Keamanan Rakyat Tidak Terjaga, Kepolisian Diam Saja?

 



Oleh Muzaidah (Aktivis Dakwah Muslimah)

Setiap tahunnya masyarakat dikejutkan dengan kejadian hilangnya harta hingga bisa merenggut nyawa yang sangat berharga. Sebut saja seperti terjadinya perampokan dan pembegalan, di mana saat melakukan pelakunya sering menodongkan senjata tajam tanpa belas kasih. Padahal, banyak korban yang menjadi sasaran kejahatan hanyalah dari keluarga kurang mampu. Betapa rendahnya moral para pelaku yang tidak memiliki rasa kemanusiaan.

Parahnya, ketika masyarakat yang menjadi korban melaporkan kejadian yang dialami juga tidak mendapatkan perlindungan langsung oleh aparat kepolisian yang seharusnya siap membela dan melindungi masyarakat dari berbagai macam tindakan kejahatan.

Seperti yang dialami Ilyas (38) warga Belawan I Lorong Kenangan, mengalami pembegalan oleh tiga remaja kejadiannya bermula pukul 05.00 WIB,  ketika Ilyas telah mengantarkan penumpang becaknya kemudian tiga remaja menghampirinya dan langsung membacok bahu bagian kiri, sehingga mengakibatkan tulangnya bergeser.

Pelaku juga membawa sebuah handphone dan uang senilai 520.000 yang seharusnya uang tersebut untuk membayar pendaftaran uang sekolah anaknya. Setelah kejadian, Ilyas mencoba melaporkan ke pihak kepolisian Belawan, namun pihak kepolisian Belawan tidak menanggapinya. Ujarnya usai diwawancarai (medan.tribunnews.com, 17/07/2023).

Potret kejahatan kian merajalela dan tidak hanya dialami warga Belawan, akan tetapi seluruh di Indonesia. Fakta yang menyedihkan di mana pihak kepolisian tidak turut ikut turun tangan memberantas pembegalan yang korbannya merasa dirugikan, masyarakat Belawan terutama korban sangat kecewa dengan sikap kepolisian yang seharusnya sudah menjadi tanggung jawabannya melayani dan melindungi masyarakat.

Maka dalam kejadian ini tidak cukup pihak kepolisian yang memberantas, melainkan pemerintah harus menindak tegas pelaku kejahatan serta menegaskan kepada kepolisian agar senantiasa siaga membela masyarakat ketika berada dalam bahaya hingga nyawa taruhannya.

Citra kepolisian sudah sempat tercoreng atas kejadian sesama kepolisian yakni kasus Sambo, jadi jangan sampai karena egoisnya polisi tidak mengayomi masyarakat kurang mampu tidak juga mendapatkan kepercayaan masyarakat. Ketika masyarakat tidak percaya maka tugas kepolisian tiada gunanya.

Bahkan kejahatan seperti pembegalan akan terus membabi buta, bisa saja terjadi di keluarga kepolisian yang menjadi sasaran pelaku kejahatan. Maka dari itu, kepolisian harus menindak tegas kejahatan demi kenyamanan bersama untuk masyarakat Belawan. Kepolisian pun tidak boleh mengayomi masyarakat hanya karena ada uangnya saja barulah dibantu, melainkan sudah menjadi kewajiban kepolisian menjalani tugas di mana gaji kepolisian juga sudah dibayar oleh pihak pemerintah.

Inilah kondisi sistem yang tidak dapat menjamin keamanan masyarakat bahkan kesejahteraan pun tidak terjamin. Masyarakat kebingungan harus meminta perlindungan dari siapa tatkala kejahatan kian merajalela, menjadi khawatir masyarakat adalah nyawa taruhannya. Sementara kepolisian yang seharusnya menjadi pelindung masyarakat, kini semakin abai dengan keselamatan masyarakat.

Begitu juga dengan perannya pemerintah yang seharusnya memiliki kekuasaan tertinggi tidak mampu melihat kondisi masyarakatnya yang kian kacau dan tidak tahu arah mana yang benar. Sungguh memilukan hidup tanpa pelindung yang amanah, sistem yang tidak pernah mengikuti perintah Allah akan menimbulkan kerusakan dan kekacauan, bahkan tidak pernah menyelesaikan persoalan masyarakat.

Padahal di dalam Islam tidak boleh meninggalkan masyarakat dengan keadaan ketakutan dan kesengsaraan. Merupakan tindakan kejahatan yang dilakukan penguasa tatkala masyarakat tidak mendapatkan keamanan dan haknya diabaikan.

Pemimpin wajib mencegah segala hal yang membahayakan dan mengancam jiwa manusia.
Sabda Nabi saw.:
لاَ ضَرَرَ وَ لاَ ضِرَارَ
“Tidak boleh (haram) ada sesuatu yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.” (h.r. Ibnu Majah dan Ahmad).

Perampokan dan pembegalan sekali pun tidak pernah berlarut-larut terjadi dalam sistem pemerintahan Islam. Karena dalam sistem Islam, peran pemimpin sangat tampak sinarnya bagi kehidupan masyarakat, pemimpin senantiasa memberikan keamanan ketat dalam setiap tindakan kejahatan.

Bahkan peran kepolisian dalam Islam tidak pernah absen siaga mengayomi dan melindungi masyarakat, semua itu juga dari tegasnya pemimpin mengayomi masyarakat. Kepolisian dalam Islam memahami betul tugas dan tanggung jawabnya, ketika tidak melaksanakan tugasnya maka akan dikenakan sanksi tegas agar tidak melalaikan tugasnya.

Dalam Islam menerima kepolisian juga tidak serta merta diterima dengan suap-menyuap melainkan dengan penyeleksian ketat agar benar-benar menjalankan tugas tanpa harus ditindak tegas. Ketika kepolisian hanya menjalankan tugas karena suap, maka akan dipecat dan diberikan sanksi, dengan begitu tidak satu pun kepolisian yang melalaikan tugasnya, masyarakat yang meminta perlindungan tidak lagi diabaikan.

Gambaran kepolisian di dalam Islam begitu nyata selama 13 abad yang tidak pernah mengalami kasus yang sama dibandingkan sistem sekarang, setiap harinya kepolisian sekarang banyak menerima kasus yang kian bertambah. Inilah pentingnya masyarakat Islam menyadari betul betapa pentingnya menerapkan kembali pemerintah dalam naungan Islam.

Ketika terjadi pembegalan atau perampokan seperti sekarang, maka peran kepolisian sangat siaga untuk menjaga keamanan dan nyawa masyarakat, juga karena ketakwaan individu kepolisian yang menyebabkan ia menjalakan tugasnya dengan benar tanpa sogokan apa pun. Setiap tindakan kejahatan akan mendapatkan sanksi tegas sehingga pelaku kejahatan tidak lagi melakukannya, dan pemimpin akan menjamin ketakwaan setiap individu terjaga dengan baik melalui pembekalan ilmu Islam.

Dengan begitu, tugas kepolisian akan terus dilaksanakan dengan benar, keamanan masyarakat akan terjaga, dan peran pemimpin terlaksanakan dengan amanah, semua ini hanya ada dalam naungan daulah khilafah (sistem Islam), tidak akan pernah ada di dalam sistem demokrasi-kapitalis.

Wallahualam bissawab