Wabah Belum Berakhir, Hepatitis Akut Mengancam

 



Oleh: Putri Sarlina (Aktivis Dakwah)

Pandemi  covid-19 belum benar-benar hilang dari bumi namun ancaman kesehatan tidak hanya datang dari pandemic covid-19 saja. WHO mengumumkan kasus hepatitis akut sebagai kejadian luar biasa (KLB). Pasalnya, jumlah laporan kasus hepatitis terus bertambah, tercatat lebih dari 170 kasus dilaporkan oleh lebih dari 12 negara.

WHO pertama kali menerima laporan oada 5 April 2022 dari Inggris Raya mengenai 10 kasus Hepatitis Akut yang tidak diketahui Etiologinya (Acute Hepatitis of Unknown aetiology) pada anak-anak usia 11 bulan-5 tahun pada periode januari hingga Maret 2022 di Skotlandia Tengah. (dikutip dari cnbcindonesia.com).

Enam anak meninggal dunia di Indonesia akibat kasus hepatitis akut. Dari keenam kasus tersebut tiga kasus meninggal ditemukan di DKI Jakarta, satu di Tulungagung, satu di Solok, dan yang terakhir di Medan. (Dikutip dari cnnindonesia.com)

Kabar terbaru di Jakarta ada 21 kasus baru yang diduga hepatitis akut misterius. Dikatakan sebagai hepatitis akut karena kasus yang terindetifikasi adalah peningkatan enzim hati, sindrom jaundice (Penyakit Kuning) akut, dan gejala gastrointestinal (nyeri abdomen, diare dan muntah-muntah).

Munculnya hepatitis misterius yang mengancam jiwa anak secara global sebenarnya menunjukkan ketidakmampuan sistem kapitalis menangani kasus kesehatan, sebelumnya saja internasional mengakui sistem global tersebut chaos menghadapi pandemic covid-19. Alas an ekonomi menjadi alasan setiap kebijakan yang di ambil.

Oleh karena itu jika kasus hepatitis masih ditangani dengan kepemimpinan kapitalisme bisa jadi status KLB untuk jenis penyakit ini bisa meningkat. Inilah gambaran kegagalan sistem saat ini, padahal penyakit ini tidak seganas covid-19 namun secara sebaran saja sistem ini tidak sanggup menangani.

Untuk itu publik tidak hanya butuh himbauan semata, namun butuh pelayanan kesehatan yang terjangkau bahkan gratis, tindakan kuratif dan prefentif di lakukan oleh semua kalangan bukan hanya masyarakat tapi juga Negara. Namun upaya ini akan terwujud dimana nyawa dijadikan sebagai orientasi kebijakannya, sistem ini tidak lain adalah sistem Islam.