Makna Qalbun Dan Qulubun Dengan Makna Hati Yang Dikaitkan Dengan Aktivitas Berfikir Manusia
Oleh : Fatih al - Malawy
Muqaddimah
Di dalam al - Qur'an maupun Hadits, kata Qalbun (bentuk Murad) dan Qulubun (bentuk jamak) yang dimaknai dengan hati, sering dikaitkan dengan aktivitas berpikir.
Hal ini sebagaimana Firman Allah SWT :
أفلم يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا
“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami ? (TQS. al - Hajj [22] : 46)
لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا
“Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami.”
(TQS. al - A‘raf [7] : 179)
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Tidakkah mereka merenungkan al - Qur’an, ataukah hati mereka telah terkunci?” (TQS. Muhammad [47] : 24)
وَجَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا
“Dan Kami telah menjadikan tutupan atas hati mereka sehingga mereka tidak memahaminya, dan sumbatan pada telinga mereka” (TQS. al - An'am [6] ; 25)
فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ
“Maka hati mereka dikunci, sehingga mereka tidak memahami.” (TQS. al - Munafiqun [63] : 3)
Rasulullah Saw juga bersabda :
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. Imam Bukhari dan Muslim)
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Imam Muslim)
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ: يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Rasulullah Saw sering mengucapkan (berdo'a) : "Wahai Dzat Yang membolak - balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama - Mu." (HR. Imam at - Tirmidzi)
Penjelasan Para Ulama
Imam Ibnu Manzhur dalam kitab Lisan al - Arab menyatakan :
القَلْبُ : تَحْوِيلُ الشَّيْءِ عَنْ وَجْهِهِ. قَلَبَهُ يَقْلِبُهُ قَلْبًا، وَأَقْلَبَهُ، الأَخِيرَةُ عَنِ اللِّحْيَانِيِّ وَهِيَ ضَعِيفَةٌ. وَقَدِ انْقَلَبَ، وَقَلَبَ الشَّيْءَ وَقَلَّبَهُ: حَوَّلَهُ ظَهْرًا لِبَطْنٍ. وَتَقَلَّبَ الشَّيْءُ ظَهْرًا لِبَطْنٍ، كَالْحَيَّةِ تَتَقَلَّبُ عَلَى الرَّمْضَاءِ. وَقَلَبْتُ الشَّيْءَ فَانْقَلَبَ أَيْ انْكَبَّ، وَقَلَّبْتُهُ بِيَدِي تَقْلِيبًا، وَكَلَامٌ مَقْلُوبٌ، وَقَدْ قَلَبْتُهُ فَانْقَلَبَ، وَقَلَّبْتُهُ فَتَقَلَّبَ.
وَالْقَلْبُ أَيْضًا: صَرْفُكَ إِنْسَانًا، تَقْلِبُهُ عَنْ وَجْهِهِ الَّذِي يُرِيدُهُ. وَقَلَّبَ الْأُمُورَ: بَحَثَهَا وَنَظَرَ فِي عَوَاقِبِهَا. وَفِي التَّنْزِيلِ الْعَزِيزِ: ﴿وَقَلَّبُوا لَكَ الْأُمُورَ﴾. وَكُلُّهُ مَثَلٌ بِمَا تَقَدَّمَ.
وَتَقَلَّبَ فِي الْأُمُورِ وَفِي الْبِلَادِ: تَصَرَّفَ فِيهَا كَيْفَ شَاءَ. وَفِي التَّنْزِيلِ الْعَزِيزِ : ﴿فَلَا يَغْرُرْكَ تَقَلُّبُهُمْ فِي الْبِلَادِ﴾. مَعْنَاهُ: فَلَا يَغْرُرْكَ سَلَامَتُهُمْ فِي تَصَرُّفِهِمْ فِيهَا، فَإِنَّ عَاقِبَةَ أَمْرِهِمُ الْهَلَاكُ.
وَرَجُلٌ قُلَّبٌ: يَتَقَلَّبُ كَيْفَ شَاءَ. وَتَقَلَّبَ ظَهْرًا لِبَطْنٍ، وَجَنْبًا لِجَنْبٍ: تَحَوَّلَ. وَقَوْلُهُمْ: هُوَ حُوَّلٌ قُلَّبٌ، أَيْ مُحْتَالٌ بَصِيرٌ بِتَقْلِيبِ الْأُمُورِ. وَالْقُلَّبُ الْحُوَّلُ الَّذِي يُقَلِّبُ الْأُمُورَ وَيَحْتَالُ لَهَا.
وَقَالَ الزَّجَّاجُ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: (تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ) : مَعْنَاهُ تَرْجُفُ وَتَخِفُّ مِنَ الْجَزَعِ وَالْخَوْفِ. وَقَالَ: وَمَعْنَاهُ أَنَّ مَنْ كَانَ قَلْبُهُ مُؤْمِنًا بِالْبَعْثِ وَالْقِيَامَةِ ازْدَادَ بَصِيرَةً، وَرَأَى مَا وُعِدَ بِهِ، وَمَنْ كَانَ قَلْبُهُ عَلَى غَيْرِ ذَلِكَ رَأَى مَا يُوقِنُ مَعَهُ أَمْرَ الْقِيَامَةِ وَالْبَعْثِ، فَعَلِمَ ذَلِكَ بِقَلْبِهِ وَشَاهَدَهُ بِبَصَرِهِ.
وَالْقَلْبُ: مُضْغَةٌ مِنَ الْفُؤَادِ مُعَلَّقَةٌ بِالنِّيَاطِ. وَالْقَلْبُ: الْفُؤَادُ، مُذَكَّرٌ، وَالْجَمْعُ : أَقْلُبٌ وَقُلُوبٌ.
وَقَدْ يُعَبَّرُ بِالْقَلْبِ عَنِ الْعَقْلِ، قَالَ الْفَرَّاءُ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ﴾ أَيْ عَقْلٌ. قَالَ الْفَرَّاءُ: وَجَائِزٌ فِي الْعَرَبِيَّةِ أَنْ تَقُولَ: مَا لَكَ قَلْبٌ، وَمَا قَلْبُكَ مَعَكَ، تَقُولُ: مَا عَقْلُكَ مَعَكَ، وَأَيْنَ ذَهَبَ قَلْبُكَ؟ أَيْ: أَيْنَ ذَهَبَ عَقْلُكَ، وَقَالَ غَيْرُهُ: ﴿لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ﴾ أَيْ تَفَهُّمٌ وَتَدَبُّرٌ.
“al - qalbu berarti mengubah atau membalikkan sesuatu dari keadaannya. Dikatakan : قَلَبَهُ يَقْلِبُهُ قَلْبًا, yaitu membalik atau mengubahnya. Kata أقلبه juga digunakan, meskipun bentuk ini menurut al - Lihyānī dinilai lemah.
Sesuatu dikatakan انقلب apabila ia berbalik. قَلَبَ الشيءَ وقَلَّبَهُ berarti mengubah sesuatu sehingga bagian belakang menjadi bagian depan. Sesuatu yang تقلب berarti berbalik dari satu sisi ke sisi yang lain, seperti ular yang berguling - guling di atas tanah panas. Saya membalik sesuatu sehingga ia pun terbalik. Saya membolak - balik sesuatu dengan tangan saya. Ungkapan yang dibalik disebut كلام مقلوب.” yaitu perkataan yang susunan atau maknanya dibalik. Aku telah membaliknya, maka ia pun berbalik; dan aku telah membolak - baliknya, maka ia pun berubah-ubah.
al - Qalbu (juga berarti) engkau membelokkannya dari arah atau tujuan yang sedang ia kehendaki.
Adapun ungkapan قَلَّبَ الْأُمُورَ meneliti dan memperhatikan akibat - akibatnya.
Allah SWT berfirman :
وَقَلَّبُوا لَكَ الْأُمُورَ
“Dan mereka telah memutarbalikkan berbagai perkara untukmu.” Semua penggunaan tersebut pada dasarnya merupakan pengembangan dari makna sebelumnya.
Dan (pernyataan) تَقَلَّبَ فِي الْأُمُورِ dan تَقَلَّبَ فِي الْبِلَادِ, apabila ia bergerak dan beraktivitas di dalam berbagai perkara atau berbagai negeri sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Allah SWT berfirman :
فَلَا يَغْرُرْكَ تَقَلُّبُهُمْ فِي الْبِلَادِ
“Maka janganlah engkau tertipu oleh kebebasan mereka bergerak di berbagai negeri.” Maksudnya : jangan sampai keselamatan dan kebebasan mereka dalam melakukan berbagai aktivitas di negeri - negeri tersebut membuatmu tertipu, karena sesungguhnya akhir dari urusan mereka adalah kebinasaan.
Dan (pernyataan) رٓجٌلً قُلَّبٌ adalah orang yang dapat berubah atau bergerak ke berbagai keadaan sesuai dengan kehendaknya.
Ungkapan تَقَلَّبَ ظَهْرًا لِبَطْنٍ وَجَنْبًا لِجَنْبٍ berarti berpindah atau berubah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain.
Ungkapan orang Arab :
هُوَ حُوَّلٌ قُلَّبٌ
berarti: dia adalah orang yang cerdas dalam menghadapi berbagai persoalan.
Adapun الْقُلَّبُ الْحُوَّلُ adalah orang yang mampu membolak - balikkan berbagai perkara dan mencari jalan untuk menghadapinya.
Az-Zajjāj berkata mengenai firman Allah SWT :
﴿تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ﴾
“Pada hari itu hati dan penglihatan berbolak-balik.”
Maknanya adalah bahwa hati dan penglihatan bergetar, gelisah, dan menjadi tidak tenang karena kegelisahan dan ketakutan.
Az-Zajjāj juga berkata:
“Orang yang hatinya beriman kepada kebangkitan dan hari kiamat akan bertambah bashīrah, yaitu kejernihan pandangan dan pemahaman. Ia akan melihat apa yang telah dijanjikan kepadanya.
Adapun orang yang hatinya tidak demikian, maka ia akan melihat berbagai perkara yang membuatnya yakin terhadap terjadinya hari kiamat dan kebangkitan. Dengan demikian, ia mengetahui perkara tersebut dengan hatinya dan menyaksikannya dengan penglihatannya.”
Qalbun juga berarti segumpal daging dari jantung yang terhubung dengan urat nadi. qalbun juga berarti jantung. Kata qalbun adalah kata benda mudzakkar. Bentuk jamaknya adalah أَقْلُبٌ dan قُلُوبٌ.
Dan kata qalbun terkadang digunakan untuk menunjukkan makna ‘aql (akal).
Al - Farrā’ berkata mengenai firman Allah SWT :
﴿إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ﴾
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar - benar terdapat peringatan bagi orang yang mempunyai qalbun.”
Maksud قَلْبٌ dalam ayat tersebut adalah akal.
Al - Farrā’ juga berkata:
“Dalam bahasa Arab diperbolehkan seseorang berkata :
مَا لَكَ قَلْبٌ
‘Kamu tidak mempunyai qalbun.’
Dan :
مَا قَلْبُكَ مَعَكَ
‘Qalbun - mu tidak bersamamu.’
Yang dimaksud dengan ungkapan tersebut adalah :
مَا عَقْلُكَ مَعَكَ
‘Bukankah akalmu bersamamu?’
Demikian pula apabila dikatakan :
أَيْنَ ذَهَبَ قَلْبُكَ؟
‘Ke mana perginya qalbun - mu?’
Maksudnya :
أَيْنَ ذَهَبَ عَقْلُكَ؟
‘Ke mana perginya akalmu?’”
Dan ulama yang lain berkata bahwa firman Allah :
﴿لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ﴾
“bagi orang yang mempunyai qalbun”
maksudnya adalah:
تَفَهُّمٌ وَتَدَبُّرٌ
yaitu kemampuan untuk memahami dan merenungkan secara mendalam.
Penutup
Sebagai sebuah kesimpulan dalam tulisan ini, maka makna qalbun terdapat pada dua dimensi, yakni : dimensi fisik dan dimensi psikis (maknawi).
Secara fisik, qalbun berarti jantung, bukan organ hati (liver). Jantung merupakan organ fisik berbentuk kerucut yang terletak di dada sebelah kiri, yang berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh.
secara maknawi qalbun adalah akal (pemikiran) yakni pengalihan penginderaan terhadap suatu fakta melalui panca indera ke dalam otak (ad - dimagh), yang disertai dengan adanya informasi terdahulu (informasi awal) untuk menjelaskan suatu fakta agar manusia dapat menghasilkan pemahaman dan perenungan yang mendalam.
Dengan demikian unsur - unsur pembentuk akal (proses kerja akal) melibatkan empat unsur utama yang harus terpenuhi agar terjadi aktivitas berpikir, yakni :
1. Fakta (al - Waqi') : Objek atau kejadian nyata yang dapat diindera oleh panca indera manusia.
2. Panca Indera (al - Hawas) : Alat untuk mencerap atau mengindera fakta tersebut.
3. Otak (ad - Dimagh) : Organ fisik tempat diteruskannya hasil penginderaan.
4. Informasi Terdahulu (al - Ma'lumat as - Sabiqah) : Pengetahuan atau data awal di dalam otak yang digunakan untuk menganalisis dan mencerap fakta tersebut.
Karena itu, jika seseorang ingin pola pemikiran atau pemahamannya sesuai dengan Islam, maka ia harus banyak belajar tentang ajaran Islam sebagai ma'lumat as - sabiqahnya. Sehingga, segala sesuatu akan dinilai, dianalisis, dan difahami sesuai dengan ajaran Islam. Wallahu a'lamu bi ash - shawab.
