APAKAH INDONESIA SUDAH TERAPKAN POLITIK ISLAM? - dakwah sumut

Breaking

BANNER 728X90

Rabu, 24 Juli 2019

APAKAH INDONESIA SUDAH TERAPKAN POLITIK ISLAM?


OLEH : Fahmi Amin Harahap

Betapa banyak orang yang menganggap bahwa politik itu kotor. Maka agama sebagai sebuah kesucian seolah ‘haram’ menyentuh ranah politik. Beragama seolah dicukupkan pada permasalahan ruhiyah semata, seperti shalat, tilawah Quran, dzikir akbar, shalawatan, dan lainnya.
Padahal sesungguhnya Islam tidak menjahui politik. Dalam Islam, politik dikenal dengan istilah siyasah. Maka secara ringkas, politik dalam Islam diartikan sebagai mengurusi kemaslahatan umat. Jadi Islam sama sekali tidak dapat dipisahkan dari politik. Sebab secara keseluruhan, Islam merupakan agama yang rahmatan lil alamin. Hanya dengan berpolitiklah, kerahmatan Islam dapat tersebar ke seluruh penjuru dunia. 
Oleh karena itu, berpolitik dalam pandangan Islam berarti beraktivitas memperbaiki manusia di semua sendi kehidupannya, mulai dari individu, keluarga, masyarakat, hingga negara. Salah satu wujudnya adalah melakukan amar ma’ruf nahi mungkar di tengah-tengah masyarakat, serta mengoreksi kebijakan penguasa yang dzalim. 
Jadi tentu sangatlah berbeda paradigma politik dalam kacamata sistem westernisasi/ sekuler dan Islam. Jika dalam sistem westernisasi, politik sering kali diidentikkan dengan perebutan kekuasaan, maka politik dalam pandangan Islam merupakan aktivitas agung dalam rangka melaksanakan kewajiban sebagai hamba. Jika dalam kacamata westernisasi/sekuler, politik dianggap wadah meraih kemewahan duniawi, maka politik dalam Islam merupakan upaya mewujudkan kerahmatan Islam demi meraih ridho ilahi.

A. Analisa Penerapan Politik Islam di Indonesia
Dewasa ini Indonesia sekarang, belum mampu untuk menerapkan politik Islam tersebut, gaya politik para elit di indonesia mencerminkan gaya politik westernisasi dan sekuler, yang ingin merauk keuntungan sebanyak-banyaknya, mereka ingin memperkaya pribadinya, merebut fasilitas negara demi kesenangan dirinya, kata AM. Waskito didalam bukunya The Power Of  Optimisme (hlm : 92).
Politik Indonesia ini belum mampu memecahkan permasalahan yang ada di kalangan masyarakat, buktinya masih banyak masyarakat jauh dari keadilan, yang kaya akan diadili dengan seringan-ringannya, yang miskin akan diadili dengan seberat-beratnya. Beginilah keadaaan politik kita sekarang, syarat dengan kepentingan belaka, Jauh dari nilai-nilai Islam. Islam mengajarkan bahwah keadilan adalah harus di tegakkan sama rata dan sama rasa. Didalam buku Syaikh Shaifiyyurrahman Al-mubarakfurri yang berjudul Sirah Nabawiyah di jelaskan Rosulullah bersabda : “Wahai sahabat, saksikanlah bahwa apabila fatimah binti Muhammad mencuri, akan aku potong tangannya”. Jadi, di indonesia belum jelas letak keadilan itu karena keadilan itu hanya milik para elit politik yang mempunyai modal besar.

Kesimpulan
Tegaknya Politik Islam di indonesia berawal dengan kesadaran para politisinya, sebab merekalah yang berkeinginan kuat dan bergelut dikancah politik. Banyak orang mengatakan bahwa politik kita ya begini-begini saja, tidak ada perubahan yang dapat membawa masyarakat dalam kesejahteraan. Karena jujur saja, para elit politik di negeri ini sudah salah niat. Niatnya tidak berkiblat kepada nilai-nilai Islam, tapi berkiblat kepada hawa nafsunya yang menggrogoti dirinya. 
Mari bangun dari tidur kita, sudah saatnya kita bangkit dari perbudakan aliran politik Machiavellianisme yaitu menghalalkan segala cara asalkan dirinya bisa sejahtera, membunuhpun jadi asalkan dirinya bisa mendapatkan proyek yang dia inginkan. Mari kita ciptakan politik islam yang Asketisisme yaitu politik yang mempraktekkan nilai-nilai kejujuran, dan rela berkorban demi kesejahteraan masyarakat dan kemaslahatan ummat.