Aksi Terorisme Bukan Jihad - dakwah sumut

Breaking

BANNER 728X90

Selasa, 15 Oktober 2019

Aksi Terorisme Bukan Jihad



بسم الله الرحمن الرحيم

Oleh : Tommy Abdillah

(Div Riset & Pengembangan Lembaga Studi Islam Multi Dimensi/Lsim) 

Aktivitas terorisme nampaknya belum berakhir di Indonesia. Mungkin Indonesia masih manis untuk dijadikan target para penebar teror dengan sejumlah hidden agenda. Sejak peristiwa bom bali hingga kini rangkaian peristiwa terorisme masih kembali terjadi.  Peristiwa terakhir adalah penusukan Menkopulhukam Wiranto oleh terduga teroris Syahrial. 

Lalu opini berkembang dengan liar pada hal belum dilakukan proses hukum terhadap pelaku penusukan tapi sudah dinyatakan bahwa pelaku terpapar radikalisme ISIS. Ada yang menyatakan bahwa ia adalah anggota JAD dan ada juga yang mengatakan ia sakit hati rumahnya digusur pemerintah untuk jalan tol. 

Pengamat politik Islam Ahmad Sastra memaparkan bahwa ada 4 stretegi busuk dibalik narasi radikalisme. 

Pertama : sebagai upaya pecah belah umat Islam dengan mengadu domba dengan kaum moderat yang nota bene telah dikasih dana dan proyek. 

Kedua :sebagai upaya pendangkalan ajaran Islam, maka jika ada muslim yang yakin 100 persen akan kebenaran Islam, akan disebut sebagai kaum radikal. 

Ketiga :narasi radikalisme sebagai upaya untuk menghadang kebangkitan Islam, maka muslim yang menyerukan kebangkitan Islam dengan menerapkan syariah dan khilafah akan disebut sebagai kaum radikal.

Keempat : narasi radikalisme adalah cara buruk politik Barat agar tetap bisa bercokol dan menjajah negeri-negeri muslim. Bahkan bukan hanya Barat yang menjajah negeri muslim, kini Timurpun ikut menjajah. 

Maka mudah sekali diidentifikasi, jika ada sebuah peristiwa, baik besar maupun kecil, lantas setelah kejadian, muncul kata radikalisme, maka itu adalah sinetron, dagelan dan sandiwara politik busuk Barat untuk memojokkan Islam. Jika ada orang yang langsung berkoar tentang radikalisme pasca sinetron, maka merekalah antek penjajah itu, meski alasannya demi keutuhan negara sekalipun.

Islam Bukan Agama Radikal

Aksi terorisme dan radikalisme sering dikait-kaitkan dengan mengatas namakan Islam, berjuang dijalan Allah untuk membela Islam (mujahidin), menegakkan Khilafah Islam atau Daulah Islam. Benarkah demikian? 

Pada hal siapapun yang memahami dan mempelajari ajaran Islam secara benar maka tidak akan menemukan bahwa Islam mengajarkan tindakan terorisme dan radikalisme. Justru Sebaliknya Islam adalah agama rahmatan lil'alamin yang mengajarkan perdamaian dan kasih sayang (rahmatan lil'alamin). 

Sebuah bukti kongkrit ketika Khalifah Abu bakar siddiq radiyallahu 'anhu mengangkat Yazid bin mu'awiyah sebagai panglima perang untuk ekspedisi militer ke suriah berpesan sebagaiman pesan yang pernah diberikan Rasulullah SAW kepada para prajuritnya,

“Sebentar ! Aku ingin berpesan pada kalian sepuluh hal. Jangan berkhianat, melanggar janji, dan memotong-motong tubuh mayat. Jangan membunuh anak kecil, orang lanjut usia, dan perempuan. Jangan menebang pohon serta merusak dan membakar pohon kurma. Jangan menyembelih kibas atau unta kecuali untuk dimakan. Kalian akan melewati suatu kaum yang menyepi di biara-biara, biarkan mereka. Perangi orang yang memerangi kalian dan berdamailah dengan orang yang berdamai dengan kalian. Jangan melampaui batas karena Allah tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas.” 

(Ref : Dr. Nizar Abazhah, Perang Muhammad, kisah perjuangan dan pertempuran Rasulullah, hal 329).

Walaupun demikian opini dan propaganda yg dibangun oleh media-media sekuler cenderung mendiskreditken ajaran Islam dengan target pembentukan opini publik bahwa "Islam adalah Teroris".

*Aksi Terorisme Bukan Jihad*

Bagaimana bisa dikatakan tindakan terorisme merupakan aktivitas jihad yang memperjuangkan dan membela Islam? Padahal mereka melakukan dosa dan kemaksiatan yang besar :

*Pertama :* Membunuh manusia yang tak berdosa. Membunuh manusia tanpa sebab adalah termasuk dosa besar yang membinasakan. 

Allah Subhana Wa Ta'ala Berfirman,

{مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا ۚ وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم بَعْدَ ذَٰلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ} [المائدة : 32]

Artinya : "Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: "Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya." Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. 

Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi."(QS.Al-Maa’idah : 32).

Al-imam Ibnu Katsir rahimahullahu menafsirkan Surat Al-maidah ayat 32 diatas, fa ka-annamaa ahyan naasa jamii-an (Maka seolah-olaj dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.) Sa’id bin Jubair berkata: Barangsiapa menghalalkan darah seorang muslim, seakan-akan ia telah halalkan darah seluruh umat manusia, barangsiapa mengharamkan darah seorang muslim, seakan-akan ia telah mengharamkan darah seluruh umat manusia

Rasulullah SAW bersabda,

اِجْتَنِبُواالسَّبْعَ الْمُوْ بِقَاتِ اَلشِّرْكُ بِاللهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِىْ حَرَّمَ اللهُ اِلاَّ بِالْحَقِّ وَاٰكِلُ الرِّبَا وَاٰكِلُ مَالِ الْيَتِيْمِ وَالتَّوَ لِّى يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْ فَ الْمُحْصَنَا تِ الْغَا فِلاَ تِ الْمُؤْ مِنَا تِ. ﴿ رواه البخار ى و مسلم. ﴾

Artinya : "Jauhilah tujuh macam dosa yg bertingkat 2 (besar), diantaranya ialah : Mempersekutukaan Allah, Sihir, Membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dgn hak, memakan harta riba, memakan harta anak yatim, lari dari peperangan, menuduh wanita yang berimana yang tidak tahu menahu dengan perbuatan buruk dengan apa yg difitnakan kepadanya".(HR.Bukhari & Muslim).

*Kedua :* Membunuh diri sendiri. Tindakan terorisme bukan hanya membunuh orang lain tapi membunuh dirinya sendiri dengan meledakkan bom. Aktivitas bom syahid saja dimedan peperangan antara orang-orang kafir harbi fi'lan dengan kaum muslimin para ulama menghukuminya ikhtilaf. Akan tapi bom bunuh diri untuk membunuh orang lain Bukan pada medan peperangan maka hal itu termasuk bunuh diri. Allah SWT berfirman,

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا  وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا

Artinya : "Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barang siapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An-Nisa’: 29-30).

*Ketiga :* Menyimpang dari metode (thariqah)  da'wah Rasulullah SAW dalam memperjuangkan Islam dengan menggunakan kekerasan. Dalam menempuh perjuangan da'wah Rasulullah SAW memberikan thariqah atau metode yang jelas melalui Sirah Nabawiyah mulai dari periode da'wah di Mekkah selama 13 thn hingga periode da'wah di Madinah selama 10 thn.

*Ke empat :* Bila para teroris melakukan tindakan radikal & brutal yang tidak sesuai dengan Syari'at Islam kemudian mengatas namakan Islam, timbul pertanyaan apakah benar mereka adalah pejuang Islam?. Benarkah mereka sedang memperjuangkan Islam?. 

Bisa panjang pembahasannya sebab teori management conflict ala operasi intelegent untuk mencapai goal atau tujuan segala hal bisa dilakukan. Mengutip pernyataan Ustadz Felix Siauw, yang melakukan aksi teror bom itu sangat jahat dan biadab tapi yang memanfaatkan isu ini untuk membuat framing negatif kepada kaum muslimin jauh lebih biadab dan lebih jahat. 

*Penutup*

Kebenaran pasti akan mengalahkan kebathilan. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kemuliaan Islam dan umat Islam. Meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya. Allah SWT berfirman,

{يُرِيدُونَ أَن يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَن يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ} [التوبة : 32]

Artinya : "Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai."(QS. Attaubah : 32).

Wallahu a'lam