DULU MENOLAK KHILAFAH, SEKARANG MENOLAK LOCKDOWN. APA KARENA GENGSI - dakwah sumut

Breaking

BANNER 728X90

Sabtu, 21 Maret 2020

DULU MENOLAK KHILAFAH, SEKARANG MENOLAK LOCKDOWN. APA KARENA GENGSI



©️ Zain bin Nursal al-Abidin

Virus corona bukan lagi hal yang bisa disepelekan oleh rezim, ratusan telah terinfeksi dan puluhan meninggal. Itu masih yang terdata dan disampaikan secara resmi, bagaimana dengan yang tidak terdata atau tidak terungkap?

Keputusan gubernur Amr bin al-Ash ra ketika melakukan lockdown di negeri Syam dimasa kekhalifahan Umar bin Khattab adalah solusi praktis dan jitu dalam menghadapi wabah. Sebuah solusi yang bukan berdasarkan pertimbangan maslahat-mudharat, bukan berdasarkan pertimbangan untung rugi terhadap investor dan pariwisata, apalagi pertimbangan karena "merasa gak enak" terhadap negara rentenir pemberi hutang riba.

Tapi sebuah solusi yang jelas berdasarkan tuntunan ilahi, karena beliau mematuhi sabda nabi :

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلَا تَدْخُلُوهَا وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا مِنْهَا

“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR. al-Bukhari)

Solusi ini tidak hanya didukung penuh oleh khalifah Umar ra dengan tidak memasuki negeri syam tapi juga memenuhi seluruh kebutuhan rakyat negeri syam.

Para pejabat negeri ini terlalu takut melakukan lockdown dengan berbagai alasan, salah satunya adalah ancaman ambruknya perekonomian.
Seharusnya ini membuktikan bahwa kapitalisme telah gagal tidak hanya dalam mensejahterakan rakyatnya tapi juga dalam hal melindungi keselamatan rakyatnya sendiri.

Sejumlah negara lain yang telah lebih dahulu terkena wabah justru telah memberlakukan lockdown disamping juga ikut memenuhi kebutuhan rakyatnya yang tidak bisa kemana-mana.
Padahal penduduk negeri mereka bukanlah mayoritas islam, padahal ideologi negera mereka pun pada umumnya adalah kapitalisme juga sama seperti halnya negara ini.

Lalu bagaimana bisa negara yg "katanya" sudah sesuai syariat Islam ini justru jauh tertinggal dalam menerapkan solusi islami?

Kemana dana trilyunan yang "katanya" tersimpan di Bank Swiss itu?

Kemana sumber daya alam yang "katanya" melimpah dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat sesuai undang-undang?

Kemana jargon negara berdaulat yang "katanya" tidak bisa disetir negara lain itu?

Atau jangan-jangan rezim terlalu gengsi mengakui bahwa Islam adalah solusi?

Gengsi karena ternyata solusi islami tidak hanya disuarakan oleh para pengemban dakwah tapi juga hampir oleh seluruh rakyat waras di negeri ini yang telah begitu bersimpati pada penegakan seluruh aturan ALLAH sebagai jalan keluar bagi setiap permasalahan?

Gengsi karena solusi tersebut justru disuarakan oleh mereka yang selama ini dituduh pelaku radikalisme, pelaku makar, pemecah belah, anti pancasila anti NKRI padahal ternyata begitu cinta pada negeri ini?

Sudahlah, buang semua gengsi itu.
Saatnya bertindak cepat demi jutaan nyawa, terutama bagi mereka para tenaga medis yang berada di garis terdepan.
Beberapa dari mereka telah menemui Rabb nya, lalu akankah pengorbanan mereka harus menjadi sia-sia?

Sekali lagi, aturan Islam adalah solusi.
Islam adalah benar karena bersumber dari pemilik kebenaran sejati.
Tak perlu sebuah pertaruhan untuk membuktikannya, karena kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.[]