Jokowi Penghianat, Terimakasih Pada Ulama Tapi Melecehkan Ulama

Jakarta ~ Aktivis 98 Ubedilah Badrun menyebutkan Ratusan ribu masa demonstran yang melakukan aksi damai ke Istana Negara untuk menyampaikan aspirasi umat Islam kepada Presiden telah di lecehkan presiden.

Sebab, ungkap dia, ternyata Jokowi bersama Menteri Perhubungan Budi Karya keluar Istana secara mendadak sekitar jam 11an meninggalkan demonstran, lebih memilih meninjau proyek kereta bandara di Soekarno-Hatta, Tangerang Banten.

“Diketahui hari jumat ini tidak ada agenda Presiden untuk berkunjung ke proyek kereta bandara. Kunjungan ke proyek kereta bandara itu sebenarnya cukup dilakukan oleh Menteri Perhubungan,” terang direktur eksekutif puspol Indonesia ini  di Jakarta, Jumat (04/11/2016). Badrun sangat kecewa lihat presiden pengecut seperti ini.

“Jokowi lebih suka bersenang-senang di Istana dibanding mendengarkan aspirasi rakyat. Saya mencermati menjauhnya Jokowi dari demonstrasi menunjukan gagalnya Jokowi memahami masalah rakyat. Bahwa demonstrasi besar hari ini sesungguhnya ekspresi dari akumulasi berbagai persoalan Jakarta sekaligus warning untuk penguasa,” tegasnya.

Selain itu, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah juga mengecewakan hal itu. Fahri menyebutkan, presiden telah melakukan tindakan fatal karena tuntutan massa sangat penting. “Tidak mau bertemu itu fatal. Pak Jokowi tidak mengerti bahwa aspirasi masyarakat itu penting karena secara keseluruhan isunya gugatan dan tuntutan penegakan hukum,” sebutnya.

Tidak hanya Bandrun dan fahri, tentu saja semua para peserta aksi juga kecewa. hal ini dapat dilihat dari ungkapan masyarakat nitizen.
 @RAIghifari sadar atau tidak @jokowi telah mengkerdilkan umat Muslim hari ini, Luar biasa perlakuan mu Pak, tk menghargai kmi yg damai. #presidenkemana


@MentionSatu Jokowi, Urusan Kodok Anda Siap, Urusan Ahok Kok Anda Diam?!”ift.tt/2fLIlwo @MAHENDRA_GNW Kami semua ingin di temui JOKOWI bukan WIRANTO. PRESIDEN kembali ingkar Janji, katanya Mau temui KAMI, Ko Bohong (Lagi).?
@baralubis #Jokowipenghianat


Kekecewaan rakyat tentu saja masuk di  akal. Karena sebelumnya Jokowi berjanji beberapa hari lalu pada ormas Islam yang di undangnya ke Istana mendukung penegakan hukum pada ahok. Malah dia hari ini tidak mengunjungi para pendemo.


Dan bahkan dini hari ini, 5/11 ini kembali jokowi mempertegas jati dirinya sebagai penghianat umat Islam. saat dirinya menyampaikan pernyataan sikapnya soal situasi aksi. Disatu sisi dia sebutkan berterimakasih pada ulama karena aksinya yang damai, di lain sisi dia mengabaikan ulama yang sudah berjuang untuk hadir dalam aksi dari berbagai propinsi se Indonesia.

Tidaklah seorang penguasa diserahi urusan kaum Muslim, kemudian ia mati, sedangkan ia menipu mereka, kecuali Allah mengharamkan surga untuknya (HR al-Bukhari dan Muslim).

Penipuan tersebut antara lain bisa berwujud pengabaian terhadap hak-hak umat. Setiap penguasa yang melakukan hal ini dipandang telah menipu dan berkhianat kepada umat (Lihat: Imam an-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim).


Ancaman terhadap para penguasa dan pemimpin yang khianat tentu wajar belaka. Pasalnya, kekuasaan adalah amanah. Amanah adalah taklif hukum dari Allah SWT. Imam Ibnu Katsir menjelaskan, “Pada dasarnya, amanah adalah taklif (syariah Islam) yang harus dijalankan dengan sepenuh hati…Jika ia melaksanakan taklif tersebut maka ia akan mendapatkan pahala di sisi Allah. Sebaliknya, jika ia melanggar taklif tersebut maka ia akan memperoleh siksa.” (Ibnu Katsir,Tafsîr Ibnu Katsîr, III/522).


Rasulullah saw. telah memperingatkan umatnya sejak 16 abad lalu, bahwa akan datang masa ketika umatnya akan dipimpin oleh orang-orang egois. Mereka adalah orang-orang yang mementingkan diri sendiri. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya akan muncul sepeninggalku sifat egois (pemimpin yang mengutamakan kepentingan diri sendiri) dan beberapa perkara yang tidak kamu sukai.” (HR Muslim).


Para pemimpin yang demikian boleh jadi mulutnya manis menebar pesona ketika berbicara di depan rakyatnya. Namun, hati dan kelakuan mereka busuk-sebusuknya laksana bangkai. Mereka sesungguhnya tidak lain adalah para pencuri harta rakyat. Rasulullah saw. bersabda, “Akan datang sesudahku para penguasa yang memerintah kalian. Di atas mimbar mereka memberi petunjuk dan ajaran dengan bijak. Namun, setelah turun dari mimbar, mereka melakukan tipudaya dan pencurian. Hati mereka lebih busuk dari bangkai.” (HR ath-Thabrani).


Apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw. sekian abad yang lalu, kenyataannya banyak kita lihat di negeri ini. Kita bisa menyaksikan hal itu di jajaran eksekutif maupun legislatif pada semua tingkatan. Betapa banyak di antara pemimpin itu yang ramai-ramai mempertontonkan egoisme secara telanjang. Mulut mereka manis saat merayu rakyat agar dipilih sebagai pemimpin. Begitu berkuasa, tampaklah “belang” mereka. Mereka lebih mementingkan kepentingan diri sendiri, yaitu berusaha mempertahankan kekuasaan dan menumpuk-numpuk kekayaan. Adapun rakyat hanya digunakan sebagai ‘komoditi’ untuk mengejar dan mempertahankan jabatan. (BL)