Menyadari Fitrah Anak Wujud Kewajiban Orang Tua - dakwah sumut

Breaking

BANNER 728X90

Minggu, 03 Februari 2019

Menyadari Fitrah Anak Wujud Kewajiban Orang Tua


Oleh : Dewi Fitria, MPd (Dosen PG PAUD dan pemerhati generasi)

Peristiwa pembuangan hingga pembunuhan bayi oleh orang tuanya sendiri semakin lama semakin marak terjadi. Baru-baru ini warga Medan dikejutkan oleh penemuan mayat bayi yang ditemukan ditempat sampah. Mayat bayi yang berjenis kelamin perempuan ini ditemukan oleh seorang pemulung di jalan Iskandar Muda. (Sumber: Tribunnews.com)
Hati siapa yang tidak terenyuh ketika mendapatkan kabar tersebut terutama hati para ibu dan calon ibu. Begitu banyak pasangan yang mengaharapkan hadirnya sang buah hati untuk didik dan menjadi “qurrota a’yyun” didalam keluarga namun belum juga mendapatkannya.
Menurut hemat penulis, jika pelakunya adalah yang belum menikah, maka peristiwa ini terjadi karena semakin kokoh akar pemahaman liberal kepada generasi muda. Tontonan yang hanya menjurus kepada ghoriza na’u dan pergaulan tanpa batasan membuat para generasi terjun bebas dan tenggelam dalam melakukan kemaksiatan. Tidak ada controlling dan filter dari keluarga, masyarakat dan negara.
Begitu pula jika pelakunya adalah pasangan yang sudah sah dalam hubungan suami istri. Pembunuhan anak kerap kali terjadi karena ketakutan orang tua yang tidak sanggup memberi makan atau penambahan beban tanggung jawab untuk menghidupi anggota keluarga baru. Permasalahan ini biasanya disebabkan karena lemahnya ekonomi dan sulitnya mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang layak, serta minimnya pemahaman dan tanggungjawab dalam menjadi orang tua untu mendidik dan mengasuh anak secara benar.
Lemahnya ekonomi masyarakat sehingga tidak sanggup menghidupi keluarganya merupakan dampak dari penerapan sistem kapitalis di Indonesia. Penerapan sistem kapitalis ini hanyalah menyuburkan para kapital yang berkuasa, namun mengerucut bagi mayarakat yang berada pada kalangan bawah. Begitu juga halnya dalam bidang pendidikan. Penerapan sistem kapitalis memaksa pendidikan berubah menjadi sekuler – liberlistik sehingga menghasilkan individu –individu perusak. Perusak lingkungan, perusak orang lain, dan perusak diri sendiri.
Maka dengan demikian, jalan satu-satunya dalam menyelesaikan permasalahan seperti adalah harus kepada pemecahan masalah yang solutif. Pemecahan masalah yang solutif hanya ada didalam Islam yaitu Al-quran dan As-sunah. Karena hanya di Islam kita dapat menemukan jawaban permasalahan yang memuaskan akal, sesuai dengan fitrah, dan menentramkan jiwa
Dalam Islam, anak adalah anugerah sekaligus amanah yang diberikan Allah SWT kepada setiap orang tua. Umat Muslim, terutama orang tua dan calon orang tua harus benar-benar menyadari dan memahami fitrah yang ada dalam diri anak, baik dari potensi hidup dan akal yang sudah diberikan Allah kepada anak. Namun, karena anak belum mampu menggunakan akal secara sempurna maka orangtua dan lingkunganlah yang mewarnai dan membentuk kepribadian anak.
Terkait dengan eksistensi anak, Al-quran menyebutkan bahwa anak merupakan perhiasan dan kesenangan (QS.18 Al Kahfi : 46 ), musuh, (QS.64 Ath-Taghobun : 14 ), Fitnah (QS.64 Ath-Taghobun : 15 ), Amanah ( QS.8 Al Anfal : 27-28 ), dan penyejuk hati ( QS.25 Al Furqon : 74 ).
Maka dari itu, sebagai orang tua, diwajibkan untuk benar-benar memahmi dan banyak melajar dalam mendidik dan mengasuh anak dengan benar yang sesuai dengan syariat
Setiap perbuatan yang dilakukan didunia pasti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Dalam kasus ini, Allah memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang berani berfikiran untuk membunuh anaknya
Firman Allah:
"Jangan kamu membunuh anak-anakmu lantaran takut kelaparan, Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka maupun kepadamu; sesungguhnya membunuh mereka suatu dosa besar." (al-Isra': 31)
"Dan apabila diperiksa anak perempuan yang ditanam hidup-hidup. Sebab dosa apakah dia dibunuh?" (at-Takwir: 8-9)
Begitu juga dengan hadist Rosulullah SAW. Rasulullah s.a.w. pernah ditanya: dosa apakah yang teramat besar? Jawab Nabi: yaitu engkau menyekutukan Allah padahal Dialah yang menjadikan kamu. Kemudian apa lagi? Maka jawabnya: yaitu engkau bunuh anakmu lantaran kamu takut dia makan bersamamu. (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Dalam Islam, membunuh anak dengan sengaja karena ekonomi yang rendah merupakan dosa besar, apalagi jika membunuh anak dari hasil hubungan yang terlarang.
Maka dengan demikian, jika setiap umat muslim benar-benar menerapkan Al-quran dan Assunah secara kaffah, maka setiap orang akan memahami dan teredukasi terkait pemeliharaan dan mendidik anak dengan benar. Sehingga manusia akan terjauh dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah.
Penerapan hkum-hukum Allah sendiri hanya bisa tegak jika ada sebuah negara yang benar-benar menaunginya, mengganti sistem dengan sistem Islam secara kaffah. Yaitu dengan adaya daulah Khilafah.
Wallahu'alam.