Tubuh Kecil yang Terkoyak Tanpa Perisai - dakwah sumut

Breaking

BANNER 728X90

Sabtu, 24 Oktober 2020

Tubuh Kecil yang Terkoyak Tanpa Perisai

 



Oleh: Hamidah (Aktivis Muslimah)


Baru-baru ini viral seorang bocah kecil yang menjadi perbincangan dunia maya. Rangga, itulah nama bocah yang beberapa hari belakangan menjadi perbincangan. “Rangga sang pahlawan kecil yang melindungi ibunya dari pemerkosaan seorang pria”. Itulah julukan yang ia dapatkan.


Rangga, bocah asal Aceh berumur 9 tahun dibunuh secara sadis setelah berteriak demi melindungi ibunya yang akan diperkosa. Jeritan Rangga ini sebagai jeritan terakhir sebelum dia dibunuh oleh seorang pria yang kabarnya baru mendapatkan kebebasan dari asimilasi pengurangan jatah tahanan akibat covid 19. (portalsurabaya.com, 17/10/2020).


Begitulah sekelumit kisah Rangga yang menyayat hati. Duka itu bukan hanya untuk keluarga Rangga tapi juga untuk masyarakat indonesia. Kita sangat-sangat berharap tidak ada lagi kisah sadis seperti yang dialami Rangga dan ibunya.


Namun apakah itu bisa terjamin bila kita masih mempertahankan sistem saat ini? 


Sekularisme di negeri ini telah menambah daftar panjang kejahatan-kejahatan yang terjadi di tengah masyarakat, bahkan kejahatan itu semakin lama semakin beringas melebihi binatang. 


Sekularisme adalah biang kerok dalam semua masalah. Begitulah kalimat yang pantas untuknya. Karena negeri ini tidak diatur dengan hukum Allah maka berbagai kriminilitas semakin banyak terjadi.


Lihatlah pelaku pembunuhan Rangga. Ia adalah seorang eks narapidana yang dibebaskan berkat asimilasi yang diberikan negara kepadanya. Bukannya membuat sadar, malah justru itu membuatnya semakin brutal. 


Artinya ada masalah dengan hukum di negeri ini. Aturan yang diterapkan tidak bersumber dari Sang Pencipta tidak akan pernah membuat sang pelaku jera, tetapi malah semakin merajalela.


Inilah bukti bahwa aturan yang dibuat manusia itu lemah, karena sejatinya manusia itu tidak mengetahui apa yang terbaik untuk diri nya sendiri, apalagi untuk mengatur manusia yang lain. Maka hukum buatan manusia cenderung akan mengalami berbagai masalah dan menambah daftar panjang keruwetan yang ada di negeri ini. 


Sudah saatnya negeri yang mayoritas berpenduduk islam ini mengambil islam sebagai solusi dalam seluruh permasalahan yang menjeratnya. Islam dengan mekanismenya yang tertata rapi dan apik akan menyajikan berbagai macam solusi dalam seluruh permasalahan kehidupan manusia. Dan kisah Rangga di atas tidak akan terjadi bila hukum islam ditegakkan. 


Dalam Islam, fungsi sistem sanksi adalah sebagai zawajir (pencegah dan pembuat jera) bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama, dan sebagai jawabir (penebus dosa pelaku kelak di akhirat). Untuk kasus pembunuhan, Islam menetapkan sanksi hudud yang di tetapkan oleh Allah SWT dalam Al-qur'an.


Sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya siapa saja yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu ( membunuh ) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, seakan akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Siapa saja yang memelihara kehidupan seorang manusia, seolah olah dia telah memelihara kehidupan manusia semua nya.”  (TQS. Al- Maidah: 32 )


Jika masih ada yang melanggar, Islam menjatukan sanksi keras. Bisa dalam bentuk Diyat (tebusan darah), atau Qishah (dibunuh). Ini sesuai dengan firman Allah, “Di dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagi kalian, hai orang-orang yang berakal, supaya kalian bertaqwa.” ( TQS. Al-Baqarah: 179 ).


Seharusnya tubuh kecil Rangga tak berjuang sendiri untuk mempertahankan kehormatan ibundanya. Harus ada negara yang menjadi perisai untuk melindunginya. Negara harus hadir dalam menyelamatkan nyawa rakyatnya serta menyelamatkan kehormatan dan kemulian seorang perempuan.


Ini telah dibuktikan oleh seorang al muktashim billah, seorang khalifah yang menyambut panggilan seorang muslimah yang dilecehkan kehormatan nya. Ia bahkan membawa pasukan yang sangat besar hanya untuk menyelamatkan kemuliaan muslimah itu. Dari adanya peristiwa itu kota Amuriah tertaklukan dibawah kekuasaan khalifah tersebut.


Itulah hakikat pemimpin di dalam islam. Ia akan rela mempertaruhkan nyawanya dalam melindungi rakyat yang dipimpin nya. Sebuah gambaran islam dengan sistem khilafah sebagai perisainya.  Sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadist.

 

إنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ،


Artinya: “Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu (laksana) perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.” (HR Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad).


Sekarang sudah saatnya umat kembali kepada islam agar tercipta keamanan di dalam kehidupan. Kalau bukan kepada islam kita berharap, lalu kepada siapa lagi? Bila berharap kepada selain islam, maka siap-siaplah menanggung kekecewaan lagi. 


Wallahu 'alambisshowab....