Normalisasi Indonesia – Israel ? Sebuah Catatan Penting dari Misgav Institute
Oleh : Fatih al - Malawy
Ada sebuah perkembangan yang patut diperhatikan dengan serius oleh masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam. Bukan sekadar isu diplomatik atau politik, Bukan pula sekadar persoalan hubungan dagang antara dua negara. Namun, ada strategi besar yang sedang sipersiapkan dengan matang.
Sebuah lembaga pemikir strategis Israel, Misgav Institute for National Security and Zionist Strategy, secara terbuka membicarakan masa depan hubungan Indonesia dan Israel, bahkan mendorong agar Indonesia masuk ke dalam kerangka Abraham Accords.
Dalam sebuah tulisan yang diterbitkan pada tanggal 7 Juni 2026 dengan judul “Indonesia belongs in the Abraham Accords – the time has come for normalization” , Asher Fredman menyatakan bahwa sudah ada peluang untuk membawa hubungan Indonesia – Israel yang selama ini disebutnya berada “dalam bayang - bayang” menuju hubungan yang lebih terbuka.
Ini Bukan Tulisan Dari Media Biasa.
Misgav Institute sendiri merupakan lembaga pemikir Israel yang bergerak dalam isu keamanan nasional dan strategi Zionis. Mereka secara eksplisit menyatakan bahwa lembaganya bertujuan mendorong pendekatan realistis dan pragmatis dalam kebijakan luar negeri serta pertahanan Israel, dengan berlandaskan nilai - nilai Zionisme.
Karena itu, ketika lembaga seperti ini berbicara tentang Indonesia, kita perlu bertanya, "Apa sebenarnya yang sedang dirancang ?" dan "mengapa memilih Indonesia dalam strategi ini?"
Indonesia : Negeri Muslim yang Sangat Strategis
Indonesia bukan negeri biasa dalam peta geopolitik dunia. Indonesia adalah salah satu negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Posisi geografisnya berada di kawasan strategis Asia Tenggara, dekat jalur perdagangan internasional dan kawasan Indo - Pasifik.
Karena itu, jika Israel berhasil membuka hubungan diplomatik secara resmi dengan Indonesia, dampaknya tidak hanya bersifat bilateral. Itu akan menjadi kemenangan ideologis, strategis dan simbolik yang sangat besar bagi Israel.
Misgav Institute mengakui hal tersebut
Dalam dokumen mereka yang terbit pada Bulan Mei 2026, normalisasi hubungan Israel – Indonesia digambarkan sebagai perluasan historis Abraham Accords ke Asia Tenggara dan ke negara Muslim dengan populasi terbesar di dunia. Mereka juga menyebut normalisasi tersebut berpotensi memberikan keuntungan bagi Israel, Indonesia, dan Amerika Serikat dalam bidang ekonomi, teknologi, keamanan, geopolitik, rantai pasok, stabilitas regional, dan hubungan antaragama. Dengan kata lain, Indonesia bukan sekadar target hubungan bilateral. Indonesia adalah sebuah simbol.
Sehingga, jika negara Muslim terbesar di dunia membuka hubungan resmi dengan Israel, maka hambatan psikologis dan politik terhadap normalisasi Israel dengan negara - negara Muslim lainnya akan semakin berkurang.
Mereka Mengakui Ada Masalah
Menariknya, Misgav Institute tidak menutup mata terhadap kenyataan bahwa normalisasi dengan Indonesia tidak mudah. Mereka menyebut adanya hambatan ideologis, sosial, politik, opini publik, serta persoalan birokrasi.
Karena itu, mereka tidak mendorong agar semuanya dilakukan secara tiba - tiba. Justru sebaliknya, mereka menawarkan pendekatan bertahap. Mulai dari kerja sama fungsional pada bidang - bidang tertentu, kemudian memperluas hubungan bisnis, profesional, masyarakat sipil, hingga infrastruktur diplomatik dan akhirnya normalisasi penuh.
Di sinilah kita perlu memahami, bahwa normalisasi tidak selalu dimulai dengan pembukaan kedutaan. Kadang ia dimulai dari sesuatu yang tampak sederhana. Perdagangan, teknologi, pertanian, pendidikan, pariwisata, kesehatan, keamanan, siber, dan hubungan antarmasyarakat. Sedikit demi sedikit, sampai akhirnya sesuatu yang dahulu dianggap mustahil menjadi sesuatu yang dianggap biasa.
Hubungan “Bayangan” yang Sudah Ada?
Hal yang lebih menarik lagi adalah klaim Misgav bahwa hubungan Israel – Indonesia sebenarnya sudah memiliki apa yang mereka sebut sebagai “shadow relationship” atau hubungan dalam bayang-bayang.
Mereka menyebut adanya hubungan Indonesia - Israel dalam bidang perdagangan tidak langsung, hubungan keamanan yang berlangsung secara tenang, jalur bisnis melalui negara ketiga, serta hubungan antarmasyarakat dalam skala tertentu.
Mereka bahkan menyebut bahwa sebelum 7 Oktober 2023, Israel dan Indonesia disebut hampir membuka kantor kepentingan secara timbal balik yang mencakup urusan bisnis, inovasi, budaya, hubungan antaragama, dan konsuler.
Ini merupakan catatan yang sangat penting. Sebab itu menunjukkan bahwa wacana hubungan Indonesia – Israel bukanlah sesuatu yang baru muncul hari ini. Ia telah dibicarakan dan dipersiapkan dalam berbagai bentuk.
Mengapa Indonesia Begitu Penting bagi Israel ?
Jawabannya sederhana, karena Indonesia memiliki nilai strategis, geopolitik, dan ekonomis yang luar biasa besar. Karena, normalisasi dengan Indonesia akan memberikan Israel sesuatu yang lebih besar daripada sekadar hubungan dagang dan persahabatan.
Misalnya, Israel akan memperoleh:
1. Legitimasi diplomatik yang lebih luas di dunia Muslim.
2. Akses hubungan ekonomi dengan salah satu pasar terbesar dunia.
3. Peluang kerja sama teknologi dan inovasi.
4. Hubungan strategis di kawasan Indo - Pasifik.
5. Dampak psikologis terhadap negara-negara Muslim lainnya.
6. Penguatan proyek Abraham Accords di luar kawasan Timur Tengah.
Dan yang paling penting, Indonesia dapat menjadi simbol bahwa konflik Israel – Palestina tidak lagi menjadi penghalang utama bagi normalisasi dengan negara - negara Muslim.
Abraham Accords dan Indonesia
Abraham Accords pada dasarnya merupakan kerangka normalisasi hubungan Israel dengan sejumlah negara Arab. Misgav Institute sekarang secara eksplisit mendorong agar Indonesia masuk dalam orbit tersebut.
Dalam tulisan bulan Juni 2026, mereka menyebut bahwa Indonesia seharusnya menjadi bagian dari Abraham Accords dan menyarankan sebuah roadmap bertahap: dimulai dari kerja sama fungsional, kemudian hubungan bisnis dan masyarakat sipil, pembangunan infrastruktur diplomatik, hingga akhirnya normalisasi. Ini penting dicatat, Karena jika Indonesia benar - benar masuk ke dalam kerangka tersebut, maka secara politik Indonesia akan mudah dikendalikan.
Abraham Accords tidak lagi sekadar proyek Timur Tengah. Ia telah berubah menjadi sebuah jaringan hubungan Israel dengan negara - negara yang jauh lebih luas. Dan Indonesia bisa menjadi salah satu mata rantai paling penting dalam perluasan tersebut.
Penjajahan "gaya normalisasi dan kerjasama"
Yang paling menarik dari dokumen Misgav bukan semata-mata apa yang mereka katakan tentang Indonesia. Tetapi bagaimana mereka berpikir tentang Indonesia. Mereka melihat Indonesia sebagai negara yang sangat penting secara strategis.
Mereka mengetahui bahwa normalisasi secara tiba - tiba akan menghadapi resistensi. Karena itu mereka menawarkan pendekatan bertahap, hati - hati dan strategis. Maka masyarakat Indonesia pun harus membaca isu ini dengan cara yang sama.
Istilah "normalisasi atau kerjasama" tentu lebih halus terdengar demi memuluskan jalur penjajahannya. Karena itu, kita tidak boleh kehilangan kemampuan untuk memahami politik Israel, sebagaimana dahulu mereka pernah merebut tanah Palestina dari kaum Muslim.
Dan kita tidak boleh membiarkan istilah - istilah lain seperti “perdamaian”, “kerja sama”, “teknologi”, dan “kepentingan ekonomi” membuat kita berhenti bertanya tentang persoalan yang lebih mendasar, "strategi seperti apa yang sedang mereka persiapkan untuk menjajah Indonesia ?"
Sebab normalisasi diplomatik bukanlah sekadar membuka pintu kedutaan. Ia bisa mengubah arah geopolitik sebuah negara. Dan jika negara yang dimaksud adalah Indonesia; negeri Muslim terbesar di dunia, maka normalisasi dan kerjasama tersebut tentu bukan persoalan biasa. Karena itu, catatan dari Misgav Institute ini layak dibaca, difahami, dikaji, dan diawasi.
Penutup
Maha Benar Allah dengan firman - Nya :
سَيُصِيبُ الَّذِينَ أَجْرَمُوا صَغَارٌ عِنْدَ اللَّهِ وَعَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا كَانُوا يَمْكُرُونَ
"Orang - orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah, dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya" (TQS. al - An'am [6] : 124)
Karena itu kaum Muslim tidak boleh menjadikan orang kafir sebagai teman kepercayaan mereka, karena hubungan "baik" pada mereka hanya menyebabkan malapetaka semata :
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبالاً
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian ambil menjadi teman kepercayaan kalian orang-orang yang di luar kalangan kalian ( orang kafir ) ; mereka tidak henti - hentinya ( menimbulkan ) malapetaka buat kalian" (TQS. Ali Imran [3] : 118)
Hingga akhirnya Allah SWT menyatakan :
وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئاً إِنَّ اللَّهَ بِما يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ
"Jika kalian bersabar dan bertakwa (pada Allah), niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan malapetaka pada kalian. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan." (TQS. Ali Imran [3] : 120)
Karena itu, umat ini akan terus mendapatkan malapetaka berupa kehinaan dari negara - negara penjajah atas nama "kerjasama atau normalisasi". Kehinaan ini akan terhenti dengan tegaknya Khilafah Rasyidah yang sudah dijanjikan oleh Allah SWT :
وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًاۗ
"Dan Allah telah berjanji kepada orang - orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan amal sholeh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang - orang sebelum mereka berkuasa; Dia sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhoi; dan Dia sungguh akan mengubah (keadaan) mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa." (TQS. an - Nur [24] : 55)
Dan terealisasilah kabar gembira dari Rasulullah saw setelah pemerintahan diktator yang sedang kita alami ini. Imam Ahmad telah mengeluarkan hadits dari Hudzaifah ra, ia berkata :
« ... ثُمَّ تَكُونُ مُلْكاً جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ. ثُمَّ سَكَت ... »
“ ... kemudian akan ada kekuasaan diktator. Dan akan ada sesuai kehendak Allah. Kemudian Dia akan mengangkatnya jika berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti manhaj kenabian”. Kemudian beliau diam ... ”
Begitulah, jika ada seorang khalifah maka Islam dan kaum Muslim akan mulia. Sebaliknya, kekafiran dengan segala tipu daya penjajahannya akan sirna :
وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ * بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ
"Dan pada hari itu, orang - orang mukmin bergembira karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Penyayang” (TQS. ar - Rum [30] : 4 - 5).
Insya Allah
