Media Digital Mesin Perusak Generasi - dakwah sumut

Breaking

BANNER 728X90

Sabtu, 26 Januari 2019

Media Digital Mesin Perusak Generasi


Oleh : Sri Cahyo Wahyuni (Tokoh Pemerhati Keluarga dan Generasi)

Menyaksikan potret generasi muda kita sekarang seperti menyaksikan kehancuran bangsa kita di masa yang akan datang. Bagaimana tidak, berbagai macam kasus yang melanda negeri ini, mayoritas pelakunya adalah generasi muda yang memiliki julukan sebagai agent of change.
Pergaulan bebas dan pornografi yang berujung hamil diluar nikah dan aborsi. Belum lagi ketika menyebut miras dan narkoba. Telah banyak remaja yang melayang nyawanya karena keseringan bahkan kecanduan mengonsumsi barang-barang haram ini.
Dan ternyata, kasus-kasus ini belumlah cukup untuk mewakili bagaimana hancurnya moral generasi muda zaman ini.
Hari ini generasi muda terutama remaja telah kembali menjadi trending topic di berbagai surat kabar dan media.
Bukan karena prestasi gemilangnya, melainkan prestasi bobroknya.
Seperti berita tentang 12 siswa SMP di satu sekolah di Lampung yang diketahui hamil (TRIBUNLAMPUNG.CO.ID). Pantauan PKBI, persoalan kehamilan yang tidak diinginkan dikalangan pelajar, terjadi merata, baik sekolah-sekolah yang ada di Bandar Lampung maupun kabupaten-kabupaten lain.
Kondisi generasi muda yang rusak ini diakibatkan karena Negeri ini telah memilih sistem sekuler liberal sebagai pranata kehidupan ini.
Sistem sekuler Liberal ini jelas-jelas merusak seluruh pranata kehidupan termasuk generasi, setidaknya karena empat hal:
Pertama, dengan asas sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) jelas telah menuntun manusia agar menjauhkan agama dari pengaturan kehidupan. Agama justru dianggap sebagai racun yang menghambat kemajuan manusia. Walhasil, generasi yang tumbuh dalam sistem kapitalisme menjadi generasi yang gampang ingkar kepada Allah SWT dan tidak takut lagi akan murka-Nya.
Kedua, paham liberalisme (kebebasan) dan permisifisme (serba boleh) yang dipuja dalam sistem kapitalis otomatis mendorong manusia untuk berbuat sekehendaknya. Tak ada lagi standar hidup seperti halal-haram, benar-salah, pahala-siksa, surga-neraka, imam-kafir, terpuji-tercela, seperti yang dipandu oleh agama. Sehingga tak mengherankan jika generasi yang hidup dalam kubangan sistem ini banyak yang terperosok ke dalam berbagai jurang kemaksiatan. Maksiat berujung abori seolah telah menjadi hal biasa. Pergaulan bebas semakin tersebar tak terkendali ke seluruh penjuru Negeri.
Ketiga, perilaku hedonisme ( berhura-hura) yang ditumbuh-suburkan oleh kapitalisme telah menghipnotis manusia, termaksud remaja untuk berlomba menikmati kemewahan dan kesenangan duniawi semata. Terlena dan lupa dengan Negeri akhirat. Sehingga tak perlu heran, jika hari ini banyak ditemukan semakin banyak generasi muda yang gemar mengumbar syahwat dan suka berfoya-foya yang berujung dengan pesta narkoba dan seks.
Keempat, Kapitalisme menyuguhkan materi sebagai sumber kebahagiaan dan kesuksesan. Tak pelak lagi, manusia terinspirasi untuk mengejar materi dimanapun mereka pergi. Begitu pula generasi yang dibesarkan dalam sistem kapitalis tentu juga berlomba mengejar materi. Standar terpuji tercela, halam haram, seolah tak mereka pedulikan lagi.
Kondisi ini diperparah dengan adanya kemajuan teknologi digital abad ini. Media digital ini merupakan produk “madaniah” atau produk perkembangan teknologi yang dihasilkan Barat yang sarat dengan ‘hadhoroh barat” atau cara pandang Barat terhadap kehidupan ini. Dan Barat memandang bahwah kehidupan ini bebas nilai dibawah kendali manusia. Berangkat dari cara pandang ini maka barat ketika mengembangkan teknologi media digital abad ini bebas dari nilai. Arus Informasi dan tayangan-tayangan yang merusak dapat diakses oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja berada melalui media digital.
Media digital ini jelas-jelas menjadi mesin perusak generasi, tidak hanya di negri ini bahkan di negri lahirnya pun telah terbukti. Seperti jajak pendapat yang dilakukan Universitas Birmingham, Inggris Tengah menyimpulkan bahwa sebagian besar orang tua di Inggris meyakini media sosial merusak perkembangan moral anak-anak mereka, seperti terungkap dalam sebuah laporan Universitas Birmingham lebih setengah (55%) dari 1.700 orang tua dengan anak berumur 11 sampai 17 tahun sangat sepakat bahwa media sosial menghambat atau bahkan merusak perkembangan moral. (BBC NewsIndonesia, 19 Juli 2016).
Berbagai upaya untuk mengatasi kerusakan generasi terutama pergaulan bebas akibat media digital telah dilakukan oleh berbagai pihak di Negeri ini.
Hanya saja solusi-solusi yang digelindingkan tetap berpijak kepada ide yang paling diagungkan sistem kapitalisme sekuler ini. Yaitu berpijak kepada nilai-nilai HAM (Hak Asasi Manusia) yang mengusung kebebasan individu. Sehingga solusi-solusi yang diberikan tidak pernah menuntaskan persoalan kerusakan generasi tetapi justru menambah kehancuran generasi disana sini.
Hanya dengan kembali kepada Islamlah yaitu dengan menerapkan Syariah secara sempurna dalam bingkai Khilafah persoalan kerusakan generasi karena pergaulan bebas dan media digital bisa diatasi. Pasalnya islam meliliki 12 lapis solusi dalam mengatasi persoalan ini. Dan Islam juga mengatur dengan ketat penggunaan media informasi.
Dua belas lapis solusi itu adalah sbagai berikut : (1) keimanan individu; (2) kewajiban menutup aurat bagi yang sudah balig; (3) perintah menjaga pandangan; (4) larangan ber-khalwat; (5) larangan ber-ikhtilat (campur-baur); (6) Negara memberikan kemudahan dalam menikah; (7) kebolehan poligami; (8) negara menerapkan sistem ekonomi Islam yang menjamin kesejahteraan rakyat; (9) negara melarang pornografi dan mengontrol tayangan/media agar tidak merusak masyarakat; (10) sistem pendidikan Islam yang membentuk kepribadian Islam; (11) kontrol masyarakat dengan spirit amar makruf nahi mungkar; (12) penegakkan sistem sanksi Islam dengan fungsi jawabir (penebus dosa) dan jawazir (pencegahan).
Sedangkan media didalam Islam dikelola dalam rangka memberikan informasi yang mendidik seperti penanaman aqidah, ketaatan kepada Islam, pencerdasan umat tentang Islam sebagai ideologi dan dalam rangka menyebarluaskan islam ke seluruh dunia.
Jika duabelas lapis ini diterapkan dan media dikelola dengan baik sesuai dengan peruntukkanya niscaya generasi Islam selamat dari kerusakkan dan kehancurannya.
Wallahu'alam.