SIBUK MEMANDANG AIB ORANG LAIN - dakwah sumut

Breaking

BANNER 728X90

Jumat, 12 Juli 2019

SIBUK MEMANDANG AIB ORANG LAIN


Oleh : Fahmi Amin Harahap

Dari AbuHurairah Ra., bahwasanya Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Jika ada seseorang berkata, “orang banyak (sekarang ini) sudah rusak, maka orang yang berkata itu sendiri yang paling rusak di antara mereka.” (HR. Muslim)
Fenomena dewasa ini ada pada diri kita  yang selalu punya kecenderungan untuk menjadi sosok yang gemar sekali mencari-cari kesalahan orang lain. Lihat saja betapa mudahnya seseorang menuntut dan mengkritik orang lain. Sebenarnya boleh-boleh saja mengkritik teman atau siapa pun, tapi dalam menyampaikan kritik, saran atau sebuah koreksi, sebaiknya kita tetap menghormati orang yang kita kritik.  Karena itu dalam menyampaikan informasi yang sifatnya sebuah koreksi, sebaiknya kita menyampaikannya dengan cara yang baik, ramah dan lembut. Dan jangan pernah menyampaikan dengan cara yang langsung menyudutkan dan menyalahkan, tapi kemukakanlah pendapat kita dengan cara yang baik, santun dan bijak. 
Jangan terlalu sibuk melihat diri orang lain, dan mengganggap diri orang lain lebih dari anda, sesungguhnya Tuhan telah menciptakan kita semua Sama berharga. jangan terlalu sibuk menilai orang lain, namun diri sendiri tak pernah dinilai bagaimana karakter kita selama ini dihadapan orang lain. Berkatalah yang baik atau diam. Ya, kita sebagai manusia memang telah diberikan banyak sekali nikmat oleh Allah SWT termasuk nikmat dapat berbicara. Akan tetapi, banyak yang salah menggunakan nikmat ini. Mereka tidak mengerti bahwa mulut yang telah dikaruniakan oleh-Nya seharusnya dapat dijaga dengan baik dan digunakan hanya untuk kebaikan.
Perhatikan sabda Rasulullah SAW berikut ini: “Aku peringatkan kepada kalian tentang prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah perkataan yang paling bohong, dan janganlah kalian berusaha untuk mendapatkan informasi tentang kejelekan dan mencari-cari kesalahan orang lain, jangan pula saling dengki, saling benci, saling memusuhi, jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara” (H.R Bukhari, no (6064) dan Muslim, no (2563).




Kesimpulan
Jadi, sebaiknya kita memelihara perkataan dan perbuatan kita, memang tampaknya enak dan menyenangkan mengkritik orang lain, apalagi bila kita bisa menemukan celah dari hasil kita mengorek-ngorek kesalahan orang yang kita kritik, karena hal tersebut bisa kita jadikan senjata untuk melontarkan kritik kita kepadanya. Tapi tak satupun diri kita mampu untuk mengkritik diri kita sendiri, sudah di evaluasi atau belum, lantas kenapa kita menganggap diri kita lebih hebat dan paling taqwa dari pada orang lain.
Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al hasyar:18)
Dari hal ini lah kita sebagai orang yang mempunyai keimanan itu hendaknya kita memperhatikan apa – apa yang akan dan telah dilakukan agar tidak menimbulkan kekacauan disekitar kita. Introspeksi diri ini sangat baik halnya dari pada menyalahkan atau mencari kesalahan orang lain.
Hitung-hitunglah dirimu sendiri sebelum kamu dihitung, dan timbang-timbanglah diri terlebih dahulu sebelum kamu ditimbang, dan persiapkanlah dirimu untuk menghadapi alam terbuka yang besar, (Ust. Abdul Shomad, Lc. MA).