Tahun Baru, Masalah Lama: Tawuran Remaja Tak Kunjung Usai

 


Oleh: Tiara Lubis

Aktivis Muslimah


Setiap pergantian tahun seharusnya menjadi momentum refleksi, doa dan kebersamaan, namun mengapa justru menjadi arena saling serang dengan petasan kembang api? Mengapa tawuran ini tetap terjadi meskipun aparat keamanan telah disiagakan? Apakah ini semata akibat salah pergaulan atau justru cerminan dari sistem sekuler yang gagal membentuk karakter, moral dan akhlak? 


Dikutip dari (Medanterkini.id, 1/1/2026) Tawuran terjadi di Belawan pada akhir desember 2025. Dalam peristiwa tersebut, menunjukkan beberapa kelompok terlihat saling serang-menyerang yang menyebabkan kerusuhan serta bahaya yang muncul dari petasan yang saling dilempar satu sama lain.


Perayaan tahun baru yang seharusnya menjadi momentum refleksi, doa, dan kebersamaan, justru menjadi arena kekerasan. Ini terjadi di Belawan para remaja memilih merayakan pergantian tahun dengan menyalakan petasan yang diarahkan ke kelompok lain yang berujung tawuran. Situasi ini bukan hanya membahayakan diri sendiri serta menganggu ketertiban umum, tetapi juga membahayakan keselamatan lingkungan masyarakat sekitar.


Fenomena ini mencerminkan kegagalan dari berbagai sisi, baik dari segi pendidikan, kontrol orang tua, dan pemeritah lokal. Remaja yang seharusnya diarahkan menjadi generasi yang produktif dan berkarakter, justru terjebak pada perilaku merusak yang dapat membahayan diri sendiri dan orang lain. Sistem sekuler pada hari ini lebih cenderung menekankan penyediaan hiburan dan kemeriahan dalam penyambutan tahun baru, dibandingkan dengan upaya membanguan generasi yang memiliki karekater, moral, dan mempunyai akhlak.

Hal ini ditegaskan oleh Allah melalui firman-Nya:

“menjauhkan diri dari perbuatan yang sia-sia.” 

(QS. Al-Mu’minun ayat 3)


Ayat ini menegaskan bahwa aktivitas tanpa manfaat, apalagi berujung kerusakan, bukan bagian dari sikap seorang mukmin. Oleh karena itu, perayaan Tahun Baru yang diwarnai hura-hura, petasan, dan tawuran jelas bertentangan dengan nilai Islam. Alih-alih menjadi momentum introspeksi dan perbaikan diri, Tahun Baru justru berubah menjadi ajang kesia-siaan yang mengganggu ketertiban umum dan membahayakan keselamatan masyarakat. Fenomena ini menunjukkan bahwa tanpa bimbingan akhlak dan iman, pergantian tahun hanya melahirkan euforia kosong yang berulang dari tahun ke tahun.


Kapitalisme mengusung pada kebebasan individu sehingga individu bebas dalam bersikap dan mengambil tindakan tanpa melihat standar perilaku benar dan salah. Ketika kebebasan dijadikan nilai utama, maka suatu perbuatan dilakukan atas keinginan pribadi tanpa melihat apakah perbutan itu salah atau benar. Dalam kondisi seperti ini, yang menekankan kebebasan tanpa batas moral, banyak orang yang memganggap kondisi ini wajar selama tindakan ini tidak langsung dihukum oleh negara. Jadi, yang menjadikan patokan bukan benar atau salah suatu perbuatan tapi kena hukuman atau tidak. Akibatya, perbuatan yang seharusnya berdampak merugikan orang lain malah dianggap biasa aja. Dari sinilah muncul perilaku agresif, kekerasan, dan tawuran yang mudah terjadi.


Dalam perspektif Islam, setiap perayaan dan hiburan harus menebar maslahat, bukan mudharat. Negara, keluarga, dan masyarakat memiliki amanah mendidik generasi agar aktif secara positif, bukan destruktif. Tawuran dan petasan membahayakan nyawa, ini jelas pelanggaran hukum dan amanah kemanusiaan. Kasus Belawan menjadi cermin, ritual modern tanpa bimbingan moral akan melahirkan generasi yang menganggap kekerasan sebagai hiburan. Sistem Islam menuntut pendidikan karakter sejak dini, pengawasan sosial, dan pengelolaan komunitas agar anak muda merayakan hidup dengan manfaat, bukan kerusakan. Akhirnya, Tahun Baru bukan sekadar tanggal atau kembang api, tetapi ujian sejauh mana masyarakat dan negara mampu membimbing generasi agar amanah dan selamat, bukan liar dan membahayakan. Belawan hari ini menunjukkan, tanpa akhlak dan sistem Islam, kemeriahan menjadi bencana yang terus berulang.


Selama sistem kehidupan masih lebih mengutamakan hiburan dan euforia dibandingkan pembinaan akhlak dan keimanan, maka potensi untuk munculnya perilaku menyimpang akan terus ada. Islam menawarkan solusi yang menyeluruh, mulai dari pembinaan individu yang berlandaskan akidah, peran kuat keluarga dalam pendidikan moral, hingga tanggung jawab negara dalam menciptakan sistem yang menjaga generasi dari kerusakan moral. Dengan penerapan nilai-nilai Islam secara menyeluruh, perayaan tidak lagi diisi dengan tindakan merusak, tetapi menjadi momentum yang membawa kebaikan, kedamaian, dan keselamatan bagi seluruh masyarakat.


Wallahualam Bissawwab..