Jejak Khilafah di Tanah Deli - dakwah sumut

Breaking

BANNER 728X90

Minggu, 12 April 2020

Jejak Khilafah di Tanah Deli


Oleh : Alfisyah, S.Pd (Aktivis Muslimah Medan)

Deli itu adalah kata yang disematkan untuk wilayah Sumatera yang berbatasan langsung dengan Nangroe Aceh Darussalam. Deli berasal dari kata "Delhi" sebab dahulu Sultan Deli yang bernama Tuanku Gotjah Pahlawan berasal dari Kesultanan Panglima Aceh, Delhi Hindustan. Pada saat itu Tuanku Gotjah Pahlawan diperintahkan oleh Sultan Iskandar Muda Raja Aceh untuk menaklukkan/menggabungkan wilayah Sumatera Timur agar berada dibawah Kesultanan Aceh. Awalnya Gotjah Pahlawan sebagai wakil raja Aceh di Deli. Namun, berhasil lepas dari Kesultanan Aceh dan menjadi kerajaan yang mandiri. Meskipun demikian, kesultanannya tetap bernama Deli.
Jika dihubungkan Khilafah dengan Kesultanan Deli nampaknya tidak terlihat secara langsung. Sebab Deli adalah bagian dari Aceh. Namun Aceh memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Khilafah. Sebab raja-rajanya memiliki hubungan diplomatik dan meniru utuh sistem pemerintahan Khilafah Utsmaniyah. Hubungan diplomatik antara Kesultanan Aceh dengan Khilafah nampak hubungan yang saling menjaga. Pasukan Khilafah Turki Utsmani pernah diperbantukan di Aceh untuk membantu Raja Aceh mengusir Portugis. Adapun Portugis yang melewati Aceh dalam rangka mengambil rempah-rempah ke Maluku. Waktu itu kegemilangan Aceh sangat luar biasa dalam bidang pemerintahan, ekonomi, militer dan diplomatiknya. Sebab Aceh masuk dalam urutan ke lima keamanan Islam di dunia Islam bersama Agra (India), Isfahan dan lain-lain.
Aceh dikenal sebagai Negara yang sukses, disegani kawan dan ditakuti lawan. Pengaruh Aceh yang luar biasa ini sudah ada sejak abad 1200 M di Samudra Pasai. Kerajaan Samudera Pasai (wilayah Lhokseumawe) hari ini adalah kerajaan Islam tertua yang raja pertamanya masuk Islam dan seterusnya menjadi wakil Khilafah di Nusantara. Pada masa itu pedagang-pedagang, pendakwah dari dunia Islam banyak yang datang ke Aceh dalam rangka menyebarkan Islam ke seluruh wilayah Nusantara. Struktur kekhilafahan pun nyata terwujud sebagaimana di Ottoman Turki, ada sultan dan wakil sultan di wilayah yang jauh dari pusat kesultanan, bendahara (baitul mal ), panglima (uleebalang) sebagai gambaran amir jihad, syahbandar sebagai pejabat Khalifah yang mengurusi perdagangan di negeri itu.
Bahkan 6 abad Samudra Pasai bertahan, lalu menurun pengaruhnya namun tak lama berselang kesultanan Aceh pun muncul dengan adanya Sultan Mughayat Syah sebagai Sultan pertama. Akhirnya kesultanan yang keempat yaitu SIM (Sultan Iskandar Muda) yang mampu meluaskan pengaruhnya sampai ke kerajaan Haru di Sumatera, Johor dan Pahang di Malaysia.
Beberapa catatan bahkan menyebutkan bahwa ketika SIM mengirim pasukan dari Johor Malaysia, pasukan Sultan Aceh pun sampai di Asahan (ujung tanjung yang ada balainya). Ini cikal bakal penyebutan kesulthanan asahan yang dijabat anak pertama Sultan Iskandar Muda Sulthan Abdul Jalil. Daerah kesultanan itu disebut dengan Tanjung Balai. Kekuasaannya seluas Batubara, Asahan, Labuhan batu (Utara Selatan) hingga wilayah sekitarnya.
Kembali pada Sultan Deli, hingga kini ada 14 Sultan yang menjabat. Sultan yang ke-14 saat ini masih hidup dan masih belia. Moyangnya 13 Sultan diatasnya pun telah menaruh pengaruh peradaban melayu deli hingga ke Kabupaten Karo. Terbukti ada empat wakil orang batak karo yang masuk Islam pada waktu itu sebagai wakil Sultan di Kabupaten Karo. Struktur ini mirip kekhilafahan dari sisi wali (gubernur) atau amil (bupati) dan yang lebih kecil lagi. Namun memang seiring perjalanan tahun tanpa pengawasan dari Sultan Aceh dan Ottoman Turki di abad 19 akhir, kesulthanan ini tunduk pada Belanda. Pada masa itu kesulthanan deli dan Langkat sangat patuh dan loyal pada Belanda. Sehingga kekuasaannya tidak lagi berdaulat sebagai sebuah sistem Islam yang utuh. Pengecualian untuk Kesulthanan Asahan, Serdang (pecahan Deli) masih punya jati diri. Namun melemah juga pada abad 19.
Banyak yang menjadi saksi bisu bagi kesulthanan Islam di tanah Deli ini. Ada mesjid Azizi di Tanjung Pura, Langkat, ada mesjid Osmani di Km. 19 pekan Labuhan Belawan. Sebab dahulu istana Sultan Deli ada di seberangnya sebelum pindah ke istana maimun di Jalan Bridjend. Katamso. Mesjid bersejarah itu adalah mesjid pertama sebelum ada Mesjid Raya Al ma'sum, makam pejabat Aceh banyak ditemui disamping Mesjid Al Ma'sum. Ada hubungan yang sangat dekat dengan Kesultanan Aceh.
Lalu ada juga jejak sungai Babura, sungai Deli Tua yang menjadi areal hilir mudiknya perdagangan kala itu termasuk tembakau deli yang terkenal itu. Sungai Labuhan yang terhubung dengan selat malaka, di daerah pekan Labuhan yang menjadi pusat perdagangan yang ramai. Ada juga sungai batang serangan di Tanjung Pura, Langkat, sungai Asahan, Tanjung leidong dengan sejarah beras yang enak dan wangi, dll.
Masih banyak jejak itu, ada istana maimun, istana Darul Aman, Langkat, istana lima laras, istana asahan, dan lain-lain menjadi saksi atas terhubungnya jejak Islam dan Khilafah di Nusantara. Semoga tak lama lagi jejak ini mampu disambungkan agar lanjutan kehidupan Islam terwujud kembali. Wallau a'lam.