Meneladani Dakwah Politik Rasulullah, Tokoh Umat Sumut Bahas Peran Islam dalam Kehidupan Bernegara
MEDAN – Sekitar 60 orang tokoh umat dari berbagai kalangan di Sumatera Utara mengikuti Diskusi Tokoh Umat yang mengangkat tema “Meneladani Dakwah Politik Rasulullah saw.” Kegiatan tersebut digelar Ahad, 9 Agustus 2026, di Aula Thoriq Bin Ziyad, Jalan Bunga Raya, Medan.
Diskusi menghadirkan Ustadz Muhammad Ismail Yusanto, cendekiawan Muslim dari Jakarta, sebagai narasumber. Peserta yang hadir berasal dari berbagai unsur, di antaranya ulama, muballigh, pimpinan pondok pesantren, tokoh organisasi kemasyarakatan, media, serta pengurus Badan Kemakmuran Masjid (BKM).
Diskusi dipandu oleh Dani Umbara Lubi sebagai moderator.
Dalam pemaparannya, Ismail Yusanto mengawali pembahasan dengan mengingatkan pentingnya kecintaan seorang Muslim kepada Rasulullah saw.
Menurutnya, kecintaan kepada Rasulullah saw bukan sekadar perasaan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Ia mengutip sabda Rasulullah saw bahwa seseorang kelak akan bersama dengan orang yang dicintainya.
“Seorang (di akhirat) akan bersama dengan orang yang dicintainya,” ujarnya sembari membacakan hadis Nabi saw.
Ia menjelaskan, salah satu bentuk kecintaan kepada Rasulullah saw dapat diwujudkan dengan memperbanyak membaca shalawat. Namun, kecintaan tersebut juga perlu dibuktikan dengan berusaha meneladani kehidupan dan perjuangan Rasulullah saw.
“Rasulullah saw adalah teladan terbaik dalam hidup kita,” jelasnya.
Ismail Yusanto juga mengutip pandangan Michael H. Hart dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History, yang menempatkan Nabi Muhammad saw sebagai tokoh paling berpengaruh dalam sejarah dunia.
Dakwah Rasulullah Tidak Hanya Akhlak dan Ibadah
Dalam diskusi tersebut, Ismail Yusanto kemudian mengajak peserta melihat kehidupan Rasulullah saw secara lebih menyeluruh. Menurutnya, dakwah Rasulullah saw tidak hanya berkaitan dengan persoalan akhlak dan ibadah individual, tetapi juga mencakup aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Ia menyoroti apa yang disebutnya sebagai dakwah politik Rasulullah saw, terutama ketika Rasulullah saw membangun pemerintahan di Madinah.
Menurut Ismail Yusanto, Rasulullah saw tidak hanya berperan sebagai pembawa risalah, tetapi juga menjalankan fungsi sebagai kepala negara dan menerapkan aturan Islam dalam kehidupan masyarakat di Madinah.
Pembahasan tersebut kemudian memantik berbagai tanggapan dari peserta. Sejumlah tokoh umat yang hadir turut menyampaikan pandangan dan pertanyaan terkait bagaimana meneladani dakwah Rasulullah saw dalam konteks kehidupan umat Islam saat ini.
Diskusi berlangsung dalam suasana hangat dan interaktif hingga menjelang waktu salat Zuhur. Kegiatan kemudian ditutup dengan doa. [Dakwah Sumut]

