MENJADI DAI YANG SUKSES - dakwah sumut

Breaking

BANNER 728X90

Minggu, 14 April 2019

MENJADI DAI YANG SUKSES




Oleh: Fahmi Amin Harahap


Menurut buku yang penulis baca yaitu buku ilmu dakwah karangan Prof.Abdullah menjelaskan secara harfiah kata dakwah berasal dari kata da’a, yad’u, dan da’watan yang artinya panggilan, seruan atau ajakan. Maksudnya adalah mengajak dan menyeru manusia agar mengakui Allah Swt sebagai tuhan, lalu menjalani kehidupan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang diaturnya sebagai yang tertuang dalam Al-qur’an dan hadis. Dengan demikian target dakwah adalah mewujudkan sumber daya manusia yang bertakwa kepada Allah Swt dalam artian luas.

Dakwah memiliki kedudukan yang sangat penting, maka secara hukum adalah kewajiban yang harus diemban oleh setiap muslim. Ada banyak dalil yang menunjukkan kewajiban, diantaranya : Serulah manusia kejalan tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik..(QS.  An-Nahal: 125).

Pada ayat yang lain Allah Swt berfirman : “Kamu adalah ummat terbaik diciptakan untuk manusia, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran, dan berimanlah kepada Allah. (QS.Ali-Imran Nasution : 110). Sedangkan Nabi Muhammad juga bersabda: “Sampaikanlah pada dirimu walaupun satu ayat saja.”(HR. Bukhari, Ahmad, dan Tarmidzi).

Kesuksesan dakwah tidaklah semata-mata ditentukan kemampuan seorang dai, tapi ada faktor terpenting lain adalah kepribadian sang dai itu sendiri. Pada dasarnya kepribadian seorang dai tercermin dari pesan-pesan dakwah yang dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Jika dalam dakwahnya ia berpesan agar menegakkan sholat, maka shalat itu memang sudah dilakukannya, kalau ia menganjurkan berinfak, maka memang sudah ia laksanakan, sesuai dengan buku metode dakwah karangan Dr. Soiman, M.A Dekan Fakultas dakwah UINSU yang mengatakan metode ini disebut metode bil-hal yaitu dengan perbuatan atau teladan yang baik.

Manakala terjadi ketidak selarasan antara apa yang ia katakan dengan perilakunya sehari-hari, maka ia akan dihadapkan pada krisis kepercayaan sosial kepadanya dan murka dari Allah Swt. “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan. Amat besar kebencian disisi Allah mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff : 2-3).

Dakwah yang dilakukan tanpa mengamalkan pesan-pesan dakwahnya akan sulit untuk bisa diterima oleh sang mad’u sampai kedalam hatinya. Padahal memasukkan pesan-pesan dakwah tidak hanya sampai ke orang lain tapi harus membuat terjadinya perubahan dan dilaksanakan dengan dorongan hati.
Ada 5 sifat yang seharusnya dimiliki oleh seorang dai;

A. Pertama hubungan yang dekat dengan Allah. Dai adalah pembawa misi dari Allah. Karena mutlak bagi seorang dai memiliki hubungan yang dekat dengan Allah. Hubungan yang dekat dengan Allah adalah dalam bentuk tumbuhnya perasaan pada dirinya akan selalu dilihat dan dikontrol oleh Allah. Tumbuhnya perasaan ini membuat seorang dai terhindar dari pelbagai macam penyimpangan

B. Kedua, ikhlas dalam berdakwah. Dakwah islam tentu saja menuntut adanya keikhlasan dam pelaksanaannya. Ini berarti seorang dai harus berdakwah semata-mata karena Allah Swt. Dengan keikhlasan seorang dai akan melaksanakan tugas menyampaikan dakwah dengan ringan walaupun bebannya berat.

C. Ketiga, Sabar dalam pelbagai keadaan. Dakwah merupakan tugas yang secara duniawi bisa terasa enak atau sebaliknya yaitu tidak enak. Dakwah akan terasa nikmat yaitu jika banyak orang yang mendengar, mengikuti apalagi menggemarinya. Namun adakalanya dakwah mendapatkan hal-hal yang tidak menyenangkan seperti caci maki, fitnah, permusuhan dan bahkan penghilangan nyawa, kehormatan dan harta benda seperti yang baginda nabi Muhammad Saw alami.

D. Keempat, menggunakan pembicaraan yang baik. Salah bentuk penyampaian adalah dengan pembicaraan. Karena itu seorang dai harus berbicara dengan kata-kata yang baik, baik menyangkut isi pembicaraan, pilihan kata yang tetap maupun gaya bicara yang sesuai dengan dakwahnya.

E. Kelima, memiliki ke-Istiqhomahan dalam berdakwah. Dakwah adalah tugas yang berat. Oleh karena itu, tidak sedikit orang yang berguguran di jalan dakwah. Manakala seorang dai memiliki kesanggupan dan daya tahan yang kuat.

“WAHAI DAI, JANGAN PERNAH MENYERAH DALAM BERDAKWAH
JIKA DIRIMU TIDAK BISA MENDAKWAHKAN MASYARAKAT
DAKWAHKANLAH ANAK KULIAH, JIKA TIDAK BISA LAGI
DAKWAHKAN ANAK SMA, JIKA TIDAK BISA LAGI
DAKWAHKAN ANAK SMP, JIKA TIDAK BISA LAGI
DAKWAHKAN ANAK SD, JIKA TIDAK BISA LAGI 
DAKWAHKAN ANAK TK, JIKA TIDAK BISA LAGI
DAKWAHKAN DIRIMU, JIKA TIDAK BISA LAGI
SURUH KAWANMU MENTAKBIRKAN DIRIMU 4 KALI”
(ABDUL HALIM RITONGA)