JANGAN FRUSTASI MELIHAT PERILAKU POLITIK


OLEH : Fahmi Amin Harahap

Perkara lain yang sering membuat kaum muslimin putus asa adalah kondisi politik yang terus dilanda kericuhan, moralitas para politisi semakin buruk , korupsi semakin ganas, serta janji-janji politik lebih banyak diingkari. Politik akhirnya tidak jauh dari perlombaan berebut harta, tahta dan wanita. Monggo-monggo cerita memikirkan hak rakyat, asal para politisi itu tidak terjerat kasus korupsi selama pekerjaan politiknya, itu sudah sudah luar biasa kali.
A. Kondisi kehancuran politik ini terjadi karena beberapa alasan: 
Pertama, dunia politik berubah menjadi tempat pertarungan dagang. Para politisi berlomba-lomba keluar upeti untuk membeli suara dari masyarakat, kalau sudah ada dukungan, mereka akan dapat jabatan, lalu jabatan itu akan dipakai untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Inilah persis seperti dunia perdagangan, ibaratnya menanam saham terlebih dahulu, lalu kemudian mendapatkan hasil yang berlipat ganda. Kedua, Para Politisi mengurusi negara dan rakyat, bukan untuk mengabdi atau melayani, tetapi untuk mencari penghasilan bagi diri sendiri, anak istri dan kaum kerabat. Dunia politik bagi saya adalah bursa tenaga kerja, tempat orang mencari tempat dan gaji bulanan.
Ketiga, para politisi saat masuk dunia politik, lebih banyak meminta dilayani, bukan komitmen memberi pelayanan. Mereka sangat gemar diskusi politik, berdebat di media, melakukan wawancara dengan wartawan, serta berselfi-selfi. Mereka lupa bahwa esensi awalnya seseorang masuk dunia politik itu harus memperbaiki kehidupan bangsa. Keempat, mayoritas para politisi tidak takut kepada Allah. Ini adalah problem terbesar dan sumber kerusakan utama. Dimata mereka Tuhan dianggap lawan politik bagi mereka yang bisa diakali. 

SIFAT POLITIK YANG BENAR
Tujuan utama kita berpolitik adalah untuk membangun dan untuk memperbaiki kehidupan insan dan melindungi kehidupan kaum muslimin dan masyarakat, sesuai amanat pancasila. Pelaku politik adalah siapa saja yang memiliki gagasan, keahlian, dan kesempatan untuk mempengaruhi kekuasaan. Jadi politik bukan diemban bagi semua orang, tetapi dilaksanakan oleh politisi yang banyak pengalamannya. Politik dikembangkan di segala kondisi politik yang ada, tanpa harus menunggu kondisi kemapanan dan kestabilan.

Ibnu Taimiyah menjelaskan missi politik yang berdalilkan dengan sebuah ayat Al-Qur’an : “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyampaikan amanah-amanah yang berhak menerimanya, dan jika kalian menetapkan hukum diantara manusia, hendaklah menetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah telah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya bagi kalian, sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi maha mengetahui”. (An- Nisa : 58). Dalam ayat ini, seorang pemimpin memiliki dua tugas yang utama : menunaikan amanat rakyatnya dan menghukumi problem mereka secara adil. Hal ini membuktikan bahwa missi politik ialah untuk kebaikan hidup ummat islam itu sendiri.

KESIMPULAN
Banyak para elit politik yang terjun kedunia politik ialah orang-orang yang ingin mencari kerja, mencari gaji yang besar, meraih jabatan, mencarik proyek, mengejar fasilitas negara, mendapat kemudahan bisnis dan permodalan. Politik akhirnya padam oleh hawa nafsu dan selera keduniaan. Maka oleh sebab itu kita selaku masyarakat seharusnya memilih “Para politisi yang punya rasa takut kepada Allah”. Jika ada 2 dan 3 politisi yang takut kepada Allah dan istiqhamah, itu bisa menjadi pemimpin masa depan. Mungkin sedikitnya orang baik ini tidak banyak mengubah keadaan, tetapi meminimalisir kejahatan yang ada.
Maka solusinya, sistem politiknya yang harus diganti, para politisinya di gusur semua. Cara menggusurnya kita harus menata ulang dari akarnya, agar dari akar ini akan bisa menghasilkan buah yang segar yang bisa dinikmati oleh masyarakat, lantas betul kata Ali bin abi Thalib di kisahkan di buku Ihya’ Ulumuddin karangan Al-Ghazali, mengatakan bahwa jika orang-orang baik tidak terjun dalam dunia politik, maka kelak yang memimpin kalian adalah bisa orang liberal, sekuler, dan lain-lain. Maka oleh sebab itu, kita jangan fesimis dan tetapkan niat kita, kita berpolitik bukan mencari harta maupun proyek dan sebagainya, tapi untuk kepentingan ummat dan masyarakat. 

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi