Ironi 80 Tahun Kemerdekaan, Indonesia Masih Terjajah

 



Oleh : Winda Raya, S.Pd, Gr

(Aktivis Muslimah)


"..Hari merdeka nusa dan bangsa, hari lahirnya bangsa Indonesia, merdeka.." (Hari Merdeka – Husein Mutahar). Syair lagu tersebut menjelaskan dan menggambarkan bahwa titik kemenangan tertinggi karena ridho dari Ilahi, merahmati kita semua dengan hari merdeka bagi nusa dan bangsa. Bangsa besar yang berjuang dengan segenap jiwa dan raga membebaskan diri dari segala bentuk penjajahan yang dialami. Dengan lantang kata merdeka.


Dilansir dari CNBC Indonesia pada tanggal 08 Agustus 2025, diberitakan bahwa laporan dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) menunjukkan adanya penurunan simpanan pribadi di bank pada triwulan I-2025 sebesar 1,09% secara tahunan. Penurunan ini, menurut riset LPEM UI, mengindikasikan bahwa masyarakat mulai mencairkan tabungan mereka untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti biaya makanan, listrik, air, dan transportasi.


Selain penurunan simpanan, pertumbuhan kredit konsumsi juga mengalami perlambatan. Angkanya turun menjadi 10,00% pada triwulan I-2025 dari 10,70% di akhir tahun 2024. Penurunan ini juga terjadi pada Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang melemah menjadi 9,90% secara tahunan pada periode yang sama, dibandingkan 9,97% di triwulan IV-2024.


Kemeriahan peringatan HUT RI ke-80 berbanding terbalik dengan fakta kehidupan masyarakatnya. HUT kemerdekaan RI diliputi dengan ironi. Muncul persoalan-persoalan di berbagai bidang kehidupan yang tak kunjung selesai tanpa solusi hakiki. PHK banyak terjadi pada sektor ekonomi di berbagai industri. Terjadi penurunan drastis pada penghasilan masyarakat yang membuat rakyat semakin resah dan susah.


Upah pekerja yang tidak kunjung naik membuatnya tidak bisa mengimbangi kenaikan harga kebutuhan sehari-hari. Akibatnya, daya beli masyarakat menurun. Kondisi ini diperparah oleh berbagai pungutan atau kenaikan tarif yang diberlakukan pemerintah, yang semakin menekan pengeluaran. Ketika pendapatan stagnan atau turun sementara biaya hidup terus naik, masyarakat kelas menengah yang selama ini mengandalkan tabungan untuk investasi atau dana darurat, terpaksa mencairkannya untuk kebutuhan sehari-hari.


Kalau terus seperti ini, maka kondisi ini rentan mengakibatkan warga kelas menengah ke bawah jatuh ke jurang kemiskinan. Di sisi lain, kebijakan ekonomi yang tidak sepenuhnya pro rakyat juga dapat memperburuk keadaan. Misalnya, fokus pada proyek infrastruktur besar tanpa diiringi dengan penciptaan lapangan kerja yang berkualitas di sektor lain bisa menimbulkan ketimpangan. Jika tidak segera diatasi, situasi ini berpotensi besar menimbulkan ketidakstabilan sosial.


Terjadi juga permasalahan lain yaitu kebiasaan hidup yang mengajarkan generasi untuk mengikuti dan mengokohkan kapitalisme. Mengajarkan pemikiran kufur sehingga tidak bisa berpikir secara Islam.


Kemerdekaan fisik, yaitu bebas dari penjajahan bangsa lain, memang telah dicapai pada tahun 1945. Namun, kemerdekaan sejati seharusnya terwujud dalam kesejahteraan rakyat. Jika masyarakat masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal, kemerdekaan yang ada hanya bersifat formalitas.


Sistem kapitalisme menjadi biang keladi dari ketidaksejahteraan rakyat. Sistem yang hanya melayani kepentingan para pemilik modal, yang berakibat pada akumulasi kekayaan di segelintir orang. Sementara kenyataannya, masyarakat miskin dan kelas menengah justru semakin terpinggirkan. Kesenjangan ekonomi yang lebar ini menjadi bukti bahwa sistem yang ada tidak berpihak pada kesejahteraan umum.


Meskipun Indonesia telah bebas dari penjajahan fisik, tantangan terbesar saat ini adalah mencapai kemerdekaan hakiki dengan mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan ekonomi bagi seluruh rakyatnya. Ketika umat Islam bisa berpikir secara shohih, maka akan tampaklah kemerdekaan yang hakiki.


Penerapan sistem Islam kaffah merupakan solusi sejati untuk mengatasi kondisi yang ada saat ini. Dengan sistem ini, negara dapat menyejahterakan rakyat melalui pengelolaan kepemilikan umum. Hasilnya akan dialokasikan demi kesejahteraan rakyat. Negara juga akan memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar rakyat, seperti pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Selain itu, negara akan memprioritaskan industrialisasi untuk menciptakan lapangan kerja dan menyediakan tanah bagi mereka yang ingin mengelolanya. Kaum fakir miskin juga akan mendapatkan santunan dari baitulmal.


Sistem Islam kaffah akan memastikan pemikiran umat Islam tetap selaras dengan syariat, sehingga mereka hidup dalam ketaatan kepada Allah. Kemerdekaan sejati hanya bisa dicapai melalui perubahan yang mendasar. Oleh karena itu, diperlukan perubahan sejati yang dipimpin oleh jemaah dakwah Islam ideologis untuk beralih dari sistem kufur menuju sistem Islam.


Wallahu a’lam bishshawab