Muslim Rohingya Tertolak, Sebab Tak Punya Junnah

 


Milna Herti be sembiring S.pd 



Pada kamis subuh, kapal pengungsi Rohingya tiba di bibir pantai desa pulau Pineung Meunasah Dua. (Detik sumut 16-11-2023). Warga yang mengetahui kedatangan pengungsi Rohingya beramai-ramnai datang ke lokasi untuk menolak menerima mereka. Alasan lain masyarakat menolak pengungsi Rohingya lantaran tidak ada tempat penampungan dan kesan buruk pengungsi Rohingya sebelumnya. 

Dalam kurun waktu dua minggu terakhir sudah enam kali kapal pengungsi Rohingya tiba di perairan Aceh. Adapun sebab pelarian muslim rohingnya ke negeri-negeri tetangga ialah karena di negeri sendiri mereka tidak diakui oleh pemerintah sendiri. Sehingga etnis Rohingya terpinggirkan di negaranya sendiri. Beberapa konflik pun sering menimpa mereka bahkan terancam genosida atau pembersihan etnis. Hal ini lah yang mendoorong muslim Rohingya mencari suaka ke negeri-negeri tetangga.

Otoritas hak asasi manusia PBB mengeluarkan laporan terbaru terkait muslim Rohingya, laporan menyebut perlakuan terhadap mereka bisa di sebut kejahatan kemanusaiaan. Mereka mengalami diskriminasi sistematis dan mengalami larangan pergerakan yang parah. Namun mengapa justru sikap warga Aceh menolak untuk menolong etnis muslim Rohingya? Nah soalan ini ada banyak faktor yang menjadi bahan pertimbangan warga aceh. Pertama soal tempat pengungsian yang batas penampungananya sudah melebihi kapasitas. Soal kebutuhan sandang dan pangan serta kelanjutan hidup para pengungsi kedepannya. Memang ini kesannya tidak adil jika di limpahkan untuk warga Aceh saja menanganinya. Terlihat bahwa sebenarnya warga Aceh sangat ingin menolong tapi lagi-lagi keterbatasan mereka yang hanya warga biasa seolah menjadi alarm untuk mereka menolak kedatangan muslim Rohingya.

Hal ini justru seharusnya tidak boleh di anggap main-main penanganannya. Mestinya negara turut andil dalam memberikan solusi. Terkait kesehatan, makanan dan lain-lain. Lantas bagaimana menolongnya, negeri sendiri saja kacau balau, krisis dimana-mana, mana lah mungkin bisa menolong muslim Rohingya. Hingga akhirnya muslim Rohingya terkatung-katung di laut tanpa tau tujuan. Seperti makan buah simalakama, pulang akan mendapat intimidasi yang lebih kejam, mencari suaka pun tak ada yang enggan memberi pertolongan.

Setidaknya ada tiga alasan negara-negara lain untuk lepas tangan dari problem muslim Rohingya.

Pertama adalah hitung-hitungan ekonomi. Ditengah pelik krisis hari ini serta ancaman resesi menjadi pertimbangan besar bagi negara untuk mau menerima pengungsi Rohingya. Karena setidaknya sandang, pangan dan obat-obatan serta kelanjutan hidup kedepannya untuk semmentara tentu harus dianggarkan dan bagaimana mungkin masyarakat biasa bisa memberi suaka. Maka memberi suaka ini memang tugas negara. Hanya saja hari ini, memberi suaka untuk rakyat sendiri pun masih sulit alias rakyat juga masih terlantar dari sisi ekonomi bagaimana pula bisa memberi suaka kepada para pengungsi.

Kedua ialah efek -nation state- membuat negara pada umumnya beranggapan saudara itu ialah sebangsa setanah air. Sementara di luar negri sendiri ialah rakyat asing. Mereka menganggap beda bangsa maka bukan tanggung jawab mereka. Sekat-sekat nasionalisme menjadikan mereka menutup mata atas penderitaan saudara seakidah mereka sendiri. Lupa bahwa kelak di hadapan Allah, kaum muslimin akan di mintai pertanggungjawaban atas derita saudara mereka di negeri lain yang mengemis meminta pertolongan kepada mereka.

Ketiga adalah ketidakmandirian dan ketidakmampuan negeri-negeri muslim hari ini dikarenakan masih di cengkram negara adidaya, serta adanya ikatan dan perjanjian-perjanjian internasional. Hal ini menjadiakan para penguasa negeri muslim sulit mengambil keputusan dan menegaskan posisi mereka untuk berada bersama kaum muslimin.

Msulim Rohingya menambah daftar hitam kepedihan kaum muslimin. Bahkan belum reda bagaimana palestina menjerit atas tindakan keji yang di lakukan zionis Israel, maka kita juga harus bersiap atas duka muslim Rohingya. Lembaga internasional seperti PBB pun tak memberi solusi. Sekedar mengecam dan mengutuk tanpa tindakan yang pasti untuk menghentikan kekejian para kaum ektrimis. Para pegiat HAM seolah bisu dan tuli untuk urusan kaum muslimin. Jika korban nya beratributkan Islam maka tidak ada HAM disana. Akan berbeda jika korbannya selain daripada muslim, maka kita akan mendengar bahwa HAM ini seperti malaikat pelindung.

Kondisi kaum muslimin hari ini persis seperti anak ayam kehilangan induk. Kocar kacir menjadi mangsa elang yang terbang di udara. Tidak ada junnah atau perisai bagi kaum muslimin. Seperti anak kecil kehilangan bapak. Tiada siapapun yang sudi melindungi. Dan berharap kepada sistem hari ini untuk menjadi junnah kaum muslimin itu juga mustahil. Sebab sistem kapitalis sekuler sendiri tidak pantas di terapkan kepada para hewan bagaimana bisa di harapkan menjadi penolong manusia. Sistem yang sudah cacat sejak lahir ini tidak akan mampu menjadi junnah bahkan bagi pengembannya sekalipun. Maka kita saksikan hari ini kerusakan demi kerusakan terjadi dimana-mana tanpa ada solusi yang sistematis.

Maka solusi bagi muslim Rohingya ialah diterapkannya Islam sebagai sistem kehidupan yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Karena negara yang di atur sempurna dengan sistem Islam Allah janjikan keberkahan dari langit dan bumi. Dan ini kita saksikan dalam sejarah bagaimana masa kejayaan Amirul Mukminin Umar Bin Abdul Azis. Pada masanya tidak ada satu asnaf pun yang berhak menerima zakat dikarenakan taraf hidup sejahtera merata di tengah-tengah masyarakatnya. Bahkan sampai domba dan serigala untuk kali pertama bisa berjalan seiringan tanpa saling menerkam dengan rakus satu sama lain. Hal ini tentu mudah bagi negara yang diatur dengan sistem Islam untuk sekedar menerima pengungsi seperti muslim Rohingya.

Kedua, ajaran Islam tegas mengatakan bahwa kaum muslim itu satu tubuh bahkan tidak sempurna keimanan seorang muslim sebelum dia mencintai saudaranya sendiri sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri. “Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman dan belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai” (HR Muslim). Maka dorongan dari perintah ini akan menjadikan penguasa muslim yang hanya tunduk kepada Allah berebut untuk menolong saudara mereka yang di landa musibah seperti Rohingya atau Palestina. Islam telah memberikan teladan yang agung dalam mempraktikkan nilai-nilai kemanusiaan dan akhlak Islami dalam hal tolong-menolong. Bagaimana Alquran memuji ketinggian budi pekerti kaum Anshar penduduk Madinah yang rela berbagi rumah, kebun, dan harta benda mereka dengan kaum pengungsi dari Makkah (Al-Muhajirin).

Ketiga, negara muslim hanya bisa menjadi junnah jika diterapkan Islam dalam bingkai khilafah. Khilafah negara yang berdiri di atas asas perintah Allah akan menjadikannya negara kuat tanpa harus terikat perjanjian internasiaonal yang hanya merugikan kaum muslimin dan mustahil baginya menjadi antek asing apalagi antek dari kaum kafir harbi fi’lan. Dan sejarah juga masih jelas mengukir bagaimana khilafah mampu menjadi junnah bagi semua pendudduk yang tinggal di dalamnya baik muslim maupun non muslim. Maka sudah saat nya khilafah menggantikan hegemoni barat yang hari ini sudah sakit parah dan sekarat. Ibarat bapak yang menjadi kepala keluarga yang menjamin keselamatan dan juga kelayakan hidup setiap anggota keluarganya, begitulah khilafah berperan untuk seluruh kaum muslim di dunia nantinya. Ia menjadi perisai dan juga junnah bagi kaum muslimin untuk berlindung. Pernah seorang khalifah menurunkan tentara jihad yang sangat panjang barisannya hanya untuk membela satu muslimah yang di lecehkan di pasar. Konon lagi menangani kasus muslim Rohingya yang terkatung-katung dan juga Palestina yang menyayat hati, tentu tak butuh waktu lama bagi seorang khalifah menyelesaikan kasus-kasus ini dan juga kasus-kasus muslim lainnya di belahan bumi lain.[]