COVID-19 Yang Meresahkan Keluarga - dakwah sumut

Breaking

BANNER 728X90

Minggu, 22 Maret 2020

COVID-19 Yang Meresahkan Keluarga


Oleh: Putri Irfani S, S.Pd (Aktivis Muslimah Medan)

Merebaknya wabah penyakit (COVID-19) membuat dunia gelisah. Apalagi COVID-19 telah masuk ke negeri tercinta, Indonesia. Pemerintah gagap. Rakyat juga tak kalah terperangah. Sama-sama dalam posisi kebingungan.

Pasalnya, di awal kemunculan virus ini banyak yang mengganggap enteng, apalagi COVID-19 pada saat itu belum sampai  ke Indonesia. Bahkan, ada yang menyatakan bahwa Indonesia satu-satunya negara besar di Asia yang bebas corona. Kemudian orang yang  terjangkit corona bisa sembuh dengan sendirinya. Serta, Orang Indonesia dianggap kebal corona karena terbiasa makan nasi kucing. Semua pola pernyataan ini seolah menunjukkan betapa tidak mampunya mereka menjadi pemimpin yang siaga untuk me-lockdown negaranya ketika wabah dunia itu belum sampai ke Indonesia. 

Namun, kini berbanding terbalik, hal yang tak diharapkan pun kini datang, jutaan nyawa rakyat sedang menjadi taruhan. Angka korban COVID-19 di Indonesia kian bertambah dengan death rate tercepat di dunia. Tapi kepekaan politik Negara tak juga terbangkitkan.

Bahkan penanganan virus corona terbilang lambat. Ahli kesehatan masyarakat Nadia Nurul mengungkapkan, peningkatan kasus hari ke hari penyebab Covid-19 tak bisa dianggap enteng.

"Kita berpacu dengan waktu, kalau kita [Indonesia] terlalu lambat untuk memberlakukan kebijakan pembatasan dini, maka sistem layanan kesehatan pasti akan dipenuhi kasus-kasus covid. Dan nantinya, akan menjadi beban bersama yang harus dihadapi, dan angka kematian pun tak dapat dihindari, akan meningkat drastis," kata dokter peraih beasiswa Fullbright tingkat master di Harvard School of Public Health. Dan Karena semakin lambat kasus ditemukan, akan ada waktu untuk virus kian luas menyebar. (CNN/21/03/2020)

Alih-alih ingin memberikan solusi yang tepat dan memutus rantai penyebaran virus ini dengan melakukan himbauan kepada masyarakat agar break  dari bekerja, sekolah, dan mendatangi tempat-tempat beribadah serta karantina di rumah demi mencegah tersebar luasnya virus corona. Toh, nyatanya masyarakat masih saja melakukan aktivitas mereka seperti biasa karena masyarakat membutuhkan solusi lebih dari itu. 

Karena, jika dibandingkan antara masyarakat level menengah dan para pekerja formal, tentunya bisa menjalani masa self distancing  dengan keadaan tenang-tenang saja, dan akan tetap mendapatkan penghasilan setiap bulannya.
Lantas bagaimana dengan rakyat menengah kebawah? yang pendapatannya tidak menentu, Siapa yang memastikan keselamatan mereka? Juga pemenuhan hajat hidup mereka dan keluarganya? Tentu pemerintah  tak bakal sanggup memenuhi semua itu. Akhirnya masyarakat kehilangan nyawanya bukan karena corona melainkan karena kelaparan.

Ketidakmampuan Negara untuk menanggung risiko ekonomi, dan selalu memperhitungkan aspek materialistis, serta masih adanya ketergantungan Indonesia terhadap asing. Ditambah lagi situasi ekonomi Indonesia yang telah kacau sebelum wabah terjadi –dengan defisit APBN 2020 mencapai Rp 125 triliun, Utang Luar Negeri (ULN) akhir Januari 2020 mencapai Rp6.079 triliun- tentu semakin kian rentan jika akhirnya pemerintah melakukan lockdown terhadap negaranya.
Moment seperti ini yang akhirnya dimanfaatkan kapitalis pada negara-negara berkembang dengan menawarkan pinjaman hutang. Dengan keterbatasan biaya, untuk membeli obat-obatan, alat-alat medis dan sebagainya. Akhirnya IMF telah menyiapkan pinjaman darurat sebesar US$ 50 miliar bagi negara yang membutuhkan bantuan untuk menangani virus corona. Ini mengakibatkan Indonesia bisa kembali takluk pada imperialisme, bahkan menjadi objek dagang yang menggiurkan.

Padahal, negeri ini memiliki sumber daya alam yang melimpah, konon  tidak sanggup mengurusi urusan negri bahkan  untuk wabah kelas dunia seperti ini. Maka, di tengah kondisi darurat dengan beragam dari tekanan psikologis, rakyat membutuhkan kebijakan yang tepat dan segera dari pemerintah. Kalau seperti ini keadaanya, walhasil lagi-lagi kita akan terjebak dalam jeratan  kapitalime. Sungguh melepaskan diri dari kapitalisme bukanlah hal yang gampang. Tapi bukan sesuatu yang tidak  mungkin, jika berani memutuskan untuk tidak menjadi negara pembebek. Caranya dengan memutuskan pengaruh asing yang merugikan negeri, dan mewujudkan kepemimpinan global untuk menaungi seluruh negeri muslim dalam payung “sistem pemerintahan Islam”, yang terbukti dapat keluar dari krisis maupun musibah wabah. Wallahualam.