CORONA MEMBUKA BOROK KAPITALISME - dakwah sumut

Breaking

BANNER 728X90

Senin, 30 Maret 2020

CORONA MEMBUKA BOROK KAPITALISME



Oleh : Putri Sarlina Nasution
(Aktivis Muslimah Dakwah Community  UINSU) 
Mewabahnya virus corona (covid-19) di Indonesia menyentak masyarakat secara keseluruhan termasuk di kota medan. 


Hal ini berdampak kepada perekonomian masyarakat yang mulai mengeluh seperti jumlah angkutan umum mengalami penurunan drastis akibat dampak dari virus corona ini karena sekolah di liburkan serta kekhawatiran penumpang atas penyebaran virus tersebut hingga menyebabkan sepinya penumpang.


Ketua organisasi Angkutan Darat (Organda) kota medan, Mont Gomery Munthe mengatakan kondisi menurunnya mobilitas masyarakat diluar rumah saat ini membuat sejumlah usaha jasa angkutan di Kota Medan juga mengalami kerugian. 


Salah satunya para sopir angkutan kota (angkot). Gomery mengatakan "yang paling merasakan dampaknya itu ya jelas para sopir.  Kasihan sekali para sopir ini seharian narik angkot tapi sewanya sangat sepi. Untuk biaya bensin saja tidak cukup,  yang ada sopir malah rugi. Di kutip dari laman SumutPos. Co Jum'at (20/3).


Begitu juga dengan pedagang daging dan sayur di pasar Petisah Kota Medan mengeluhkan menurunnya minat masyarakat sejak adanya kasus corona, padahal harga bahan pokok di pasar Petisah masih normal. 



Pedagang sayuran mengatakan sejak pagi tak terlalu banyak pembeli yang datang. "Enggak biasanya memang kalau hari Senin seperti ini sepi. Semua harga normal kok. Cuma cabai merah yang sebelumnya murah sekarang mulai naik," kata pedagang sayuran, Pasaribu. Dikutip dari laman TribunNews. Com


Perintah social distancing mulai diterapkan untuk memutus rantai penularan virus ini. Namun di saat yang sama, masyarakat harus ke luar rumah untuk berjuang mencari nafkah di tengah wabah ini. 


Mengingat, kebutuhan pokok harus di penuhi secara mandiri tanpa adanya bantuan yang cukup dari Pemerintah. Namun, dengan keadaan seperti ini mengakibatkan minimnya angka pembelian dan menciptakan kerugian yang fundamental bagi masyarakat yang masih berdagang atau berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.


kebijakan lockdown tak diambil karena akan berdampak pada ekonomi. Ekonom dari Institute for Development of Economics & Finance (Indef) Bhima Yudhistira memprediksi, Indonesia bisa krisis ekonomi apabila Jakarta lockdown alias diisolasi. Rupiah sendiri sudah terjun bebas di angka Rp16.305 per dolar AS. 


Sebenarnya ekonomi Indonesia juga sudah ambyar sebelum Corona datang. Indikasinya, utang yang makin menggunung, daya beli masyarakat yang menurun, PHK massal, pengangguran terbuka, dan sederet problem ekonomi lainnya.


Negara tidak akan dihinggapi rasa takut ekonomi lumpuh sebab memegang prinsip bahwa rezeki di tangan Allah. Tipikal pemimpin dalam Islam adalah berdaulat dan anti penjajahan sehingga tidak akan membiarkan tangan asing ikut campur mengurus hajat rakyat apalagi berbasis pinjaman berbunga. 



Seluruh kebijakan ditetapkan berdasarkan dalil syara sehingga meminimalisir polemik. Rakyat di belakang negara pun satu frekuensi mendukung dan loyal kepada pemimpin sebab selama ini kebutuhan dasar mereka sebagai warga negara diperhatikan dan dipenuhi secara arif oleh negara. Maka ketika kebijakan lockdown diperlukan bukanlah perkara yang sulit.


Inilah akibat penerapan sistem Kapitalis sekuler, dimana negara berlepas tangan terhadap kesejahteraan masyarakat. seharusnya negara berkewajiban menjamin kesejahteraan bagi masyarakat dengan memenuhi kebutuhan dasar secara merata walau di tengah wabah penyakit


Hal ini hanya akan terwujud dengan sempurna melalui sistem Islam. Karena dengan menerapkan sistem ekonomi islam,negara akan berperan mendistribusi pangan secara merata kepada seluruh warga yang membutuhkan, bahkan akan dibentuk diwan khusus untuk menangani bencana atau penanggulangan penyakit yg mewabah


Sehingga masyarakat tidak akan gelagapan dalam menghadapi wabah. Karena baiknya perekonomian mewujudkan terpenuhi kebutuhan masyarakat dengan baik, dan akhirnya musibah wabah ini bisa dilewati dengan cepat.[MO/ia]


Wallahu A'lam bishshowab