Multaqo Ulama Aswaja Sumut Bahas Kondisi Negeri - dakwah sumut

Breaking

BANNER 728X90

Sabtu, 23 Januari 2021

Multaqo Ulama Aswaja Sumut Bahas Kondisi Negeri

 


Dakwahsumut.com, Medan, Sejumlah ulama Aswaja di Provinsi Sumatera Utara menggelar multaqo secara online, Ahad (25/1/21) mulai pukul 08.30 WIB. Mereka membahas tentang kondisi negeri ini.



Hadir pada pertemuan via zoom yang digagas media online Dakwah Sumut itu, antara lain Ustadz Sofyan Tsauri ulama dari Kabupaten Deliserdang, Ustadz Ibnu Hasan dari Majelis Taqarrub Ilallah,.



Tampak juga, Ustad Musa Abdul Ghani dari Majelis Nafsiyah Arrahman, Ustadz Adi Jepris selaku Mudir Ponpese Al-Izzah Khoiru Ummah dan Ustadz Marwan Rangkuti selaku Mudir Ma'had Sabilul Mustanir.



Ada juga ulama dari Kota Binjai, yakni Ustadz Abdul Wahab dari Majelis Islam Kaffah da ustadz M. Siddiq dari Majelis Daruts Tsaqofah Binjai.



Sementara dari Kota Medan, hadir Ustadz  Tomi Abdullah dari Majelis Ulin Nuha, ustadz Kusnadi Arrazy selaku Pengurus Darun Nawawi dan Buya Azwir Ibnu Azis dari Aswaja Sumut.


Dipandu moderator Ustadz M. Siddik Lubis dari Kabupaten Serdang Bedagai, para ulama menyampaikan kegelisahan atas apa yang terjadi di negeri ini. 


Indonesia, menurut mereka dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Tak hanya persoalan ekonomi negeri yang terus menunjukkan kegagalannya menyejahterakan rakyat tetapi juga persoalan politik kekuasaan yang sudah mengabaikan etika bahkan cenderung menghalalkan segala cara untuk tetap dapat berkuasa.


"Korupsi juga semakin massif sehingga semakin menyengsarakan rakyat," kata Ustadz Musa Abdul Ghani.


Sebelumnya, ustadz Sofyan Tsauri juga memaparkan tentang bagaimana para ulama mendapatkan perlakuan yang tidak adil oleh penguasa.


Para ulama yang menyampaikan kritikan kepada pemerintah akhirnya harus meringkuk di balik jeruji besi.


"Padahal ulama seharusnya diperlakukan dengan baik karena ulama adalah pewaris nabi," sebut Ustad M. Siddiq dari Binjai. Ia menyebutkan sejumlah dalil tentang pentingnya peran ulama dalam memberikan solusi berbagai persoalan yang melanda negeri ini.


Sementara itu, Ustadz Adi Jepris memaparkan tentang bagaimana skenario kapitalisme untuk menguasai negeri negeri muslim.


Persoalan Papua yang sudah memakan banyak korban, baik dari kalangan masyarakat sipil maupun TNI dan Polri yang hingga hari ini  tidak kunjung terselesaikan, adalah merupakan hasil kerja negara-negara pengusung kapitalisme.


Ulama ini mendorong umat agar waspada terhadap upaya licik kapitalisme untuk membungkam perjuangan umat Islam dalam penegakan syariat Islam di tengah tengah kehidupan.


Pada kesempatan selanjutnya, ustadz Marwan Rangkuti  menguraikan secara detail tentang upaya sistematis yang dilakukan asing untuk memadamkan Islam.


Negara asing melalui antek anteknya para penguasa di negeri kaum muslimin, terus berupaya menguasai kekayaan alam negeri milik kaum muslim.


Ustadz Tomi Abdullah menambahkan bahwa kesejahteraan rakyat dan bangkitnya Islam melalui sistem demokrasi hanyalah sebuah ilusi. Demokrasi justru akan menjadi penghalang bagi tegaknya Islam secara Kaffah.


Menurutnya hanya sistem Islam lah yang akan mampu membangkitkan Islam dan umat Islam. 


Untuk itu, katanya peran ulama untuk menyadarkan umat tentang pentingnya kembali kepada Islam sangat penting.


"Ulama garda terdepan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan negeri ini," ucapnya.


Sementara sebelumnya, ustadz Siddiq mengatakan ulama harus tampil untuk menjadi mercusuar dalam penyelamatan rakyat dari kehancuran.


"Saya mengajak para ulama dan asstidz untuk bersama sana dalam kelompok dakwah yang menyerukan tegaknya syariat Islam," pungkasnya.


Ustadz Kusnadi ar-Razi dalam kesempatan itu memaparkan tentang peran ulama pada masa lalu  


"Mereka (ulama) melakukan riayah bagaimana agar kekuasaan itu diatur dengan cara Islam. Bukan justru berpolitik masuk ke dalam sistem demokrasi," ucapnya.

Pada bagian lain, Ustadz Azwir Ibnu Azis menyebutkan perjuangan menegakkan syariat Islam adalah sebuah kewajiban utama.


"Dan amanah yang besar menjaga syariah Allah adalah ulama karena para ulama adalah orang yang paling tahu tentang kewajiban tersebut," ucapnya.


Ia mendorong ulama agar menolak demokrasi dan kembali kepada jalan Islam.


"Demokrasi itu buatan orang yang benci terhadap Islam. Lalu, siapa yang mau kita ikuti, Rasulullah atau orang yang membenci Islam," ucapnya. () rin