Tragedi 100 Tahun Tanpa Khilafah Menyerang Perempuan Dan Keluarga - dakwah sumut

Breaking

BANNER 728X90

Minggu, 07 Maret 2021

Tragedi 100 Tahun Tanpa Khilafah Menyerang Perempuan Dan Keluarga

 


Oleh : Rismayana (Aktivis Muslimah)


Perempuan Adalah tonggak utama dari sebuah keluarga, sementara itu keluarga merupakan norma dan aturan sosial dalam skala besar. Seorang ibu adalah faktor yang menjanjikan akan adanya keluarga idaman. Baik buruknya suatu masyarakat tergantung pada kehidupan keluarga.


Masa sekarang ini sulit untuk menerapkan kehidupan secara benar menurut syariat Islam. Karena kemerosotan berpikir tengah menimpa umat Islam khususnya kaum wanita. Di mana terlepasnya ikatan khilafah Islamiyah  dari umat Islam itu sendiri. Sejak jatuhnya daulah khilafah pada tahun 1924 di Turki. Maka umat Islam menjadi santapan dan menjadi komoditi barang murahan kolonial barat.


Pada saat itulah bangsa- bangsa barat bangkit dan unjuk gigi dengan mencuri perhatian dunia, khususnya kaum muslim.  Bangkitnya kebudayaan yang di bawa kafir penjajah, umat Islam makin terlena dan kabur akan ajaran agamanya sendiri.


Dari sinilah orang- orang kafir barat mulai mencari kesempatan untuk mencabut ajaran Islam dari pemeluknya, hingga sampai ke akar-akarnya. Mereka mulai membisikkan dan menyulutkan berbagai macam perang  ide. Dimulai dengan merusak kepribadian kaum muslim dengan mencampur adukkan  akidah, perilaku  dan cara bergaul menjadi realitas kehidupan ini dengan memasukkan budaya mereka sebagai target utama kaum kafir barat adalah para Muslimah. Di mana para wanita Muslimah dalam menjalankan norma-norma kehidupan berkeluarga tetap berpegang teguh pada ajaran Islam, maka mulailah mereka menciptakan kekisruhan  dalam keluarga, di mana mereka mulai menjalankan dan melaksanakan dikte-dikte paham batil, dengan mendukung demokrasi, pluralisme dan kesetaraan gender.


Di dalam sistem demokrasi peran perempuan  sangat didukung, apalagi bila perempuan bisa duduk di parlemen (pemerintahan) agar kepemimpinan  perempuan bisa diterima oleh umat Islam, maka para pegiat sistem demokrasi  kufur termasuk juga feminis, mereka  dengan lantang  dan meyakinkan bahwa dalam Islam boleh menjadikan perempuan sebagai pemimpin (kepala pemerintahan).


Nabi pernah bersabda tentang suatu negeri yang dipimpin oleh seorang ratu yang bernama kisra.

"Tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang urusannya diserahkan  kepada wanita." (HR. Al-Bukhari).


Untuk itu agar para Muslimah mampu memerangi  paham batil yang dapat merusak dan menjerumuskan ke dalam kesesatan maka yang pertama kali dilakukan adalah bergabung dengan kelompok jama'ah yang mana kelompok jamaah ini harus sesuai dengan metode yang diajarkan pertama kali oleh Rasulullah Saw di Madina dengan membina masyarakat (umat) agar mereka yakin  dengan keharusan  menerapkan  syariah Islam  secara sempurna.


Dalam berproses para Muslimah  dituntut  agar pemikiran dan pemahamannya  kuat akan ajaran Islam, sehingga dalam  mengemban dakwah  mereka  dapat menyebar luaskan  tentang konsep  dan pemikiran  Islam, dan bisa  membongkar  kebobrokan  yang rusak yang disebar luaskan oleh para pembenci Islam.


Dengan pemikiran dan pemahaman  yang kokoh, maka para Muslimah akan mampu menentang dan menangkis  segala kebatilan  yang lahir dari ide kufur seperti sekularisme, kapitalisme, pluralisme ,kesetaraan gender.


Bagaimana  cara agar perempuan dan keluarga muslim bisa terlindungi?

Tidak ada jalan lain yang bisa menyelesaikannya, kecuali umat Islam harus kembali  kepada ajaran Islam sebagai ideologi yang memancarkan sistem hukum dan pemerintahan. Serta dengan diterapkannya ideologi Islam kembali  oleh khilafah ,maka kaum muslim di seluruh dunia  akan kembali bersatu  ,merdeka kuat dan mulia kembali.


Bahkan dengan khilafah peradaban Islam  akan bersinar  dan memancarkan  peradaban yang mulia yang akan memberi rahmat bagi alam semesta.


Firman Allah Swt dalam Surat Ali Imron ayat 10:

"Kalian adalah umat  yang terbaik  yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah ,sekiranya ahli kitab beriman tentulah itu lebih bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman  dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik."


Wallahualam bissawab.