Apa Penyebab Utama 57 Negeri Muslim Di Dunia Ini Tidak Bisa Menolong Saudara Mereka Di Uyghur ? - dakwah sumut

Breaking

BANNER 728X90

Senin, 17 Desember 2018

Apa Penyebab Utama 57 Negeri Muslim Di Dunia Ini Tidak Bisa Menolong Saudara Mereka Di Uyghur ?


oleh : Syarifuddin Chan 

Kejadian yang sangat memilukan yang seharusnya di rasa semua muslim belakangan ini adalah kedzaliman penguasa China pada muslim Uyghur. Mereka di intimidasi, dianiaya sedemikan kejamnya hanya agar mereka meninggalkan keimanan mereka. Karena menurut pemerintah Komunis China adanya agama Islam ini disana merupakan hal yang bisa merusak prinsip-prinsip Komunisme. Mereka menginginkan seluruh rakyat mereka meninggalkan agama, alias jadi atheis.

Kejadian ini bukan rahasia lagi, bukan juga dersas-desus belaka. Sudah banyak bukti-bukti yang dapat dijadikan fakta yang memastikan kejadian memang benar adanya. Bahkan di PBB sudah diperbincangkan, yang menunjukkan ini bukan cuma hoax, tapi benar terjadi.

Namun yang semakin membuat hati serasa tersayat-sayat, adalah ketika 57 negeri muslim dengan jumlah penduduk lebih dari 1 milyar, tidak mampu berbuat apapun untuk menghentikan kedzalimanl\ lua biasa ini. Penyiksaan fisik karena melakukan kesalahan atau kriminal masih bisa ditolerir. Tapi ketika penyiksaan itu dengan tujuan memurtadkan, ini bukan perkara remeh. Murtadnya mereka karena tidak tahan akhirnya disiksa terus menjadi tanggung jawab seluruh umat Islam yang hidup di masa ini.

Apakah umat Islam tidak berduka ? Apakah umat Islam tidak ingin menolong mereka ? Saya memastikan mayoritas umat Islam yang di dadany amsih ada iman akan berduka dan ingin menolong mereka. Namun mereka terbentur pada kenyataan para penguasa justru tidak punya keinginan untuk menghentikan kedzaliman ini. Hingga keinginan umat ini akhirnya hanya terpendam oleh penguasa yang pada hakikatnya tidak kalah dzalimnya dari penguasa China, karena penguasa ini membiarkan kedzaliman ini berjalan terus. Inilah kendala pertama.

Kendala kedua, jikapun ada p[enmguasa yang juga berduka dan ingin menolong, mreka ini terbentur pada garis batas nasionalisme. Garis batas nasionalisme ini telah membuat umat Islam terpecah menjadi puluhan negara yang kecil dan lemah. Maka jika satu dua orang penguasa muslim saja yang berkeinginan menolong, tidak punya kekuatan yang memadai untuk melakukan pertolongan.
Kendala ketiga, sekiranyapun semua penguasa-penguasa di negeri-negeri muslim ingin menghentikan kedzaliman ini, mereka akan terbentur pada tembok ketiga yaitu adanya PBB. Aksi apapaun yang dilakukan oleh satu negara ke negara lain haruslah dengans eizin PBB. Jika ada 1 negara yang menyerang negara lain tanpa persetujuan PBB, maka PBB akan membentuk pasukan keamanan untuk mengusir kembali militer negara yang emlakukan invasi ini, sebagaimana pasukan PBB mengusir militer Irak yang mengnvasi Kuwait beberapa tahun lalu.

Jadi harus dapat izin dari PBB terlebih dahulu. Izin itu didapat lewat musyawarah di PBB. 57 negeri muslim akan berhadapan dengan lebih seratus negegi non-muslim. Dipastikan pada saat voting, suara negeri-negeri muslim akan kalah, dan izin tidak akan di dapat. Paling PBB memutuskan mengadakan tindakan diplomasi berupa perundingan bertele-tele, sementara penyiksaan berjalan terus.

Kendala keempat, sekiranya negeri-negeri non muslim ikut meminta PBB agar memaksa China menghentikan kedzalimannya karena faktor kemanusiaan, akan terbentur pada fakta China adalah negara yang memagang kartu veto, selain AS-Inggris-Perancis-Rusia.
Maka dengan hak vetonya, apapun keputusan PBB yang dianggap China tidak menguntungkannya akan mereka veto, dan gugurlah rekomendasi itu.

Itulah fakta yang terbentang dihadapan umat Islam ketika mereka ingin menolong saudara mereka seperti Palestina, Irak, Suriah, Kashmir, Rohingya, Pattani, Moro, Angola, Bosnia, dan kini China. Ada tembok berlapis-lapis yang sulit mereka tembus untuk menolong saudara mereka.

hal ini membuat munculnya rasa apatis karena mustahil untuk mamapu menolong. Akhirnya para penguasa hanya melakukan lip service, mengutuk, mengecam agar amarah rakyatnya yang mayoritas muslim sedikit terobati. Namun masalah tidak selesai.

Para ulamapun akhirnya hanya fokus menyarankan kiriman doa-doa, dengan harapan Allah SWT yang Mahakuas bisa menghilangkan kedzaliman itu dengan kuasa-Nya.

Apakah belum cukup doa kita kepada rakyat Palestina ? Nyatanya 60 tahun lebih kondisi mereka bukannya semakin baik, namun semakin mengenaskan. tanah-tnah mereka semakin hari semakin berkurang karena diambil dan dikuasai oleh Zionis Israel.

Disinilah kita harus memahami satu hal yaitu memahami ajaran Islam itu dengan sepenuhnya. Kita selalu mengatakan bahwa Islam itu berisi ajaran yang mampu mengatasi berbagai problematika manusia umumnya dan umat Islam Khususnya. Terus apakah ajaran Islam tentang menjaga umat Islam dari kedzaliman orang-orang kafir ?

Kita harus lihat teladan kita Rasulullah. Teryata beliau sudah meninggalkan metode itu kepad kita, metode yang sudah di poraktekkan mampu menjaga umat Islam dari kedzaliman kafir. Kemampuan luar bisa karena mampu menjaga tidak cuma satu hari, satu bulan, satu tahun, melainkan mampu menjaga 13 abad atau 1300 tahun umat Islam dari kedzaliman pihak lain.

Jika Rasul teladan kita telah mengajarkan kita bagaimana cara agar kita bisa terhindar dari kedzaliman-kedzaliman, namun contoh itu tidak kita sukai, kita tolak, kita bendi, dan di saat yang sama kita terus berdoa pada Allah SWT agar menolong saudara kita itu, kira2 secara logika apa pendapat Allah SWT ???

Bukankah Allah SWT akan berucap :
" Untuk apa ada 1,7 milyar umat Islam di bumi ini, kalau utuk saling menolong diantara mereka harus Aku lagi yang turun tangan ???."

Jadi saudaraku, kita bisa menolong seluruh saudara kita dimana saja dengan syarat, kita hilangkan tembok-tembok penghalang itu. Selama tembok-tembok itu ada, msutahil kita bisa maksimal menolong saudara kita, karena musuh-musuh Islam akan terus beraksi karena kita tidak punya kekuatan apapun. Kita lemah.

Apa yang harus kita lakukan untuk menghancurkan tembok-tembok itu ? Tegakkan Khilafah. Kenapa ?
Khilafah akan membuat seluruh muslim akan merasa tersakiti jika endengar atau melihat sadaranya terdzalimi. Tidak akan ada lagi muslim yang cuek, bahkan bersorak gembira ketika saudaranya didzalimi/
Khilafah akan emmunculkan penguasa yaitu Khilafah yang tugasnya melindungi semua umat Islam yang ada di muka bumi ini. Sehingga tidak ada lagi penguasa yang cuma bisanya mengutuk dan mengecam saja. Itupun bukan dari lubuk hatinya, hanya lip service, pencitraan.

Khilafah yang menyatukan 1,7 milyar umat Islam akan menjadi negara super power yang tidak membutuhkan PBB, tidak tunduk pada PBB yang hakikatnya hanyalah organisasi untuk memuluskan hasrat-hasrat negera-negara penajajah yang punya hak veto istimewa di dalamnya.
InsyaAllah kedzaliman begini akan terhenti untuk selamanya, selama Khilafah masih tegak.
Namun anda menolak tegaknya Khilafah ..............
Membenci siapa saja yang coba untuk menegakkannya .......

Saudaraku ....
Jika ada seorang yang didzalimi oleh pihak lain dan dia tahu punya saudara, dan dia lihat saudaranya itu hanya duduk berdiam diri tidak menolongnya, kira-kira sapa yang lebih membuat seorang itu marah ? 

Orang lain mendzaliminya itu bisa saja terjadi karena tidak punya ikatan persaudaraan dengannya.
Namun saudaranya yang punya ikatan persauaran akidah dengannya, namun tidak mau membantu yang enunjukkan bahwa dia sudah tidak menganggap lagi ada ikatan peraudaran itu pastilah sangat menyakitkan.


Marilah kita serius utk menolong saudara kita dari kedzaliman dengan berjuang menegakkan Khilafah. Selama Khilafah tidak juga tegak, yakinlah, kdzaliman-kedzaliman begini akan terus bergulir bergantian diantara umat Islam, karena sesungguhnya musuh-musuh Islam itu tidak akan pernah ridha dengan Islam dan umat Islam.
Wallahu a'lam.