Miris! Pembunuhan Kian Sadis
Oleh: Halizah Hafaz Hts, S.Pd (Aktivis Muslimah dan Praktisi Pendidikan)
Tindak kriminal pembunuhan yang dulu dipandang langka kini menjadi pemberitaan yang sering dibicarakan. Apalagi tindakan kriminal pembunuhan yang terjadi di lingkungan keluarga. Seperti kasus pembunuhan terjadi pada tanggal 30 November 2025, Dosen Universitas Sumatra Utara (USU) bernama Orang Kaya Hasnanda (58), tewas dibunuh anak kandungnya, H (18). Tindakan tersebut dilakukan pelaku karena kesal saat korban menganiaya istrinya atau ibu pelaku. (Detik.com, 21 Desember 2025)
Berdasarkan pengakuan pelaku kepada Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Belawan, Iptu Agus Purnomo bahwa motif pembunuhan karena pelaku sakit hati pada korban. Pelaku yang sudah ditetapkan tersangka itu mengaku kerap dianiaya korban dan juga melihat ibunya mengalami hal serupa. Selain itu, ada pula tindakan pembunuhan yang dilakukan anak SD inisial AI (12) pada ibunya F (42) di kecamatan Medan Sunggal dengan motif ketidakrelaan karena sang kakak yang kerap kali dipukuli ibunya. Tidak hanya itu, sang ibu juga menghapus game online yang ada di smartphone pelaku. Hingga akhirnya membuat pelaku kesal dan membunuh ibunya.(detik.com, 29 Desember 2025)
Sistem Sekulerisme Pangkal Masalah
Tidak dapat dimungkiri bahwa kondisi lingkungan keluarga saat ini sedang tidak baik-baik saja. Berbagai permasalahan mendera, bahkan belakangan banyak kejadian yang membuat kita miris dan prihatin. Kasus-kasus pembunuhan, penganiayaan, penyiksaan bahkan pemerkosaan juga terjadi di lingkungan keluarga. Jika dicermati, sesungguhnya berbagai permasalahan hidup kini—termasuk yang tengah menimpa keluarga muslim—bermula dari penerapan sistem kehidupan sekuler kapitalistik yang tidak mengindahkan ajaran agama dan lebih mengedepankan kepentingan para pemilik modal.
Banyak keluarga muslim yang dibangun tidak berlandaskan agama, sehingga tidak terbentuk keluarga sakinah, mawadah dan rahmat pada lingkungannya, termasuk pada kepala keluarga dan anggota keluarganya. Wajar, tindakan-tindakan yang tidak sesuai di dalam Islam terjadi secara terus-menerus. Peran agama tidak hanya nihil dalam lingkungan keluarga, namun juga nihil pada sistem pendidikan, sistem ekonomi, dan sistem lainnya yang semuanya menggunakan aturan buatan manusia.
Sistem pendidikan misalnya, pendidikan agama di lingkungan sekolah diberikan dengan porsi yang sangat kecil. Materi yang diajarkan pun hanya bersifat kognitif, tidak membentuk ketakwaan. Aspek pembinaan ketakwaan dan pembentukan kepribadian mulia diabaikan. Sebab sistem pendidikan dalam sistem kapitalisme sekuler hanya berorientasi pada kehidupan duniawi serta mengabaikan tujuan kehidupan di akhirat. Pengabaian ini membuat peserta didik tidak bisa memahami hakikat dirinya sebagai hamba Allah, yakni tdak memahami tujuan hidupnya, tidak memahami bahwa semua yang dilakukan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Sementara itu, kemampuan pengontrolan diri pun lemah sehingga berbagai kejahatan seperti pembunuhan makin mudah terjadi.
Kondisi ini diperparah dengan penerapan sistem ekonomi ala kapitalisme yang melahirkan kesenjangan sosial makin lebar. Kekayaan hanya beredar pada orang kaya saja. Alhasil, yang kaya makin kaya dan miskin makin miskin. Ditengah harga kebutuhan bahan-bahan pokok yang melambung tinggi, biaya kebutuhan dasar yang terus dikomersialisasi dan kondisi perekonomian yang buruk memungkinkan terjadinya cekcok antar keluarga. Tidak ayal jika pembunuhan bisa terjadi karena problem ekonomi di tengah keluarga.
Yang tidak kalah berbahaya lagi dengan adanya sistem informasi dan pengelolaan media dalam sistem kapitalisme sekuler yang justru merusak kepribadian seseorang bukan mengedukasinya. Negara tidak melakukan penyaringan mana tayangan yang mendidik dan tidak mendidik. Jika tayangan tersebut mampu membawa manfaat bagi negara maka tayangan tersebut dapat dengan mudah llolos ditayangkan di media. Tidak jarang orang-orang melakukan tindakan keji karena terinspirasi dari tayangan yang mereka tonton di media. Inilah berbagai masalah yang muncul dari penerapan sistem kapitalisme sekuler. Pangkal kerusakan akidah dan kepribadian seseorang lahir dari sistem ini.
Islam Memberikan Perlindungan Diri
Islam sebagai agama dan sistem kehidupan sungguh sangat berbeda dengan sistem kapitalisme sekuler. Sistem Islam memiliki perlindungan yang kuat agar manusia terhindar dari tindakan kriminal. Dari sisi pendidikan, sistem Islam menjadikan pendidikan dengan landasan akidah Islam. Tujuan pendidikan dalam sistem Islam adalah untuk membentuk pola pikir dan pola sikap islami pada diri peserta didik, sehingga karakter dan kepribadian Islam ada pada diri mereka. Karakter dan kepribadian inilah yang menjadikan mereka menjadi manusia yang bertakwa.
Dari pendidikan ini, peserta didik dapat memahami bagaimana mereka harusnya berpikir dan berperilaku sesuai dengan syariat Allah sebagai Sang Pencipta. Dengan begitu, setiap manusia memiliki kontrol diri untuk tidak melakukan kemaksiatan termasuk tindakan pembunuhan pada siapa pun itu. Kemudian, sistem Islam (Khilafah) adalah negara yang memberikan pengurusan dan perlindungan penuh pada rakyatnya termasuk sistem ekonomi di dalamnya. Negara Khilafah akan memastikan setiap individu rakyatnya terpenuhi kebutuhan pokok dan kebutuhan dasarnya secara utuh.
Kebutuhan pokok dan kebutuhan dasar setiap rakyat pasti akan dijamin dengan biaya yang tidak mahal dan bahkan bisa saja gratis. Para lelaki akan diberikan lapangan pekerjaan yang layak agar mampu memberikan nafkah layak pula bagi keluarganya. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin tidak akan terjadi di dalam negara Khilafah, karena semua masyarakat itu sama yang wajib untuk dijamin seluruh kebutuhannya tanpa memandang status sosialnya.
Sementara itu, sistem sanksi dalam Khilafah akan diberlakukan secara tegas untuk menjerakan para pelaku maksiat termasuk pembunuhan. Ada dua fungsi sistem sanksi dalam Islam, yaitu Zawajir (pencegah) dan Jawabir (penebus). Misalnya pembunuhan, sanksi bagi pelaku pembunuhan adalah qisash (hukuman balas bunuh bagi pelaku) atau bayar denda sesuai ketentuannya. Jika sanksi ini diberlakukan dengan tepat oleh negara, tentu ini akan membawa efek jera pada masyarakat dan menjauhkan masyarakat dari perbuatan tersebut. Kemudian, pelaku tidak akan di sanksi lagi di akhirat karena telah diberikan hukuman sesuai perintah Allah di dunia.
Sistem informasi dan media dalam Khilafah akan dijaga ketat dari segi konten dan tayangannya. Negara tidak akan membiarkan tayangan buruk dan tidak sesuai dengan syariat Islam tersebar begitu saja. Negara akan melakukan pengawasan ketat agar tayangan-tayangan buruk tidak menjangkit di diri masyarakat. Dalam Islam, media adalah sarana untuk menyebar kebaikan dan syiar dakwah, jadi bukan untuk hal-hal yang tidak berbobot dan merusak akal manusia.
Tidak hanya itu, Islam memiliki pandangan khas tentang keluarga berkualitas. Keluarga berkualitas adalah keluarga yang mampu memberikan hak-hak seluruh anggota keluarga dengan landasan syariat Islam. Keluarga juga menjadi tempat pembinaan dan pendidikan bagi anggota keluarganya sehingga terbentuk kepribadian islami di dalam lingkungan keluarga. Oleh karena itu, carut-marut lingkungan keluarga hari ini dikarenakan manusia tidak diatur dengan aturan Islam yang berasal dari Sang Pencipta. Sudah saatnya untuk kembali pada sistem Islam agar lingkungan keluarga yang sakinah, mawadah dan rahmat dapat terwujud secara utuh.
