HURU HARA PERAN IBU DI MASA PANDEMI - dakwah sumut

Breaking

BANNER 728X90

Senin, 27 April 2020

HURU HARA PERAN IBU DI MASA PANDEMI


Oleh: Sulistiani ( Aktivis Muslimah / mahasiswi UMSU )

Covid-19 merupakan virus yang muncul pertama kali di Wuhan China. Penyebaran virus ini tak megenal waktu dan tempat, tak memandang siapa dan dimana, menyebar dengan cepat di seluruh negeri, termasuk bumi pertiwi. Tercatat hingga Senin 20 April 2020 ini di Indonesia sebesar 6.760 pasien yang terinveksi virus corona (CNN Indonesia). Angka ini akan terus bertambah setiap harinya jika pandemi tak segera diambil tindakan tegas. Pandemi ini berdampak dalam segala aspek kehidupan termasuk pendidikan. Pendidikan yang awalnya dilakukan secara tatap muka antara guru dengan siswa terpaksa harus dilakukan secara daring. 
Hal ini pun menciptakan kontradiksi di kalangan masyarakat terutama kaum Ibu. Dimana ibu harus menjadi pengawas bagi anak-anak untuk belajar di rumah. Sistem pembelajaran daring ini menimbulkan kegalauan bagi para ibu, bukan hanya ibu tapi juga siswa dan guru. Bagaimana tidak, sistem belajar daring ini menimbulkan banyak kendala, mulai minimnya fasilitas, sulitnya jaringan internet, beban paket internet, tugas yang menumpuk membuat para ibu kewalahan dalam mengatasi sistem belajar dari rumah ini. Hingga berbagai keluh kesah pun tercurahkan. 
Seperti yang dilansir oleh Detiknews bahwa “Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima pengaduan terkait orang tua yang mengeluhkan bahwa anak-anak mereka semakin stres karena mendapatkan tugas setiap hari dari para gurunya”, kata Komisioner KPAI dalam bidang pendidikan Retno Listyarti (18/3/2020). Ia juga menduga bahwa guru tidak memahami bagaimana konsep belajar dari rumah ini, maka dari itu KPAI meminta untuk Dinas Pendidikan melakukan evaluasi terhadap para guru. Begitu juga dalam hal fasilitas, tak semua siswa mampu mengikuti sistem belajar dari rumah ini. sebab setiap siswa memiliki background keluarga yang berbeda, kondisi ekonomi yang berbeda. Mungkin bagi siswa yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi menengah keatas akan dengan mudahnya menerapkan sistem ini, namun bagaimana dengan siswa yang kondisi ekonomi menengah kebawah? mereka akan sulit untuk mengikuti aktivitas belajar dari rumah ini. 
Di sistem kapitalis hari ini, ekonomi menjadi masalah utama dalam keluarga sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidup tidak cukup hanya ayah yang bekerja tapi juga mengharuskan seorang ibu untuk bekerja. Sehingga ibupun terpaksa keluar rumah dan meninggalkan anaknya demi membantu perekonomian keluarga. Karena perekonomian hari ini hanya dikuasai oleh segelintir orang tanpa memperdulikan kesejahteraan masyarakat lainnya. Hal ini mengakibatkan seorang ibu kehilangan peranya. Ia yang seharusnya menjadi madrasatul ula bagi anak-anaknya telah beralih menjadi tulang punggung keluarga. Ibu disibukkan dengan aktivitas diluar rumah hingga lupa tanggung jawabnya kepada anak-anaknya. Padahal dialah yang seharusnya menjadi orang pertama yang mengetahui bagaimana cara mendidik anak-anaknya. Bukan malah kebingungan ketika dihadapkan dengan situasi seperti ini yang mengharuskan ia untuk menjadi guru bagi anak-anaknya. 
Sistem kapitalis ini telah memalingkan fungsi ibu menuju peran pemberdayaan ekonomi. Bekerja, bekerja dan bekerja sehingga melalaikan kewajiban utamanya dalam mendidik anak.  Hal ini adalah salah satu dampak dari ide kesetaraan gender yang di gaungkan, ide yang memaksakan untuk menyamakan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan. Sehingga peran ibu pun tergerus olehnya. Padahal ide kesetaraan gender hanyalah ilusi untuk mengelabuhi perempan sebab didalamnya terdapat tujuan untuk memalingkan fungsi keibuan menuju peran pemberdayaan perempuan demi ekonomi global.
Maka suatu hal yang wajar jika Ibu hari ini kewalahan dalam mendidik anak di tengah pandemi. Saat ibu bekerja dari rumah dan anak belajar dari rumah maka kolaborasi antara ibu dan anak akan terjalin. Karena ketiadaan pengalaman ibu dan kurangnya pengetahuan ibu akan kewajibannya terhadap anak menimbulkan ketidakharmonisan diantara keduanya. Maka dampaknya adalah kebingungan dan kegagalan. Namun permasalahan ini bukan hanya semata-mata karena adanya pandemi tapi akar masalahnya adalah terletak pada sistem yang diterapkan hari ini. Karena jika sistemnya baik seperti apapun kondisinya, baik ada wabah maupun tidak maka hasilnya juga akan bagus, begitu juga sebaliknya. Terbukti dengan gagalnya sistem pendidikan daring yang diterapkan dimasa pandemi menilik berbagai hambatan yang dialami.  
 Seorang Ibu memiliki peran besar dalam mendidik dan membentuk watak, karakter dan pengetahuan seorang anak. Maka kecerdasan, keuletan dan perangai seorang ibu adalah faktor dominan bagi masa depan anaknya. Maka sudah sepantasnya ibu harus benar-benar memahami setiap kewajibannya terhadap anak, agar generasi yang lahir menjadi generasi yang cerdas dan bertaqwa. Maka sudah seharusnya kita beralih kepada sistem yang banar-benar menjamin keberhasilan pendidikan bagi generasi anak bangsa, sistem yang menempatkan posisi ibu pada posisi yang seharusnya, menempatkan peran guru pada posisi sesuai keahliannya. Sehingga pendidikan dapat terlaksana sebagaimana mestinya layaknya tujuan utama dari pendidikan yaitu membentuk kepribadian islam dalam diri setiap anak, membentuk anak untuk memiliki pola pikir dan pola sikap islam serta cerdas dan memiliki pengetahuan yang luas. Dan hal ini hanya akan terwujud dengan diterapkannya sistem Islam secara kaffah karena hanya sistem Islam yang mampu mewujudkannya dan menempatkan masing-maisng darinya pada posisi yang seharusnya. Wallahualam.