Slider

Berita Video

Berita Pilihan

Kabar Medan

Tsaqofah

Sudut Pandang

Dinamika Dakwah

Berita Foto

KEMBALINYA KHILAFAH DAN IMAM MAHDI DI AKHIR ZAMAN



Oleh : KH. Hafidz Abdurrahman
Soal:
Keyakinan kaum Muslim akan kembalinya Khilafah ‘ala Minhaj Nubuwwah semakin meningkat. Namun, ada sebagian yang percaya, bahwa Khilafah akan berdiri sendiri, karena sudah merupakan janji Allah. Caranya, dengan menurunkan Imam Mahdi. Pertanyaannya, benarkan Imam Mahdi yang akan mendirikan Khilafah? Ataukah kaum Muslim yang mendirikannya, kemudian lahirlah Imam Mahdi?
Jawab:
1- Kalaupun ada hadits yang menunjukkan Imam Mahdi akan mendirikan, maka hadits tersebut tetap tidak boleh dijadikan alasan untuk menunggu berdirinya Khilafah. Karena berjuang untuk menegakkan Khilafah hukumnya tetap wajib bagi kaum Muslimin, sebagaimana hadits Nabi:
مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةِ اللهِ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَحُجَّةَ لَهُ، وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِيْ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
“Siapa saja yang melepaskan tangannya dari ketaatan kepada Allah, niscaya dia akan menjumpai Allah pada Hari Kiamat dengan tanpa mempunyai hujah. Dan, siapa saja yang mati sedangkan di atas pundaknya tidak terdapat bai’at, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah.” (Hr. Muslim)
Manthuq hadits di atas menyatakan, bahwa “Siapa saja yang mati, ketika Khilafah sudah ada, dan di atas pundaknya tidak ada bai’at, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah.” Atau “Siapa yang mati, ketika Khilafah belum ada, dan dia tidak berjuang untuk mewujudkannya, sehingga di atas pundaknya ada bai’at, maka dia pun mati dalam keadaan mati jahiliyah.” Karenanya, kewajiban tersebut tidak akan gugur hanya dengan menunggu datangnya Imam Mahdi.
2- Memang banyak hadits yang menuturkan akan lahirnya Imam Mahdi, namun tidak satupun hadits-hadits tersebut menyatakan, bahwa Imam Mahdilah yang akan mendirikan Khilafah. Hadits-hadits tersebut hanya menyatakan, bahwa Imam Mahdi adalah seorang Khalifah yang saleh, yang akan memerintah dengan adil, dan akan memenuhi bumi dengan keadilan, sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kezaliman dan penyimpangan. Dari Abi Sa’id al-Hudhri ra. berkata, dari Nabi saw. bersabda:
لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَمْتَلِيءَ الأَرْضُ ظُلْمًا وَعُدْوَانًا، ثُمَّ يَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِيْ أَوْ عِتْرَتِيْ فَيَمْلَؤُهَا قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَعُدْوَانًا
"Hari kiamat tidak akan tiba, kecuali setelah bumi ini dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan. Setelah itu, lahirlah seorang lelaki dari kalangan keluargaku (Ahlu al-Bait), atau keturunanku, sehingga dia memenuhi dunia ini dengan keseimbangan dan keadilan, sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan." (Hr. Ibn Hibban)
Dalam riwayat lain, dari Abdullah, dari Nabi Rasulullah saw. beliau bersabda:
لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَمْلِكَ النَّاسَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِىءُ اسْمَهُ اسْمِي وَاسْمَ أَبِيْهِ اسْمُ أَبِيْ فَيَمْلَؤُهَا قِسْطًا وَعَدْلاً
"Hari kiamat tidak akan tiba, kecuali setelah manusia ini diperintah oleh seorang lelaki dari kalangan keluargaku (Ahlu al-Bait), yang namanya sama dengan namaku, dan nama bapaknya juga sama dengan nama bapakku. Dia kemudian memenuhi dunia ini dengan keseimbangan dan keadilan." (Hr. Ibn Hibban)
3- Hanya saja, terdapat riwayat yang menyatakan, bahwa Imam Mahdi tersebut lahir setelah berdirinya Khilafah, bukan sebelumnya. Diriwayatkan dari Ummu Salamah, berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:
يَكُوْنُ اخْتِلاَفٌ عِنْدَ مَوْتِ خَلِيْفَةٍ فَيَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ المَدِيْنَةِ هَارِبًا إِلَى مَكَّةَ فَيَأْتِيْهِ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ فَيَخْرُجُوْنَهُ وَهُوَ كاَرِهٌ فَيُبَايِعُوْنَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ وَيُبْعَثُ إِلَيْهِ بَعْثٌ مِنَ الشَّامِ فَيُخْسِفَ بِهِمْ بِالبَيْدَاءِ بَيْنَ مَكَّةَ وَالمَدِيْنَةِ فَإِذَا رَأَى النَّاسُ ذَلِكَ أَتَاهُ أَبْدَالُ الشَّامِ وَعَصَائِبُ أهْلِ العِرَاقِ فَيُبَايِعُوْنَهُ، ثُمَّ يَنْشَأُ رَجُلٌ مِنْ الشَّامِ أَخْوَالُهُ كَلْبٌ فَيَبْعَثُ إِلَيْهِمْ بَعْثًا فَيُظْهِرُوْنَ عَلَيْهِمْ وَذَلِكَ بَعْثُ كَلْبٍ وَالْخَيْبَةِ لِمَنْ لَمْ يَشْهَدْ غَنِيْمَةَ كَلْبٍ فَيُقَسِّمُ المَالَ وَيَعْمَلُ فِي النَّاسِ.. وَيُلْقِيَ الإِسْلاَمَ بِجِرَانِهِ فِي الأَرْضِ فَيَلْبَثُ سَبْعَ سِنِيْنَ ثُمَّ يَتَوَفَّى وَيُصَلِّى عَلَيْهِ الُمسْلِمُوْنَ وَفِي رِوَايَةٍ فَيَلْبَثُ تِسْعَ سِنِيْنَ
“Akan muncul pertikaian saat kematian seorang Khalifah. Kemudian seorang lelaki penduduk Madinah melarikan diri ke kota Makkah. Penduduk Makkah pun mendatanginya, seraya memintanya dengan paksa untuk keluar dari rumahnya, sementara dia tidak mau. Lalu, mereka membai’atnya di antara Rukun (Hajar Aswad) dengan Maqam (Ibrahim). Disiapkanlah pasukan dari Syam untuknya, hingga pasukan tersebut meraih kemenangan di Baida’, tempat antara Makkah dan Madinah. Tatkala orang-orang melihatnya, dia pun didatangi oleh para tokoh Syam dan kepala suku dari Irak, dan mereka pun membai’atnya. Kemudian muncul seorang (musuh) dari Syam, yang paman-pamannya dari suku Kalb. Dia pun mengirimkan pasukan untuk menghadapi mereka, hingga Allah memenangkannya atas pasukan dari Syam tersebut, hingga al-Mahdi merebut kembali daerah Syam dari tangan mereka. Itulah suatu hari bagi suku Kalb yang mengalami kekalahan, yaitu bagi orang yang tidak mendapatkan ghanimah Kalb. Al-Mahdi lalu membagi-bagikan harta-harta tersebut dan bekerja di tengah-tengah masyarakat… menyampaikan Islam ke wilayah di sekitarnya. Tidak lama kemudian, selama tujuh atau, dia pun meninggal dunia, dan dishalatkan oleh kaum Muslim. Dalam riwayat lain dinyatakan, tidak lama kemudian, selama sembilan tahun. ” (Hr. At-Thabrani)
Hadits di atas, dengan jelas menyatakan, bahwa akan lahir Khalifah baru setelah meninggalnya Khalifah sebelumnya. Sebagaimana yang dinyatakan dalam lafadz:
يَكُوْنُ اخْتِلاَفٌ عِنْدَ مَوْتِ خَلِيْفَةٍ فَيَخْرُجُ رَجُلٌ
“Akan muncul pertikaian saat kematian seorang Khalifah. Kemudian keluarlah seorang lelaki..” (Hr. At-Thabrani)
Dengan demikian, pandangan yang menyatakan, bahwa Imam Mahdilah yang akan mendirikan Khilafah Rasyidah Kedua jelas merupakan pandangan yang lemah. Demikian juga pandangan yang menyatakan, bahwa tidak perlu berjuang untuk menegakkan Khilafah, karena tugas itu sudah diemban oleh Imam Mahdi, sehingga kaum Muslim sekarang tinggal menunggu kedatangannya, adalah juga pandangan yang tidak berdasar.
Jadi jelas sekali, bahwa Imam Mahdi bukanlah orang yang mendirikan Khilafah, dan dia bukanlah Khalifah yang pertama dalam Khilafah Rasyidah Kedua yang insya Allah akan segera berdiri tidak lama lagi. Karena itulah, tidak ada pilihan lain bagi setiap Muslim yang khawatir akan mati dalam keadaan jahiliyah, selain bangkit dan berjuang bersama-sama para pejuang syariah dan Khilafah hingga syariah dan Khilafah tersebut benar-benar tegak di muka bumi ini.
Wallahu a'lam bish showaab...

MENOLAK PAHAM PLURALISME


Oleh: Achmad Fathoni (dir. El harokah Research Center)
Rasulullah bersabda: “Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti tradisi/kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak-pun kalian pasti akan mengikuti mereka.” Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka.” (HR. Muslim, No. 4822)
Paham pluralisme yang sedang gencar-gencarnya dipromosikan di seantero dunia termasuk di Indonesia. Pluralisme (agama) sebenarnya mengandung 2 (dua) hal sekaligus: (1) Kenyataan bahwa di sana ada keanekaragaman agama; (2) Pandangan tertentu dalam menyikapi realitas keanekaragaman agama yang ada. Kesimpulan ini dapat ditelaah, misalnya, dalam penjelasan Josh McDowell mengenai definisi pluralisme. Menurut McDowell, ada dua macam pluralisme: (1) Pluralisme tradisional. Pluralisme ini didefinisikan sebagai “menghormati keimanan dan praktik ibadah pihak lain tanpa ikut serta bersama mereka”. (2) Pluralisme baru yang menyatakan bahwa “setiap keimanan, nilai, gaya hidup dan klaim kebenaran dari setiap individu adalah sama”. (http://www.ananswer.org/mac/answeringpluralism.html, diakses 11/6/2005).
Dari pengertian pluralisme di atas, jelas bahwa yang dia sampaikan bukan sekadar fakta, tetapi sudah menyangkut opini. Ini terlihat dari pandangan bahwa semua keimanan, nilai, gaya hidup dan klaim kebenaran, adalah sama/setara.
Benar, bahwa ada keanekaragaman keyakinan, kepercayaan atau agama. Ini adalah kenyataan dan merupakan sunatullah. Inilah yang disebut dengan pluralitas. Namun, jika kemudian dikembangkan paham/opini bahwa semua agama benar, tidak boleh ada monopoli klaim kebenaran, tidak mengapa merayakan Perayaan Natal Bersama atas nama toleransi, dll; semua itu jelas sebuah penyesatan. Inilah paham pluralisme yang memang sengaja didesakkan ke dalam tubuh umat Islam untuk melemahkan akidah mereka.
Karena itu, paham pluralisme agama, di samping patut dikritisi, juga harus diwaspadai. Alasannya karena: Pertama, secara normatif pluralisme agama bertentangan secara total dengan akidah islamiyah. Sebab, pluralisme agama menyatakan bahwa semua agama adalah benar: Islam benar, Kristen benar, Yahudi benar, Ahmadiyah benar dan semua agama/keyakinan apa pun sama-sama benar. Sebaliknya, menurut Islam, hanya Islam yang benar (QS Ali-Imran [3]: 19); agama selain Islam adalah tidak benar dan tidak diterima oleh Allah SWT (QS Ali-Imran [3]: 85).
Kedua, secara historis paham pluralisme bukanlah dari umat Islam, namun dari orang-orang Barat sekular, yang mengalami trauma konflik dan perang antara Katolik dan Protestan, juga Ortodok. Misalnya pada 1527 di Paris terjadi peristiwa yang disebut The St Bartholomeus Day’s Massacre. Pada suatu malam di tahun itu, sebanyak 10.000 jiwa orang Protestan dibantai oleh orang Katolik. Peristiwa mengerikan semacam inlah yang lalu mengilhami revisi teologi Katolik dalam Konsili Vatikan II (1962-1965).Semula diyakini: extra ecclesiam nulla salus (outside the church no salvation); tak ada keselamatan di luar Gereja. Lalu keyakinan itu diubah, bahwa kebenaran dan keselamatan itu bisa saja ada di luar Gereja (di luar agama Katolik/Protestan). Jadi, paham pluralisme agama ini tidak memiliki akar dalam sejarah dan tradisi Islam, tetapi diimpor dari kaum Kristen di Eropa dan AS.
Ketiga, andaikata hasil Konsili Vatikan II diamalkan secara konsisten, tentunya Gereja harus menganggap agama Islam benar. Faktanya, Gereja tidak konsisten. Gereja terus saja melakukan kristenisasi yang menurut mereka guna menyelamatkan domba-domba yang sesat (baca: umat Islam) yang belum pernah mendengar kabar gembira dari Tuhan Yesus. Kalau Islam benar, mengapa kritenisasi di Dunia Islam terus saja berlangsung? Lagipula, pada 28 Januari 2000, Paus Yohanes Paulus II pernah membuat pernyataan, “The Revelation of Jesus Christ is definitive and complete.” (Ajaran Jesus Kristus sudah tetap dan komplit). Paus juga menyatakan, bahwa agama-agama selain Katolik memiliki kekurangan.Hanya Gereja Katolik yang merupakan jalan keselamatan yang sempurna menuju Tuhan. Pada tahun 2000 itu pula Paus Yohannes Paulus II mengeluarkan dekrit ‘Dominus Jesus’ yang secara tegas menolak paham pluralisme agama. (Adian Husaini, Hidayatullah.com, 7/5/2007).
Keempat, secara politis pluralisme agama dilancarkan di tengah dominasi Kapitalisme yang Kristen atas Dunia Islam. Karena itu, arah pluralisme patut dicurigai. Andai tujuan pluralisme adalah demi menjunjung tinggi HAM, mencegah konflik dan kekerasan, menguatkan perdamaian dunia dll maka perlu disadari:
  1. Menurut Amnesti Internasional, AS adalah pelanggar HAM terbesar di dunia. Sejak Maret 2003 ketika AS menginvasi Irak, sudah 100.000 jiwa umat Islam yang dibunuh oleh AS. Jadi, mengapa umat Islam dan bukan AS yang menjadi sasaran penyebaran paham pluralisme?
  2. Konflik dan kekerasan juga sering terjadi karena faktor politik, bukan karena motif agama. Lagi-lagi, AS-lah yang banyak menyulut konflik di berbagai negara. Di Irak, misalnya, AS sengaja menyulut konflik Sunni-Syiah dalam rangka melemahkan posisi umat Islam di sana. Tujuannya jelas: untuk memecah-belah Irak agar mudah dikuasai. Demikian juga di Pakistan. Konflik di Pakistan yang menewaskan puluhan orang baru-baru ini bukanlah konflik agama atau antara penganut Islam ’garis keras’ dan Islam ’moderat’, namun lebih mencerminkan konflik kepentingan antara AS dan Inggris di wilayah itu. Konflik itu tercermin dari perseteruan Musharraf (yang merupakan kaki tangan AS) dan Benazir Bhuto (yang menjadi kaki tangan Inggris).
Tujuan akhir dari konsep pluralisme agama sangat mudah dibaca, yaitu untuk menghancurkan akidah umat Islam. Pasalnya, Barat sangat memahami bahwa akidah Islam adalah kunci vitalitas sekaligus ruh kebangkitan umat Islam. Kalau akidah umat Islam tidak segera dihancurkan, mereka akan bisa berpotensi menjadi ancaman serius untuk menantang hegemoni Barat pada masa datang. Itulah mengapa, Baratlah, terutama AS, begitu royal membiayai LSM-LSM untuk berbagai proyek pluralisme di Dunia Islam, termasuk di Indonesia.[]

PEMIMPIN FAQIH DAN PEMIMPIN BODOH



Oleh: Yasin Muthohar
Umar bin khatab pernah berkata :
تفقهوا قبل أن تسودوا
Pahamilah agama sebelum memimpin. (HR. Bukhari).
Perkataan Umar ini menegaskan bahwa :
Pertama :  Memahami agama merupakan pra-syarat menjadi pemimpin.
Karena itu sebelum menjadi pemimpin diharuskan mempelajari agama terlebih dahulu.
Alasannya karena jika pemimpin tidak memahami agama maka akan lahir kepemimpinan orang-orang bodoh.
Jika sudah muncul pemimpin bodoh, yang tidak memahami agama, maka kehancuran suatu umat sudah di depan mata.
Rasulullah SAW pernah berkata kepada sahabat beliau, Ka’ab Bin Ujroh:
اعاذك الله من إمارة السفهاء
Semoga Allah melindungimu dari kepemimpinan orang-orang yang bodoh.
Ka’ab bertanya: Seperti apakah kememimpinan yang bodoh itu, ya Rasulallah ?
Rasulullah SAW bersabda :
أمراء يكونون بعدي لايهتدون بهديي ولايستنون بسنتي
Yaitu para pemimpin setelahku. Mereka tidak menggunakan petunjuk-ku dan tidak menjalankan  Sunnah-ku.
Rasulullah SAW melanjutkan
فمن صدقهم بكذبهم وأعانهم على ظلمهم فليسوا مني ولست منهم ولن يردوا علي الحوض. ومن لم يصدقهم على كذبهم ولم يعنهم على ظلمهم فأولئك مني وأنا منهم وسيردون علي الحوض
Siapa saja yang membenarkan mereka atas kedustaanya dan menolong mereka atas kezalimannya, maka mereka bukan bagian dariku dan aku bukan bagian dari mereka.  Mereka tidak akan datang padaku di telagaku nanti.
Dan siapa saja yang tidak membenarkan mereka atas kedustaanya dan tidak menolong mereka atas kezalimannya, maka mereka bagian dariku dan aku bagian dari mereka.  Mereka akan datang padaku di telagaku nanti. (HR. Hakim dalam al-Mustadrok).
Kedua :
Bahwa siapa saja yang memahami agama, dia harus berupaya untuk menjadi pemimpin. Karena jika tidak, posisi kepemimpinan akan diisi oleh orang-orang yang bodoh.
Allah mengajarkan kita untuk selalu berdoa:
واجعلنا للمتقين إماما
Dan jadikanlah kami sebagai pemimpin orang-orang yang bertaqwa.
Dunia ini hanya akan beres jika dikuasai dan diatur oleh orang-orang yang paham agama.
Yaitu orang-orang yang karena pemahamannya akan selalu terikat pada syariat Allah.
Mereka akan menjadikan kepemimpinan untuk berkhidmat  kepada agama dan hamba-hamba  Allah.
Allah berfirman :
إن الأرض يرثها عبادي الصالحون
Sungguh bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang Saleh.
Maksudnya bumi ini hanya berhak dimakmurkan oleh orang yang saleh.
Hanya orang yang salehlah-lah yang layak memakmurkan bumi.
Ketika bumi dikelola oleh orang-orang yang saleh pasti bumi ini akan beres.
Ketika orang-orang saleh – karena  kefaqihannya-  menjadi pemimpin, pasti akan menjadi kebahagiaan bagi pemimpin dan yang dipimpin.
Diriwayatkan dari Tamim Ad-Daari bahwa di masa Umar bin Khatab orang-orang pada berlomba membuat bangunan yang tinggi. Melihat itu umar berkata :
يَا مَعْشَرَ الْعُرَيْبِ ، الْأَرْضَ الْأَرْضَ ، إِنَّهُ لَا إِسْلَامَ إِلَّا بِجَمَاعَةٍ ، وَلَا جَمَاعَةَ إِلَّا بِإِمَارَةٍ ، وَلَا إِمَارَةَ إِلَّا بِطَاعَةٍ ، فَمَنْ سَوَّدَهُ قَوْمُهُ عَلَى الْفِقْهِ ، كَانَ حَيَاةً لَهُ وَلَهُمْ ، وَمَنْ سَوَّدَهُ قَوْمُهُ عَلَى غَيْرِ فِقْهٍ ، كَانَ هَلَاكًا لَهُ وَلَهُمْ
Wahai penduduk Uraib (sebuah klan di Yaman), bumi-bumi (rendahkan bangunan kamu ke bumi). Sungguh tidak sempurna Islam kecuali dengan Jam’ah,
Tidak akan ada Jam’ah tanpa adanya kepemimpinan, Tidak ada kepemimpinan tanpa ketaatan.
Siapa saja yang diangkat menjadi pemimpin oleh kaumnya atas dasar kefaqihannya (pemahaman dalam agama), maka pasti hal itu akan menjadi kehidupan bagi dirinya dan bagi mereka.[]

MELARANG BAHAS POLITIK DI MASJID SAMA SAJA MENGAMPUTASI AJARAN ISLAM

Dakwahsumut.com – Sepanjang suatu perkara itu diatur oleh Islam dan Islam memberikan aturan tentang itu maka, ujar Ketua Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ustadz Rokhmat S Labib, tidak boleh ada larangan untuk membicarakan itu dalam masjid termasuk dalam khutbah.
“Jadi siapa saja yang melarang membahas politik di masjid ini sama halnya dengan mengamputasi atau memangkas salah satu bagian yang sangat penting dalam Islam,” ujarnya kepada mediaumat.news, Senin (23/4) di Jakarta.
Itu artinya, lanjut Rokhmat, Islam dibatasi dengan hawa nafsu dan kepentingan mereka. Jadi kalau sesuai diambil, kalau tidak sesuai tidak diambil. “Ini bahaya sekali justru, bagaimana mungkin Islam dipangkas sedemikian rupa, diserupakan dengan agama-agama lain yang memang tidak mengatur politik,: bebernya.
Karena, ungkapnya, politik ini bukan sesuatu yang dibiarkan oleh Islam tetapi Islam mengatur politik juga sebagaimana Islam mengatur shalat, akhlak, makanan, pakaian dan seterusnya.
Ironisnya, beber Rokhmat, pada saat yang sama pihak-pihak yang mewacanakan tidak boleh membahas politik di masjid malah menggunakan simbol-simbol Islam, pakai surban, peci, supaya dianggap bagian dari komunitas Islam kemudian diterima oleh umat Islam.
Rokhmat juga menyebutkan sebenarnya kalau ada pejabat terlibat mengatur masjid itu bagus selama betul-betul mengatur, tapi kemudian masalahnya malah mengganggu Islam, mencurigai Islam. Ditambah lagi adanya intel di masjid untuk menginteli umat Islam berpidato, berceramah, tentu ini justru mengganggu Islam, menakut-nakuti umat Islam agar tidak membicarakan Islam secara kaffah.
“Ini yang jadi masalahnya,” pungkasnya.[] Mediaumat

Mushallah Al Hasanah Gelar Peringatan Isra' Mi'raj Bahas Khilafah


Dakwahsumut.com,Tanjungbalai(21/4). Sekitar 200 orang warga masyarakat Bunga Tanjung Lingkungan V hadiri Tabligh Akbar dan Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW. 1439 H di Mushallah Al Hasanah Jl. Anwar Idris Kelurahan Bunga Tanjung Lik. V Kecamatan Datuk Bandar Timur Kota Tanjungbalai. selain mengadakan Isra' Mi'raj sebelumnya diadakan perlombaan baca surat Al Fatiha dan lomba Azan tingkat anak-anak pada 18 s/d 19  (kamis-jumat) April 2018.

Tabligh Akbar dan Peringatan Isra' Mi'raj tersebut menghadirkan ustadz Musa Abdul Ghani dari Kota Medan dan  mengambil tema " Isra' Mi'raj sebagai momentum Kebangkitan Umat". Muhammad Ali Rukun  sebagai ketua panitia dalam sambutannya turut berterima kasih pada semua pihak dalam mensukseskan acara tersebut. '" saya bangga pada semua panitia yang terlibat dalam kegiatan ini begitu juga dengan ibu-ibu yang menyiapkan konsumsi dalam waktu singkat hanya seminggu sudah bisa melaksanakan kegiatan ini mulai dari perlombaan hingga Tablig Akbar & Isra'  Mi'raj", ujar beliau.

Begitu juga dengan Nazir Mushallah Al Hasanah Syafri Sinambela dalam sambutannya berharap pada masyarakat agar dapat menginfakkan sebagain hartanya untuk perluasan mushallah yang saat ini terdapat lahan kosong yang belum terpakai di sekitar mushallah. sementara mewakili tokoh masyarkat Zainuddin dalam sambutannya berharap pada ustadz Musa untuk dapat memberikan pencerahan tentang banyaknya kelompok atau aliran yang berkembang saat ini di daerah tersebut, beliau mohon penjelasan pada ustadz musa untuk memberikan pencerahan seputar berbagai aliran tersebut agat tidak salah faham diantar sesama umat.

Ustadz Musa dengan gamblang membahas seputar Isra' Mi'raj termasuk seputar shalat yang merupakan perintah wajib yang dlangsung dijemput Rasulullah dari langit melaui Isra' Mi'raj. selain itu Ustadz Musa juga mengupas tuntas seputar Islam termasuk Khilafah yang merupakan ajaran Islam.beliau menegaskan bahwa ajaran Islam itu tidak hanya shalat tapi ada muamalah seperti hudud, qishas yang itu semua akan bisa terlaksana ketika adanya Khilafah, ujar beliau. Acara tersebut berlangsung dengan sukses dan ditutup dengan do'a oleh ustadz Musa. Diakhir acara pengumuman pemenag lomba baca surat al fatiha dan azan diumumkan oleh Muhammad Ali Rukun sebagai ketua Panitia.[] ar


Masjid Al Jihad Tanjungbalai Gelar Tabligh Akbar & Peringatan Isra' Mi'raj


Dakwahsumut.com,Tanjungbalai (22/4). Sekitar 300 orang warga masyarakat Sei dua  dan sekitarnya  menghadiri Acara Tabligh Akbar dan Perigatan Isra'Mi'raj 1439 H di Masjid Al Jihad Jl. SMAN 6 Kelurahan Bunga Tanjung Kecamatan Datuk Bandar Timur Kota Tanjungbalai. Panitia Pelaksana sengaja mengundang Pembicara Ustadz Musa Abdul Gahani yang berasal dari Kota Medan dan Qoriah Ainul Afifah Nasution yang juga berasal dari kota Medan

Ketua Panitian Pelaksana Muhammad Ali Rukun dalam sambutannya mengucapkan banyak terima kasih pada semua pihak yang turut mensukseskan acara tersebut bauik para donatur, panitia dan masyarkat lainnya yang terlibat. Acara tersebut mengambil tema Diseberang kematian dengan maksud agar umat Islam saat ini selalu ingat kematian sehingga bisa mempersiapkan amal terbaik dalam menghadap Allah nantinya. Begitu juga dengan Nazir Masjid Al Jihad Idham Hamid Sitorus dalam sambutannya berharap agar Ustadz Musa memberikan pencerahan tentang diseberang kematian. Selain itu tampak juga hadir camat Datuk Bandar Timur Waris Tholib SAg, MM memberikan sambutan. Beliau berharap agar umat Isam tidak terpecah belah dengan banyaknya pemahahan yang ada saat ini.

Ustadz Musa dalam ceramahnya dengan penuh semangat menjelaskan tentang tema yang diberikan beliau menegaskan bahwa semua manusia akan mengalami kematian maka yang penting bagi kita adalah bagaimana kita memahami hakikat hidup ini, kita harus tau dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup dan kemana kita setelah mati, ujar beliau, beliau juga menjelaskan tentang seputar kewajiban shalat sebagai ibadah yang langsung dijemput Rasulullah saw. melalui isra' mi'raj tepatnya 27 Rajab.

Para jamaah antusias mengikuti rangkaian acara tersebut hingga selesai yang berlangsung dengan sukses diiringi dengan hiburan dari remaja .kemudian acara ditutup dengan do'a oleh ustadz Musa abdul Ghani. [] ar

MDI Tanjungbalai Gelar Training Keluarga Samara



Dakwahsumut.com,Tanjungbalai(22/4). Puluhan warga Tanjungbalai ikuti Training Keluarga Samara  (Sakinah,Mawadah warahmah) yang digelar Majelis Dakwah Islam(MDI) dan didukung berbagai komunitas Tanjungbalai seperti Kawan Hijrah,PRITA,Yuk Ngaji dan Sahabat Hijrah Rail Istiqomah.

Acara tersebut dilaksanakan di Raja Bahagia Resto Jl.Alteri Tanjungbalai dengan mengundang pembicara Ustadz Musa Abdul Ghani dari Kota Medan. Ustadz Muhammad Ali Rukun sebagai Pelaksana kegiatan dalam sambutannya mengatakan bahwa acara tersebut digelar untuk memberikan motivasi sehingga para peserta bisa membangun keluarga yang sakinah,mawadah warahmah karena saat ini banyaknya permasalah keluarga yang terjadi ditengah-tengah masyarakat. Begitu juga dengan peserta yang belum menikah beliau berharap agar nantinya punya bekal ketika akan menikah.

Ustadz Musa sebagai pembicara menjelaskan secara gamblang bagaimana cara membentuk keluarga yang samara dimulai dari proses pernikahan yang syar'i dengan memilih pasangan yang sesuai dengan kriteria Islam dan tidak hanya melihat dari segi kecantian dan harta namun dengan mengutamakan agamanya. selain itu beliau jugan menjelaskan tentang hak dan kewajiban suami dan istri segingga kewajiban ini dilaksanakan maka akan dapat mewujudkan keluarga samara. ustadz Musa juga menyampaikan materi bagaiman membangun sinergi antara suami dan istri apalagi sebagai pengemban dakwah butuh yang mananya sinergitas, ujarnya .

Disela acara Surya Darma sebagai Pembawa acara memberikan berbagai yel-yel dan games untuk menyemangati peserta training samara serta memberikan door prize bagi peserta. para peserta nampak antusias mengikuti acara tersebut hingga selesai. Kegitan tersebut berjalan dengan sukses ditutup dengan do'a bersama oleh ustadz Musa dan makan bersama yang sudah disiapkan oleh panitia.[] ar