Medan Jelang Ramadan, Harga Menggigit Hidup Kian Sulit
Oleh Tiara Lubis (Aktivis Muslimah)
Hari-hari besar seperti Ramadan membuat harga kebutuhan pokok yang tidak stabil kembali menjadi sorotan. Lonjakan harga yang terus berulang dari tahun ke tahun memperlihatkan bahwa persoalan pangan bukan sekadar masalah teknis untuk, melainkan menyangkut sistem yang mengatur produksi dan distribusi dan pengawasan yang menyeluruh.
Dikutip dari waspada.id (13/2/2026) Tim Satgas Pangan Polres Pelabuhan Belawan bersama Pemerintah Kota Medan dan Perum Bulog Melakukan pengecekan harga serta ketersediaan bahan pokok di Pasar Titipapan dan Suzuya Marelan pada tanggal 13 Februari 2026. Langkah ini dilakukan menjelang Ramadan dan Idulfitri untuk memastikan stok beras, minyak goreng, daging serta kebutuhan pokok lainnya tetap aman. Selain itu Tim Satgas Pangan Polres Pelabuhan Belawan juga melakukan pengecekan yang bertujuan mencegah praktik penimbunan, permainan harga, serta memastikan distribusi bahan pangan dapat berjalan dengan lancar
Fenomena ini menunjukkan bahwa pengelolaan bahan pangan masih sangat rentan terhadap hari-hari besar, serta menunjukkan negara belum berhasil dalam menjamin kestabilan harga bagi masyarakat. Fakta dilapangkan ini mengungkap bahwa masalah stabilitas harga belum terselesaikan secara fundamental. Pengecekan yang dilakukan setiap tahun tetapi lonjakan harga tetap terjadi. Ini menunjukkan bahwa persoalan tidak hanya terletak pada perilaku pedagang atau stok barang, melainkan pada sistem ekonomi yang mengatur mekanisme pasar itu sendiri.
Dalam sistem kapitalisme, negara hanya berperan sebagai pemberi kebijakan dan pengawas bukan sebagai pengurus kebutuhan rakyat. Akibatnya, pasar mudah dipengaruhi oleh monopoli, spekulasi, permainan harga, dan mafia impor yang dapat merusak kestabilan pada pasokan. Sementara itu, ketergantungan terhadap impor membuat Indonesia rentan ketika permintaan meningkat.
Meski data tahunan sudah menunjukkan permintaan naik pada saat menjelang Ramadan, tetapi negara tidak mempersiapkan produksi pangan secara optimal. Sehingga distribusi sering tidak berjalan dengan lancar dan membuat masyarakat kesulitan dalam mengakses barang dengan harga yang wajar. Semua ini adalah masalah sistematis yang lahir dari kapitalistik yang membiarkan pangan diberlakukan sebagai meraih keuntungan bukan untuk memenuhi kebutuhan rakyat.
Rasulullah saw., bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya." (h.r. Bukhari).
Hadis di atas menegaskan bahwa seorang pemimpin wajib mengurus kebutuhan rakyat bukan hanya sekadar membuat aturan atau menjadi regulator. Negara harus hadir dalam memastikan kebutuhan pokok termasuk pangan yang bisa dipenuhi dengan mudah dan terjangkau.
Berbeda dengan sistem kapitalistik, dalam pandangan Islam negara hadir sebagai pengurus rakyat yang memastikan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dan harga tetap stabil sepanjang waktu, bukan hanya ketika memasuki momen tertentu seperti Ramadan dan Idulfitri. Negara juga mengatur sumber daya strategis secara penuh agar tidak dikuasai oleh kelompok tertentu agar ketersediaannya merata dan harga tetap stabil.
Islam juga mengatur distribusi secara ketat melalui sistem logistik yang menjamin perpindahan barang dari produksi ke konsumen dapat berjalan lancar. Pengawasan yang dilakukan bukan sepanjang tahun atau menjelang Ramadan saja sehingga peluang untuk penimbunan, kelangkaan bisa ditekan sejak awal.
Masalah yang terus berulang tidak akan selesai jika sistem kapitalistik yang mengatur maka perlunya sistem yang benar-benar mengurus rakyat dan memberikan solusi dengan menata produksi, distribusi, dan pengawasan secara menyeluruh. Dengan ini maka stabilitas harga tidak menjadi kekhawatiran tahunan menjelang Ramadan, tetapi menjadi kondisi yang stabil.
Wallahualam bissawab.
