MENEGAKKAN ISLAM, MEMULIAKAN PEREMPUAN (Kritik atas Feminisme dan Kesetaraan Gender) - dakwah sumut

Breaking

BANNER 728X90

Sabtu, 09 Januari 2021

MENEGAKKAN ISLAM, MEMULIAKAN PEREMPUAN (Kritik atas Feminisme dan Kesetaraan Gender)

 


Dakwahsumut.com, Islam menampilkan potret perempuan yang mulia, cerdas, serta melahirkan para generasi ulama dan ilmuwan, berbeda jauh dengan potret masa kini dimana banyak muslimah dilecehkan dan mengalami kekerasan. Karena itu perlu untuk kembali pada nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam. Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Umum ODOJ DPA Medan, Yasir Arafat pada kata sambutan acara virtual Diskusi Publik bertemakan 'Membumikan Al-Qur’an Melangitkan Perempuan' (Sabtu, 9 Januari 2021) di Zoom Meeting.


Sebagai penyelenggara, Novia Irawati, pengurus ODOJ (One Day One Juz) Medan juga menyampaikan di awal pembukaan bahwa berdasarkan data PBB, sepertiga penduduk dunia berada dibawah garis kemiskinan dan 10% nya adalah perempuan, hal tersebut juga mendorong terjunnya perempuan pada bisnis kotor yang menjerumuskan mereka pada kekerasan, namun sayangnya hal tersebut dilihat sebagai permasalahan gender sehingga upaya melahirkan undang undang kekerasan seksual pun digaungkan oleh para feminis. 


Kegiatan virtual tersebut dihadiri ratusan peserta muslimah dari berbagai daerah di Indonesia dan menghadirkan tokoh narasumber diantaranya Ustadzah Mahmudah yang membongkar munculnya feminisme di kalangan muslim. Menurutnya, kaum feminis mengadopsi cara berpikir feminisme Barat dan memandang Islam sebagai ajaran patriarki. Mahmudah juga mengkritik tafsir para feminis atas pandangan Islam yang menjadikan akal sebagai asas dalam penafsiran Alquran, tidak terikat pada dasar ijtihad yang benar dan kaidah yang murni dan tepat, juga liberalisasi penafsiran sehingga menjadikan akal diatas penafsiran dalil.


Mengutip dari Lothrop Stoddard dalam 'The New World of Islam' menjelaskan, Islam datang dengan ajaran yang memberi perlindungan terhadap perempuan juga semua umat di dunia. Hal tersebut ditanggapi oleh Ustadzah Chairunnisa Rahmawati yang turut hadir sebagai narasumber dan menjelaskan bahwa persamaan dan perbedaan didalam Islam bukan dipandang sebagai adanya kesetaraan atau ketidaksetaraan gender, melainkan semata-mata merupakan pembagian tugas yang sama-sama penting dalam upaya mewujudkan tujuan tertinggi kehidupan masyarakat yaitu kebahagiaan hakiki dibawah keridhaan Allah swt. ''Ide kesetaraan gender jelas bukan merupakan ide Islam, bahkan jelas-jelas tidak memiliki akar didalam Islam'' tuturnya. Chairunnisa juga menambahkan bahwa Islam memandang keadilan sebagai pemberian hak kepada yang berhak menerimanya, dan menempatkan sesuatu pada tempatnya.


Dalam kesempatan tersebut, hadir pula Ustadzah Linda Wulandari yang memaparkan materi jebakan feminisme dan demokrasi guna eksploitasi perempuan untuk kapitalisme dan melawan Islam. Dalam materinya, diungkapkan poin utama agenda penjajahan ideologi melalui undang-undang internasional yang menjadi modal dengung gerakan feminisme yang justru menjadi biang segala persoalan perempuan. Banyaknya solusi ala sekuler semacam RUU P-KS dan sejenisnya juga tidak melindungi perempuan, bahkan fakta Kemenkes mengungkap 93% pelajar telah terpapar pornografi, bahkan dari data KPAI, terdapat 264 kasus prostitusi dan perdagangan orang yang melibatkan anak. Linda menuturkan lebih lanjut bahwa ide feminisme jelas sangat kuat beraroma liberalisasi, bahkan RUU P-KS bukan solusi terhadap kekerasan perempuan, malah justru menjadi pintu masuk liberalisme yang merusak perempuan dan generasi bangsa. 'Racun perangkap gender dibalik RUU P-KS menjadi tambal sulam untuk menutupi gagalnya sistem demokrasi melindungi perempuan, maka satu-satunya jalan keluar adalah kembali pada tatanan syariah Islam kaffah yang tidak akan tegak kecuali dengan Khilafah', ungkapnya.


Reporter: Zayna Ghauts Poerwodihardjo