Kajian Besi Dalam Perspektif Al-Qur’an

 


بسم الله الرحمن الرحيم

Oleh : Tommy Abdillah

(Kaprodi Teknik Mesin Universitas Tjut Nyak Dhien Medan)


Bumi adalah salah satu galaksi planet kecil yang memiliki potensi geologi dan geografi yang sangat cocok bagi kehidupan manusia. Keberadaan air, udara, sumber daya alam (natural resource), terbentangnya daratan yang luas beserta keragaman hayati flora fauna, lautan samudra seolah tak terbatas adalah bagian dari tanda-tanda kebesaran ciptaan Allah SWT yang wajib dicermati oleh manusia. 

Allah SWT berfirman,


{الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ} [البقرة : 22]


Artinya : ”Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah.”(QS. Al-baqarah : 22).


Sekilas Mengenal Besi

Peradaban manusia sejak zaman Nabi Adam ‘alaihissalam (masa pra sejarah) kemudian berkembang menjadi masa sejarah hingga era modern abad 21 saat ini mengalami perubahan yang revolusioner. Pemanfaatan logam bagi kehidupan sudah ada pasca zaman perunggu. 

Besi adalah unsur kimia dengan simbol Fe (ferrum) dengan nomor atom 26. Material dapat berupa bahan logam dan non logam. Bahan logam terdiri dari logam ferro dan ferro. Bahan logam non ferro diantaranya besi, baja dan besi cor. Sedangkan logam non ferro diantaranya emas, perak dan timah putih. Bahan non logam dapat dibagi menjadi bahan organik dan bahan anorganik. Logam memiliki sifat mekanis, sifat fisika, sifat kimia dan sifat pengerjaan. 


Biji besi diolah dalam tanur atau dapur tinggi untuk menghasilkan besi kasar. Besi kasar adalah bahan baku untuk pembuatan besi cor (cast iron), besi tempa (wrought iron), dan baja (steel). Ketiga macam bahan itu banyak dipakai dalam bidang teknik.

Baja adalah logam paduan antara besi dan karbon dengan kadar karbonnya secara teoritis maksimum 1,7%. Besi cor adalah logam paduan antara besi  dan karbon yang kadarnya 1,7% sampai 3,5%. Besi tempa adalah baja yang mempunyai kadar karbon rendah.(1)


Bahan logam dapat dimanfaatkan manusia sesuai dengan kebutuhan melalui proses manufaktur yang panjang yaitu :


1. Shaping (pembentukan) : machining, casting (pengecoran), metal forming, material removal dan powder.


2. Assembling (penyambungan) : Welding, adhesive, rivet dan bolt.


3.Treatment (perlakuan) : heat treatment, cooting, shoot peening


4. Finishing (penyelesaian) : painting dan cleaning. (2)  


Al-Qur’an Membicarakan Besi


Allah SWT menjelaskan besi secara spesifik didalam Al-quran dalam satu surat bernama Al-hadid.  


Allah SWT berfirman,


{ ۖ وَأَنزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ ۚ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ} [الحديد : 25]


Artinya : “Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.(QS. Al-hadid : 25).


Ayat diatas terdapat kalimat wa anzalnal-hadida yang artinya “Dan Kami turunkan besi. Kata turunkan berarti, besi tidak dibuat dibumi, melainkan turun dari langit. Hal ini pun terjawab setelah Profesor Armstrong dari NASA atau Mohamed Asadi berpandangan bahwa “memang besi diturunkan dari langit”. Sains memberikan informasi kepada kita bahwa besi termasuk logam berat tidak dapat dihasilkan oleh bumi sendiri.


Penjelasan Ilmiah tentang Besi


Astronomi modern telah mengungkap bahwa logam besi yang ditemukan di bumi kita berasal dari bintang-bintang raksasa di angkasa luar. Logam berat di alam semesta dibuat dan dihasilkan dalam inti bintang-bintang raksasa. Akan tetapi sistem tata surya kita tidak memiliki struktur yang cocok untuk menghasilkan besi secara mandiri. Besi hanya dapat dibuat dan dihasilkan dalam bintang-bintang yang jauh lebih besar dari matahari, yang suhunya mencapai beberapa ratus juta derajat.


Ketika jumlah besi telah melampaui batas tertentu dalam sebuah bintang, bintang tersebut tidak mampu lagi menanggungnya, dan akhirnya meledak melalui peristiwa yang disebut "nova" atau "supernova". Akibat dari ledakan ini, meteor-meteor yang mengandung besi bertaburan di seluruh penjuru alam semesta dan mereka bergerak melalui ruang hampa hingga mengalami tarikan oleh gaya gravitasi benda angkasa.


Seorang ilmuwan terkenal yang menjadi pembicara dalam seminar Mukjizat Ilmiah al-Qur’an al-Karim, Dr. Strogh juga mengatakan hal senada. Ia telah melakukan berbagai penelitian terhadap sejumlah barang tambang bumi dan sejumlah penelitian laboratorium. Namun hanya satu jenis barang tambang yang sangat membingungkan para ilmuan, yaitu besi.


Dari sisi kapasitasnya, besi memiliki bentuk (struktur) yang unik. Agar elektron-elektron dan nitron-nitron dapat menyatu dalam unsur besi maka ia butuh energi yang luar biasa mencapai  4 kali lebih besar dari total energi yang ada di planet matahari kita. Semua ini menunjukkan bahwa logam besi tidak terbentuk di bumi melainkan kiriman dari bintang-bintang yang meledak di ruang angkasa melalui meteor-meteor dan "diturunkan ke bumi", persis seperti dinyatakan dalam ayat Alquran.(3)


Industri Besi Dimasa Rasulullah SAW


Proses penempaan besi (forging) merupakan salah satu dari beberapa jenis pengerjaan logam yang paling tua. Forging atau penempaan besi adalah proses deformasi di mana benda kerja ditekan di antara dua die (cetakan). 


Khabbab bin Arats r.a adalah salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang berprofesi sebagai pandai besi yang ahli membuat alat-alat senjata, terutama pedang. Senjata dan pedang buatannya dijualnya kepada penduduk Makkah dan dikirimnya ke pasar-pasar.


Dalam Kitab Sirah Nabawiyah karya Imam Al-Hafidz Abdul Ghani Al-Maqdisi ada beberapa senjata yang dimiliki oleh Rasulullah SAW.  Di antaranya adalah beliau memiliki 3 tombak yang diperoleh dari Bani Qainuqa. Rasulullah SAW juga memiliki 3 busur panah, masing-masing bernama: Rauha’, Sauhath dan si Kuning karena berwarna kuning.(4)


Rasulullah SAW juga memiliki baju besi untuk berperang sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada Nabi Daud 'alaihissalam membuat baju besi untuk berperang, 


وَعَلَّمْنَاهُ صَنْعَةَ لَبُوسٍ لَكُمْ لِتُحْصِنَكُمْ مِنْ بَأْسِكُمْ فَهَلْ أَنْتُمْ شَاكِرُونَ (80) 


Artinya : "Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kalian, guna memelihara kalian dalam peperangan kalian".(QS. Al-Anbiya : 80).


Al-imam Ibnu Qayyim Al-jauziyah menyebutkan bahwa Rasulullah SAW memiliki 7 buah baju besi. Salah satunya digadaikan pada seorang pedagang Yahudi untuk membeli 30 sha' gandum buat keluarganya yaitu utang selama satu tahun, Rasulullah meninggal dunia, sedang baju besinya tersebut masih tergadai hingga ditebus oleh Abu Bakr ash-Shidiq r.a.


Pedang beliau SAW yang bernama Dzul Fikar didapatkan saat perang Badar. Pada saat Perang Uhud, beliau bermimpi tentang pedang itu. Dulu pedang tersebut milik Munabbih bin Hajjaj As-Sahmi. Selain itu, tiga pedang dari Bani Qainuqa’, masing-masing bernama Pedang dari timah putih, Pedang yang bernama Battar dan Pedang yang bernama Al-Hatf.


Penutup


Biji besi dieksplorasi dan diproduksi secara masal dengan beragam aplikasi sesuai dengan kebutuhan yang dapat menunjang kehidupan manusia merupakan salah satu tanda-tanda kebesaran dan keagungan ciptaan allah SWT (ayat kauniyah). Sejak 14 abad yang lalu Allah SWT telah menjelaskan manfaat besi jauh sebelum manusia modern menggunakannya hal ini juga mejadi pertanda bahwa Al-quran adalah pasti wahyu Allah SWT sebagai petunjuk hidup manusia dan bukan karya nabi Muhammad SAW.


Wallahu a’lam


Catatan Kaki :


1. Widarto, Teknik Permesinan, 2008, hal 19.


2. Degarmo EP, Materials & Process In Manufacturing, Jhon willey, 2003)


3. Arifin Muftie, Matematika alam semesta, Kiblat Buku Utama, Bandung, 2004


4. Al-Hafidz Abdul Ghani Al-Maqdisi, Sirah Nabawiyah, Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah, 2008