabaya terkait kasus prostitusi  online. Dan cukup mencengangkan AV satu kali kencan mendapat bayaran 80 juta, tarif yang cukup fantastis ditengah ekonomi yang sedang sulit saat ini.

Terlibatnya para artis dalam prostitusi online ini semakin hari semakin banyak dan terus meningkat. Bisa dilihat sepanjang tahun 2015 lalu, kasus pertukaran hubungan seksual dengan uang atau hadiah sebagai suatu transaksi perdagangan itu menjadi sorotan dan lazim dilakukan. Dimulai tertangkapnya model AA bersama mucikari RA di sebuah hotel di ibu kota pada bulan Mei, lalu, AS diciduk di Surabaya pada pertengahan tahun 2015 dan terakhir digrebeknya artis NM dan finalis kontes kecantikan PR di tempat menginap mewah di kawasan Bundaran Hotel Indonesia pada awal Desember 2015. (tribunnews.com).

Semakin maraknya prostitusi online baik yg dilakukan perempuan dari kalangan biasa maupun kalangan artis disebabkan beberapa faktor. Di antaranya adalah budaya hedonisme yang tumbuh subur di tengah masyarakat kita. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia. Jadi manusia akan bertindak dan bertingkah laku dengan tujuan mendapatkan kesenangan dan kenikmatan hidup tanpa memandang apakah tindakannya itu bertentangan dengan norma agama atau tidak.

Seolah difasilitasi, gaya hidup hedonisme ini  tumbuh subur dialam kapitalisme demokrasi yang tengah diterapkan di negeri tercinta ini. Dalam sistem kapitalisme, ada empat kebebasan yg harus dijunjung tinggi. Salah satunya adalah kebebasan berperilaku dan didalamnya termasuk aktivitas prostitusi online ini. 

Demi gaya hidup Orang bebas berperilaku apapun selama tidak mengganggu kebebasan orang lain. Bahkan dalam ranah hukum pun, pelakunya tidak bisa dijerat sanksi hukum. Maka wajar prostitusi online ini semakin hari semakin marak seperti cendawan dimusim hujan, terus menjamur. Apalagi zina tidak dikategorikan sebagai tindakan kriminal. Sehingga, tidak ada satu pun orang, termasuk aparat hukum, boleh melarangnya, apalagi menghukum pelakunya. Sebagaimana yang kita saksikan VA setelah diperiksa, dibebaskan dan berstatus saksi, hanya dikenai wajib lapor. Pemesannya juga sama. Sementara dua mucikari yang diciduk bersama VA ditahan dan akan dijerat pasal pelanggaran UU ITE. 

Maka untuk mengakhiri kasus prostitusi online ini hanya bisa diselesaikan dengan menerapkan Islam secara kaffah. Islam sebagai agama yang sempurna mampu memberikan penyelesaian terhadap semua permasalahan yang menimpa bangsa ini termasuk kasus prostitusi online. Karena Dalam Islam, setiap muslim yang menjalankan setiap aktivitasnya wajib menyesuaikan diri berdasarkan perintah dan larangan Allah SWT. Kesenangan itu bukan sekedar memuaskan kebutuhan jasmani dan mencari kenikmatan, melainkan mendapatkan keridhaan Allah.

Dari segi tingkah laku, setiap muslim juga wajib terikat dengan aturan Islam. Maka perbuatan zina tergolong tindak pidana dan bagi pelakunya berhak diberikan sanksi tanpa ada perasaan belas kasihan. Negara wajib menerapkan hudud (bentuk pelanggaran dan sanksinya ditetapkan Allah SWT) dan uqubat (sanksi pidana) untuk melindungi individu dan masyarakat.

Kembalinya aturan Islam di tengah kehidupan masyarakatlah yang akan membebaskan perempuan dari tujuan hidup yang salah. Yaitu dengan tegaknya sistem Islam dalam kehidupan bernegara. Dan hal itu tidak dapat diraih kecuali kita mengambil Islam secara total. Dengan menerapkan Islam Kaffah dalam bingkai Khilafah. Wallahu`alam bisshawab.[] rin 

Penulis adalah anggota Forum Silaturahmi Muslimah Deli Serdang

Multaqa Ulama Sidoarjo: Khilafah mewujudkan Negeri yang Baldatun Thayibatun wa Rabbun Ghafur



Sidoarjo,  – “Yang akan mampu mewujudkan negeri yang baldatun thayibatun wa rabbun ghafur hanya Khilafah”. Pernyataan ini ditegaskan oleh para Ulama dalam Multaqa Ulama Sidoarjo yang diselenggarakan Rabu, tanggal 9 Januari 2019 di Ponpes Ulin Nuha, Taman Sidoarjo.
Kyai Abu Fattah, dari Pondok Pesantren Mambaul Hafidzin, menegaskan:
“Negeri yang baldatun thayibatun wa rabbun ghafur adalah negeri yang baik, Allah Swt memberikan pengampunan kepada penduduknya. Sebab, mereka tunduk patuh terhadap ajaran Allah swt. Dan, negeri seperti itu hanya ada (dengan izin Allah) bila negeri tersebut menerapkan Syariah dan Khilafah.”(shautululama)

Bolehkah Riba Dihalalkan Dengan Alasan Darurat?


 Oleh : KH. Muhammad Shiddiq al-Jawi, M.Si

Bolehkah kita mengambil atau memanfaatkan bunga bank (riba) dengan alasan darurat, misalnya karena di suatu tempat yang ada hanya bank konvensional, belum ada bank syariah?
Jawab:
Untuk menjawab persoalan tersebut, akan diuraikan lebih dahulu definisi darurat menurut makna bahasa dan makna istilah yang berkembang dalam berbagai madzhab. Setelah itu akan dipilih definisi darurat yang paling rajih (kuat-tepat) untuk menjawab pertanyaan di atas.

1. Darurat Menurut Makna Bahasa
Menurut Al-Jurjani dalam At-Tarifat hal. 138, dharurah berasal dari kata dharar. Sedang kata dharar sendiri, mempunyai tiga makna pokok, yaitu lawan dari manfaat (dhid al-nafi), kesulitan/kesempitan (syiddah wa dhayq), dan buruknya keadaan (suul haal) (Al-Munawwir, 1984:876). Kata dharurah, dalam kamus Al-Mujam Al-Wasith hal. 538 mempunyai arti kebutuhan (hajah), sesuatu yang tidak dapat dihindari (laa madfaa lahaa), dan kesulitan (masyaqqah).
2. Darurat Menurut Makna Istilah
Dalam makna istilahnya, dharurah (darurat) mempunyai banyak definisi yang hampir sama pengertiannya. Berikut berbagai definisi darurat menurut ulama madzhab empat dan ulama kontemporer, yang terhimpun dalam kitab Al-Dharurah wa Al-Hajah wa Atsaruhuma fi Al-Tasyri Al-Islami karya Abdul Wahhab Ibrahim Abu Sulaiman (1994), dan kitab Nazhariyyah Al-Dharurah Al-Syariyah karya Wahbah Az-Zuhaili (1997).
2.1. Menurut Madzhab Hanafi
Al-Jashshash dalam Ahkamul Quran (I/150) ketika membahas makhmashah (kelaparan parah) mengatakan, darurat adalah rasa takut akan ditimpa kerusakan atau kehancuran terhadap jiwa atau sebagian anggota tubuh bila tidak makan. Al-Bazdawi dalam Kasyful Asrar (IV/1518) menyebutkan definisi serupa, yaitu darurat dalam hubungannya dengan kelaparan parah (makhmashah), ialah jika seseorang tidak mau makan, dikhawatirkan ia akan kehilangan jiwa atau anggota badannya. Sedang dalam kitab Durar Al-Ahkam Syarah Majallah Al-Ahkam (I/34), Ali Haidar mengatakan, darurat adalah keadaan yang memaksa (seseorang) untuk mengerjakan sesuatu yang dilarang oleh syara (al-halah al-muljiah li tanawul al-mamnu syaran).
2.2. Menurut Madzhab Maliki
Ibn Jizzi Al-Gharnati dalam Al-Qawanin Al-Fiqhiyah (hal. 194) dan Al-Dardir dalam Al-Syarh Al-Kabir (II/115) mengatakan, darurat ialah kekhawatiran akan mengalami kematian (khauf al-maut)...Dan tidak disyaratkan seseorang harus menunggu sampai (benar-benar) datangnya kematian, tapi cukuplah dengan adanya kekhawatiran akan mati, sekalipun dalam tingkat dugaan (zhann).
2.3. Menurut Madzhab Syafii
Imam Suyuthi dalam Al-Asybah wa An-Nazhair hal. 61 mengatakan darurat adalah sampainya seseorang pada batas di mana jika ia tidak memakan yang dilarang, ia akan binasa (mati) atau mendekati binasa. Muhammad Al-Khathib Al-Syarbaini dalam Mughni Al-Muhtaj (IV/306) menyatakan, darurat adalah rasa khawatir akan terjadinya kematian atau sakit yang menakutkan atau menjadi semakin parahnya penyakit ataupun semakin lamanya sakit...dan ia tidak mendapatkan yang halal untuk dimakan, yang ada hanya yang haram, maka saat itu ia mesti makan yang haram itu.
2.4. Menurut Madzhab Hanbali
Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (VIII/595) menyatakan, darurat yang membolehkan seseorang makan yang haram (al-dharurah al-mubahah) adalah darurat yang dikhawatirkan akan membuat seseorang binasa jika ia tidak makan yang haram.
2.5. Menurut Ulama Kontemporer
Muhamad Abu Zahrah dalam Ushul Al-Fiqh hal. 43 mendefinisikan darurat sebagai kekhawatiran akan terancamnya kehidupan jika tidak memakan yang diharamkan, atau khawatir akan musnahnya seluruh harta miliknya. Mustafa Az-Zarqa dalam Al-Madkhal Al-Fiqhi Al-Aam (I/991) berkata, darurat adalah sesuatu yang jika diabaikan akan berakibat bahaya, sebagaimana halnya al-ikrah al-mulji (paksaan yang mengancam jiwa) dan khawatir akan binasa (mati) karena kelaparan. Wahbah Az-Zuhaili dalam Nazhariyyah Al-Dharurah hal. 65 mendefinisikan darurat adalah datangnya bahaya (khathr) pada manusia atau kesulitan (masyaqqah) yang amat berat, yang membuat dia khawatir akan terjadinya mudarat atau sesuatu yang menyakitkan atas jiwa, anggota tubuh, kehormatan, akal, harta, dan yang bertalian dengannya.
3. Definisi yang Rajih
Berbagai definisi ulama madzhab empat mempunyai pengertian yang hampir sama, yaitu kondisi terpaksa yang dikhawatirkan dapat menimbulkan kematian, atau mendekati kematian. Dengan kata lain, semuanya mengarah kepada tujuan pemeliharaan jiwa (hifh an-nafs). Wahbah Az-Zuhaili menilai definisi tersebut tidaklah lengkap, sebab menurutnya, definisi darurat haruslah mencakup semua yang berakibat dibolehkannya yang haram atau ditinggalkannya yang wajib. Maka dari itu, Az-Zuhaili menambahkan tujuan selain memelihara jiwa, seperti tujuan memelihara akal, kehormatan, dan harta. Abu Zahrah juga menambahkan tujuan pemeliharaan harta, sama dengan Az-Zuhaili. Tapi, apakah definisi yang lebih lengkap ini otomatis lebih rajih (kuat)?
Sesungguhnya definisi darurat haruslah dikembalikan pada nash-nash yang menjadi sumber pembahasan darurat. Sebab istilah darurat memang bersumber dari beberapa ayat al-Quran, seperti dalam Qs. al-Baqarah [2]: 173; Qs. al-Maaidah [5]: 3; Qs. al-Anaam [6]: 119; Qs. al-Anaam [6]: 145; dan Qs. an-Nahl [16]: 115 (Asjmuni Abdurrahman, 2003:42-43). Ayat-ayat ini intinya menerangkan kondisi darurat karena terancamnya jiwa jika tidak memakan yang haram, seperti bangkai dan daging babi. Jadi, kunci persoalannya bukanlah pada lengkap tidaknya definisi darurat, melainkan pada makna dalil-dalil syari yang mendasari definisi darurat itu sendiri.
Berdasarkan ayat-ayat itulah, Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah (III/477) menyatakan, definisi darurat adalah keterpaksaan yang sangat mendesak yang dikhawatirkan akan dapat menimbulkan kebinasaan/ kematian (al-idhthirar al-mulji alladzi yukhsya minhu al-halak). Inilah definisi darurat yang sahih, yaitu kondisi terpaksa yang membolehkan yang haram, sebagaimana termaktub dalam kaidah yang masyhur: al-dharurat tubiih al-mahzhuurat (Kondisi darurat membolehkan yang diharamkan) (Abdul Hamid Hakim, t.t.:59). Definisi Taqiyuddin An-Nabhani ini dekat dengan definisi Mustafa Az-Zarqa dan kurang lebih sama maknanya dengan definisi ulama madzhab empat.
4. Implikasi Definisi
Dari definisi darurat yang rajih tersebut, kita dapat mengetahui cakupan darurat, yaitu kondisi terpaksa yang berkaitan dengan pemeliharaan jiwa (hifzh an-nafs), seperti misalnya orang kelaparan yang terancam jiwanya yang tidak mendapatkan makanan selain daging babi atau bangkai (Muhlish Usman, 1996:134). Atau seperti orang yang diancam akan dibunuh jika tidak mau mengucapkan kata-kata kufur, asalkan hatinya tetap beriman (Djafar Amir, t.t.:37).
Adapun tujuan syariah lainnya, misalnya pemeliharaan harta (hifzh al-mal), sebenarnya bukanlah termasuk cakupan darurat. Jadi, tidak benar fatwa yang membolehkan mengambil atau memanfaatkan bunga bank dari bank konvensional, dengan alasan darurat karena belum adanya bank syariah di suatu tempat.
Fatwa yang tidak tepat itu kemungkinan karena didasarkan pada definisi darurat yang lebih lengkap dari ulama kontemporer. Padahal definisi lengkap itu sebenarnya tidaklah sesuai dengan maksud yang dikehendaki oleh dalil-dalil syari untuk makna dharurah.
5. Kesimpulan
Dari uraian di atas, jelaslah bunga bank (yang termasuk riba), tidak dapat dimanfaatkan dengan alasan darurat. Misalnya dengan dalih bahwa di suatu tempat (kota, kabupaten, atau propinsi) belum ada bank syariah, sementara yang ada hanya bank konvensional yang memberi atau mengambil riba. Memanfaatkan riba adalah haram, baik di suatu tempat yang sudah ada bank syariahnya maupun yang belum ada bank syariahnya. Wallahu alam.
Daftar Pustaka
*Abdurahman, Asjmuni. 2003. Qawaid Fiqhiyyah: Arti, Sejarah, dan Beberapa Qaidah Kulliyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
*Abu Sulaiman, Abdul Wahhab Ibrahim. 1994. Pengaruh Dharurat dan Hajat Dalam Hukum Islam (Al-Dharurah wa Al-Hajah wa Atsaruhuma fi Al-Tasyri Al-Islami). Terjemahan oleh Said Agil Husain Al-Munawar & Hadri Hasan. Semarang: Dina Utama Semarang.
*Al-Jurjani. Tanpa Tahun. At-Tarifat. Jeddah: Al-Haramain.
*Amir, Djafar. Tanpa Tahun. Qaidah-Qaidah Fiqih. Semarang: Ramadhani.
*An-Nabhani, Taqiyuddin. 1953. Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah. Juz III (Ushul Al-Fiqh). T.tp.: Mansyurat Hizb Al-Tahrir.
*As-Suyuthi, Jalaluddin. Tanpa Tahun. Al-Asybah wa An-Nazha`ir fi Al-Furu. Semarang: Toha Putera.
*Az-Zuhaili, Wahbah. 1997. Konsep Darurat Dalam Hukum Islam: Studi Banding dengan Hukum Positif (Nazhariyyah Al-Dharurah Al-Syariyah Muqaranatan Maa Al-Qanun Al-Wadhi). Terjemahan oleh Said Agil Husain Al-Munawar & Hadri Hasan. Jakarta: Gaya Media Pratama.
*Hakim, Abdul Hamid. Tanpa Tahun. As-Sulam. Jakarta: Saadiyah Putra.
*Munawwir, Ahmad Warson. 1984. Kamus Al-Munawwir. Cet. Ke-1. Yogyakarta: PP. Al-Munawwir Krapyak.
*Usman, Muhlish. 1996. Kaidah-Kaidah Ushuliyah dan Fiqhiyah. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

PERDA MDTA, ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN




By : Nazli Agustina Nasution, S.PdI
(Praktisi Pendidikan)

DPRD Kota Medan terus mendorong penerapan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2014 tentang Wajib Belajar Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA). Dengan adanya Perda tersebut, diharapkan dapat menumbuhkembangkan pendidikan Islam khususnya bagi siswa Sekolah Dasar (SD) di Kota Medan.
            Hal tersebut disampaikan anggota DPRD Medan, Ihwan Ritonga, saat mensosialisasikan Peraturan Daerah nomor 5 Tahun 2014 tentang Wajib Belajar MDTA tersebut dengan mengungkapkan kondisi generasi muda di kota Medan yang sudah sangat darurat kondisi pengetahuan agamanya sehingga sangat mudah terpapar kriminalitas dan penyalahgunaan narkoba. Harapan kedepan tentu saja dengan adanya Perda ini dapat membentengi generasi bangsa untuk dapat memahami pentingnya ilmu agama.
            Tentu, hal ini sangat kita apresiasi, karena sejujurnya dunia pendidikan kita masih carut marut. Potret pendidikan kita masih buram dan semakin hitam. Setiap hari, setiap saat kita selalu disuguhkan berita tentang kenakalan remaja, meningkatnya tawuran remaja dan terus bertambahnya angka praktik aborsi yang dilakoni para remaja dari waktu ke waktu. Belum lagi para generasi seperti sudah kehilangan moralitas. Akhlak kepada guru ibarat sesuatu yang langka di jaman ini. Miris, sedih, dan kesal yang kita rasakan. Sehingga upaya kerja kerja nyata dari semua pihak sangat dinanti oleh masyarakat untuk memperbaiki kondisi ini. Salah satunya dengan diwacanakannya Perda MDTA ini. Namun pertanyaannya apakah memang Perda MDTA ini akan menjadi sesuatu yang solutif? Mengingat jaminan keber-agama-an anak didik hanya diatas secarik kertas semacam surat keterangan saja.
            Tidak dapat dipungkiri bahwa kenakalan remaja semakin tidak terbendung. Dan yang paling berkontribusi terhadap kenakalan remaja tersebut salah satunya  adalah karena memang minimnya pendidikan agama yang dijalankan oleh sistem pendidikan kita saat ini. Sistem pendidikan kita hari ini menyebabkan tergerusnya keimanan dan ketaqwaan individu pendidikan dalam memahami tujuan pendidikan itu sendiri yaitu menuju manusia yang ber IMTAQ. Gaya hidup permissive, hedonis dan liberal adalah penampakan sehari-hari dari generasi kita. Dari mulai  ada yang keguguran di dalam ruang kelas sampai tega menginjak Al Quran demi pacar seolah menjadi berita yanglumrah adanya. Miris!.
Lalu apakah kita akan mengatakan bahwa kondisi tersebut disebabkan oleh tidak cukupnya bekal agama saat di sekolah dasar? Sehingga diperlukan menerbitkan perda wajib MDTA bagi lulusan sekolah dasar sebagai jaminan telah memiliki keber-agama-an yang baik. Jawabannya tentu tidak. Karena sesungguhnya yang sedang menyajikan bobroknya dunia pendidikan kita hari ini adalah sistem pendidikan sekuler yaitu pemisahan agama dari kehidupan yang diadopsi oleh Negeri kita. Sistem pendidikan sekuler telah menjadi pondasi bagi berjalannya kurikulum pendidikan kita. Bahwa keilmuan telah dikotomi dari ruh agama, kering dari sense of spiritual value. Mengalokasikan pendidikan agama seminimal mungkin, tidak cukup dan tidak memadai. Padahal ini modal bagi proses membina anak didik agar menjadi manusia yang ber IMTAQ.Bahwa anak didik harus senantiasa didekatkan dengan nilai agama saat dia belajar keilmuan apapun.
Dengan demikian, wacana penerbitan perda wajib MDTA selayaknya perlu dikritisi lagi karena memang bukan solusi efektif dan tidak tepat untuk mengubah wajah dunia pendidikan kita. Sekali lagi bahwa akar persoalan pendidikan kita adalah karena diterapkannya sistem pendidikan sekuler.
            Lantas apa solusi efektifnya? Tidak lain adalah kembali kepada Islam. Ya, hanya kembali kepada Islam. Sebab Islam sebagai agama sempurna yang diturunkan Rabb semesta alam, telah menjelaskan seluruh sistem kehidupan ini, termasuk di dalamnya sistem pendidikan. Setidaknya ada tiga poin penting diantara beberapa poin tentang format pendidikan di dalam Islam yang akan diterapkan oleh Negara, antara lain : Pertama, Asas pendidikan formal adalah akidah Islam. Seluruh mata pelajaran harus berdasarkan akidah Islam dalam rangka membentuk kepribadian Islam pada diri peserta didik.  Kedua, Tujuan pendidikan adalah membentuk kepribadian Islami serta membekali anak didik dengan sejumlah ilmu dan pengetahuan yang berhubungan dengan urusan hidupnya. Ketiga, Negara menjamin penyelenggaraan pendidikan bagi seluruh rakyatnya, tanpa memandang agama, suku dan ras serta bertanggung jawab sepenuhnya dalam menyediakan fasilitas pendidikan bagi rakyatnya. Dan semua format pendidikan tersebut hanya bisa diselenggarakan oleh sebuah institusi yang bernama Khilafah Islamiyah.
Wallahu a’lam