BELAJAR DARI KISAH SAKBAN SAHABAT NABI MUHAMMAD - dakwah sumut

Breaking

BANNER 728X90

Minggu, 01 September 2019

BELAJAR DARI KISAH SAKBAN SAHABAT NABI MUHAMMAD


OLEH : Fahmi Amin Harahap

Sakban adalah orang yang taat kepada Allah, beliau orangnya tidak pernah tinggal sholatnya, puasa juga tidak pernah tinggal, Rosulullah sangat kagum dengan kepribadian sakban. Suatu ketika shubuh datang menghampiri, sholat akan dilaksanakan sesegera mungkin, tapi Rosulullah tidak juga memulainya, sampai menunggu kedatangan sakban 15 menit lamanya, setelah lewat l5 menit sakban tidak kunjung datang melaksanakan sholat. Lalu Rosulullah langsung melaksanakan sholat, setelah abis pelaksanaan sholatpun Rosulullah mencarinya, begitulah sesosok sakban yang dirindukan Rosulullah.

Pasca habis dari zikir-zikir pagi bakda sholat shubuh, Rosulullahpun juga mengkhawatirkan sakban, sebab dia adalah orangnya rajin dan tepat waktu kemasjid, karena itu beliau mengajak sahabatnya untuk mencari rumah sakban dikarena ada apa dan bagaimana keadaan beliau sehingga tidak nampak pada saat sholat shubuh tadi. Setelah Rosullah mengetahui rumah sakban, Rosulullah langsung mencarinya dan akhirnya 3 jam perjalanan kerumah sakban barulah ketemu.

Setelah sampai dirumah sakban Rosulullah mengetuk rumahnya, dengan mengucapkan assalamu’alaikum, lalu pihak rumah membuka pintunya, setelah itu Rosulullah bertanya kepada pihak rumah, apa benar ini rumah sakban, di jawab istri sakban, ya dengan siapa ini, lalu Rosul menjawab saya Nabi Muhammad, saya kangen dengan sakban, kami mencari beliau kenapa tidak datang kemesjid shubuh tadi, lalu dijawab istri sakban bahwa sakban sudah mangkat ya Rosulullah, setelah itu Rosulullah menangis terisak-isak dikarenakan sakban telah mangkat.
Setelah itu istri sakban mengatakan kepada Rosulullah tentang kejadian yang menimpa sakban. Ya Rosulullah sakban sebelum mengembuskan nafas terakhir beliau ada mengucapkan dan kami tidak mengerti apa maksud yang beliau katakan, adapun beliau katakan kenapa kurang jauh, kenapa tidak yang baru, kenapa tidak semua. Lalu Rasulullah menterjemahkan semua pertanyaan istrinya yaitu :
1. Kenapa kurang jauh, jujur ketika anak adam di cabut nyawanya, Allah memperlihatkan amalan-amalannya, jadi kenapa tidak jauh maksud yang dikatakan sakban itu beliau menyesal sebenarnya mempunyai rumah yang jauh sampai perjalanan 3 jam ke masjid, menurut sakban kalau bisa lebih jauh lagi agar pahala yang didapatkan lebih banyak.
2. Yang kedua kenapa tidak yang baru. Suatu ketika sakban mau pergi kemasjid, tiba-tiba cuaca sangat dingin, lalu beliau pakai baju tebal yang jelek, sampai di pertengahan jalan sakban berjumpa dengan orang tua yang kedinginan, lalu sakban beri baju tebal yang jelek itu kepada orang tua kedinginan itu. Begitulah penyesalan sakban beliau katakan kenapa tidak yang baru saja aku kasih sama orang tua kedinginan itu sehingga besar perolehan pahalanya.
3. Selanjutnya yang ke tiga kenapa tidak semua. Suatu ketika sakban dalam perjalanan kemasjid, lalu dia berjumpa dengan orang yang 2 hari tidak makan, pada saat itu sakban memberi separuh dari hartanya kepada beliau, sehingga penyesalan yang ada pada sakban kenapa tidak semua dikasih sehingga pahala dapat lebih banyak.
Cobalah kita tilik dari kisah ini, sakban saja menyesal karena kurang amalan dia. Kita sedikitpun tidak ada menyesal pada diri kita. Masjid yang begitu dekatnya saja jarang kita sholat, apa lagi jauhnya seperti perjalanan sakban yang berjalan kaki sampai 3 jam, selalu dia yang sampai dari para sahabat yang lain di masjid, sehingga Rosulullah cinta kepada dia sampai-sampai menunda sholat shubut 15 menit lamanya. Coba hari ini intropeksi diri kita sudahkah menyesal dengan amalan yang tidak seberapa ini, mari jangan tinggalkan sholat, sakban saja 3 jam perjalanan tidak pernah tinggalkan sholat berjamaah, itupun masih menyesal beliau kenapa tidak jauh lagi biar pahala itu mengalir banyak.
Yang kedua dan ketiga coba tilik dari diri kita juga, sudahkah hari ini kita menyesal, yang mana kita setiap hari makan enak, punya rumah enak, punya kendaraan mewah, tapi tidak sedikit orang yang mampu mengamalkan seperti sakban, beliau sisihkan hartanya kepada orang yang tidak makan disekitarnya, sehingga itupun dia menyesal kenapa tidak semua dan yang baru dia berikan, cobalah lihat dan kita intropeksi diri ini bagaimana keseharian kita, sudahkah hari ini kita infakkan harta kita, atau bahkan ditumpukkan dan hanya menikmati harta itu adalah keluarganya saja?.Allah Berfirman : “Hai orang-orang beriman bertaqwalah kamu kepada Allah, dan hendaklah setiap kehidupan kalian, kalian perhatikan atau intropeksi diri sudah sejauh mana amalan kalian lakukan untuk hari esok yaitu hari akhirat” (QS. Al-Hasyar (59) ayat 18).
Semoga hari ini lebih baik dari pada hari kemaren, dan semoga hari esok lebih baik dari pada hari ini. Apabila hari ini lebih buruk dari pada hari kemaren, maka dia adalah orang yang merugi, dan begitu juga hari besok lebih buruk dari pada hari ini maka dia adalah orang celaka dan merugi. Semoga kita bisa meneladani sosok sakban dalam kehidupan kita sehari-hari, Aamiin.