Pembajakan Potensi Perubahan Di Kalangan Santri



Oleh: Sari Ramadani (Aktivitas Muslimah)

Bukan rahasia lagi jika pengusir penjajah di negeri ini adalah mayoritas para ulama, santri, dan juga umat muslim yang rela berjuang mempertahankan negeri ini walau harus tertatih, bersimbah darah, berderai air mata. Meski bermodal senjata seadanya, namun girah jihad fi sabilillah sungguh kental di dalamnya.

Tak dapat dipungkiri jika hari santri dan semangat memperjuangkan Islam di negeri ini memang tak dapat dipisahkan sebab peringatan hari santri berlatar belakang resolusi jihad. Resolusi jihad sendiri merupakan penggerak masyarakat yang mayoritasnya meyakini jihad adalah salah satu ajaran agama. Termasuk di dalamnya adalah para santri, sivitas pesantren hingga siapa saja yang bukan berasal dari kalangan pesantren pun ikut semangat karena resolusi jihad.

Resolusi jihad lahir dikarenakan Kiai Hasyim memandang, walaupun Indonesia sudah menyatakan proklamasi pada 17 Agustus 1945, namun sayangnya, 3 bulan setelah itu, Belanda dikabarkan ingin menguasai kembali negeri ini yang baru saja lepas diri hegemoninya. Hasil dari seruan Kiai Hasyim adalah Belanda berhasil mundur dan terpaksa membawa pulang rencana busuknya.

Posisi sentral Kiai Hasyim sebagai pendiri Nahdlatul Ulama di Indonesia, tentu begitu berarti bagi para santri yang berada di bawah NU serta bagi santri lainnya. Girah keislaman yang menjadi alasan tindakan heroik beliau sangat pantas untuk menjadi teladan, mengingat potret Indonesia hari ini yang sepintas merdeka secara fisik, namun pada kenyataannya masih dijajah secara pemikiran, politik, ekonomi budaya dan lain-lain.

Peringatan hari santri yang setiap tahunnya diperingati sudah seharusnya menjadi saat yang tepat untuk melakukan perbaikan di negeri ini, bukan justru ditujukan untuk menjadi penggerak roda perekonomian yang didominasi aspek materi.

Pasalnya, Presiden Jokowi yang memberikan sambutan pada peringatan hari santri ini berharap akan lebih banyak wirausaha yang lahir dari kalangan santri serta lulusan pesantren agar dapat menggerakkan roda perekonomian yang inklusif di negeri ini. Tak hannya itu, pemerintahan siap memberikan bantuan seperti program Mekar, Kredit Usaha Rakyat, serta Bank Wakaf Mikro. (m.liputan6.com, 23/10/2021).

Seperti halnya santri terdahulu yang selalu terdepan dalam berjuang agar negeri ini terbebas dari penjajah, maka begitulah seharusnya santri pada hari ini, memberantas penjajahan dalam bentuk apa pun. Bukan malah mendorong para santri ini untuk melanggengkan neokolonialisme yang masih saja bercokol di negeri ini.

Pemerintah sepertinya telah salah alamat ketika mendukung para santri ini untuk memajukan perekonomian umat, sementara sistem yang dianut negeri ini adalah kapitalisme yang sudah jelas memberikan penderitaan tak bertepi di berbagai lini kehidupan khususnya bidang ekonomi. Permasalahan dibidang ekonomi yang semakin parah, tidak akan mudah diselesaikan dengan terlibat aktifnya para santri di dunia kewirausahaan. Karena untuk menangani masalah ekonomi di negeri ini, tak cukup solusi yang sifatnya sementara.

Terlebih, masalah yang benar-benar nyata terkait santri yang harus mendapat perhatian lebih adalah bagaimana agar dapat mencetak para santri menjadi yang terdepan dalam mempelajari ilmu dan tsaqafah Islam, tidak hanya mampu dalam menghafal Al-Quran namun juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga tak ada lagi kasus para santri yang kehilangan identitas santrinya saat kembali ke rumahnya. Karena santri adalah salah satu aset yang memiliki potensi besar untuk menebar kebaikan agama bagi umat, bukan malah dijadikan sebagai penguat perekonomian rusak disistem hari ini.

Jika dulunya para santri memiliki peran mengubah kondisi umat agar terbebas dari belenggu para kaum kafir penjajah menjadi merdeka, maka hari ini pun masih sama. Untuk itu, melalui hari santri inilah, para santri, wali, pondok pesantren, serta seluruh elemen yang berkaitan dengan pesantren, sudah seharusnya memahamkan kembali peran santri sebagai agen of change dan menyerukan kebenaran yang sesungguhnya sesuai dengan syarat Islam untuk menolong agama Allah.

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (TQS. Muhammad [47]: 7).

Wallahualam bissawab.