Deli Serdang Darurat Narkoba, Warga Melawan Justru Terancam Bahaya

 


Oleh Sari Ramadani, S.Pd (Aktivis Muslimah)


Di tengah ancaman narkoba yang makin terang-terangan menyasar lingkungan masyarakat, dan bungkamnya sebagian orang karena rasa takut, keberanian seorang guru ngaji di Deli Serdang malah membuka tabir betapa ringkihnya rasa aman bagi warga. Namun sayangnya, keberanian itu malah justru mendapat intimidasi dan ancaman terhadap keluarganya sendiri. Hal ini seharusnya menjadi peringatan bahwa peredaran narkoba sudah begitu dekat dengan kehidupan masyarakat dan membuat warga yang melawan merasa lebih terancam daripada pelakunya.


Aksi Halimah terjadi di Desa Rantau Panjang, Kecamatan Pantai Labu, Deli Serdang. Dalam video yang beredar luas, ia terlihat menegur sekelompok pria yang diduga sedang melakukan transaksi narkoba di teras rumah warga. Dengan nada penuh keresahan, Halimah meminta mereka berhenti karena lokasi tersebut menjadi tempat anak-anak bermain dan berkumpul. Ia mengaku sudah lama resah melihat aktivitas semacam itu berlangsung terbuka di lingkungannya. Keberanian seorang guru ngaji perempuan menghadapi kelompok pria yang diduga terlibat narkoba tentu bukan perkara mudah, apalagi ketika lingkungan sekitar mulai terbiasa melihat kemungkaran sebagai sesuatu yang lumrah.


Namun setelah video itu viral, situasi justru berubah menjadi ancaman bagi dirinya. Halimah mengaku rumahnya didatangi keluarga pelaku yang berteriak-teriak dan mengancam akan melempari rumahnya dengan batu. Dalam kondisi penuh ketakutan, ia meminta perlindungan kepada aparat dan pemerintah karena khawatir keselamatan keluarganya terancam. Situasi ini memperlihatkan ironi besar, di mana orang yang mencoba menjaga lingkungan dari narkoba justru harus hidup dalam tekanan dan rasa takut.


Polisi kemudian turun tangan dan menangkap dua pria berinisial AA dan AS yang diduga terlibat dalam transaksi sabu tersebut. Dari tangan keduanya, petugas menyita sabu seberat 2,40 gram serta uang tunai ratusan ribu rupiah. Aparat juga melakukan patroli dan pengamanan di sekitar rumah Halimah guna mencegah intimidasi lanjutan dari pihak-pihak yang tidak menerima penertiban narkoba di kawasan itu (medan.kompas.com, 15/05/2026).


Langkah cepat aparat memang patut diapresiasi, tetapi kejadian ini tetap menjadi PR besar karena ternyata hari ini masyarakat tidak hidup dalam rasa aman, apalagi ketika berani melawan peredaran narkoba di lingkungannya sendiri. Di tambah lagi kasus ini menunjukkan bahwa persoalan narkoba bukan hanya soal bandar besar atau jaringan internasional.


Nyatanya, di tingkat bawah, narkoba tumbuh di lingkungan yang dipenuhi pengangguran, lemahnya pengawasan sosial, putus sekolah, dan minimnya ruang hidup yang sehat bagi masyarakat. Ketika kondisi sosial rusak, peredaran narkoba mudah menemukan tempat untuk berkembang. Terlebih, masyarakat pun menjadi takut untuk melawan, sebab cemas jika harus berhadapan dengan ancaman. Jika keadaan seperti ini terus dibiarkan, maka yang menang bukan hukum, melainkan rasa takut yang menguasai lingkungan masyarakat.


Padahal, Islam memandang bahwa keamanan masyarakat dan perlindungan terhadap generasi merupakan tanggung jawab besar negara. Narkoba tidak hanya merusak kesehatan, tetapi juga menghancurkan akal, moral, dan masa depan umat. Karena itu, negara tidak cukup hanya hadir setelah kasus viral, melainkan harus memastikan lingkungan masyarakat benar-benar bersih dari peredaran narkoba sejak awal.


Rasulullah saw. bersabda, “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (h.r. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa menjaga keamanan masyarakat bukan tugas individu semata, tetapi kewajiban penuh pemimpin dan negara secara menyeluruh.


Keberanian Halimah seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak. Tidak patut rasanya seorang guru ngaji yang merupakan rakyat biasa berdiri di garda terdepan untuk menghadapi ancaman narkoba di kampungnya. Masyarakat membutuhkan perlindungan nyata, bukan sekadar imbauan atau respons sementara setelah kasus menjadi perhatian publik. Sebab ketika warga yang melawan justru hidup dalam ketakutan, itu tanda bahwa bahaya narkoba sudah jauh lebih serius daripada yang terlihat di permukaan.


Wallahualam bissawab.