Pendidikan Kapitalistik: Melahirkan Cerdas Tanpa Takwa

 


Oleh: Suci Musada, S.M

(Aktivis Muslimah)


Setiap Hari Pendidikan Nasional tiba, negara kembali memainkan ritual tahunan, yaitu pidato penuh harapan, slogan tentang masa depan, dan pujian terhadap dunia pendidikan. Kamera menyorot senyum pejabat, media dipenuhi ucapan selamat, seolah pendidikan Indonesia sedang baik-baik saja.


Padahal, di saat yang sama, sekolah dan kampus justru sedang berubah menjadi ruang paling mengkhawatirkan bagi masa depan generasi.


Anak sekolah saling membunuh. Pelajar mengeroyok pelajar lain hingga tewas, lalu melindas tubuh korbannya di Bantul. Dilansir dari kumparan.com (21/04/2026), di Bandung pelajar SMA tewas dan pelakunya juga sesama pelajar. Sementara itu, menurut laporan kompas.com (21/04/2026), di Bogor seorang siswa disiram air keras hingga wajahnya terluka. Kekerasan di dunia pendidikan tidak lagi sekadar tawuran spontan, tetapi sudah brutal, sadis, dan kehilangan nurani.


Yang lebih mengerikan, semua ini terjadi di tengah negara yang terus mengklaim pendidikan semakin maju.


Maju bagian mana?


Jika sekolah hanya berhasil mencetak generasi yang pandai melukai, maka itu bukan kemajuan. Itu kegagalan yang dipoles dengan seremoni.


Belum selesai urusan kekerasan, dunia pendidikan juga tenggelam dalam budaya curang yang makin telanjang. Praktik joki UTBK kembali terbongkar. Ada yang memakai alat bantu dengar tersembunyi, memalsukan identitas, bahkan dibayar hingga ratusan juta rupiah demi meloloskan peserta masuk kampus (tempo.com, 21/04/2026).


Inilah wajah asli pendidikan hari ini, nilai lebih penting daripada kejujuran, gelar lebih penting daripada kualitas, dan kesuksesan lebih dipuja daripada halal haram cara mendapatkannya.


Sekolah akhirnya hanya menjadi pabrik ambisi. Kampus berubah menjadi pasar persaingan brutal. Semua orang didorong untuk menang, tetapi tidak diajarkan bagaimana caranya tetap bermoral ketika berjuang. Maka lahirlah generasi yang cerdas secara akademik, tetapi miskin rasa takut kepada Allah. Pintar mencari jawaban ujian, tetapi gagal membedakan benar dan salah. Tinggi nilai rapornya, namun rendah akhlaknya.


Inilah hasil pendidikan sekuler kapitalistik. Sistem ini sejak awal memang tidak dirancang untuk membentuk manusia bertakwa. Ia hanya dirancang untuk mencetak manusia produktif bagi pasar. Selama seseorang bisa menghasilkan uang, dianggap sukses. Soal akhlak, itu dianggap urusan pribadi.


Lebih ironis lagi, ketika moral generasi runtuh, negara justru sering berdiri membela jargon dengan slogan “itu hak anak”, tanpa keberanian menegakkan disiplin dan sanksi tegas. Guru diminta memahami murid, tetapi murid tidak diajarkan menghormati guru. Akhirnya, wibawa pendidikan runtuh pelan-pelan.


Hari ini, guru bisa dipolisikan karena menegur siswa. Pelajar berani menghina guru di depan kelas. Konten merendahkan guru dianggap hiburan. Dan negara hanya sibuk membuat kurikulum baru, seolah akar masalahnya ada pada metode belajar, bukan pada rusaknya cara pandang hidup.


Padahal, masalah terbesar pendidikan Indonesia bukan kurang teknologi, bukan kurang digitalisasi, bukan pula sekadar fasilitas. Masalah terbesarnya adalah hilangnya pondasi iman dalam pendidikan.


Agama hanya dijadikan pelengkap administratif. Diajarkan sekadarnya, diuji sebatas hafalan, lalu selesai. Tidak benar-benar dijadikan asas pembentukan kepribadian. Maka wajar jika lahir generasi yang hafal teori moral, tetapi nyaman melakukan kemaksiatan.


Padahal, dalam Islam, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan proses membentuk manusia berkepribadian Islam. Pendidikan Islam melahirkan insan yang cerdas sekaligus takut kepada Allah. Ilmu tidak dipakai untuk menipu, menindas, atau merusak, melainkan untuk menghadirkan kebaikan bagi manusia.


Islam juga tidak membiarkan kejahatan tumbuh dengan alasan usia muda. Negara wajib menjaga masyarakat dengan sistem sanksi yang tegas agar kemaksiatan dan kriminalitas tidak menjadi budaya. Bersamaan dengan itu, negara membangun lingkungan yang mendorong ketakwaan, menjaga pergaulan, menguatkan peran keluarga, dan memastikan pendidikan berjalan di atas akidah Islam.


Allaah Swt. berfirman:


"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia..." (QS. Ar-Rum: 41)


Kerusakan generasi hari ini bukan muncul tiba-tiba. Ia lahir dari sistem yang salah arah, pendidikan yang kehilangan ruh, serta negara yang gagal menjaga moral masyarakat. Maka, Hardiknas seharusnya tidak berhenti menjadi seremoni tahunan penuh slogan. Ia harus menjadi alarm keras bahwa dunia pendidikan sedang sakit.


Jika hari ini sekolah lebih sering melahirkan pelaku kekerasan daripada penjaga peradaban, maka yang perlu dipertanyakan bukan hanya muridnya, tetapi sistem yang mendidiknya.


Wallahualam Bissawwab.