ASPEK PENDIDIKAN DALAM PARADIGMA ISLAM - dakwah sumut

Breaking

BANNER 728X90

Sabtu, 31 Oktober 2020

ASPEK PENDIDIKAN DALAM PARADIGMA ISLAM

 


Oleh: Putri Sarlina (Aktivis Dakwah Kampus)


Pendidikan adalah hal penting dalam Islam hal ini ditunjukkan dengan ditinggikannya orang-orang yang berilmu diatas orang yang tidak berilmu bahkan mereka dimasukkan sebagai pewaris para Nabi. Rasul saw. bersabda: "Dan keutamaan orang yang berilmu atas orang yang beriman adalah seperti keunggulan bulan atas seluruh benda langit". Sungguh para ulama adalah pewaris para Nabi, satu-satunya warisan para ulama adalah pengetahuan, sehingga siapapun yang mengambil hal ini maka sungguh dia mengambil bagian yang paling cerdas. 

Islam telah menjadikan pendidikan sebagai hajah asasiyah (kebutuhan dasar) yang harus dijamin ketersediaannya ditengah masyarakat oleh Negara,  Nabi SAW. bersabda:" Imam adalah pemimpin dia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.  (HR.  Al Bukhari). 

Negara wajib menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas bagi seluruh rakyat hingga pendidikan tinggi. Imam Ibnu Hazm (Al Ihkam) Khalifah berkewajiban menyediakan sarana pendidikan,  sistem pendidikan, dan menggaji para pendidiknya. Tujuan pendidikan dalam Islam adalah membentuk kepribadian Islami (syakhsiyyah islamiyah) dan membekali anak didik dengan sejumlah ilmu yang berhubungan dengan urusan hidupnya. 

Khusus untuk perguruan tinggi pendalaman kepribadian Islam dilakukan kepada siswa, selain itu perdidikan tinggi juga bertujuan melahirkan para ahli dan spesialis dalam semua bidang kehidupan untuk mewujudkan kemaslahatan masyarakat, mempersiapkan tenaga ahli yang diperlukan untuk mengatur urusan masyarakat seperti Qadhi, ahli fiqh, saintis, insinyur, dan lain sebagainya.

Keberhasilan Khilafah telah terbukti selama hampir 1300 tahun, keberhasilan yang spektakuler ini tidak lepas dari visi penerapan syariah Islam yang orisinil dan kuat,  terwujudnya Negara yang benar yakni Negara yang menerapkan Islam secara menyeluruh.

Hal ini nampak dari sejumlah aspek yaitu: Pertama, desain politik dan pendidikan tinggi yang mulia dan memuliakan, Islam memandang ilmu bukan komoditas tetapi ilmu adalah jiwa kehidupan. Kedua, desain riset Khilafah selaras dengan politk dalam negeri dan luar negeri Khilafah yg menyejahterakan manusia. Ketiga, konsep anggaran pendidikan wajib diadakan oleh Negara Khilafah. Keempat, desain industri yang mewujudkan kemandirian Negara di bidang industri.

Sejarah Khilafah telah membuktikan bahwa banyak ilmuan-ilmuan unggul seperti:

Labana dari Cordova ia adalah seorang ahli matematika dan sastra di abad ke 10 M, ia mampu memecahkan masalah Geometrik dan Al-Jabar yang paling kompleks dan pengetahuan luas dari literatur umum yang diperoleh dari pekerjaan nya sebagai sekretaris khalifah Al-Hakim II.

Maryam Al-Asturlabi seorang ilmuan dan penemu di abad ke 10 M, ia merancang astrulub yang digunakan dalam astronomi untuk menentukan posisi matahari, planet-planet dan navigasi, desainnya yang sangat inovatif membuatnya dipekerjakan oleh penguasa kota dimana ia tinggal.

Lubna adalah penyair dari Andalusia yang hidup pada abad ke 10 M, seorang muslimah yang unggul dalam bahasa, matematika dan kaligrafi,  ia adalah salah aatu sekretaris kepala negara dan memegang posisi yang berurusan dengan korespondensi resmi.

Fatimah Al-Fihri muslimah Tunisia yang lahir 1216 tahun silam atau tepatnya 800 M,  ia mendirikan universitas Al-Qarawiyyin di maroko, sebuah universitas pertama di dunia yang dibangun 859 M jauh sebelum Al-Azhar, Cambrige, Harvard, ataupun Oxford  didirikan. Maka jelaslah Khilafah adalah sebuah kewajiban dan kebutuhan bagi dunia sangat mendesak. Wallahu’alam Bishawab.