Kemacetan Sistemik; Buah Sistem Kapitalistik - dakwah sumut

Breaking

BANNER 728X90

Senin, 26 Oktober 2020

Kemacetan Sistemik; Buah Sistem Kapitalistik



Oleh: Annisa Azmi Pasi (Aktivis Muslimah)


Kemacetan di Kota Medan bukanlah hal yang baru. Hampir di beberapa titik jalan mau pun persimpangan sering ditemukan kemacetan. Apalagi di jam-jam sibuk tertentu dan pada tanggal merah atau hari libur.


Banyak faktor yang menyebabkan kemacetan terjadi. salah satunya yaitu kurangnya perhatian pemerintah terkait penambahan dan perawatan infrastruktur jalan. Ini merupakan faktor paling utama dari akar kemacetan.


Realita kemacetan yang dapat kita indra yaitu seperti kemacetan yang disebabkan oleh pasar tumpah. Para pedagang berjualan di badan jalan yang dilalui oleh pengendara. Pemandangan pasar-pasar liar ini terlihat di kawasan Medan Tembung dan  Medan Perjuangan.


Pengamat trasportasi, Medis Surbakti, menyebut bahwa kemacetan yang terjadi di Medan adalah sebagai dampak dari pertambahan jumlah kendaraan tanpa dibarengi oleh peningkatan volume jalan. “Ini membuat banyak kendaraan menumpuk di jalanan. Sementara infrastruktur jalan ini cenderung itu-itu saja,” kata Medis. (waspada.co.id, 14/10/2020).


Kurang tegasnya pemerintah dalam menindak dan memberikan solusi mengakibatkan kemacetan semakin memuncak. Penggusuran dan razia sudah sering dilakukan. Namun dapat kita pastikan, hari ini digusur, dalam hitungan beberapa hari ke depan mereka pasti akan kembali lagi berjualan di badan jalan.


Alasan para pedagang tetap berdagang di badan jalan juga bermacam-macam. Pertama, sewa lapak untuk berjualan di bangunan cenderung lebih mahal dan lokasi juga lebih sempit dibandingkan berjualan di badan jalan. Kedua, berjualan di badan jalan lebih mudah dijangkau oleh para pembeli dibandingkan harus berjualan di bangunan yang telah disediakan oleh pemerintahan kota. Ketiga, karena berjualan di badan jalan tidaklah harus membayar sewa tempat untuk berjualan, kalaupun harus membayar setoran, mereka hanya perlu membayar uang keamanan kepada preman setempat, dan memang pasti lebih murah dibandingan dengan harga sewa tempat untuk berjualan di dalam bangunan pasar.


Selain pasar tumpah, kurang lebarnya ukuran jalan dan drainase yang tidak sesuai dengan standar juga merupakan penyebab terjadinya kemacetan. Saat turun hujan, jalanan akan membentuk genangan dan mengakibatkan banjir. Belum lagi banyak jalan berlobang yang tak juga kunjung diperbaiki oleh pemerintah. Kondisi ini dapat dilihat di daerah Medan Marelan Pasar III dan Pasar IV saat hujan deras. 


Semua realita ini terjadi karena negara memang lepas tangan dan kurang serius dalam mengurusi sistem pasar secara menyeluruh, dan menyerahkan perkara teknis ini kepada pihak swasta. Sehingga yang terjadi adalah kapitalisasi pasar.


Negara tidak serius membangun infrastruktur yang dapat menampung jumlah kendaraan. Tidak jarang jalan yang rusak lebih rentan menyebabkan kemacetan, yang sering disebabkan oleh truk-truk bermuatan berlebih yang melintas, dan hal ini berkaitan dengan sektor perhubungan negara. Sehinga dapat dikatakan problem kemacetan di jalan adalah masalah sistemik yang sangat membutuhkan solusi dari negara dan pilar-pilar pendukungnya.


Dalam redaksi lain yang pernah penulis dapatkan, Khalifah Umar bin Khattab radhiallahu'anhu, beliau sangat mengutamakan sikap wara' ketika hendak bertindak. Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu berkata, “Seandainya seekor keledai terperosok di Kota Baghdad karena jalanan rusak, aku sangat khawatir karena pasti akan ditanya oleh Allah Ta’ala, ‘Mengapa kamu tidak meratakan jalan untuknya?”.


Terlihat jelas bagaimana khalifah sangat memperhatikan kepentingan Ummatnya, bukan hanya untuk keperluan manusia saja melainkan untuk hewan sekali pun. Beliau sadar betul akibat yang akan terjadi apabila beliau tidak memperhatikan infrastruktur untuk ummat. Demikianlah gambaran yang terjadi di era khalifah.


Tentu saja hal ini tidak hanya akan berlaku pada masa beliau saja apabila sistem islam diterapkan secara menyeluruh hari ini. Karena islam adalah solusi akar untuk seluruh problem sistemik manusia. Sistem islam akan mengatur tempat yang strategis untuk para pedagang menjajakan barang dagangan yang mudah diakses pembeli tanpa memunculkan problematika lain. Karena sebenarnya, munculnya problematika hari ini dikarenakan tidak terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat; berupa pengidupan yang layak.


Dalam Islam, problematika yang lahir dari manusia dipandang sebagai masalah yang lahir dari kebutuhan jasmani dan nalurinya. Edukasi masalah qadha rizki yang sudah diatur oleh Allah, ketaqwaan individu warga negara, dan sistem syari’ah dalam hal pengaturan dan sanksi yang diberlakuakan oleh negara menjadikan problematika apapun bisa teratasi dengan benar, termasuk masalah kemacetan ini.


Wallahu a'lam bish-shawab.