Luhut dan Menlu Tiongkok Nikmati Danau Toba, Bahas Apa Ya? - dakwah sumut

Breaking

BANNER 728X90

Jumat, 29 Januari 2021

Luhut dan Menlu Tiongkok Nikmati Danau Toba, Bahas Apa Ya?



Oleh: Sari Ramadani (Aktivis Muslimah)


Siapa yang tak kenal Danau Toba? Danau vulkanik terbesar di dunia dengan kedalaman sekitar 500 meter yang terbentuk oleh tiga letusan besar pada 900.000 tahun yang lalu, 500.000 tahun yang lalu, dan 75.000 tahun yang lalu.


Danau ini terletak di tengah pulau Sumatra bagian utara yang menjadi objek wisata baik domestik maupun mancanegara. Hal ini pun dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah mengingat banyaknya turis yang mampir demi melihat keindahan danau tersebut.


Baru-baru ini, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi melakukan lawatan kerja di Kawasan Danau Toba, pada Selasa 12 Januari 2021. Kunjungan ini menyusul undangan dari Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan sejak lama.


Luhut dan Wang Yi pun menyempatkan diri menikmati panorama perbukitan di The Kaldera Toba Nomadic Escape dan mengunjungi beberapa tempat bersejarah. Kunjungan Wang Yi adalah rangkaian safarinya ke sejumlah negara ASEAN. (sumut.idntimes.com, 13/01/2021).


Ada apa sebenarnya?


Bukan rahasia lagi jika Tiongkok terus saja memiliki peran di segala lini termasuk juga pembangunan infrastruktur negeri ini. Tak heran memang, karena rezim sekarang seolah-olah memuluskan jalan Tiongkok untuk semakin mendominasi. Mulai dari tenaga kerja yang dikirim dari "Negeri Tirai Bambu" tersebut, hingga pinjaman berupa uang untuk pembangunan infrastruktur. Hal ini pun membuat cengkeraman asing Timur semangkin menancap kuat di negeri ini.


Dalam sektor pariwisata pun peran asing begitu kuat mencengkeram negeri ini. Ya, penjajahan SDA atas nama pembangunan pariwisata masih terus berlanjut di Danau Toba karena dirasa ini adalah investasi yang sangat menguntungkan, mengingat keindahan alam yang di sajikan di Danau Toba tersebut sangat menggiurkan hingga banyaknya turis yang datang.


Namun sayang, banyaknya turis yang datang tak dapat menjamin kesejahteraan bagi masyarakat maupun negara, dikarenakan modal yang digunakan untuk pembangunan adalah hasil utang yang mana keuntungan yang di dapatkan pun harus dikembalikan kepada pemilik modal.


Selain itu, cengkeraman "Negeri Tirai Bambu" tersebut juga berpengaruh besar pada setiap aturan yang sudah ditetapkan oleh penguasa negeri ini. Maka wajarlah jika setiap undang-undang yang diberlakukan seolah-olah tidak memihak kepada rakyat sendiri. Rakyat dibuat "Numpang" sementara asing aseng adalah "Tuan Rumah" yang harus dipenuhi semua hak-haknya.


Negeri ini tak hanya dirugikan secara finansial mengingat utang yang ditanggung harus dibayarkan beserta bunga-bunganya, tetapi hal tersebut juga sangat berbahaya secara pemikiran bahkan akidah seseorang. Mengingat pariwisata adalah salah satu cara untuk menyebarkan pemikiran asing yang cukup efektif. Yang dengan ini, masyarakat negeri ini yang mayoritasnya adalah muslim dapat tergerus pemikirannya hingga digantikan dengan pemikiran liberal atau paham kebebasan.


Serta jika dilihat lagi, Tiongkok adalah salah satu negeri yang terang-terangan memusuhi umat muslim, hal ini terbukti dengan penyiksaan kaum muslimin yang dilakukan di Uighur. Maka seharusnya negeri ini menolak dengan keras setiap kerja sama yang akan dijalin dengan negeri tersebut.


“Dan sekali-kali Allah tidak akan pernah memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin.” (QS An-Nisa’: 141).


Ayat ini adalah dalil larangan membuka jalan bagi orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman. 


Maka, mampukah sistem hari ini melepaskan negeri kaum muslimin dari cengkeraman dan dominasi asing? Tidakkah kita merindukan aturan yang dapat menjamin hak-hak setiap warga negara termasuk juga dengan SDA yang ada?


Sebenarnya ada sistem lain yang sudah terbukti mampu menyejahterakan seluruh umat manusia, yang diterapkan selama 1300 tahun lamanya menaungi hampir 2/3 dunia yaitu sistem Islam, sistem yang berasal dari Allah SWT.


Hanya saja, maukah kita berjuang mengembalikan kemuliaan Islam hingga tercurah lah Rahmat dari Sang Pencipta?


Hal ini hanya bisa terjawab dengan keimanan yang kita miliki.


Wallahualam bissawab.